Mama,
Aku Merindukanmu
Angin malam terasa menembus
kulit sampai ke tulang. Musim dingin saat ini benar-benar di luar dugaan. Lebih
lama dari biasanya. Tak ada yang lebih istimewa pada musim ini. Walaupun
bertepatan dengan hari libur sekalipun, bagi seorang anak laki-laki ini sama
sekali tidak istimewa seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan di musim dingin pula,
tepatnya 3 tahun yang lalu, ia harus berpisah dengan orang yang sangat mengerti
tentang dirinya dan sangat-sangat dicintainya. Mama. Ketika anak laki-laki ini
mengingatnya, kepribadiannya yang semula ceria, akan berubah murung bahkan tak
jarang pula menitikkan air mata. Begitu dekatnya ia dengan sang Mama. Baginya,
Mama adalah malaikat yang menjelma menjadi seorang ibu yang sangat
dibanggakannya. Ibu yang melahirkannya, ibu yang selalu mengerti akan
keadaannya, ibu yang selalu membelanya disaat ia salah sekalipun.
Sambil menikmati segelas teh
hangat di emperan rumahnya, anak laki-laki itu terus menerawang jauh dan sangat
jauh karena rasa rindunya kepada ibunya. Siapa sangka bahwa anak seorang
pengusaha terkaya sekalipun akan menangis sesenggukan karena kerinduan yang
serasa menghimpit dadanya. Jam ditangannya baru menujukkan pukul 19.38 WIB.
Akan tetapi, udara malam malah semakin dingin menembus badannya. Ia lebih
merapatkan jaketnya dan meneguk lagi teh hangat yang uapnya masih mengepul. Ia
segera mengambil gitar yang selalu menemaninya di kala suntuk. Dengan lincah,
jari-jarinya telah memetik senar gitar kesayangannya.
aku ingin
engkau ada di sini
menemaniku saat sepi
menemaniku saat gundah
berat hidup ini tanpa dirimu
ku hanya mencintai kamu
ku hanya memiliki kamu
aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
aku rindu setengah mati
meski tlah lama kita tak bertemu
ku selalu memimpikan kamu
ku tak bisa hidup tanpamu
aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
aku rindu setengah mati
aku rindu setengah mati
aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
aku rindu
menemaniku saat sepi
menemaniku saat gundah
berat hidup ini tanpa dirimu
ku hanya mencintai kamu
ku hanya memiliki kamu
aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
aku rindu setengah mati
meski tlah lama kita tak bertemu
ku selalu memimpikan kamu
ku tak bisa hidup tanpamu
aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
aku rindu setengah mati
aku rindu setengah mati
aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
aku rindu
Dimas Andrian Dirgantara. Seorang anak
laki-laki dari seorang pengusaha, Hardi Dirgantara, yang kini hidup di luar
negeri semenjak kepergian istrinya karena dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Kini
Dimas tinggal di Indonesia hanya bersama dengan seorang pengasuhnya dan seorang
sopirnya sejak kecil. Dan untuk kesekian kalinya, ia harus menghapus air
matanya setelah menyanyikan sebuah lagu kerinduan untuk Mamanya. Kerapuhan
Dimas ketika merindukan ibunya selalu tertutupi dengan sifatnya yang ceria.
Ibunya selalu berpesan agar selalu membuat orang lain tersenyum. Terkadang ia
berpikir, bagaimana bisa ia membuat orang lain tersenyum, sedangkan hatinya
tidak dapat berbohong bahwa dirinya sendiri pun butuh sandaran dan sulit untuk
selalu ceria. Tapi demi sang Mama.
Teman-temannya selalu iri
kepadanya karena ia merupakan anak pengusaha kaya dan merupakan pewaris tunggal
perusahaan ayahnya. Tapi ia justru lebih iri pada teman-temannya yang masih
memiliki orang tua lengkap dan selalu bercengkerama bersama setiap harinya.
Bukan seperti yang ia alami saat ini. Sendiri, dan harus menahan kerinduannya
untuk orang tuanya.
♥♥♥
Keesokan harinya, setelah
bangun tidur, seperti biasanya Dimas segera melakukan aktivitas seperti
biasanya pula. Mandi dan membuat sarapan sendiri karena pengasuh dan sopirnya
sedang belanja ke pasar sejak subuh tadi belum pulang. Di usianya yang masih 12
tahun ini, ia sudah tergolong sebagai anak yang mandiri. Juga anak yang
tergolong cerdas di sekolahnya.
Ketika akan berolahraga, di
depan rumahnya, tak sengaja Dimas tertabrak oleh seorang ibu yang sedang
berlari-lari dengan wajah penuh ketakutan. Wajah ibu itu terlihat pucat. Dimas
mengajak ibu itu masuk ke rumahnya.
“Ini Bu, minum dulu.” Kata
Dimas sambil menyodorkan segelas air mineral pada ibu itu. Ibu itu segera
meneguk sampai habis air yang diberikan oleh Dimas.
“Terimakasih Nak, maaf
mengganggu kamu yang mau bersantai.” Sahut ibu itu dengan suara parau. Dimas
baru menyadari bahwa mata ibu itu sembab dan lengannya penuh dengan lebam.
“Nama ibu siapa? Mengapa ibu
lari-larian seperti tadi?” tanya Dimas karena penasaran dengan keadaan ibu itu
sekarang.
“Saya Arni, saya takut karena
dipukuli anak saya, tadi anak saya minta uang untuk bermain judi dan
mabuk-mabukkan. Saya tidak punya uang lagi, semua warisan yang ditinggalkan
suami saya telah habis untuk bermain judi anak saya. Saya kini hanya hidup
bersamanya. Kami sudah tidak memiliki keluarga lagi. Tadi ketika saya berlari
setelah dipukul anak saya, baru kepikiran kalau kami hanya berdua, tanpa ada
sanak saudara lagi.” Jelas ibu itu. Dimas merasa iba. Dia yang sudah tidak
memiliki ibu saja selalu merindukan kasih sayang seorang ibu, kini malah ada
seorang anak yang tega menganiaya ibunya sendiri hanya karena uang. Sungguh memiriskan
dunia ini.
“Ya sudah bu Arni, nanti Dimas
temani untuk menjelaskan kepada anak ibu.” Kata Dimas.
“Tapi nak, apa itu tidak
mengganggu waktu liburan kamu?” tanya bu Arni sambil mengamati Dimas dari atas
sampai bawah.
“Nggak apa-apa bu, saya ganti
baju dulu, lagian saya juga bosan.” Kata Dimas sambil berjalan menuju kamarnya.
Begitulah sifat Dimas. Ia selalu tidak tega melihat air mata seorang ibu.
Tanpa Dimas sadari, bu Arni
menitikkan air mata dengan perlakuan Dimas. Ia berharap anak semata wayangnya
dan yang sangat dicintainya dapat seperti Dimas.
“Mari bu..” celetuk Dimas
membuyarkan lamunan bu Arni. Kini Dimas telah berganti pakaian santai. Ketika
hendak keluar rumah, pengasuh Dimas datang dengan beraneka macam sayuran dan
belanjaan lainnya di tangannya.
“Lo, den Dimas mau kemana?”
tanya pengasuh Dimas dengan heran ketika anak majikannya bersama dengan seorang
wanita yang belum pernah mereka kenal.
“Maaf bi, Dimas harus menemani
bu Arni ini dulu, nanti kalau sudah sampai rumah kembali, Dimas ceritain deh ke
bi Surti.” Tutur Dimas dengan sopan. Pengasuhnya yang sudah hafal watak Dimas
sejak kecilpun hanya manggut-manggut.
“Ya sudah, den Dimas hati-hati
ya..”
“Iya bi.. Mang Ujang anterin
Dimas ya.” Pinta Dimas kepada sopirnya yang dibalas dengan anggukan.
♫♫♫
Bu Arni hanya terdiam selama
dalam perjalanan. Perasaannya tak enak semenjak keluar dari rumah Dimas tadi.
Seolah menjawab kekhawatirannya, di depan rumahnya banyak kerumunan orang. Bu
Arni segera keluar dari mobil Dimas setelah Mang Ujang menghentikan mobilnya.
“Ada apa ini?” tanya bu Arni
pada segerombolan orang yang berada di depan rumahnya.
“Tadi anak ibu kecelakaan di
perempatan sana. Sekarang ada di RS Anugrah.” Jawab salah satu tetangganya
sambil menunjuk-nunjuk tempat kecelakaan anak bu Arni.
“Kami antar ke rumah sakit
bu..” tawar Dimas yang disetujui dengan anggukan oleh bu Arni. Mereka segera
bergegas menuju rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit,
bu Arni segera berlari ke resepsionis dan menanyakan keberadaan anaknya.
Anaknya telah dipindahkan ke ruang rawat.
Pintu kamar rawat terbuka,
masuklah bu Arni dan Dimas. Disana terdapat seorang dokter dan dua orang suster
yang tengah memeriksa keadaan anak bu Arni.
“Namanya Agung.” Kata bu Arni
mengenalkan. Dimas hanya mengangguk-angguk mengerti mendengarnya.
Setelah dokter dan suster yang
menanganinya keluar, Agung melirik tajam kearah bu Arni dan Dimas.
“Mau apa kamu kesini? Peduli
apa kamu?” kata Agung dengan sengitnya. Lagi-lagi bu Arni menitikkan air mata.
Dimas terlonjak kaget mendengar perkataan Agung yang tidak pantas ditujukan
untuk seorang ibu.
“Nangis? Hanya itu yang kamu
bisa? Cari duit kek, keluar sana! Jangan kembali lagi sebelum membawa banyak
duit!” tambah Agung. Di situasi seperti ini, Dimas semakin merindukan mamanya
dan ingin sekali memeluk mamanya. Ia tak ingin seperti Agung ini.
“Sebaiknya ibu tunggu diluar
saja, biarkan saya yang bicara sama Mas Agung.” Kata Dimas pelan dan
menenangkan bu Arni. Bu Arni menuruti kata Dimas. Beliau segera keluar dan
bersembunyi di balik pintu untuk menguping pembicaraan kedua anak laki-laki
itu.
“Siapa kamu anak kecil?” tanya
Agung dengan nada datar dan lirikan tajam.
“Hem, saya hanya seorang anak
yang sudah tak memiliki ibu, yang merindukan sosok seorang ibu, dan yang haus
akan kasih sayang seorang ibu. Dan kebetulan tadi saya bertemu dengan ibu anda
yang begitu mengagumkan, yang sabar mengurus anak yang tak tau diri macam Mas
Agung ini.” Kata Dimas tak kalah datarnya.
“Tidak usah ikut campur
masalah keluargaku!” bentak Agung pelan.
“Mas Agung mengartikan seorang
ibu itu seperti apa sih? Malaikat? Atau malah pembantu? Mas Agung sadar ndak
sih kalau Mas Agung itu sudah kelewatan sama bu Arni, itukah balasan untuk
orang yang telah melahirkan Mas Agung ke dunia ini? Yang telah merawat Mas
Agung sampai seperti ini meskipun tanpa seorang suami yang mendampingi, aku
saja sering menangis Mas karena rindu sama mamaku yang telah dipanggil Allah
SWT. Apa Mas Agung pernah berpikiran kalau nanti nasib Mas Agung sama seperti
aku, Mas Agung bakalan diurus dan tinggal sama siapa? Apalagi dengan pekerjaan
Mas yang hanya mabuk-mabukkan dan berjudi. Mau menikah? Apa ada yang mau sama
Mas dengan kelakuan Mas Agung apabila Mas Agung tidak berusaha merubahnya.
Ayolah Mas, cari duit itu gampang, tapi mencari ibu yang tulus menyayangi kita
tanpa imbalan apapun itu susah! Yang mereka inginkan itu hanya kebersamaan
bersama kita Mas, ndak lebih! Sekarang terserah Mas Agung, mau lanjut menjadi
pemabuk dan tukang judi, atau mau tobat dan menyayangi serta berusaha membalas
jasa-jasa ibu. Itu terserah Mas Agung.” Jelas Dimas panjang lebar tanpa menoleh
sedikitpun kearah Agung. Dadanya sesak dan matanya sudah memanas, bahkan basah
oleh air matanya sendiri. Kerinduan kepada mamanya semakin menghimpitnya.
‘Ma... Dimas sangat-sangat dan sangat rindu sama Mama, Dimas ingin
memeluk Mama sekarang. Tidak lebih dari itu. Semoga Mama tenang di alam sana.’
Batin Dimas sambil air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
“Ter..ri..ma..ka..sih..” ujar
Agung dengan suara serak. Dimas yang baru menyadari bahwa Agung menangis segera
menolehkan wajahnya kearah Agung.
“Sekarang Mas Agung pilih
mana?” tanya Dimas sambil mengusap air matanya sendiri.
“Panggil ibuku kemari.” Sahut
Agung. Dimas tersenyum bahagia.
Setelah bu Arni memasuki ruang
rawat Agung, Agung segera beranjak dari tempat tidurnya dan bersujud di kaki
ibunya.
“Ma.. dulu Dimas sering begitu
kalau Dimas habis membuat kesalahan.” Gumam Dimas dengan air mata yang tiada
henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya.
“Ibu.. maafin Agung bu, maafin
bu.. Agung sudah menjadi anak durhaka selama ini, maafin bu..” kata Agung
sambil menangis di kaki ibunya. Bu Arni terdiam mematung sambil memegangi
punggung anaknya. Beliau sudah mendengar semua percakapan Dimas dan Agung.
“Iya nak.. asalkan kamu mau
tobat, ibu bahagia sekali..” sahut bu Arni sambil membantu anaknya berdiri.
“Agung janji bu, Agung bakalan
jadi anak baik..” kata Agung seraya memeluk ibunya.
“MAMAAA” teriak Dimas sambil
berlari keluar dari ruang rawat Agung. Bu Arni dan Agung yang melihatnya hanya
terdiam bingung.
“Kamu kembali ke ranjang kamu,
biar ibu susulin nak Dimas, kasihan dia pasti rindu sama mamanya.” Kata bu Arni
sambil membantu Agung kembali ke ranjangnya dan segera keluar menyusul Dimas.
Di depan ruang rawat Agung, bu
Arni bertemu dengan Mang Ujang yang masih terheran-heran dengan majikannya yang
tiba-tiba berlari sambil berteriak dan menangis.
“Mang, Dimas tadi kemana?”
tanya bu Arni.
“Biasanya kalau suasananya
seperti ini den Dimas lari ke makam mamanya bu.” Jawab Mang Ujang.
“Ya sudah, tolong antarkan
saya menyusul Dimas.”
“Tapi bu, kalau ke makam
mamanya, den Dimas ndak mau diganggu..” sahut Mang Ujang yang sudah tahu
karakter Dimas luar dalam.
“Saya juga seorang ibu Mang,
jadi tolong antarkan saya menyusul Dimas..” pinta bu Arni. Mang Ujang
mengangguk pasrah dan segera mengantarkan bu Arni ke pemakaman.
♪♪♪
Dimas menangis sesenggukan di
atas gundukan tanah kuburan mamanya. Ia memeluk nisan mamanya dengan erat.
“Ma.. Dimas kangen sama Mama..
jemput Dimas Ma..” kata Dimas diantara
isakan tangisnya.
“Semua yang kita punya, tidak
ada yang abadi dalam hidup kita. Itu semua hanyalah sementara. Karena ada yang
lebih kekal daripada semuanya. Menjalani hidup dengan tangisan bukanlah jalan
satu-satunya. Tapi menata hidup yang lebih baik untuk masa depan, itu kewajiban
kita sebagai seorang manusia.” Kata seseorang di belakang Dimas. Dimas
membalikkan badannya dan melihat siapa yang berbicara. Bu Arni.
“Dimas... Tadi bu Arni sudah
mendengar cerita kamu dari Mang Ujang, masih banyak yang sayang sama kamu, Mang
Ujang, bi Surti, Papa kamu, teman-teman kamu, bu Arni, dan juga Agung yang
seperti bertemu dengan seorang adik seperti kamu..” tambah bu Arni sambil
berjalan mendekati Dimas. Dimas mulai mencerna apa yang dikatakan bu Arni.
“Bolehkah Dimas memeluk bu
Arni untuk sekedar mengurangi rasa rindu Dimas pada Mama?” tanya Dimas dengan
bulir-bulir air mata masih menggantung di bulu matanya.
“Silakan, kamu boleh memeluk
bu Arni kapanpun kamu mau, kamu menganggap bu Arni seperti ibu kamu sendiri pun
juga ndak apa-apa.” Ujar bu Arni sambil memeluk Dimas erat. Menyalurkan sebuah
ketenangan pada Dimas. Dimas semakin terisak dalam pelukan bu Arni.
“Ya sudah, kita kembali ke
rumah sakit ya.” Lanjut bu Arni. Dimas mengangguk menyetujui. Mereka menuju
parkiran pemakaman untuk menemui Mang Ujang yang telah menunggu.
♥♥♥
Ketika di rumah sakit kembali,
mereka segera menuju ruang rawat Agung. Setelah sampai di ruang rawat Agung,
Agung tersenyum ke arah Dimas. Dimas segera berlari menghampiri Agung dan
memeluknya.
“Dari dulu Dimas pengen banget
punya kakak laki-laki, Mas Agung mau ya jadi kakak Dimas..” kata Dimas dalam
pelukan Agung.
“Iya.. maafin Mas Agung ya
kalau tadi udah kasar sama kamu..” sahut Agung.
“Iya... rencana Mas Agung
selanjutnya apa?” tanya Dimas.
“Mungkin aku akan cari kerja.”
“Ikut kerja Papa Dimas di luar
negeri aja..” usul Dimas. Agung mengerutkan keningnya.
“Tapi ibu gimana?” tanya
Agung. Bu Arni tersenyum. Kini anaknya begitu peduli kepadanya.
“Ibu biar Dimas aja yang jaga,
kan Mas Agung juga bisa sering pulang kalau kangen ibu, nanti biar Dimas
bilangin sama Papa.” Jawab Dimas dengan senyuman mengembang di wajahnya.
“Terima kasih Dimas..” kata
Agung sambil memeluk Dimas lagi. Bu Arni ikutan memeluk mereka berdua.
“Oh iya, Mas Agung pasti
bosen, dengerin aku nynayi ya..” kata Dimas yang disetujui anggukan oleh Agung
dan bu Arni.
Bunda
cinta jangan menangis
Doamu menyinariku
Ingat perjuangan diriku
Cerminan dari cintamu yang indah
Kau sabar menyayangiku
Kau peluk kemarahanku
Bunda sayang jadi senyumlah
Demi bunda cintaku
Ku kejar impianku
Atas nama cintamu
Ku akan meraih semua impian aku
Untuk bahagiakanmu huooo...
Atas nama cintamu
Ku akan menjadi yang terbaik untukmu
Kucinta kamu Bunda ooo...
Bunda sayang jangan menangis
Doamu menyinariku
lyricsalls.blogspot.com
Aku takkan pernah menyerah huoooo...
Demi Bunda cintaku
Ku kejar impianku oooo...
Atas nama cintamu
Ku akan meraih semua impian aku
Untuk bahagiakanmu huooo...
Atas nama cintamu
Ku akan menjadi yang terbaik untukmu
Kucinta kamu Bunda ooo...
Atas nama cintamu
Ku akan meraih semua impian aku
Untuk bahagiakanmu huooo...
Atas nama cintamu
Ku akan menjadi yang terbaik untukmu
Bunda...
Kucinta kamu Bunda
Bunda...
Kucinta kamu Bunda
Atas nama cintamu ku akan jadi yang terbaik
Bunda...
Bunda...
Doamu menyinariku
Ingat perjuangan diriku
Cerminan dari cintamu yang indah
Kau sabar menyayangiku
Kau peluk kemarahanku
Bunda sayang jadi senyumlah
Demi bunda cintaku
Ku kejar impianku
Atas nama cintamu
Ku akan meraih semua impian aku
Untuk bahagiakanmu huooo...
Atas nama cintamu
Ku akan menjadi yang terbaik untukmu
Kucinta kamu Bunda ooo...
Bunda sayang jangan menangis
Doamu menyinariku
lyricsalls.blogspot.com
Aku takkan pernah menyerah huoooo...
Demi Bunda cintaku
Ku kejar impianku oooo...
Atas nama cintamu
Ku akan meraih semua impian aku
Untuk bahagiakanmu huooo...
Atas nama cintamu
Ku akan menjadi yang terbaik untukmu
Kucinta kamu Bunda ooo...
Atas nama cintamu
Ku akan meraih semua impian aku
Untuk bahagiakanmu huooo...
Atas nama cintamu
Ku akan menjadi yang terbaik untukmu
Bunda...
Kucinta kamu Bunda
Bunda...
Kucinta kamu Bunda
Atas nama cintamu ku akan jadi yang terbaik
Bunda...
Bunda...
Mereka terkagum dengan suara
Dimas yang begitu lembut. Bu Arni tak henti-hentinya menitikkan air mata. Dimas
memang anak yang berbeda. Anak yang spesial menurutnya. Semua orang bisa
tersenyum akan tingkahnya.
Ibu adalah orang yang diciptakan
agar seorang anak berada di muka bumi. Ibu seharusnya dilindungi, dijaga, dan
disayangi. Sebagaimana seorang ibu yang telah merawat anak-anaknya dengan tulus
tanpa meminta balasan.
“Mama... I Love You...” lirih Dimas sambil tersenyum.
♫♪♥Selesai♥♪♫