Hijrahnya Izy
Sore
ini tak seperti biasanya. Seorang gadis yang biasanya bermalas-malasan sambil
menyaksikan drama Korea yang menye-menye, ataupun membaca novel sambil
sesenggukan, hari ini telah rapi mengenakan pakaian yang tak seperti biasanya
pula. Ya, dia Izy. Biasanya Izy mengenakan celana jeans ketat dengan kaos dan
kerudung lilit, hari ini nampak anggun dengan rok, kemeja, dan jilbab bergo. Ia
tersenyum mendapati pantulan dirinya di cermin.
“Zy,
loe mau kemana? Kondangan? Pengajian? Atau loe mau ngedate sama anak masjid?”
tanya Vika, teman sekamar Izy di kost. Izy melengos mendengarkan pertanyaan
Vika yang sangat absurd.
“Mau
ke mall.” Singkat Izy sambil mengubek almari mencari tasnya.
“Ha?”
Vika melongo mendengar jawaban singkat dari Izy. Siapa yang tidak bingung jika
teman sekamar yang kebiasaannya saja sudah dihafal di luar kepala tiba-tiba
berubah drastis begitu.
“Iya
ke mall, mau ikut kagak? Gue mau beli sesuatu.” Izy mematut dirinya sekali lagi
di depan cermin.
“Dengan
tampilan loe yang seperti ini? Mall?” Tanya Vika memastikan lagi. Izy mendelik
tajam kearahnya yang langsung dihadiahi cengiran oleh Vika. “Iye-iye gue ambil tas dulu, galak amat sih.”
“Gue
tunggu di parkiran.” Vika mencibir setelah kepergian Izy lalu bergegas
menyusulnya.
~~~~~~~~
Ketika
berada di mall, Izy dan Vika memang berpisah. Izy yang membeli apapun yang
sudah ditulis di note nya, sedangkan Vika mengantri membeli paketan internet.
Setelah selesai, mereka berjanji bertemu di salah satu food court di mall
tersebut.
“Ebusett,
loe belanja atau ngerampok Zy? Banyak bener..” nyaris Vika menyemburkan es
jeruk yang diminumnya setelah menilik barang belanjaan yang dibawa Izy yang
menurutnya sangatlah banyak.
“Sekali-sekali
atuh neng belanja banyak.” Kata Izy sambil menyomot kentang goreng yang sudah
dipesan Vika dengan tampang tanpa dosanya.
“Coba
liat.” Vika mengambil salah satu paper bag Izy dan langsung melotot dengan apa
yang dilihatnya. “Loe beli gamis dan khimar syar’i? Loe sehat Zy? Wah gue harus
beritahu bang Izal biar keluarga lo bisa ngadain selamatan.” Heboh Vika sambil
melebarkan khimar milik Izy. “Eh tapi ini buat loe sendiri kan? Bukan buat kado
ulang tahun atau nikahan sodara loe?”
“Vik
sumpah, loe lebay banget. Iya ini buat gue pake sendiri, kenapa?” dengan masih
asyik menyantap kentang goreng, Izy memperhatikan Vika yang masih
terkagum-kagum.
“Wah..
dapet hidayah darimana loe?”
“Dari
wattpad.” Vika melotot lagi mendengar jawaban Izy yang menurutnya tidak masuk
akal.
“Kok
bisa? Cerita apa? Lah semua cerita yang loe baca kan yang saranin gue? Kok loe
sih yang dapet hidayah? Ihhh nggak adil deh.” Cerocos Vika sambil
manyun-manyun.
“Hijrah
yuk...” Vika melongo seketika. Izy yang biasanya cerewet tak karuan hari ini
sangat irit bicara. Izy senewen menatap wajah cengo Vika. Ia lalu membawa
barang-barangnya dan bergegas meninggalkan Vika.
“Lah
gue ditinggalin, oeee Izy tungguin napa, belum bayar nih.” Teriak Vika yang
sukses mengundang tatapan dari orang-orang disekitarnya. Vika tak peduli lantas
membayar dan mengejar Izy.
~~~~~
Di
kampus, Izy hanya terdiam tanpa minat menjawab pertanyaan teman-temannya. Ada
yang mengucap syukur karena ia sudah taubat, ada pula yang ngejek bisakah ia
istiqomah.
“Assalamu’alaykum,
Izy ini kamu? Subhanallah, cantik sekali, aku sampai pangling, ya ampun
alhamdulillah Ya Allah, akhirnya Izy tergugah hatinya.” Sapa Aisyah, teman
dekat Izy yang paling getol ngompor-ngomporin untuk berhijrah.
“Wa’laykumussalam,
ya ampun Ais, bisa nggak sih nggak lebay gitu, iya ini gue Arizy, emang aneh ya
penampilan gue? Perasaan daritadi mereka gosipin gue, untungnya gue bebal
hehehe.”
“Aneh
gimana, orang kamu cantik begini, eh ceritain dong kok bisa kamu hijrah gini?”
“Yah
sebenernya gue sih dapet pencerahan setelah baca cerita di wattpad, toh kalo
nggak berubah mulai sekarang mau kapan lagi, Izy kan nggak mau masuk neraka
hehehe.”
“Ada
manfaatnya juga ya bacaan kamu yang aneh itu hehehe ampun, damai mbak.”
“Ihh
nggak aneh lah, wajar gitu kalau cewek bacanya novel dan sejenisnya, lah situ
bacaannya komik sih..”
“Nggak
apa-apa, lebih menghibur, daripada baper-baper nggak jelas hehehe, eh kan
tampilannya udah cakep gini nih, nanti siang ikut kajian yuk... sekalian kamu
daftar UKM kerohanian deh, biar lebih mantep hijrahnya, ya ya ya, sama aku
kok.”
“Aisyah,
aku malu.”
“Lah
kenapa malu? Toh kan yang dilakuin kebaikan, maaf ya Aisyah nggak terima
protes, noh udah ada dosen.”
Izy
besyukur masih memiliki seorang sahabat yang bisa menuntunnya ke jalan yang
benar. Ya meskipun Vika nggak buruk-buruk amat sih.
~~~~~
“Assalamu’alaykum,
Kak kenalin ini temenku Arizy Faila Zahrani, biasa dipanggil Izy.” Kata Aisyah
ketika mereka sudah sampai di tempat pendaftaran dan menemui seorang wanita
yang menurut Izy sangat anggun dengan baluta hijab syar’inya. Oh iya, hampir
semua yang ada di tempat ini mengenakan pakaian syar’i.
“Wa’alaykumussalam,
salam kenal dek Izy, cantik sekali, sini merapat, aku Laila Qurrotun Nisa,
biasa dipanggil Ila.” Ila mengulurkan tangan menjabat tangan Izy dan Aisyah
secara bergantian.
“Iya
salam kenal Kak Ila, mohon bantuannya ya, aku baru berhijrah Kak hehehe.” Izy
mengeluarkan suara dengan mengganti loe-gue yang biasanya ia pakai menjadi
aku-kamu.
“Alhamdulillah,
sini merapat, kajiannya sebentar lagi dimulai. Kalian mau ikut UKM ini?”
“In
syaa Allah Kak, kami pengen ikut, kalau mau ikut bagaimana ya kak?” tanya
Aisyah dengan mata berbinar sedari pagi tadi ketika melihat Izy.
“Nanti
isi formulir dan langsung screening, tapi abis kajian ya.”
“Iya
Kak.”
Kajian
pun dimulai, Izy benar-benar bangga di tengah-tengah mereka. Betul kata
pepatah, kalau satu sahabat yang beriman dan mengajak kita menuju surganya
lebih berharga daripada seribu sahabat yang mementingkan dunia. Ah alangkah
indahnya jika Izy bisa mengajak Vika dalam kajian ini.
Setelah
kajian selesai, Izy dan Aisyah segera menuju tempat pendaftaran UKM sekaligus
tempat screening. Mereka segera mengisi formulir dan menunggu giliran untuk
screening. Sampai tiba giliran Izy.
“Assalamu’alaykum,
dek Arizy Faila Zahrani, panggilnya apa nih?” tanya mbak-mbak yang nyecreening
Izy. Dia cantik dengan jilbab yang menjuntai. Ditambah kacamatanya yang
menambah sisi anggun.
“Wa’alaykumussalam,
Izy aja kak.”
“Wah,
nama ana Siska, anak-anak sering manggil Mbak Siska soalnya ana sudah semester
5 hehehe jadi curhat, anti bisa panggil ana Mbak Siska atau Ukhty Siska seperti
yang lain.” Untung Izy sering baca novel, jadi tahu sedikit-sedikit bahasa Arab
dasar kaya gitu.
“Oh
iya Mbak Siska saja ya, soalnya belum biasa gunain ukhty mbak, akraban panggil
mbak kalau Izy hehehe.” Izy merasa agak wagu kalau memanggilnya Ukhty.
“Iya
gapapa, Nah ini ana mau nanya-nanya sedikit, kok anti mau ikut UKM ini
mengapa?”
“Karena
Izy kan ilmu agamanya masih minim, Izy mau nambah pengalaman dengan ikut UKM
ini, nambah pengetahuan, nambah temen, sama mempererat ukhuwah mbak.”
“Sejak
kapan dek Izy pakai jilbab gede seperti ini?”
“Hehehe
baru tadi mbak.”
“Subhanallah,
istiqomah ya..”
“In
syaa Allah mbak”
“Shalat
5 waktu tertib?”
“In
syaa Allah tertib mbak.”
“Ibadah
sunnah?”
“Baru
shalat tahajud kadang-kadang sama Dhuha mbak.”
“Pernah
pacaran?” glekk pernah mbak, baru putus kemarin. Dulu-dulu malah parah banget,
pupus tumbuh lagi.
“Pernah
mbak, tapi itu sebelum saya berubah seperti ini, maklum mbak namanya manusia
hehehe.” Jawab Izy sambil cengengesan. ‘Ya
Allah, pakai acara khilaf juga sih aku dulu. Coba tobat dari dulu, mungkin enak
banget hidupku sekarang. Ah, penyesalan memang datangnya belakangan.’ Batin
Izy.
“Hehehe
nggak apa-apa, toh dulu ana sebelum berhijrah juga pernah pacaran, asal nggak
diulangi saja. Manusia yang baik adalah yang mau berproses menuju kebaikan,
betul kan?” setidaknya tanggapan mbak Siska tidak terlalu membuatnya malu.
“Iya
mbak.”
“Rencana
anti ke depan bagaimana? Khususnya tentang asmara, kalau ada seorang ikhwan
yang mengkhitbah anti, anti udah siap?” ‘Waduh...
apa ini? selama ini aja aku masih main-main kalau masalah asmara. Adek masih
unyu bang.’ Izy bergulat dengan pikirannya.
“Itu
belum terpikirkan sama sekali mbak hehehe, aku masih mau fokus kuliah dulu.” Izy
hanya cengar-cengir karena di pikirannya hanya satu, ia ingun lulus kuliah
dengan cepat terlebih dahulu. Setelah itu bekerja dan baru memikirkan tentang
jodoh.
“Loh
kalau jodohnya anti sudah datang, anti mau menolak?” Ingin Izy berteriak tapi
apalah daya...
“Belum
tau mbak, seumur-umur aku belum mikirin jodoh serius mbak.”
“Hehehe
ya sudah, pertanyaan selanjutnya... bla-bla-bla...”
Akhirnya
sesi screening selesai. Aisyah sudah pulang meninggalkan Izy karena ada janji
dengan mamanya. Izy pun berjalan menuju parkiran untuk mengambil sepeda
motornya. Ia ingin segera pulang ke kos dan tidur. Akan tetapi karena tidak
hati-hati, ia menabrak seseorang yang tengah membawa buku-buku di halaman dekat
parkiran masjid kampusnya itu.
“Astagfirullah
afwan ukh, bukunya terlalu tinggi jadi ana gak bisa lihat kedepan.” Kata orang
itu sambil mencoba berdiri karena ia terjatuh ngejengkang ke belakang sedangkan
buku-bukunya sudah berhamburan. Izy tidak mempermasalahkan karena ia juga
meleng. Dan ia sangat bersyukur karena keadaan halaman masjid tidak basah, jadi
buku-buku yang berjatuhan tadi aman. Akan tetapi, ia merasa ada yang aneh
setelah mendengar suara laki-laki yang ditabraknya tadi. Izy segera
mendongakkan wajahnya dan mengamati laki-laki tadi yang tengah sibuk memunguti
bukunya. Seketika Izy menahan tawa, teringat kata-kata yang diucapkan laki-laki
tadi.
“Bang
Izal..” seru Izy yang sontak membuat laki-laki tadi menoleh dan melotot karena
yang ia tabrak tadi adalah...
“Astagfirullah
eh Subhanallah eh Alhamdulillah adek gue insaf Ya Allah.” Tanpa aba-aba, Izal
memeluk Izy yang masih terduduk.
“Apaan
sih bang, kagak malu apa.” Izy melepaskan pelukan itu secara paksa. Wajah Izal
sama berbinarnya dengan wajah Aisyah tadi pagi.
“Wah,
kudu laporan Mama sama Papa nih.” Izal tak menghiraukan ucapan Izy, ia segera
mengeluarkan hp nya dan Ckrekk..
“Apa
dah Bang Izal, minggir Izy mau pulang.” Izy segera pergi meninggalkan Izal yang
masih senyum-senyum mengetik sesuatu di hp nya.
~~~~~
Sesampai
di kos, Izy merebahkan tubuhnya di kasur. Dhuhur masih sejam lagi, ia lalu
mengambil hp nya yang ternyata sudah banyak notif masuk. Terutama grup line
keluarganya yang berisi ia, Izal, Mama, dan Papa. Izy memutar bola matanya
malas membacanya.
Izal Unyuk : Yuhuu coba tebak ini
siapa?
Mama Kembar : Izy kah?
Papa Iz : Alhamdulillah..
Izal Unyuk : Iye Ma, ahelah Papa
cuek amat sih responnya gitu doang
Mama Kembar : Ini Papa kamu malah
lagi sujud sambil terharu Zal
Izal Unyuk : Masa?
Papa Iz : Mama buka aib ih
Mama Kembar : Ini mana orangnya?
Kok nggak nongol?
Izal Unyuk : Lagi ngaji kali Ma,
tadi aja Izal ketemu di halaman masjid
Papa Iz : Masa? Subhanallah
Mama Kembar : Apa deh Papa
ikut-ikutan Izal, nggak bapak nggak anak sama saja
Papa Iz : Like father like son
Izal Unyuk : Like father like son
Izal Unyuk : Tau gitu titip Pa
Arizy FZ : Berisik sekali
Izal Unyuk : Tuh Pa, Ma muncul...
Mama Kembar : Izyyyyyyyy
Papa Iz : Nak kamu masih disana?
Izy
meletakkan hp nya tidak mau meladeni keluarga somplaknya lalu ia memejamkan
mata. Bisakah ia mempertahakan semua ini? Memang ia sudah niat, akan tetapi
masih ada keraguan di dalam hatinya. Segera ia teringat bayangan Izal yang
tanpa sepengetahuan orang tua mereka, ia sudah hafidz Al-Qur’an. Meskipun
tampilannya selengean, Izal berhasil menipu dengan kemampuan menghafal yang ia
miliki. Iri terhadap kebaikan, boleh kan? Izy juga ingin mempersembahkan
kemuliaan untuk kedua orang tuanya. Dan tanpa sadar, ia kini telah memantapkan
niatnya.
Rabu,
26 April 2017
07
: 39
Tidak ada komentar:
Posting Komentar