Hubban Limaanan
Pagi ini terasa
cerah, pasalnya kemarin sore hingga larut malam terjadi hujan deras. Untung
saja tak sampai membuat sungai di sekitar kos Izal meluap. Kini Izal tengah
membaca buku entah buku apa karena covernya sudah buluk bahkan kertasnya
berwarna cokelat. Ia tengah serius dengan bacaannya ketika sahabatnya sekaligus
teman sekamarnya masuk membawa 2 nasi bungkus.
“Eh
Zal, loe anak Agroteknologi tapi kok bacaannya naskah kuno sih? Gue yang anak
Sastra merasa kalah loh.” Celetuk Reza yang melihat Izal dengan buku buluknya.
“Sembarangan,
ini bukan naskah kuno, tadi aku nemu di deket pintu masuk gudang kos ini.”
Sahut Izal tanpa mengalihkan matanya dari buku itu.
“Ye,
loe mah sukanya ngeluru, makan dulu
nih.” Reza menyodorkan sebungkus nasi. Izal lalu meletakkan buku yang ia baca
dan menerima nasi bungkus dari Reza.
“Ngeluru? Bahasa yang aneh.”
“Yeee
hargai dong ragam bahasa di Indonesia.” Izal terkikik dengan tampang Reza, ia
segera makan dengan lahap.
Selesai
makan, Izal sebenarnya ingin melanjutkan bacaannya tadi, akan tetapi Reza
mengganggunya dengan pertanyaan. Mau tidak mau sebagai sahabat yang baik, ia
menyimak apapun yang dikatakan Reza.
“Eh
Zal, loe punya temen yang suka ngutang gak sih?” Izal mengernyit mendengarkan
pertanyaan dari Reza. Bukankah sudah jelas bahwa Reza lah teman yang ia punya
dan yang suka ngutang? Ia terkikik dalam hati.
“Ada,
emang kenapa?”
“Jangan
bilang itu gue ya, hahaha, ya loe kalau punya sahabat atau temen yang suka
ngutang gitu gimana perasaan loe?”
“Ya
seperti yang kamu lihat sekarang, aku fine-fine aja deket kamu hahaha.” Reza
manyun mendengarnya.
“Makna
persahabatan bagi loe tuh apa sih? Yang selain tempat ngutang terpercaya.” Reza
akhirnya menanyakan hal itu, ia sangat tidak puas dengan jawaban Izal.
“Yang
setiap aku melihatnya, mengingatkanku pada surga.” Jlebb. Reza merasa mengecil.
Ia memang berteman dengan Izal sedari SMA, akan tetapi ia belum bisa
menyejajarkan dirinya dengan Izal. Izal yang selengean tapi sebenarnya
menyimpan banyak rahasia. Izal yang tak pernah absen bangun jam 3 untuk
mengerjakan tahajud, Izal yang tak
pernah absen mengerjakan Shalat Dhuha, dan Izal yang selalu mengingatkannya
terhadap kebaikan, pokoknya masih banyak lagi. Sedangkan dirinya?
“Loe
kalau liat gue ada ngeliat surga kagak? Kan gue absurd gini orangnya.” Izal
terkekeh.
“Gimana
ya..” Izal pura-pura berpikir.
“Loe
mah gitu Zal, eh caranya milih temen yang baik tuh gimana sih? Perasaan temen
gue yang agak waras cuma loe, loe aja kagak waras-waras amat.” Izal mendelik
tapi tak berapa lama ia tertawa juga.
“Kamu
pernah denger kan Za, Dari Abu Musa radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda : Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk
ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak
wangi mungkin akan memberimu minyak wangi darinya, atau engkau bisa membeli
minyak wangi, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya.
Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan
kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap (HR.
Bukhori & Muslim). Pasti kamu udah sering banget denger kan?”
“Weh
sering bangetlah... sama itu yang pernah disampaikan Ustadz Abdul yang tentang
7 jenis persahabatan tetapi hanya 1 yang sampai surga. Loe waktu itu ikut
kajiannya kan? Eh gue salah nanya, loe kagak ikut kajian aja udah banyak baca
yak hehehe.” Reza cengengesan dengan pertanyaannya sendiri.
“Coba,
7 jenis itu apa saja?” Izal menghidupkan kipas angin karena cuaca yang agak
cerah ceria dan ia tadi mandi ketika subuh, jadi sudah gerah kembali.
“Yang
pertama itu Ta’aruffan, persahabatan yang terjalin secara kebetulan, misal
ketemu dimana gitu, terus kedua Taariihan, karena faktor sejarah, misal temen
sekolah, sekos gitu kaya loe sama gue, ketiga Ahammiyyatan, terjalin karena
faktor tertentu, misal bisnis. Keempat Faarihan, persahabatan yang terjalin
karena hobi. Kelima Amalan, terjalin karena seprofesi. Keenam Aduwwan, itu kaya
bermuka dua gitu, kalau di depan manis-manis, dibelakangnya ngejelek-jelekin.
Trus yang terakhir ini yang sampai surga yaitu Hubban Limaanan, cuma gue
pengertiannya belum terlalu paham soalnya waktu Ustadz Abdul ngejelasin yang
itu, gue kebelet pipis, pas mau searching lupa-lupa mulu hahaha.” Karena bicara
yang sangat panjang hingga mengakibatkan haus yang berlebihan, Reza meneguk air
mineral dari botol secara langsung.
“Wah,
daya ingat Reza boleh juga hahaha. Eh tapi aku nggak mau loh kalau cuma
bersahabat sebatas Taariihan. Aku maunya yang Hubban Limaanan, pertemanan yang
lahir karena saling berkasih sayang karena Allah semata. Sebuah pertemanan yang
akan saling tolong menolong dalam kebaikan dan menutup aib temannya. Bahkan
pertemanan jenis ini akan saling mendoakan dalam setiap shalat mereka. Seperti
yang dijelaskan dalam Qur’an Surat Az-Zukhruf ayat 67, al-akhilla’u
yauma ‘izim ba’duhum liba’din ‘aduwwun illal-muttaqiin, yang artinya
teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali
mereka yang bertakwa. Jadi Hubban Limaanan lah persahabatan yang abadi sampai
akhirat nanti. Jadi nanti pas aku nggak bareng kamu di surga, cari aku di
neraka ya kawan.” Seperti ada angin sejuk yang menerpa sekujur tubuh Reza. Akan
tetapi kalimat terakhir Izal membuatnya tertohok. Dari segi ibadah saja sudah
pasti menang Izal.
“Sumpah
gue jadi terharu broo, tapi kalimat terakhir loe nyelekit amat sih, kagak
kebalik tuh?” Izal terkekeh pelan.
“Siapa
yang tau hati manusia Za, bisa jadi sekarang beriman, besok kafir, begitupun
sebaliknya. Rahasia Allah itu sama sekali gak bisa ditebak, dan jangan
sekali-kali menebaknya, cukup jalanin saja.” Reza manggut-manggut. Berharap ia
dan Izal nanti dipertemukan di surga, jadi tidak perlu mencari-cari di neraka.
“Temen
gue di jurusan tuh sukanya hura-hura gitu Zal, gue kagak suka.” Curhat Reza.
“Ya
kamu jangan terpengaruh kalau temen-temen kamu berbuat buruk. Bentengin diri
sendiri saja. Kalau pesenku ya, bergaulah dengan orang-orang yang
mempengaruhimu pada kebaikan, apabila kau bergaul dengan orang yang sering
berbuat buruk, maka pengaruhilah ia dengan kebaikan. Jadi kamu jangan terbawa
suasana ataupun terbawa perasaan gitu aja. Di sortir, mana yang baik, mana yang
buruk.” Lagi-lagi Reza merasa, ah entahlah.. Ia tak bisa mengungkapkan dengan
kata-kata.
“Wohoo
terimakasih broo, semoga kita bisa bersahabat sampai akhirat nanti Aamiin..”
Izal ikut mengaminkan. Setelah itu Reza pamit pergi ke kos temannya sedangkan
Izal melanjutkan membaca buku buluknya yang tertunda.
Bergaulah dengan orang-orang yang mempengaruhimu
pada kebaikan, apabila kau bergaul dengan orang yang sering berbuat buruk, maka
pengaruhilah ia dengan kebaikan. -Arizal Fairuz Erga Hermawan-
27
April 2017
06
: 15