MY HOME

MY HOME

Kamis, 25 Mei 2017

PART 2


Hubban Limaanan
             Pagi ini terasa cerah, pasalnya kemarin sore hingga larut malam terjadi hujan deras. Untung saja tak sampai membuat sungai di sekitar kos Izal meluap. Kini Izal tengah membaca buku entah buku apa karena covernya sudah buluk bahkan kertasnya berwarna cokelat. Ia tengah serius dengan bacaannya ketika sahabatnya sekaligus teman sekamarnya masuk membawa 2 nasi bungkus.
“Eh Zal, loe anak Agroteknologi tapi kok bacaannya naskah kuno sih? Gue yang anak Sastra merasa kalah loh.” Celetuk Reza yang melihat Izal dengan buku buluknya.
“Sembarangan, ini bukan naskah kuno, tadi aku nemu di deket pintu masuk gudang kos ini.” Sahut Izal tanpa mengalihkan matanya dari buku itu.
“Ye, loe mah sukanya ngeluru, makan dulu nih.” Reza menyodorkan sebungkus nasi. Izal lalu meletakkan buku yang ia baca dan menerima nasi bungkus dari Reza.
Ngeluru? Bahasa yang aneh.”
“Yeee hargai dong ragam bahasa di Indonesia.” Izal terkikik dengan tampang Reza, ia segera makan dengan lahap.
Selesai makan, Izal sebenarnya ingin melanjutkan bacaannya tadi, akan tetapi Reza mengganggunya dengan pertanyaan. Mau tidak mau sebagai sahabat yang baik, ia menyimak apapun yang dikatakan Reza.
“Eh Zal, loe punya temen yang suka ngutang gak sih?” Izal mengernyit mendengarkan pertanyaan dari Reza. Bukankah sudah jelas bahwa Reza lah teman yang ia punya dan yang suka ngutang? Ia terkikik dalam hati.
“Ada, emang kenapa?”
“Jangan bilang itu gue ya, hahaha, ya loe kalau punya sahabat atau temen yang suka ngutang gitu gimana perasaan loe?”
“Ya seperti yang kamu lihat sekarang, aku fine-fine aja deket kamu hahaha.” Reza manyun mendengarnya.
“Makna persahabatan bagi loe tuh apa sih? Yang selain tempat ngutang terpercaya.” Reza akhirnya menanyakan hal itu, ia sangat tidak puas dengan jawaban Izal.
“Yang setiap aku melihatnya, mengingatkanku pada surga.” Jlebb. Reza merasa mengecil. Ia memang berteman dengan Izal sedari SMA, akan tetapi ia belum bisa menyejajarkan dirinya dengan Izal. Izal yang selengean tapi sebenarnya menyimpan banyak rahasia. Izal yang tak pernah absen bangun jam 3 untuk mengerjakan tahajud, Izal yang  tak pernah absen mengerjakan Shalat Dhuha, dan Izal yang selalu mengingatkannya terhadap kebaikan, pokoknya masih banyak lagi. Sedangkan dirinya?
“Loe kalau liat gue ada ngeliat surga kagak? Kan gue absurd gini orangnya.” Izal terkekeh.
“Gimana ya..” Izal pura-pura berpikir.
“Loe mah gitu Zal, eh caranya milih temen yang baik tuh gimana sih? Perasaan temen gue yang agak waras cuma loe, loe aja kagak waras-waras amat.” Izal mendelik tapi tak berapa lama ia tertawa juga.
“Kamu pernah denger kan Za, Dari Abu Musa radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi darinya, atau engkau bisa membeli minyak wangi, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap (HR. Bukhori & Muslim). Pasti kamu udah sering banget denger kan?”
“Weh sering bangetlah... sama itu yang pernah disampaikan Ustadz Abdul yang tentang 7 jenis persahabatan tetapi hanya 1 yang sampai surga. Loe waktu itu ikut kajiannya kan? Eh gue salah nanya, loe kagak ikut kajian aja udah banyak baca yak hehehe.” Reza cengengesan dengan pertanyaannya sendiri.
“Coba, 7 jenis itu apa saja?” Izal menghidupkan kipas angin karena cuaca yang agak cerah ceria dan ia tadi mandi ketika subuh, jadi sudah gerah kembali.
“Yang pertama itu Ta’aruffan, persahabatan yang terjalin secara kebetulan, misal ketemu dimana gitu, terus kedua Taariihan, karena faktor sejarah, misal temen sekolah, sekos gitu kaya loe sama gue, ketiga Ahammiyyatan, terjalin karena faktor tertentu, misal bisnis. Keempat Faarihan, persahabatan yang terjalin karena hobi. Kelima Amalan, terjalin karena seprofesi. Keenam Aduwwan, itu kaya bermuka dua gitu, kalau di depan manis-manis, dibelakangnya ngejelek-jelekin. Trus yang terakhir ini yang sampai surga yaitu Hubban Limaanan, cuma gue pengertiannya belum terlalu paham soalnya waktu Ustadz Abdul ngejelasin yang itu, gue kebelet pipis, pas mau searching lupa-lupa mulu hahaha.” Karena bicara yang sangat panjang hingga mengakibatkan haus yang berlebihan, Reza meneguk air mineral dari botol secara langsung.
“Wah, daya ingat Reza boleh juga hahaha. Eh tapi aku nggak mau loh kalau cuma bersahabat sebatas Taariihan. Aku maunya yang Hubban Limaanan, pertemanan yang lahir karena saling berkasih sayang karena Allah semata. Sebuah pertemanan yang akan saling tolong menolong dalam kebaikan dan menutup aib temannya. Bahkan pertemanan jenis ini akan saling mendoakan dalam setiap shalat mereka. Seperti yang dijelaskan dalam Qur’an Surat Az-Zukhruf ayat 67, al-akhilla’u yauma ‘izim ba’duhum liba’din ‘aduwwun illal-muttaqiin, yang artinya teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa. Jadi Hubban Limaanan lah persahabatan yang abadi sampai akhirat nanti. Jadi nanti pas aku nggak bareng kamu di surga, cari aku di neraka ya kawan.” Seperti ada angin sejuk yang menerpa sekujur tubuh Reza. Akan tetapi kalimat terakhir Izal membuatnya tertohok. Dari segi ibadah saja sudah pasti menang Izal.
“Sumpah gue jadi terharu broo, tapi kalimat terakhir loe nyelekit amat sih, kagak kebalik tuh?” Izal terkekeh pelan.
“Siapa yang tau hati manusia Za, bisa jadi sekarang beriman, besok kafir, begitupun sebaliknya. Rahasia Allah itu sama sekali gak bisa ditebak, dan jangan sekali-kali menebaknya, cukup jalanin saja.” Reza manggut-manggut. Berharap ia dan Izal nanti dipertemukan di surga, jadi tidak perlu mencari-cari di neraka.
“Temen gue di jurusan tuh sukanya hura-hura gitu Zal, gue kagak suka.” Curhat Reza.
“Ya kamu jangan terpengaruh kalau temen-temen kamu berbuat buruk. Bentengin diri sendiri saja. Kalau pesenku ya, bergaulah dengan orang-orang yang mempengaruhimu pada kebaikan, apabila kau bergaul dengan orang yang sering berbuat buruk, maka pengaruhilah ia dengan kebaikan. Jadi kamu jangan terbawa suasana ataupun terbawa perasaan gitu aja. Di sortir, mana yang baik, mana yang buruk.” Lagi-lagi Reza merasa, ah entahlah.. Ia tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.
“Wohoo terimakasih broo, semoga kita bisa bersahabat sampai akhirat nanti Aamiin..” Izal ikut mengaminkan. Setelah itu Reza pamit pergi ke kos temannya sedangkan Izal melanjutkan membaca buku buluknya yang tertunda.
Bergaulah dengan orang-orang yang mempengaruhimu pada kebaikan, apabila kau bergaul dengan orang yang sering berbuat buruk, maka pengaruhilah ia dengan kebaikan.    -Arizal Fairuz Erga Hermawan-

27 April 2017

06 : 15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar