MY HOME

MY HOME

Kamis, 25 Mei 2017

PART 2


Hubban Limaanan
             Pagi ini terasa cerah, pasalnya kemarin sore hingga larut malam terjadi hujan deras. Untung saja tak sampai membuat sungai di sekitar kos Izal meluap. Kini Izal tengah membaca buku entah buku apa karena covernya sudah buluk bahkan kertasnya berwarna cokelat. Ia tengah serius dengan bacaannya ketika sahabatnya sekaligus teman sekamarnya masuk membawa 2 nasi bungkus.
“Eh Zal, loe anak Agroteknologi tapi kok bacaannya naskah kuno sih? Gue yang anak Sastra merasa kalah loh.” Celetuk Reza yang melihat Izal dengan buku buluknya.
“Sembarangan, ini bukan naskah kuno, tadi aku nemu di deket pintu masuk gudang kos ini.” Sahut Izal tanpa mengalihkan matanya dari buku itu.
“Ye, loe mah sukanya ngeluru, makan dulu nih.” Reza menyodorkan sebungkus nasi. Izal lalu meletakkan buku yang ia baca dan menerima nasi bungkus dari Reza.
Ngeluru? Bahasa yang aneh.”
“Yeee hargai dong ragam bahasa di Indonesia.” Izal terkikik dengan tampang Reza, ia segera makan dengan lahap.
Selesai makan, Izal sebenarnya ingin melanjutkan bacaannya tadi, akan tetapi Reza mengganggunya dengan pertanyaan. Mau tidak mau sebagai sahabat yang baik, ia menyimak apapun yang dikatakan Reza.
“Eh Zal, loe punya temen yang suka ngutang gak sih?” Izal mengernyit mendengarkan pertanyaan dari Reza. Bukankah sudah jelas bahwa Reza lah teman yang ia punya dan yang suka ngutang? Ia terkikik dalam hati.
“Ada, emang kenapa?”
“Jangan bilang itu gue ya, hahaha, ya loe kalau punya sahabat atau temen yang suka ngutang gitu gimana perasaan loe?”
“Ya seperti yang kamu lihat sekarang, aku fine-fine aja deket kamu hahaha.” Reza manyun mendengarnya.
“Makna persahabatan bagi loe tuh apa sih? Yang selain tempat ngutang terpercaya.” Reza akhirnya menanyakan hal itu, ia sangat tidak puas dengan jawaban Izal.
“Yang setiap aku melihatnya, mengingatkanku pada surga.” Jlebb. Reza merasa mengecil. Ia memang berteman dengan Izal sedari SMA, akan tetapi ia belum bisa menyejajarkan dirinya dengan Izal. Izal yang selengean tapi sebenarnya menyimpan banyak rahasia. Izal yang tak pernah absen bangun jam 3 untuk mengerjakan tahajud, Izal yang  tak pernah absen mengerjakan Shalat Dhuha, dan Izal yang selalu mengingatkannya terhadap kebaikan, pokoknya masih banyak lagi. Sedangkan dirinya?
“Loe kalau liat gue ada ngeliat surga kagak? Kan gue absurd gini orangnya.” Izal terkekeh.
“Gimana ya..” Izal pura-pura berpikir.
“Loe mah gitu Zal, eh caranya milih temen yang baik tuh gimana sih? Perasaan temen gue yang agak waras cuma loe, loe aja kagak waras-waras amat.” Izal mendelik tapi tak berapa lama ia tertawa juga.
“Kamu pernah denger kan Za, Dari Abu Musa radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi darinya, atau engkau bisa membeli minyak wangi, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap (HR. Bukhori & Muslim). Pasti kamu udah sering banget denger kan?”
“Weh sering bangetlah... sama itu yang pernah disampaikan Ustadz Abdul yang tentang 7 jenis persahabatan tetapi hanya 1 yang sampai surga. Loe waktu itu ikut kajiannya kan? Eh gue salah nanya, loe kagak ikut kajian aja udah banyak baca yak hehehe.” Reza cengengesan dengan pertanyaannya sendiri.
“Coba, 7 jenis itu apa saja?” Izal menghidupkan kipas angin karena cuaca yang agak cerah ceria dan ia tadi mandi ketika subuh, jadi sudah gerah kembali.
“Yang pertama itu Ta’aruffan, persahabatan yang terjalin secara kebetulan, misal ketemu dimana gitu, terus kedua Taariihan, karena faktor sejarah, misal temen sekolah, sekos gitu kaya loe sama gue, ketiga Ahammiyyatan, terjalin karena faktor tertentu, misal bisnis. Keempat Faarihan, persahabatan yang terjalin karena hobi. Kelima Amalan, terjalin karena seprofesi. Keenam Aduwwan, itu kaya bermuka dua gitu, kalau di depan manis-manis, dibelakangnya ngejelek-jelekin. Trus yang terakhir ini yang sampai surga yaitu Hubban Limaanan, cuma gue pengertiannya belum terlalu paham soalnya waktu Ustadz Abdul ngejelasin yang itu, gue kebelet pipis, pas mau searching lupa-lupa mulu hahaha.” Karena bicara yang sangat panjang hingga mengakibatkan haus yang berlebihan, Reza meneguk air mineral dari botol secara langsung.
“Wah, daya ingat Reza boleh juga hahaha. Eh tapi aku nggak mau loh kalau cuma bersahabat sebatas Taariihan. Aku maunya yang Hubban Limaanan, pertemanan yang lahir karena saling berkasih sayang karena Allah semata. Sebuah pertemanan yang akan saling tolong menolong dalam kebaikan dan menutup aib temannya. Bahkan pertemanan jenis ini akan saling mendoakan dalam setiap shalat mereka. Seperti yang dijelaskan dalam Qur’an Surat Az-Zukhruf ayat 67, al-akhilla’u yauma ‘izim ba’duhum liba’din ‘aduwwun illal-muttaqiin, yang artinya teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa. Jadi Hubban Limaanan lah persahabatan yang abadi sampai akhirat nanti. Jadi nanti pas aku nggak bareng kamu di surga, cari aku di neraka ya kawan.” Seperti ada angin sejuk yang menerpa sekujur tubuh Reza. Akan tetapi kalimat terakhir Izal membuatnya tertohok. Dari segi ibadah saja sudah pasti menang Izal.
“Sumpah gue jadi terharu broo, tapi kalimat terakhir loe nyelekit amat sih, kagak kebalik tuh?” Izal terkekeh pelan.
“Siapa yang tau hati manusia Za, bisa jadi sekarang beriman, besok kafir, begitupun sebaliknya. Rahasia Allah itu sama sekali gak bisa ditebak, dan jangan sekali-kali menebaknya, cukup jalanin saja.” Reza manggut-manggut. Berharap ia dan Izal nanti dipertemukan di surga, jadi tidak perlu mencari-cari di neraka.
“Temen gue di jurusan tuh sukanya hura-hura gitu Zal, gue kagak suka.” Curhat Reza.
“Ya kamu jangan terpengaruh kalau temen-temen kamu berbuat buruk. Bentengin diri sendiri saja. Kalau pesenku ya, bergaulah dengan orang-orang yang mempengaruhimu pada kebaikan, apabila kau bergaul dengan orang yang sering berbuat buruk, maka pengaruhilah ia dengan kebaikan. Jadi kamu jangan terbawa suasana ataupun terbawa perasaan gitu aja. Di sortir, mana yang baik, mana yang buruk.” Lagi-lagi Reza merasa, ah entahlah.. Ia tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.
“Wohoo terimakasih broo, semoga kita bisa bersahabat sampai akhirat nanti Aamiin..” Izal ikut mengaminkan. Setelah itu Reza pamit pergi ke kos temannya sedangkan Izal melanjutkan membaca buku buluknya yang tertunda.
Bergaulah dengan orang-orang yang mempengaruhimu pada kebaikan, apabila kau bergaul dengan orang yang sering berbuat buruk, maka pengaruhilah ia dengan kebaikan.    -Arizal Fairuz Erga Hermawan-

27 April 2017

06 : 15

Rabu, 26 April 2017

PART 1

Hijrahnya Izy
Sore ini tak seperti biasanya. Seorang gadis yang biasanya bermalas-malasan sambil menyaksikan drama Korea yang menye-menye, ataupun membaca novel sambil sesenggukan, hari ini telah rapi mengenakan pakaian yang tak seperti biasanya pula. Ya, dia Izy. Biasanya Izy mengenakan celana jeans ketat dengan kaos dan kerudung lilit, hari ini nampak anggun dengan rok, kemeja, dan jilbab bergo. Ia tersenyum mendapati pantulan dirinya di cermin.
“Zy, loe mau kemana? Kondangan? Pengajian? Atau loe mau ngedate sama anak masjid?” tanya Vika, teman sekamar Izy di kost. Izy melengos mendengarkan pertanyaan Vika yang sangat absurd.
“Mau ke mall.” Singkat Izy sambil mengubek almari mencari tasnya.
“Ha?” Vika melongo mendengar jawaban singkat dari Izy. Siapa yang tidak bingung jika teman sekamar yang kebiasaannya saja sudah dihafal di luar kepala tiba-tiba berubah drastis begitu.
“Iya ke mall, mau ikut kagak? Gue mau beli sesuatu.” Izy mematut dirinya sekali lagi di depan cermin.
“Dengan tampilan loe yang seperti ini? Mall?” Tanya Vika memastikan lagi. Izy mendelik tajam kearahnya yang langsung dihadiahi cengiran oleh Vika.  “Iye-iye gue ambil tas dulu, galak amat sih.”
“Gue tunggu di parkiran.” Vika mencibir setelah kepergian Izy lalu bergegas menyusulnya.
~~~~~~~~
Ketika berada di mall, Izy dan Vika memang berpisah. Izy yang membeli apapun yang sudah ditulis di note nya, sedangkan Vika mengantri membeli paketan internet. Setelah selesai, mereka berjanji bertemu di salah satu food court di mall tersebut.
“Ebusett, loe belanja atau ngerampok Zy? Banyak bener..” nyaris Vika menyemburkan es jeruk yang diminumnya setelah menilik barang belanjaan yang dibawa Izy yang menurutnya sangatlah banyak.
“Sekali-sekali atuh neng belanja banyak.” Kata Izy sambil menyomot kentang goreng yang sudah dipesan Vika dengan tampang tanpa dosanya.
“Coba liat.” Vika mengambil salah satu paper bag Izy dan langsung melotot dengan apa yang dilihatnya. “Loe beli gamis dan khimar syar’i? Loe sehat Zy? Wah gue harus beritahu bang Izal biar keluarga lo bisa ngadain selamatan.” Heboh Vika sambil melebarkan khimar milik Izy. “Eh tapi ini buat loe sendiri kan? Bukan buat kado ulang tahun atau nikahan sodara loe?”
“Vik sumpah, loe lebay banget. Iya ini buat gue pake sendiri, kenapa?” dengan masih asyik menyantap kentang goreng, Izy memperhatikan Vika yang masih terkagum-kagum.
“Wah.. dapet hidayah darimana loe?”
“Dari wattpad.” Vika melotot lagi mendengar jawaban Izy yang menurutnya tidak masuk akal.
“Kok bisa? Cerita apa? Lah semua cerita yang loe baca kan yang saranin gue? Kok loe sih yang dapet hidayah? Ihhh nggak adil deh.” Cerocos Vika sambil manyun-manyun.
“Hijrah yuk...” Vika melongo seketika. Izy yang biasanya cerewet tak karuan hari ini sangat irit bicara. Izy senewen menatap wajah cengo Vika. Ia lalu membawa barang-barangnya dan bergegas meninggalkan Vika.
“Lah gue ditinggalin, oeee Izy tungguin napa, belum bayar nih.” Teriak Vika yang sukses mengundang tatapan dari orang-orang disekitarnya. Vika tak peduli lantas membayar dan mengejar Izy.
~~~~~
Di kampus, Izy hanya terdiam tanpa minat menjawab pertanyaan teman-temannya. Ada yang mengucap syukur karena ia sudah taubat, ada pula yang ngejek bisakah ia istiqomah.
“Assalamu’alaykum, Izy ini kamu? Subhanallah, cantik sekali, aku sampai pangling, ya ampun alhamdulillah Ya Allah, akhirnya Izy tergugah hatinya.” Sapa Aisyah, teman dekat Izy yang paling getol ngompor-ngomporin untuk berhijrah.
“Wa’laykumussalam, ya ampun Ais, bisa nggak sih nggak lebay gitu, iya ini gue Arizy, emang aneh ya penampilan gue? Perasaan daritadi mereka gosipin gue, untungnya gue bebal hehehe.”
“Aneh gimana, orang kamu cantik begini, eh ceritain dong kok bisa kamu hijrah gini?”
“Yah sebenernya gue sih dapet pencerahan setelah baca cerita di wattpad, toh kalo nggak berubah mulai sekarang mau kapan lagi, Izy kan nggak mau masuk neraka hehehe.”
“Ada manfaatnya juga ya bacaan kamu yang aneh itu hehehe ampun, damai mbak.”
“Ihh nggak aneh lah, wajar gitu kalau cewek bacanya novel dan sejenisnya, lah situ bacaannya komik sih..”
“Nggak apa-apa, lebih menghibur, daripada baper-baper nggak jelas hehehe, eh kan tampilannya udah cakep gini nih, nanti siang ikut kajian yuk... sekalian kamu daftar UKM kerohanian deh, biar lebih mantep hijrahnya, ya ya ya, sama aku kok.”
“Aisyah, aku malu.”
“Lah kenapa malu? Toh kan yang dilakuin kebaikan, maaf ya Aisyah nggak terima protes, noh udah ada dosen.”
Izy besyukur masih memiliki seorang sahabat yang bisa menuntunnya ke jalan yang benar. Ya meskipun Vika nggak buruk-buruk amat sih.
~~~~~
“Assalamu’alaykum, Kak kenalin ini temenku Arizy Faila Zahrani, biasa dipanggil Izy.” Kata Aisyah ketika mereka sudah sampai di tempat pendaftaran dan menemui seorang wanita yang menurut Izy sangat anggun dengan baluta hijab syar’inya. Oh iya, hampir semua yang ada di tempat ini mengenakan pakaian syar’i.
“Wa’alaykumussalam, salam kenal dek Izy, cantik sekali, sini merapat, aku Laila Qurrotun Nisa, biasa dipanggil Ila.” Ila mengulurkan tangan menjabat tangan Izy dan Aisyah secara bergantian.
“Iya salam kenal Kak Ila, mohon bantuannya ya, aku baru berhijrah Kak hehehe.” Izy mengeluarkan suara dengan mengganti loe-gue yang biasanya ia pakai menjadi aku-kamu.
“Alhamdulillah, sini merapat, kajiannya sebentar lagi dimulai. Kalian mau ikut UKM ini?”
“In syaa Allah Kak, kami pengen ikut, kalau mau ikut bagaimana ya kak?” tanya Aisyah dengan mata berbinar sedari pagi tadi ketika melihat Izy.
“Nanti isi formulir dan langsung screening, tapi abis kajian ya.”
“Iya Kak.”
Kajian pun dimulai, Izy benar-benar bangga di tengah-tengah mereka. Betul kata pepatah, kalau satu sahabat yang beriman dan mengajak kita menuju surganya lebih berharga daripada seribu sahabat yang mementingkan dunia. Ah alangkah indahnya jika Izy bisa mengajak Vika dalam kajian ini.
Setelah kajian selesai, Izy dan Aisyah segera menuju tempat pendaftaran UKM sekaligus tempat screening. Mereka segera mengisi formulir dan menunggu giliran untuk screening. Sampai tiba giliran Izy.
“Assalamu’alaykum, dek Arizy Faila Zahrani, panggilnya apa nih?” tanya mbak-mbak yang nyecreening Izy. Dia cantik dengan jilbab yang menjuntai. Ditambah kacamatanya yang menambah sisi anggun.
“Wa’alaykumussalam, Izy aja kak.”
“Wah, nama ana Siska, anak-anak sering manggil Mbak Siska soalnya ana sudah semester 5 hehehe jadi curhat, anti bisa panggil ana Mbak Siska atau Ukhty Siska seperti yang lain.” Untung Izy sering baca novel, jadi tahu sedikit-sedikit bahasa Arab dasar kaya gitu.
“Oh iya Mbak Siska saja ya, soalnya belum biasa gunain ukhty mbak, akraban panggil mbak kalau Izy hehehe.” Izy merasa agak wagu kalau memanggilnya Ukhty.
“Iya gapapa, Nah ini ana mau nanya-nanya sedikit, kok anti mau ikut UKM ini mengapa?”
“Karena Izy kan ilmu agamanya masih minim, Izy mau nambah pengalaman dengan ikut UKM ini, nambah pengetahuan, nambah temen, sama mempererat ukhuwah mbak.”
“Sejak kapan dek Izy pakai jilbab gede seperti ini?”
“Hehehe baru tadi mbak.”
“Subhanallah, istiqomah ya..”
“In syaa Allah mbak”
“Shalat 5 waktu tertib?”
“In syaa Allah tertib mbak.”
“Ibadah sunnah?”
“Baru shalat tahajud kadang-kadang sama Dhuha mbak.”
“Pernah pacaran?” glekk pernah mbak, baru putus kemarin. Dulu-dulu malah parah banget, pupus tumbuh lagi.
“Pernah mbak, tapi itu sebelum saya berubah seperti ini, maklum mbak namanya manusia hehehe.” Jawab Izy sambil cengengesan. ‘Ya Allah, pakai acara khilaf juga sih aku dulu. Coba tobat dari dulu, mungkin enak banget hidupku sekarang. Ah, penyesalan memang datangnya belakangan.’ Batin Izy.
“Hehehe nggak apa-apa, toh dulu ana sebelum berhijrah juga pernah pacaran, asal nggak diulangi saja. Manusia yang baik adalah yang mau berproses menuju kebaikan, betul kan?” setidaknya tanggapan mbak Siska tidak terlalu membuatnya malu.
“Iya mbak.”
“Rencana anti ke depan bagaimana? Khususnya tentang asmara, kalau ada seorang ikhwan yang mengkhitbah anti, anti udah siap?” ‘Waduh... apa ini? selama ini aja aku masih main-main kalau masalah asmara. Adek masih unyu bang.’ Izy bergulat dengan pikirannya.
“Itu belum terpikirkan sama sekali mbak hehehe, aku masih mau fokus kuliah dulu.” Izy hanya cengar-cengir karena di pikirannya hanya satu, ia ingun lulus kuliah dengan cepat terlebih dahulu. Setelah itu bekerja dan baru memikirkan tentang jodoh.
“Loh kalau jodohnya anti sudah datang, anti mau menolak?” Ingin Izy berteriak tapi apalah daya...
“Belum tau mbak, seumur-umur aku belum mikirin jodoh serius mbak.”
“Hehehe ya sudah, pertanyaan selanjutnya... bla-bla-bla...”
Akhirnya sesi screening selesai. Aisyah sudah pulang meninggalkan Izy karena ada janji dengan mamanya. Izy pun berjalan menuju parkiran untuk mengambil sepeda motornya. Ia ingin segera pulang ke kos dan tidur. Akan tetapi karena tidak hati-hati, ia menabrak seseorang yang tengah membawa buku-buku di halaman dekat parkiran masjid kampusnya itu.
“Astagfirullah afwan ukh, bukunya terlalu tinggi jadi ana gak bisa lihat kedepan.” Kata orang itu sambil mencoba berdiri karena ia terjatuh ngejengkang ke belakang sedangkan buku-bukunya sudah berhamburan. Izy tidak mempermasalahkan karena ia juga meleng. Dan ia sangat bersyukur karena keadaan halaman masjid tidak basah, jadi buku-buku yang berjatuhan tadi aman. Akan tetapi, ia merasa ada yang aneh setelah mendengar suara laki-laki yang ditabraknya tadi. Izy segera mendongakkan wajahnya dan mengamati laki-laki tadi yang tengah sibuk memunguti bukunya. Seketika Izy menahan tawa, teringat kata-kata yang diucapkan laki-laki tadi.
“Bang Izal..” seru Izy yang sontak membuat laki-laki tadi menoleh dan melotot karena yang ia tabrak tadi adalah...
“Astagfirullah eh Subhanallah eh Alhamdulillah adek gue insaf Ya Allah.” Tanpa aba-aba, Izal memeluk Izy yang masih terduduk.
“Apaan sih bang, kagak malu apa.” Izy melepaskan pelukan itu secara paksa. Wajah Izal sama berbinarnya dengan wajah Aisyah tadi pagi.
“Wah, kudu laporan Mama sama Papa nih.” Izal tak menghiraukan ucapan Izy, ia segera mengeluarkan hp nya dan Ckrekk..
“Apa dah Bang Izal, minggir Izy mau pulang.” Izy segera pergi meninggalkan Izal yang masih senyum-senyum mengetik sesuatu di hp nya.
~~~~~
Sesampai di kos, Izy merebahkan tubuhnya di kasur. Dhuhur masih sejam lagi, ia lalu mengambil hp nya yang ternyata sudah banyak notif masuk. Terutama grup line keluarganya yang berisi ia, Izal, Mama, dan Papa. Izy memutar bola matanya malas membacanya.
Izal Unyuk : Yuhuu coba tebak ini siapa?
Mama Kembar : Izy kah?
Papa Iz : Alhamdulillah..
Izal Unyuk : Iye Ma, ahelah Papa cuek amat sih responnya gitu doang
Mama Kembar : Ini Papa kamu malah lagi sujud sambil terharu Zal
Izal Unyuk : Masa?
Papa Iz : Mama buka aib ih
Mama Kembar : Ini mana orangnya? Kok nggak nongol?
Izal Unyuk : Lagi ngaji kali Ma, tadi aja Izal ketemu di halaman masjid
Papa Iz : Masa? Subhanallah
Mama Kembar : Apa deh Papa ikut-ikutan Izal, nggak bapak nggak anak sama saja
Papa Iz : Like father like son
Izal Unyuk : Like father like son
Izal Unyuk : Tau gitu titip Pa
Arizy FZ : Berisik sekali
Izal Unyuk : Tuh Pa, Ma muncul...
Mama Kembar : Izyyyyyyyy
Papa Iz : Nak kamu masih disana?
Izy meletakkan hp nya tidak mau meladeni keluarga somplaknya lalu ia memejamkan mata. Bisakah ia mempertahakan semua ini? Memang ia sudah niat, akan tetapi masih ada keraguan di dalam hatinya. Segera ia teringat bayangan Izal yang tanpa sepengetahuan orang tua mereka, ia sudah hafidz Al-Qur’an. Meskipun tampilannya selengean, Izal berhasil menipu dengan kemampuan menghafal yang ia miliki. Iri terhadap kebaikan, boleh kan? Izy juga ingin mempersembahkan kemuliaan untuk kedua orang tuanya. Dan tanpa sadar, ia kini telah memantapkan niatnya.

Rabu, 26 April 2017
07 : 39



Izy & Izal

PROLOG
            Izal tak pernah menyangka, adiknya yang petakilan akan berubah drastis hanya karena membaca novel. Ya, Arizy Faila Zahrani Hermawan adalah adik kembar dari Arizal Fairuz Erga Hermawan yang hanya berselang 5 menit. Izy dan Izal memang tak pernah disekolahkan di sekolah yang sama oleh orang tua mereka. Orang tua mereka masih mempercayai mitos bahwa anak kembar tidak boleh disekolahkan di tempat yang sama. Alasan lainnya, Izy dan Izal memang tak pernah akur sedari kecil. Izy yang keras kepala dan Izal yang sangat jahil. Akan tetapi, Izal lebih rajin beribadah dibanding Izy. Izal sedari kecil memang sudah tertarik pada ilmu Agama tanpa sepengetahuan orang tua mereka. Sedangkan Izy, memang sedari SMP sudah memutuskan berhijab, tapi menurut Izal, Izy hanya sekedar berhijab, tidak dengan kelakuannya.
            Oleh sebab itu, ketika mengetahui bahwa Izy yang hobi membaca novel tersebut terbuka hatinya untuk berhijrah lebih baik lagi, Izal tak henti tersenyum. Pasalnya ia selalu mengejek Izy karena sangat menyukai membaca novel yang menurutnya sangat menye-menye itu.
            Izy dan Izal satu tempat kuliah, akan tetapi berbeda kos karena Izal memilih tempat kosnya sendiri sedangkan Izy kesepakatan dengan Vika.

            

Selasa, 21 Maret 2017

Cuap-cuap

Hay sayang-sayangku, mohon maaf dedek kagak post dulu yak hehehe. Jarang buka blog soalnya, lagi sibuk beuddd. Maklumin yak :D
Oh ya, nanti kalau aku selingi cerita lain kagak apa-apa lah ya :V
Tapi ya sekali lagi, kalau kagak sibuk, maklum sekarang lagi jadi mahasiswa penting :'V
Kalau kalian ada waktu luang, coba main-mainlah ke kampus dedek. Tau kan dimane? Itu loh yang di Solo #Lo kira kampus di Solo cuma satu # Oh iya ye. Itu yang deket Bonbin Jurug sama deket RSJ Jebres :"V  Tahu kan? Pasti tahu duonggg :V
Nanti aku bersedia deh jadi pemandu wisata :"V tapi ingett, 2017 kagak ada yang gratis :V
Yaudalayah kapan-kapan disambung lagi :V maaf gaje
Byeeee :"V ({})

Salam Unyu Nan Cantik

Princess Aliice

Selasa, 28 Februari 2017

Crazy Brother Part 7

Part  7 (Pengakuan Lagi)
Hari dimana Kania dan Juna harus meninggalkan Indonesia semakin dekat. Mereka telah mempersiapkan segala keperluan yang akan dibawa ke London. Juna seperti biasa, selalu mengganggu Kania ketika packing hingga membuat Kania mencak-mencak.
“Hoeeee ahelah, kagak kebayang deh jika kalian nanti kagak ada di rumah, udah pasti rumah sepi kayak kuburan...” sungut Mela dari depan pintu kamar Kania.
“Ohhh sini sini sayangku, cintaku, unyu-unyu, biar kakak ganteng gendong sebelum kakak berangkat..” Juna merentangkan tangannya sambil mendekat ke adik bungsunya.
“Dihhh, males, Mela tuh udah mau SMP, masa iya masih mau digendong...” Mela bergeser sebelum kakaknya yang kocak itu berhasil menggapainya.
“Udah tau mau SMP masih aja suka ngrengek” cibir Kania sambil melipat baju-bajunya.
“Disana nanti jangan lupain Mela ya kakak-kakakku, tetep kabarin Mela disini apapun yang terjadi.” Juna dan Kania sontak menengok ke Mela? Apa yang terjadi dengan adiknya yang petakilan satu itu?
“Sumpah deh kak, dia Mela kan? Armela Sofia Aryanto? Kok nyeremin gitu sih cara bicaranya?” Kania terkagum-kagum dengan penuturan adiknya, Juna masih melongo memperhatikan Mela, dan sudah dipastikan, bibir Mela manyun beberapa centi karena kelakuan si kembar.
“GUE SERIUS KAK KANIA..” serunya dengan muka garang. Kania dan Juna mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya.
“Kok loe bisa serius sih Mel?” Mela yang mendengar ucapan tersebut terlontar dari bibir seksi Juna dengan tampang polosnya pun ingin mencakar-cakar wajah Juna.
“Kalian berdua memang duo somplak ya... Bodo amat lupain gue, lupain kalo kalian punya adek yang masih butuh perhatian, lupain dah lupain...” sungut Mela sambil berjalan keluar kamar Kania.
“Aduduh adek cantik gue ngambek... butuh perhatian nih ceritanya, sini-sini main sama kakak ganteng.” Kata Juna sambil merangkul pundak Mela dan mengajak Mela duduk di ranjang Kania. Kania yang mendengar kata-kata Juna hanya mencibir kenarsisan kembarannya tersebut.
Juna sangat tahu perasaan Mela, karena semenjak ia bergabung dengan keluarga aslinya, ia begitu dekat dengan kedua adiknya. Tiada hari dilalui Mela dan Kania tanpa pertengkaran. Pastilah hampa kalau Kania pergi, apalagi dirinya juga pergi, Mela akan sendirian di rumah. Orang tuanya selalu mengadakan perjalanan bisnis yang tidak terduga. Kadang jam 2 dini hari, orang tua mereka berangkat kerja entah kemana. Tapi diantara mereka tidak pernah kekurangan kasih sayang, bahkan dirinya yang dulu di Surabaya pun selalu diperhatikan oleh orang tuanya. Hanya saja intensitas pertemuan yang sedikit kurang.
“Eh iya, tadi pagi-pagi buta Kak Arya kesini nyuruh kita ke rumahnya sebelum kalian berangkat.” Celetuk Mela. Kania yang masih sibuk dengan baju-bajunya segera menghentikan aktivitasnya dan melotot ke arah Mela.
“Arya??? Kok gak loe suruh masuk sih?” Kania segera menyadari tatapan menggoda Juna. Ia benar-benar keceplosan.
“Biasa aja kaleee responnya, segitunya sama Arya.” Kata Juna sambil mengedip-ngedipkan matanya menggoda.
“Iya ih Kak Kania, biasanya kalau Kak Arya kesini juga yang nemuin Mela, tadi katanya buru-buru, lagian pas Kak Arya kesini, Kak Juna lagi joging dan Kak Kania lagi mandi, kalau dianya aja udah bilang buru-buru masa iya suruh nunggu, gimana sih...” cerocos Mela yang langsung ditimpuk sesuatu oleh Kania.
“Apain nih?” tanya Juna sambil berniat mengambil ‘sesuatu’ tersebut yang ternyata sebuah bra merah darah milik Kania yang naasnya keduluan Mela. Kania benar-benar tidak tahu apa yang dilemparkannya. Mela menggeleng senewen atas kelakuan kakak-kakaknya.
“Yaaaa Kak Kania kira-kira dong kalo mau nimpuk, diliat dulu apa yang loe lempar, kan ada Kak Juna.. gue sebagai anak yang baru lulus SD aja malu..” semprot Mela sambil berjalan mengembalikan senjata timpuk kakaknya tersebut. Juna? Jangan ditanya, ia memasang tampang innocent yang Kania tahu pasti batin kakak kembarnya itu lagi cengar-cengir gak jelas.
“Eh itu tadi apaan? Bagus banget bentuknya..” Kania dan Mela sontak melotot mengirimkan sinyal-sinyal mengerikan pada satu-satunya kakak laki-laki mereka. Juna yang ditatap sedemikian horor segera lari terbirit-birit sambil ngakak menuju kamarnya.
**
Sore harinya Juna, Kania, dan Mela bersiap memenuhi undangan Arya. Juna mengenakan celana jeans hitam dan kemeja hitam polos digulung sampai siku. Kontras dengan kulit putihnya. Karena kata Mela tadi acaranya semi formal, makan malam bersama sahabat dan keluarga sahabat-sahabatnya. Mama dan Papa mereka tidak ada dirumah, jadi hanya bertiga. Mela mengenakan gaun floral tanpa lengan berwarna pink selutut couple dengan milik Kania hanya saja berbeda ukuran pastinya. Rambutnya dikepang dan dililitkan menyerupai bando. Mela memang sangat handal menata rambut diumurnya yang masih 12 tahun. Sedangkan Kania hanya mengeriting gantung rambutnya, terlihat sangat seksi.
Setelah semua siap, mereka berangkat ke rumah Arya menggunakan Avanza putih milik Kania karena mobil Juna sedang menginap di bengkel.
Setibanya di rumah Arya, baru ada mobil Ferdy. Rumah Arya memang besar, bergaya ala-ala rumah konglomerat Belanda dengan garasi yang muat sekitar 8 mobil dan bangunan bertingkat 2. Kakek Arya asli Belanda, maka dari itu bangunan rumah ini ada sentuhan interior Belanda nya. Juna masih memarkirkan mobilnya serapi mungkin agar yang datang belakangan kebagian tempat. Kania dan Mela mendahuluinya karena malas menunggu Juna. Setelah memencet bel 2 kali, keluarlah seorang lelaki tampan mengenakan kemeja biru malam dengan motif polkadot digulung sampai siku dan bawahan celana jeans hitam. Rambut yang dipangkas rapi dan dibikin spike. Siapa lagi kalau bukan Arya.
“Eh kalian udah dateng, masuk yuk..” ajak Arya sambil tersenyum kikuk karena gugup berhadapan dengan Kania yang begitu cantik.
“Lorenza ada kak?” tanya Mela karena merasakan aura disekitarnya begitu canggung.
“Ada kok diatas, kamu langsung ke kamarnya aja.” Lorenza adalah adik perempuan Arya dan teman sekelas Mela dari TK.
“Makasih kak, duluan ya..” Mela langsung ngibrit kabur dari situasi yang sangat-sangat awkward tersebut. Kania masih mematung karena terlalu terpesona dengan penampilan Arya. Siapa yang tidak menyangka kalau Arya yang biasanya tampil dengan kaos oblong dan rambut awut-awutan bisa tampil ganteng bin cetar membahana. Kalau ada acara-acara besar waktu di sekolah, bahkan waktu perpisahan pun Arya tak memperhatikan penampilannya. 
“Ehm kayanya gue dilupain..” sahut Juna yang baru dari garasi. Kania tersentak dan mencari pengalihan pandangan, sedangkan Arya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Lama amat parkirnya.” Sungut Kania untuk menutupi kegugupannya. Juna hanya senyum-senyum melihat ekspresi adiknya dan sahabatnya.
“Udah tau lama nape masih mematung menatap keindahan ciptaan Tuhan disini? Hahaha whatsup broo, gue haus boleh minta minum kagak hahaha.” Ucap Juna tanpa tedeng aling-aling. Kania menatap senewen kelakuan kembarannya.
“Sopan santun loe mana sih kak?” sindir Kania, Arya tergelak mendengarnya.
“Hahaha sorry, ini gue yang kesindir karena nggak membawa kalian masuk daritadi, ayo masuk..” Arya merangkul pundak Juna sedangkan Kania bersungut-sungut dibelakangnya sambil menutup pintu rumah Arya. ‘Berasa kaya gue yang punya rumah’ batin Kania sambil mendengus sebal.
Di ruang keluarga Arya masih sepi, baru Ferdy yang sedang bermain PS dengan Aldo kakak Zeva, dan Zeva yang asik mengutak-atik hpnya. Sedangkan keluarga mereka riuh di taman belakang rumah Arya. Selang berapa detik, Mama Arya keluar dari kamarnya dan langsung tersenyum sumringah menatap Kania.
“Ya ampun Kania.. Tante kangen banget sama kamu, kamu kok jarang banget main kesini bareng yang lain sih? Juna sama Mela aja sering banget main kesini kok..” ucap Mama Arya yang langsung memeluk Kania erat seperti baru bertemu dengan anak kandungnya setelah sekian lama berpisah.
“Hehehe maafin Kania Tan..” kata Kania sambil membalas pelukan Mama Arya.
“Sibuk sama pacarnya ya..” Mama Arya melepas pelukannya, Kania meringis mendengar pertanyaan oh bukan, akan tetapi pernyataan Mamanya Arya. Dadanya nyeri, ia benar-benar menyesal.
“Hehehe itu dulu Tante, Kania udah putus.” Sahutnya dengan muka yang ia buat sebiasa mungkin.
“Duh Mama, yang kagak ketemu lama sama anak kesayangannya..” sahut Arya yang baru balik dari dapur bersama Juna untuk mengambil air minum.
“Iya nih Tante, setiap ketemu Juna aja kagak pernah dipeluk begitu..” tambah Juna sambil berpura-pura ngambek. Semua yang ada di ruang keluarga tergelak dengan tingkah Juna.
“Aduh sini-sini Juna sayang Tante peluk, gitu aja kok iri sama adeknya sih..” Mama Arya menghampiri Juna dan memeluk Juna. Juna yang tidak tahu kalau candaannya direspon sungguhan oleh Mama Arya hanya terkikik geli. Ia lantas menenggelamkan kepalanya dengan manja di leher Mama Arya. Arya senewen melihat tingkah konyol sahabatnya itu.
“Heh loe peluk Mama gue lama-lama, gue juga peluk Kania lama-lama nih..” ancam Arya yang sontak mengalihkan perhatian Ferdy, Aldo, Zeva dari aktivitas yang dilakukan. Juna malah nyengir seolah memberi kode pada Mama Arya.
“Peluk ajah sanah... Juna sayang Tante.” Kata Juna sambil terus memeluk Mama Arya. Sedangkan Ferdy, Aldo, dan Zeva sudah tertawa ngakak akibat ulah Juna yang mirip pecinta tante-tante. Arya berjalan mendekati Kania dan segera menarik ke pelukannya. Kania tersentak kaget, tetapi hanya bisa mematung. Sedangkan yang lain senyum-senyum melihat adegan entahlah adegan apa itu. Kalau mau dibilang romantis, biasa aja, mau dibilang mengharukan, enggak juga, tau lah. Juna terkikik-kikik sambil mengurai pelukannya bersama Mama Arya. Mama Arya juga ikut senyum-senyum.
“Ka, gue kangen loe.” Bisik Arya, ia merasakan detak jantungnya dan jantung Kania saling beradu seolah mencari pemenang dari keduanya.
“Kan baru beberapa hari kita ketemu Ya..” balas Kania di leher Arya. Kalau biasanya tinggi badan Kania sedada Arya, hari ini seleher karena Kania mengenakan sepatu hak tinggi.
“Udah lama gak meluk loe kaya gini.” Ucap Arya tanpa basa-basi masih dengan berbisik. Pipi Kania bersemu merah, ia lalu membalas pelukan Arya dengan melingkarkan tangannya di pinggang Arya. Juna heboh mengambil hp di saku celananya untuk memotret momen tersebut dan Mama Arya terkikik melihatnya.
“Maafin gue Ya kalau dulu...” belum selesai Kania mengucapkannya, Arya telah melepas pelukannya dan menempelkan jari telunjuknya di bibir seksi Kania.
“Yang dulu-dulu biarlah berlalu Ka, sekarang saatnya fokus ke masa depan, masa depan aku dan kamu.” Kania langsung memeluk Arya lebih erat lagi. Arya tersenyum lebar karena hatinya begitu bahagia.
“Ehmmmmmmm ada acara apa nih kok adegannya peluk-pelukan???” ucap Renata yang baru muncul dengan keluarganya dan Anita. Sontak Kania dan Arya melepaskan pelukan mereka dan tersenyum kikuk.
“Ahelah Renata.. loe ganggu momen-momen bahagia tau gak sihhhh, mentang-mentang sepupunya Arya langsung masuk rumah Arya seenak jidat, gemes gue ama loe.” Omel Juna yang membuat semua tertawa dan membuat Kania melotot kepadanya.
“Heh jangan omelin bebeb gue dong..” celetuk Ferdy. Semua yang mendengar melotot kearah Ferdy yang sekarang salah tingkah. Untungnya keluarga-keluarga yang mereka bawa telah digiring Mama Arya ke taman belakang.
“Anjirrr loe jadian sama Renata? Kenapa kagak bilang-bilang?? Wahhh PJ dong..” kalau biasanya ketika Juna heboh begini langsung ditimpuk sama salah satu dari mereka, ini berbeda, karena mereka semua menyetujui ucapan Juna.
“Hehehe ah napa loe keceplosan segala sih Fer...” kata Renata sambil cengar-cengir.
“Eitsss loe?? Kan udah diganti say...” belum selesai Ferdy berbicara sudah disambung Zeva.
“Thonnirojim hahaha.” Juna terpingkal-pingkal sambil nunduk-nunduk di lantai, karena kalau berdiri sudah dipastikan kakinya tidak kuat menahan berat badannya akibat ekspresi cengo Ferdy.
“Aduh gilakk itu muka loe bisa dikondisikan gak sih Fer? Gak usah sok jelek ihh..” kata Juna disela-sela tawanya, tidak menyadari bahwa ada seseorang tersenyum karena ulahnya itu.
“Ihh kalian mah jahattt.. kembalikan aku pada orang tuakuhh..” Ferdy dramatis yang langsung ditimpuk bantal sofa oleh Zeva.
“Najis Ren pacar loe.” Ucap Zeva sambil fokus kembali pada hpnya. Mereka semua pun duduk di sofa ruang keluarga Arya. Juna sedikit melirik-lirik Zeva yang masih fokus pada hpnya. Bukan Juna melirik Zeva, tapi Juna melirik hp Zeva, kepo atas apa yang dikerjakan Zeva.
“Loe utang penjelasan loh Ren.” Kania mengucapkannya dengan nada mengitimidasi.
“Eh kagak kebalik? Harusnya loe yang utang penjelasan, gue baru dateng udah disambut adegan berpelukan.” Skakmattt. Kania hanya nyengir menanggapinya.
“Juna pliss deh, tingkah loe ada aja daritadi, kasihan tuh yang merhatiin tingkah abnormal loe sambil senyum-senyum.” Kata Arya to the point. Pasalnya daritadi ia memperhatikan Anita yang senyum-senyum sambil memandang Juna. Dalam batinnya pun terkikik karena Anita dari dulu sukanya sama cowok yang abnormal. Arya, Kania, dan Anita telah berteman sejak kecil, lebih lama diantara yang lainnya.
“Eh kampret loe ngintipin ya??” Zeva nyolot karena menangkap Juna yang mengamati hpnya.
“Guys guys Zeva punya pacar anak kuliahan hahahaha anjirr.. disini tinggal gue sama Anita yang jomblo hahaha, atau Anita udah punya pacar?” tanya Juna pada Anita yang kini salah tingkah.
“Kakak loe kok kagak ada peka-pekanya sama sekali sih Ka, sama kaya loe, udah tau Anita suka senyum-senyum kalau liatin dia.” Kania melotot ke Arya yang membisikkan kata-kata tersebut. Ia tak segan-segan mencubit pinggang Arya sampai Arya meringis.
“Loe kira kita keluarga yang kagak punya kepekaan gitu..” Arya malah mencubit hidung Kania dan kabur kesebelah Zeva.
“Etdahhh nasib-nasib.” Gerutu Juna yang melihat kemesraan adiknya dan sahabatnya.
“Eh iya Anita udah ada pacar belum?” ulang Juna. Semuanya menatap Juna dengan tatapan –tau-ah-Jun-
“Belum Juna..” jawab Anita dengan gemas, yah sekaligus kode keras.
“Aduh gue jadi deg-deg an, niat hati mau nembak, tapi keinget kalau besok gue harus hidup di negri orang, masa iya harus ngegantungin anak orang juga.” Ferdy sudah hampir terjungkal menahan tawanya.
“Kampret bahasa loe Jun hahahahaha.” Akhirnya Ferdy meledakkan tawanya. Anita hanya tersenyum malu-malu, dalam batinnya berkata, biarpun ia harus menunggu kepulangan Juna selama bertahun-tahun akan ia lakukan.
“Berisikkkkkkkkkk.” Teriak seseorang dari lantai 2. Ya, itu suara Lorenza, adik Arya. Mela yang disebelahnya malah terbahak-bahak.
“Loe juga kagak kalah berisik Ezaaa.” Teriak Ferdy tak kalah toanya.
“Aduh kalian kok malah teriak-teriak kaya di hutan sih.. ayo sini makan dulu.” Kata Mama Arya yang baru muncul dari pintu belakang.
“Ayee makan..” teriak Juna yang langsung ngeloyor menghampiri Mama Arya dan merangkulnya seperti mamanya sendiri. Yang lain pun mengikuti kepergian Juna menuju taman belakang rumah.
“Ini siapa sih yang anaknya Mama?” Kania tergelak mendengar ucapan Arya yang bernada tersiksa.
“Udah anggep aja tukeran.” Kata Kania sambil merangkul pinggang Arya yang disambut dengan senang hati oleh Arya.
Mereka makan dengan suka cita. Setelah makan, mereka melanjutkan obrolan kembali di ruang keluarga, tapi tidak dengan Kania dan Arya. Mereka memilih tetap tinggal di samping kolam renang dengan menenggelamkan kaki mereka. Menikmati bulan yang bersinar terang tepat diatas kepala mereka.
“Ka?” Kania menoleh menatap Arya yang pandangannya fokus kepada pantulan sinar bulan di dalam air.
“Ada apa Ya?” tanya Kania lalu tiba-tiba Arya menoleh kearahnya. Kania takjub, baru kali ini ia memandang Arya dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan tadi diantara adegan pelukan, ia tak memandang mata Arya. Dan satu fakta telah diketahuinya. Warna mata Arya. Bukan hitam yang seperti ia kira selama ini, tapi biru gelap dan itu menambah ketampanannya.
“Kalau gue nembak loe lagi? Loe mau jawab apa?” Kania masih fokus pada mata Arya yang seolah-olah menghipnotisnya.
“Loe maunya gue jawab apa?” Kania malah balik bertanya dan itu membuat Arya mengerang frustasi.
“Ka, gue gak mau kalap disini terus ngajakin loe nyebur ke kolam renang ya.. cukup Yes or No baby..” Kania tersenyum melihat Arya yang seperti tersiksa dengan pertanyaannya sendiri.
“Arya.. loe tau kan gue sama Kak Juna besok mau berangkat ke London, loe yakin bisa ngejalanin kalau gue jawab IYA?” Arya tersentak. Apakah Kania ada rasa atau tidak dengannya.
“Enggak harus dijalanin Ka, kita sama-sama berjuang dulu buat cita-cita kita, kalau jodoh pasti nanti kita dipertemukan lagi.” Ucap Arya yang membuat Kania tersenyum.
“Ya, kalau gue boleh jujur, loe mau denger kejujuran gue gak?” Arya memandang Kania yang kini fokus bermain air dengan tangannya.
“Mau banget Ka.” Kania berhenti sejenak seperti berpikir, lalu menoleh pada Arya sambil tersenyum.
“Mungkin gue mulai jatuh cinta sama loe Ya..” Arya mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya, tapi setelah melihat mata coklat cerah milik Kania, ia tak menemukan kebohongan sama sekali. Ketulusanlah yang ia temukan. Dalam hati ia bersyukur, usahanya selama ini tidak sia-sia.
“Gue percaya..” kata Arya yang langsung menarik kepala Kania untuk disandarkan di dada bidangnya. Kania menurut saja, ia menikmati elusan tangan Arya dikepalanya. Sebenarnya ia tidak ingin mengakhiri momen seperti ini. Ah andaikan dulu Kania tak menolak Arya, mungkin momen seperti ini sering terjadi.
“Ka, gue boleh minta satu hal gak dari loe?” Kania yang mulai memejamkan matanya kembali membuka matanya.
“Apapun Ya..” jawab Kania dan kembali memejamkan matanya.
“Loe kalau disana jangan lirik bule ya..” spontan Kania terkikik. Ia merasakan debaran jantung Arya yang sangat cepat.
“Gue udah ada bule disini Ya, ngapain repot-repot lirik bule yang disana..” Kania tersenyum yah walaupun ia yakin Arya tak melihatnya.
“Bule disini?” Arya mengerutkan keningnya. Pikirannya terlalu dangkal untuk memikirkan kode dari Kania.
“Iya..” Arya langsung menjauhkan Kania dari dadanya dan menatap mata Kania dalam-dalam.
“Siapa?” Tanyanya yang menyiratkan sedikit kecemburuan. Kania menahan dirinya untuk tidak terpingkal-pingkal.
“Dulu temen gue ada yang bilang, duluuu banget, waktu gue sekolah TK aja belum, dia bilang kalau pengen banget ketemu bule, terus gue nanya, bule itu apa? Dianya jawab kalau bule itu bukan orang Indonesia, dan yang punya warna mata yang berbeda dengan orang Indonesia, dan gue udah nemuinnya disini.” Kania mengelus pipi Arya sambil tersenyum. “Warna mata loe, bukan warna mata orang Indonesia.”
Arya tersenyum sambil memegang tangan Kania yang ada di pipinya. Ia tak mau kalap mencium bibir seksi Kania yang selalu mengucapkan kata-kata manis hari ini. Ia masih ingin menjadi anak baik kesayangan mamanya, maka dari itu ia kini hanya terus tersenyum dan memeluk Kania.
“Gue sayang sama loe, jaga diri loe baik-baik disana ya nanti.” Kania hanya mengangguk dalam pelukan Arya.
“Ka.. loe pernah dicium Edo?” tanya Arya takut-takut kalau menyinggung Kania. Kania menggeleng dalam pelukannya.
“Setiap Edo mau mencium gue, gue selalu menghindar Ya, karena gue belum siap dicium oleh siapapun selain keluarga gue.” Ucap Kania yang ternyata kini mengantuk di pelukan Arya.
“Ehm, kayanya kamu ngantuk deh Ka, masuk yuk..” Arya langsung menggandeng tangan Kania dan meninggalkan kolam renang.
Di ruang keluarga tinggal orang tua Arya, Lorenza, Zeva dan Aldo. Zeva dan Aldo berpamitan untuk pulang.
“Loh Tante.. Kak Juna sama Mela mana?” tanya Kania karena ia tak menemukan adik maupun kakaknya.
“Juna sama Mela baru aja keluar, kamu biar diantar Arya saja, soalnya Juna sama Mela mau nganterin Anita dulu, tadi orang tua Anita buru-buru ke bandara, nggak apa-apa kan di antar Arya?” Kania menggeleng.
“Asalkan tidak merepotkan saja Tan.” Mama Arya langsung menghampiri Kania.
“Oh jelas nggak merepotkan, bahkan dengan senang hati Arya bakal nganterin kamu, iya kan Ya?” heboh Mama Arya. Papa Arya menggeleng melihat kelakuan istrinya dalam hal mendekatkan Arya dengan Kania.
“Iya Ka, ayo gue antar.” Kania segera memeluk Mama Arya dan pamit serta meminta doa restu untuk keberangkatannya besok. Tak lupa juga pada Papanya Arya. Setelah selesai berpamitan, Kania segera pulang dengan diantar Arya.
Selama perjalanan, Kania tertidur disamping Arya yang mengemudikan mobilnya. Setelah sampai, Arya tak langsung membangunkan Kania. Ia mematikan mesin mobilnya dan meletakkan kepalanya di setir mobil sambil mengamati Kania.
“Loe cantik banget Ka, tapi gue paling suka sifat ceria loe yang bisa membawa energi positif buat orang-orang disekitar loe. Mungkin nanti gue bakalan kangen sama loe. Jaga kesehatan loe Ka, gue sayang loe.” Ucap Arya pada Kania yang masih tidur. Kania seperti tak terganggu dengan ucapannya itu. Tangan Arya bergerak menyusuri wajah Kania, merekam setiap jengkalnya agar selalu tersimpan di memori hatinya. Menyelipkan rambut yang menutupi wajah Kania di belakang telinga. Kania menggeliat tak nyaman, Arya tersenyum lalu sedikit mengguncang bahu Kania.
“Ka, udah sampe rumah loe..” Kania membuka matanya perlahan-lahan, kelihatan kalau ia benar-benar ngatuk.
“Aduh maaf Ya, gue ketiduran..” kata Kania sambil merapikan rambutnya dan ingin membuka pintu mobil Arya tapi tangannya dicegah oleh Arya.
“Kumpulin dulu nyawa loe, biar gue bukain pintunya.” Arya langsung turun dari mobilnya dan berputar untuk membukakan pintu untuk Kania. “Silakan Tuan Putri..” kata Arya sambil membungkuk ala pengawal istana. Kania tersipu malu dan ikut membungkuk untuk mengecup pipi Arya sebagai ucapan terimakasih. Arya membeku, rasanya seperti ada banyak kupu-kupu beterbangan dalam perutnya.
“Terimakasih Arya.” Arya tersenyum menetralisir jantungnya yang sudah ingin melocat.
“Iya, selamat tidur Tuan Putri..” ucapnya sambil terus tersenyum. Kania mengangguk dan membalas senyum Arya dengan senyum yang sangat manis meski matanya terlihat sayu karena mengantuk.
“Iya sama-sama..” Kania sudah akan beranjak masuk pagar rumahnya. Akan tetapi ucapan Arya menahan langkahnya.
“Ka, besok gue boleh ikut nganterin loe dan Juna ke bandara kan?” Arya terlihat harap-harap cemas. Kania mengangguk sambil tersenyum.
Sure Arya.. semua juga pengen ikut kok.” Arya tersenyum sumringah kembali.

“Yaudah Ka, gue pulang dulu ya, Good Night Princess.” Arya segera masuk ke mobilnya dan menjalankan mobilnya untuk pulang. Tapi sebelumnya ia melambaikan tangannya pada Kania. Kania balas melambaikan tangannya mengiringi kepergian mobil Arya sampai tak terlihat oleh matanya. Ia segera masuk rumah dan istirahat untuk besok karena mobilnya belum ada di garasi, dipastikan Juna dan Mela belum pulang dari mengantar Anita.


Acieeeehhh adek apdet lagi :V Tapi sorry ye, abis ini entah kapan apdet lagi, soalnya lagi suibukkkkkkk banget mo nulis :'V sok sibuk gilakkk
Nanti kalau kangen kepoin medsos adek aja B) 
Oh ye, palin nih cerita bentar lagi end. yah kalau end rencananya adek mau buat cerita baru yang bergenre romance religi. Curahan hati sih :'V 
See ya kapan-kapan lagi :* 

Senin, 27 Februari 2017

Crazy Brother Part 6

Part 6 (Maaf)
Sesampai di rumah, Kania segera memapah Juna ke kamarnya. Sedangkan Arya berpamitan untuk pulang. Orang tua Kania dan Juna sedang ada bisnis di luar kota. Mela ada camping tahunan. Sedangkan Bi Inah sedang pulang kampung.
“Istirahat dulu kak... Gue ambilin makan malam dulu..” kata Kania setelah Juna tertidur di ranjangnya. Juna hanya berdehem, tatapan matanya masih kosong.
“Aisshhh, kagak ada makanan sama sekali? Wah pasti ngiranya hari ini kita makan malam di sekolah, masak deh...” Sesampai di ruang makan, tak ada lauk sedikitpun, hanya ada nasi di magic jar. Kania mendengus kesal, pasalnya ia sangat-sangat kelelahan.
Setelah kurang lebih setengah jam ia berkutat di dapur, jadilah masakan yang pasti enak rasanya. Sop Buntut Sapi. Makanan favorit Kania dan Juna. Kania pun seorang chef rumahan yang kemampuan memasaknya sudah tidak bisa diragukan lagi. Akan tetapi, ia sangat malas mengembangkan bakat memasaknya. Hanya kadang kalau kepepet seperti sekarang.
“Kak, makan dulu gih.. Dari tadi siang belum makan kan? Ayo makan...” Juna segera terbangun dan tertatih menuju ruang makan dengan digandeng Kania. Kania cukup paham dengan keadaan Juna setelah mendengar ceritanya tadi. Ia baru tahu, sekonyol-konyolnya Juna, tak pernah main-main dengan perasaan. Betapa beruntungnya cewek yang disayangi Juna.
“Minggu depan kita berangkat ke London, apa misi loe selanjutnya Ka?”  tanya Juna di sela-sela makannya. Kania segera mendongak menatap Juna.
“Mungkin lupain semua masa lalu gue Kak, loe juga kan...” jawab Kania mantap.
“Iya, gue pengen buka lembaran baru disana, tapi nggak mau sama cewek bule hehehe.” Kata Juna enteng. Kania tersenyum karena Juna sudah bisa tertawa lagi. Ia sangat pandai mengubah emosinya.
“Hahaha yang lokal aja Kak, gak usah aneh-aneh. Loe kagak makan berapa tahun sih? Gitu amat..” sewot Kania karena Juna makan seperti orang kesurupan. Padahal biasanya kalau Kania sedang tidak enak hati, malah tidak makan. Lah Juna? Ia malah bisa makan dengan lahapnya.
“Yaaaa laper kali, kan energi gue udah terkuras waktu nemuin Edo tadi, lari-lari, ditambah lagi gue belum makan sedari siang Kania sayang.. Aisshhh” celoteh Juna. Kania hanya geleng-geleng mendengarnya.
“Dihabisin makannya, trus tidur..” Kata Kania sambil terus melahap makanan di piringnya.
“Ogah ah, ini kan masih jam 10, gimana kalau kita keluar Ka..” celetuk Juna. Kania mendelik mendengarnya.
“Apa loe kata? Masih jam 10? Helllooo Kakak Juna tersayang, jam 10 tuh bagi gue udah malem keless.. lagian keluar kemana coba..” sungut Kania karena waktu tidur malamnya harus terpotong.
“Nanti gue tunjukkin..” balas Juna.
**
Benar saja, Juna mengajak Kania ke sebuah cafe 24 jam yang tak jauh dari kompleks rumah mereka. Juna mengenal sang pemilik cafe karena ia sudah sering berkunjung ke cafe itu.
“Hai mas Rey, kenalin ini Kania kembaran gue..” sapa Juna pada pemilik cafe tersebut.
“Oh hai.. pantesan Juna ganteng banget, kembarannya juga cantik banget ternyata..” sahut Mas Rey sambil mengulurkan tangan.  Kania segera menjabat tangan Mas Rey tersebut.
“Eh Mas, kita boleh nyumbang lagu nggak?” tanya Juna yang langsung disambut antusias oleh Mas Rey.
“Boleh banget, ayo gue anter ke panggung..” Mas Rey berjalan mendekati panggung diikuti Juna dan Kania. Sesampai di panggung, Mas Rey berdiskusi sebentar dengan band nya dan mempersilakan Juna dan Kania memainkan sebuah lagu.
“Lagu apaan Kak?” tanya Kania yang masih belum ngeh dengan tingkah Juna.
The Man Who Can’t Be Moved bisa kan loe?” Juna tahu Kania sering mendengarkan lagu itu di mp3.
“Bisa, oke gue ngikut loe aja alurnya.” Juna langsung memetik gitarnya.
Going back to the corner where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag I'm not gonna move
Got some words on cardboard, got your picture in my hand
Saying, "If you see this girl can you tell her where I am?"

Some try to hand me money, they don't understand
I'm not broke – I'm just a broken-hearted man
I know it makes no sense but what else can I do?
How can I move on when I'm still in love with you?

Cause if one day you wake up and find that you're missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you'll come back here to the place that we'd meet
And you'll see me waiting for you on the corner of the street

So I'm not moving, I'm not moving

Policeman says, "Son, you can't stay here."
I said, "There's someone I'm waiting for if it's a day, a month, a year.
Gotta stand my ground even if it rains or snows.
If she changes her mind this is the first place she will go."

'Cause if one day you wake up and find that you're missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you'll come back here to the place that we'd meet
And you'll see me waiting for you on the corner of the street

So I'm not moving, I'm not moving,
I'm not moving, I'm not moving

People talk about the guy that's waiting on a girl, oh ohh
There are no holes in his shoes but a big hole in his world, hmm

And maybe I'll get famous as the man who can't be moved
Maybe you won't mean to but you'll see me on the news
And you'll come running to the corner
'Cause you'll know it's just for you
I'm the man who can't be moved
I'm the man who can't be moved

'Cause if one day you wake up and find that you're missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you'll come back here to the place that we'd meet
And you'll see me waiting for you on the corner of the street

Going back to the corner where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag, I'm not gonna move

Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan cafe. Mas Rey terkagum-kagum dengan penampilan Juna dan Kania, ia segera menghampiri mereka di panggung.
“Oke guys ini bintang tamu kita malam ini, si kembar Juna dan Kania, gimana penampilannya? Keren kan? Gimana kalau kita suruh nyanyi lagi? Jarang-jarang kan mereka datang kesini?” Kania mendelik atas ucapan Mas Rey. Sementara Juna hanya tersenyum menanggapinya.
“Yah asalkan ada kompensasinya mas hahaha” kelakar Kania hingga seisi cafe ikut tertawa.
“Oke gampang nanti, mau ya nyanyi setidaknya 2 lagu lagi.. hehehe” balas Mas Rey. Semua pengunjung cafe setuju. Juna tersenyum lagi dan mengajak Kania mengambil posisi untuk penampilan selanjutnya. Tanpa Kania sadari, ada Arya disana yang tersenyum kearah Juna, dan Juna membalasnya.
“Oke di lagu kedua ini, saya akan memainkan piano sementara yang nyanyi Kania. Lagu yang mewakili perasaannya atas kesalahan yang tak disadari...” Kania mendelik tak mengerti maksud Juna. Arya semakin serius mendengarnya.
“Kami akan membawakan lagu Back to December..” Kania kaget. Sudah pasti yang dimaksud kesalahan oleh Juna adalah penolakannya pada Arya waktu pesta ulang tahun sekolah malam itu. Kania hanya meneguk ludah dalam-dalam.
“Semangat adek.. ditonton tuh.. hehehe” bisik Juna sambil menunjukkan dagunya kearah Arya yang sedang duduk menikmati caramel machiato nya. Kania melotot, ia hanya bisa mendengus kesal. Sudah dibayangkan apa yang akan dilakukannya pada Juna sepulang dari cafe ini. Juna mulai menekan tuts-tuts piano dengan harmoninya.
I’m so glad you made time to see me
How’s life? Tell me, how’s your family?
I haven’t seen them in a while
You’ve been good busier than ever
We small talk, work and the weather
Your guard is up and I know why

Because the last time you saw me
Is still burned in the back of your mind
You gave me roses, and I left them there to die

So this is me swallowing my pride
Standing in front of you, saying I’m sorry for that night
And I go back to December all the time
Salah satu karyawan yang sudah di setting Juna memberikan mawar kepada Arya untuk diberikan kepada Kania. Arya malu-malu menuju panggung. Kania sebisa mungkin mencoba untuk tetap biasa sambil meneruskan nyanyinya.
It turns out freedom ain’t nothing but missing you
Wishing I’d realized what I had when you were mine
I go back to December, turn around and make it alright
I go back to December all the time
Arya menyerahkan mawar yang dibawanya kepada Kania. Kania menerimanya dengan malu-malu, sementara sudah ada kameramen yang sudah disiapkan Juna yang sudah memotret momen-momen penting tersebut dengan diam-diam.
“Sorry ya Ya untuk yang waktu itu..” bisik Kania. Arya tersenyum mendengarnya.
“Iya nggak apa-apa, dilanjut lagi gih nyanyinya..” balas Arya, sementara Juna mengiringi momen-momen tersebut dengan pianonya sambil cekikikan. Mas Rey menyuruh Arya menemani Kania bernyanyi. Cekikikan Juna semakin tak tertahankan. Kania sangat malu.
These days I haven’t been sleeping
Staying up playing back myself leaving
When your birthday passed and I didn’t call
Then I think about summer, all the beautiful time
I watched you laughing from the passenger side
And realized I love you in the fall

And then the cold came, the dark days
When fear crept into my mind
You gave me all your love, and all I gave you was good bye
Tak terasa, air mata Kania menetes. Arya mengusap air mata tersebut dengan tangannya. Sementara Juna heboh mengode kameramen bayarannya untuk memotret momen tersebut. Untung saja permainan pianonya tidak buyar.
So this is me swallowing my pride
Standing in front of you, saying I’m sorry for that night
And I go back to December all the time

It turns out freedom ain’t nothing but missing you
Wishing I’d realized what I had when you were mine
I go back to December, turn around and make it alright
I go back to December all the time

I miss yor tan skin, your sweet smile
So good to me, so right
And how you held me in your arms that September night
The first time you ever saw me cry

Maybe this is wishful thinking
Probably mindless dreaming
But if we loved again, I swear I'd love you right

I'd go back in time and change it, but I can't
So if the chain is on your door, I understand

So this is me swallowing my pride
Standing in front of you, saying I’m sorry for that night
And I go back to December all the time

It turns out freedom ain’t nothing but missing you
Wishing I’d realized what I had when you were mine
I go back to December, turn around and make it alright
I go back to December all the time
Tepuk tangan riuh menggema di ruangan cafe. Kania menahan malunya ia pun segera balas dendam kepada Juna, akan tetapi ketika ia hendak berbicara, Juna dengan sengaknya berpamitan dengan alasan ia sudah mengantuk dan tidak diperbolehkan keluar lewat tengah malam oleh orang tuanya. Arya terkikik geli melihat ekspresi Kania.
“Aisshhh...” desis Kania. Ia segera berpamitan pula dengan para pengunjung cafe dan tak lupa pula berpamitan dengan Mas Rey.
“Jiahaha nggak ada kesempatan balas dendam deh..” ejek Juna ketika mereka berjalan menuju parkiran.
“Kayak nggak ada hari lain aja..” sewot Kania sambil berlalu masuk ke mobil. Juna dan Arya terkikik.
“Minggu depan kita berangkat ke London, loe nggak ada niat buat ngulangin pernyataan loe ke Kania?” tanya Juna pada Arya. Arya menghentikan langkahnya. Tampak raut wajah berpikir pada wajah tampannya.
“Gue belum tau Jun.. Nanti gue pikirin dulu.. gue balik ya..” sahut Arya dan masuk ke mobilnya. Juna memandang kepergian Arya dengan tatapan entahlah.
“Hoeee kak Juna.. tadi loe bilang loe ngantuk? Kok malah bengong disitu?” teriak Kania dari dalam mobil. Juna tergeragap dan segera menyusul Kania di mobil.
“Loe kira gue sopir? Pindah ke depan Kania..” Juna geregetan karena Kania duduk di belakang.
“Ogah, gue mau tidur.” Jawab Kania singkat.
“Helloo di depan juga bisa tidur kalik... pindah atau gak pulang..” ancam Juna dengan wajah dibuat sangar.
“Terserah loe, gue mau bobok cantik.. wekkk.” Balas Kania sambil melet dan mencari posisi enak untuk tidur.
“Arghhh kampret loe Ka..” pasrah Juna dan segera menyalakan mesin mobilnya dan menuju rumah. Kania terkikik geli melihat tingkah Juna.

**


Haiiiiii... aku post lagi nih.. 
oh iye, sorry ye kalau typo dimana-mana, sorry juga kalau postnya lamaaaaaa. Soalnya yah, selain penulis amatiran, adek kan juga pelajar yang harus belajar juga :'V 
Jangan bosen-bosen deh nungguin nih cerita ;V 
Salam cantik nan unyu dari adek :) {}