MY HOME

MY HOME

Selasa, 26 Mei 2015

Mama, Aku Merindukanmu

Mama, Aku Merindukanmu
Angin malam terasa menembus kulit sampai ke tulang. Musim dingin saat ini benar-benar di luar dugaan. Lebih lama dari biasanya. Tak ada yang lebih istimewa pada musim ini. Walaupun bertepatan dengan hari libur sekalipun, bagi seorang anak laki-laki ini sama sekali tidak istimewa seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan di musim dingin pula, tepatnya 3 tahun yang lalu, ia harus berpisah dengan orang yang sangat mengerti tentang dirinya dan sangat-sangat dicintainya. Mama. Ketika anak laki-laki ini mengingatnya, kepribadiannya yang semula ceria, akan berubah murung bahkan tak jarang pula menitikkan air mata. Begitu dekatnya ia dengan sang Mama. Baginya, Mama adalah malaikat yang menjelma menjadi seorang ibu yang sangat dibanggakannya. Ibu yang melahirkannya, ibu yang selalu mengerti akan keadaannya, ibu yang selalu membelanya disaat ia salah sekalipun.
Sambil menikmati segelas teh hangat di emperan rumahnya, anak laki-laki itu terus menerawang jauh dan sangat jauh karena rasa rindunya kepada ibunya. Siapa sangka bahwa anak seorang pengusaha terkaya sekalipun akan menangis sesenggukan karena kerinduan yang serasa menghimpit dadanya. Jam ditangannya baru menujukkan pukul 19.38 WIB. Akan tetapi, udara malam malah semakin dingin menembus badannya. Ia lebih merapatkan jaketnya dan meneguk lagi teh hangat yang uapnya masih mengepul. Ia segera mengambil gitar yang selalu menemaninya di kala suntuk. Dengan lincah, jari-jarinya telah memetik senar gitar kesayangannya.
aku ingin engkau ada di sini
menemaniku saat sepi
menemaniku saat gundah
berat hidup ini tanpa dirimu
ku hanya mencintai kamu
ku hanya memiliki kamu

aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
aku rindu setengah mati

meski tlah lama kita tak bertemu
ku selalu memimpikan kamu
ku tak bisa hidup tanpamu

aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
aku rindu setengah mati

aku rindu setengah mati

aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
aku rindu
 Dimas Andrian Dirgantara. Seorang anak laki-laki dari seorang pengusaha, Hardi Dirgantara, yang kini hidup di luar negeri semenjak kepergian istrinya karena dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Kini Dimas tinggal di Indonesia hanya bersama dengan seorang pengasuhnya dan seorang sopirnya sejak kecil. Dan untuk kesekian kalinya, ia harus menghapus air matanya setelah menyanyikan sebuah lagu kerinduan untuk Mamanya. Kerapuhan Dimas ketika merindukan ibunya selalu tertutupi dengan sifatnya yang ceria. Ibunya selalu berpesan agar selalu membuat orang lain tersenyum. Terkadang ia berpikir, bagaimana bisa ia membuat orang lain tersenyum, sedangkan hatinya tidak dapat berbohong bahwa dirinya sendiri pun butuh sandaran dan sulit untuk selalu ceria. Tapi demi sang Mama.
Teman-temannya selalu iri kepadanya karena ia merupakan anak pengusaha kaya dan merupakan pewaris tunggal perusahaan ayahnya. Tapi ia justru lebih iri pada teman-temannya yang masih memiliki orang tua lengkap dan selalu bercengkerama bersama setiap harinya. Bukan seperti yang ia alami saat ini. Sendiri, dan harus menahan kerinduannya untuk orang tuanya.
♥♥♥
Keesokan harinya, setelah bangun tidur, seperti biasanya Dimas segera melakukan aktivitas seperti biasanya pula. Mandi dan membuat sarapan sendiri karena pengasuh dan sopirnya sedang belanja ke pasar sejak subuh tadi belum pulang. Di usianya yang masih 12 tahun ini, ia sudah tergolong sebagai anak yang mandiri. Juga anak yang tergolong cerdas di sekolahnya.
Ketika akan berolahraga, di depan rumahnya, tak sengaja Dimas tertabrak oleh seorang ibu yang sedang berlari-lari dengan wajah penuh ketakutan. Wajah ibu itu terlihat pucat. Dimas mengajak ibu itu masuk ke rumahnya.
“Ini Bu, minum dulu.” Kata Dimas sambil menyodorkan segelas air mineral pada ibu itu. Ibu itu segera meneguk sampai habis air yang diberikan oleh Dimas.
“Terimakasih Nak, maaf mengganggu kamu yang mau bersantai.” Sahut ibu itu dengan suara parau. Dimas baru menyadari bahwa mata ibu itu sembab dan lengannya penuh dengan lebam.
“Nama ibu siapa? Mengapa ibu lari-larian seperti tadi?” tanya Dimas karena penasaran dengan keadaan ibu itu sekarang.
“Saya Arni, saya takut karena dipukuli anak saya, tadi anak saya minta uang untuk bermain judi dan mabuk-mabukkan. Saya tidak punya uang lagi, semua warisan yang ditinggalkan suami saya telah habis untuk bermain judi anak saya. Saya kini hanya hidup bersamanya. Kami sudah tidak memiliki keluarga lagi. Tadi ketika saya berlari setelah dipukul anak saya, baru kepikiran kalau kami hanya berdua, tanpa ada sanak saudara lagi.” Jelas ibu itu. Dimas merasa iba. Dia yang sudah tidak memiliki ibu saja selalu merindukan kasih sayang seorang ibu, kini malah ada seorang anak yang tega menganiaya ibunya sendiri hanya karena uang. Sungguh memiriskan dunia ini.
“Ya sudah bu Arni, nanti Dimas temani untuk menjelaskan kepada anak ibu.” Kata Dimas.
“Tapi nak, apa itu tidak mengganggu waktu liburan kamu?” tanya bu Arni sambil mengamati Dimas dari atas sampai bawah.
“Nggak apa-apa bu, saya ganti baju dulu, lagian saya juga bosan.” Kata Dimas sambil berjalan menuju kamarnya. Begitulah sifat Dimas. Ia selalu tidak tega melihat air mata seorang ibu.
Tanpa Dimas sadari, bu Arni menitikkan air mata dengan perlakuan Dimas. Ia berharap anak semata wayangnya dan yang sangat dicintainya dapat seperti Dimas.
“Mari bu..” celetuk Dimas membuyarkan lamunan bu Arni. Kini Dimas telah berganti pakaian santai. Ketika hendak keluar rumah, pengasuh Dimas datang dengan beraneka macam sayuran dan belanjaan lainnya di tangannya.
“Lo, den Dimas mau kemana?” tanya pengasuh Dimas dengan heran ketika anak majikannya bersama dengan seorang wanita yang belum pernah mereka kenal.
“Maaf bi, Dimas harus menemani bu Arni ini dulu, nanti kalau sudah sampai rumah kembali, Dimas ceritain deh ke bi Surti.” Tutur Dimas dengan sopan. Pengasuhnya yang sudah hafal watak Dimas sejak kecilpun hanya manggut-manggut.
“Ya sudah, den Dimas hati-hati ya..”
“Iya bi.. Mang Ujang anterin Dimas ya.” Pinta Dimas kepada sopirnya yang dibalas dengan anggukan.
♫♫♫
Bu Arni hanya terdiam selama dalam perjalanan. Perasaannya tak enak semenjak keluar dari rumah Dimas tadi. Seolah menjawab kekhawatirannya, di depan rumahnya banyak kerumunan orang. Bu Arni segera keluar dari mobil Dimas setelah Mang Ujang menghentikan mobilnya.
“Ada apa ini?” tanya bu Arni pada segerombolan orang yang berada di depan rumahnya.
“Tadi anak ibu kecelakaan di perempatan sana. Sekarang ada di RS Anugrah.” Jawab salah satu tetangganya sambil menunjuk-nunjuk tempat kecelakaan anak bu Arni.
“Kami antar ke rumah sakit bu..” tawar Dimas yang disetujui dengan anggukan oleh bu Arni. Mereka segera bergegas menuju rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, bu Arni segera berlari ke resepsionis dan menanyakan keberadaan anaknya. Anaknya telah dipindahkan ke ruang rawat.
Pintu kamar rawat terbuka, masuklah bu Arni dan Dimas. Disana terdapat seorang dokter dan dua orang suster yang tengah memeriksa keadaan anak bu Arni.
“Namanya Agung.” Kata bu Arni mengenalkan. Dimas hanya mengangguk-angguk mengerti mendengarnya.
Setelah dokter dan suster yang menanganinya keluar, Agung melirik tajam kearah bu Arni dan Dimas.
“Mau apa kamu kesini? Peduli apa kamu?” kata Agung dengan sengitnya. Lagi-lagi bu Arni menitikkan air mata. Dimas terlonjak kaget mendengar perkataan Agung yang tidak pantas ditujukan untuk seorang ibu.
“Nangis? Hanya itu yang kamu bisa? Cari duit kek, keluar sana! Jangan kembali lagi sebelum membawa banyak duit!” tambah Agung. Di situasi seperti ini, Dimas semakin merindukan mamanya dan ingin sekali memeluk mamanya. Ia tak ingin seperti Agung ini.
“Sebaiknya ibu tunggu diluar saja, biarkan saya yang bicara sama Mas Agung.” Kata Dimas pelan dan menenangkan bu Arni. Bu Arni menuruti kata Dimas. Beliau segera keluar dan bersembunyi di balik pintu untuk menguping pembicaraan kedua anak laki-laki itu.
“Siapa kamu anak kecil?” tanya Agung dengan nada datar dan lirikan tajam.
“Hem, saya hanya seorang anak yang sudah tak memiliki ibu, yang merindukan sosok seorang ibu, dan yang haus akan kasih sayang seorang ibu. Dan kebetulan tadi saya bertemu dengan ibu anda yang begitu mengagumkan, yang sabar mengurus anak yang tak tau diri macam Mas Agung ini.” Kata Dimas tak kalah datarnya.
“Tidak usah ikut campur masalah keluargaku!” bentak Agung pelan.
“Mas Agung mengartikan seorang ibu itu seperti apa sih? Malaikat? Atau malah pembantu? Mas Agung sadar ndak sih kalau Mas Agung itu sudah kelewatan sama bu Arni, itukah balasan untuk orang yang telah melahirkan Mas Agung ke dunia ini? Yang telah merawat Mas Agung sampai seperti ini meskipun tanpa seorang suami yang mendampingi, aku saja sering menangis Mas karena rindu sama mamaku yang telah dipanggil Allah SWT. Apa Mas Agung pernah berpikiran kalau nanti nasib Mas Agung sama seperti aku, Mas Agung bakalan diurus dan tinggal sama siapa? Apalagi dengan pekerjaan Mas yang hanya mabuk-mabukkan dan berjudi. Mau menikah? Apa ada yang mau sama Mas dengan kelakuan Mas Agung apabila Mas Agung tidak berusaha merubahnya. Ayolah Mas, cari duit itu gampang, tapi mencari ibu yang tulus menyayangi kita tanpa imbalan apapun itu susah! Yang mereka inginkan itu hanya kebersamaan bersama kita Mas, ndak lebih! Sekarang terserah Mas Agung, mau lanjut menjadi pemabuk dan tukang judi, atau mau tobat dan menyayangi serta berusaha membalas jasa-jasa ibu. Itu terserah Mas Agung.” Jelas Dimas panjang lebar tanpa menoleh sedikitpun kearah Agung. Dadanya sesak dan matanya sudah memanas, bahkan basah oleh air matanya sendiri. Kerinduan kepada mamanya semakin menghimpitnya.
Ma... Dimas sangat-sangat dan sangat rindu sama Mama, Dimas ingin memeluk Mama sekarang. Tidak lebih dari itu. Semoga Mama tenang di alam sana.’ Batin Dimas sambil air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
“Ter..ri..ma..ka..sih..” ujar Agung dengan suara serak. Dimas yang baru menyadari bahwa Agung menangis segera menolehkan wajahnya kearah Agung.
“Sekarang Mas Agung pilih mana?” tanya Dimas sambil mengusap air matanya sendiri.
“Panggil ibuku kemari.” Sahut Agung. Dimas tersenyum bahagia.
Setelah bu Arni memasuki ruang rawat Agung, Agung segera beranjak dari tempat tidurnya dan bersujud di kaki ibunya.
“Ma.. dulu Dimas sering begitu kalau Dimas habis membuat kesalahan.” Gumam Dimas dengan air mata yang tiada henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya.
“Ibu.. maafin Agung bu, maafin bu.. Agung sudah menjadi anak durhaka selama ini, maafin bu..” kata Agung sambil menangis di kaki ibunya. Bu Arni terdiam mematung sambil memegangi punggung anaknya. Beliau sudah mendengar semua percakapan Dimas dan Agung.
“Iya nak.. asalkan kamu mau tobat, ibu bahagia sekali..” sahut bu Arni sambil membantu anaknya berdiri.
“Agung janji bu, Agung bakalan jadi anak baik..” kata Agung seraya memeluk ibunya.
“MAMAAA” teriak Dimas sambil berlari keluar dari ruang rawat Agung. Bu Arni dan Agung yang melihatnya hanya terdiam bingung.
“Kamu kembali ke ranjang kamu, biar ibu susulin nak Dimas, kasihan dia pasti rindu sama mamanya.” Kata bu Arni sambil membantu Agung kembali ke ranjangnya dan segera keluar menyusul Dimas.
Di depan ruang rawat Agung, bu Arni bertemu dengan Mang Ujang yang masih terheran-heran dengan majikannya yang tiba-tiba berlari sambil berteriak dan menangis.
“Mang, Dimas tadi kemana?” tanya bu Arni.
“Biasanya kalau suasananya seperti ini den Dimas lari ke makam mamanya bu.” Jawab Mang Ujang.
“Ya sudah, tolong antarkan saya menyusul Dimas.”
“Tapi bu, kalau ke makam mamanya, den Dimas ndak mau diganggu..” sahut Mang Ujang yang sudah tahu karakter Dimas luar dalam.
“Saya juga seorang ibu Mang, jadi tolong antarkan saya menyusul Dimas..” pinta bu Arni. Mang Ujang mengangguk pasrah dan segera mengantarkan bu Arni ke pemakaman.
♪♪♪
Dimas menangis sesenggukan di atas gundukan tanah kuburan mamanya. Ia memeluk nisan mamanya dengan erat.
“Ma.. Dimas kangen sama Mama.. jemput  Dimas Ma..” kata Dimas diantara isakan tangisnya.
“Semua yang kita punya, tidak ada yang abadi dalam hidup kita. Itu semua hanyalah sementara. Karena ada yang lebih kekal daripada semuanya. Menjalani hidup dengan tangisan bukanlah jalan satu-satunya. Tapi menata hidup yang lebih baik untuk masa depan, itu kewajiban kita sebagai seorang manusia.” Kata seseorang di belakang Dimas. Dimas membalikkan badannya dan melihat siapa yang berbicara. Bu Arni.
“Dimas... Tadi bu Arni sudah mendengar cerita kamu dari Mang Ujang, masih banyak yang sayang sama kamu, Mang Ujang, bi Surti, Papa kamu, teman-teman kamu, bu Arni, dan juga Agung yang seperti bertemu dengan seorang adik seperti kamu..” tambah bu Arni sambil berjalan mendekati Dimas. Dimas mulai mencerna apa yang dikatakan bu Arni.
“Bolehkah Dimas memeluk bu Arni untuk sekedar mengurangi rasa rindu Dimas pada Mama?” tanya Dimas dengan bulir-bulir air mata masih menggantung di bulu matanya.
“Silakan, kamu boleh memeluk bu Arni kapanpun kamu mau, kamu menganggap bu Arni seperti ibu kamu sendiri pun juga ndak apa-apa.” Ujar bu Arni sambil memeluk Dimas erat. Menyalurkan sebuah ketenangan pada Dimas. Dimas semakin terisak dalam pelukan bu Arni.
“Ya sudah, kita kembali ke rumah sakit ya.” Lanjut bu Arni. Dimas mengangguk menyetujui. Mereka menuju parkiran pemakaman untuk menemui Mang Ujang yang telah menunggu.
♥♥♥
Ketika di rumah sakit kembali, mereka segera menuju ruang rawat Agung. Setelah sampai di ruang rawat Agung, Agung tersenyum ke arah Dimas. Dimas segera berlari menghampiri Agung dan memeluknya.
“Dari dulu Dimas pengen banget punya kakak laki-laki, Mas Agung mau ya jadi kakak Dimas..” kata Dimas dalam pelukan Agung.
“Iya.. maafin Mas Agung ya kalau tadi udah kasar sama kamu..” sahut Agung.
“Iya... rencana Mas Agung selanjutnya apa?” tanya Dimas.
“Mungkin aku akan cari kerja.”
“Ikut kerja Papa Dimas di luar negeri aja..” usul Dimas. Agung mengerutkan keningnya.
“Tapi ibu gimana?” tanya Agung. Bu Arni tersenyum. Kini anaknya begitu peduli kepadanya.
“Ibu biar Dimas aja yang jaga, kan Mas Agung juga bisa sering pulang kalau kangen ibu, nanti biar Dimas bilangin sama Papa.” Jawab Dimas dengan senyuman mengembang di wajahnya.
“Terima kasih Dimas..” kata Agung sambil memeluk Dimas lagi. Bu Arni ikutan memeluk mereka berdua.
“Oh iya, Mas Agung pasti bosen, dengerin aku nynayi ya..” kata Dimas yang disetujui anggukan oleh Agung dan bu Arni.
Bunda cinta jangan menangis
Doamu menyinariku
Ingat perjuangan diriku
Cerminan dari cintamu yang indah

Kau sabar menyayangiku
Kau peluk kemarahanku
Bunda sayang jadi senyumlah
Demi bunda cintaku
Ku kejar impianku

Atas nama cintamu
Ku akan meraih semua impian aku
Untuk bahagiakanmu huooo...

Atas nama cintamu
Ku akan menjadi yang terbaik untukmu
Kucinta kamu Bunda ooo...

Bunda sayang jangan menangis
Doamu menyinariku
lyricsalls.blogspot.com
Aku takkan pernah menyerah huoooo...
Demi Bunda cintaku
Ku kejar impianku oooo...

Atas nama cintamu
Ku akan meraih semua impian aku
Untuk bahagiakanmu huooo...

Atas nama cintamu
Ku akan menjadi yang terbaik untukmu
Kucinta kamu Bunda ooo...

Atas nama cintamu
Ku akan meraih semua impian aku
Untuk bahagiakanmu huooo...

Atas nama cintamu
Ku akan menjadi yang terbaik untukmu
Bunda...
Kucinta kamu Bunda
Bunda...
Kucinta kamu Bunda
Atas nama cintamu ku akan jadi yang terbaik
Bunda...
Bunda... 
Mereka terkagum dengan suara Dimas yang begitu lembut. Bu Arni tak henti-hentinya menitikkan air mata. Dimas memang anak yang berbeda. Anak yang spesial menurutnya. Semua orang bisa tersenyum akan tingkahnya.
Ibu adalah orang yang diciptakan agar seorang anak berada di muka bumi. Ibu seharusnya dilindungi, dijaga, dan disayangi. Sebagaimana seorang ibu yang telah merawat anak-anaknya dengan tulus tanpa meminta balasan.
Mama... I Love You...” lirih Dimas sambil tersenyum.
♫♪♥Selesai♥♪♫


Kamis, 14 Mei 2015

Akhi, Aku Jatuh Cinta Dengan Suara Adzanmu last part



Akhi, Aku Jatuh Cinta Dengan Suara Adzanmu last part
“Ya sudah kak, Andri pulang dulu, nanti dicariin tante, semoga besok Cahya bisa turun sekolah..” pamit Andri sambil menjabat tangan Andre.
“Iya, sekali lagi makasih, hati-hati ya..” sahut Andre sebelum Andri meninggalkan rumahnya.
“Iya kak, salam buat Cahya, Assalamualaikum wr. Wb.” Kata Andri seraya meninggalkan rumah Andre.
“Waalaikumsalam wr.wb.” kata Andre yang lantas menutup pintu dan berjalan menuju kamar adiknya.
♥♥♥
Setelah sampai di kamar Cahya, Andre segera menghampiri adiknya yang belum sadarkan diri. Dia memeriksa nadi dan nafasnya. Lemah.
“Demam..” gumam Andre, ia segera mengambil air hangat dan kain kompresan untuk mengompres adiknya.
“Maafin abang ya dek, seharusnya tadi abang nggak ngebiarin kamu pulang sendiri, please.. bangun dek..” kata Andre sambil terus mengompresi Cahya.
Sekitar satu jam Cahya pingsan, akhirnya sadar juga.
“Udah enakan dek?” tanya Andre sambil membantu mendudukkan Cahya.
“Pusing banget bang... kok Cahya bisa ada disini, bukannya tadi Cahya bersama preman-preman itu ya?” Cahya bertanya balik sambil memegangi keningnya.
“Preman-premannya ambruk dihajari Andri, trus waktu Andri tadi bingung ngeliat kamu pingsan, abang lewat, trus abang gendong kamu pulang deh. Tadi Andri juga mampir sini juga sebentar, oh iya, tadi dia nitip salam buat kamu..” Cahya manggut-manggut, Andre menyodorkan segelas air putih.
“Trus abang ngucapin makasih kan?” tanya Cahya lagi setelah meneguk air putih yang diberikan kakaknya.
“Yaiyalah.. anak kecil aja tau kali kalau habis ditolongin itu ngucapin makasih.. masa iya nunggu kamu suruh..” cerocos Andre gemes dengan pertanyaan adiknya.
“Yeeee biasa aja kaleee... orang Cuma nanya doang, kali aja bang Andre kelupaan gitu..” balas Cahya tak mau kalah.
“Hem.. udah istirahat sana.. besok sekolah udah mulai pelajaran hari pertama buat kamu, jangan sampai ketiduran di kelas Oke... abang juga mau tidur..” kata Andre sambil berjalan keluar kamar Cahya dan menutup pintunya.
“Andri..
Wahyu
Andri
Wahyu
Arghhss.. pusing ah, tidur lagi aja deh..” frustasi Cahya lalu menutupkan selimutnya ke seluruh tubuhnya.
♫♫♫Pagi-pagi di sekolah♫♫♫
“Dek nanti siang abang ada urusan sebentar dengan guru Biologi, kamu nungguin abang di masjid aja ya..” kata Andre ketika Cahya baru turun dari motornya.
“Yah.. sepi dong bang..” sahut Cahya dengan muka memelas.
“Eitss jangan salah, kamu duduk di kursi samping masjid deh, pemandangannya keren banget tau gak sih..” cerocos Andre sambil memarkirkan motornya.
“Hemm oke deh.. sampe jam 4 nggak kira-kira?” kini mereka berjalan beriringan menuju kelas mereka.
“Nggak kok, palingan nanti Asar abang sudah ikutan sholat berjamaah di masjid..”
“Oke deh bang, Cahya ke kelas dulu ya abang ku tersayang bubayy hahaha” kata Cahya sambil melambaikan tangan dan kiss bye alay.
“Idih.. malu-maluin aja dek..” gerutu Andre karena banyak teman Andre yang melihat kejadian tersebut dan tertawa.
♪♪♪
Setengah jam sudah Cahya menunggu Andre semenjak pulang sekolah tadi. Kini jam menunjukkan pukul 14.00 WIB. Dia kini duduk di kursi samping masjid seperti yang disarankan Andre.
“Belum pulang ukh?” tanya seseorang dibelakangnya. Cahya membalikkan badannya untuk melihat si pemilik suara.
“Eh Wahyu.. belum, masih nungguin kakak aku... la kamu sendiri belum pulang?” tanya balik Cahya.
“Ini juga mau pulang, kebetulan lewat sini, duluan ya.. Assalamualaikum” kata Wahyu sambil berjalan meninggalkan Cahya sendiri kembali.
“Iya, Waalaikumsalam..” jawab Cahya sambil tersenyum.
Apa ini.. masa iya aku seneng banget denger suara Wahyu..’ batin Cahya sambil senyum-senyum sendiri.
“Stop it Cahya..” gumamnya.
Cahya meneruskan aktivitasnya kembali seperti tadi, yaitu membaca novel milik Andre yang diambilnya dari meja belajar Andre beberapa hari yang lalu.
Tak terasa adzan Asar telah berkumandang di masjid sekolahnya. Cahya tersentak mendengar adzan tersebut.
“Wahyu.. bukannya tadi sudah pulang ya?” heran Cahya. Ia segera bergegas mengambil air wudhu dan masuk ke masjid.
Bukannya Wahyu yang ditemukan, tapi malah Andri yang keluar dari bilik tempat adzan dikumandangkan.
Andri? Apa aku selama ini salah orang? Yang adzan selama ini Andri..bukan Wahyu?’ Cahya terbengong untuk beberapa saat. Ya, ia kini hanya di dalam masjid bersama Andri, tidak ada yang lain.
“Yaa.. udah sembuh?” sapa Andri menyadarkan Cahya dan mengembalikannya ke dunia nyata.
“Ehm.. eh.. ud.. dah..” jawab Cahya gugup.
“Kamu kenapa?” tanya Andri bingung dengan sikap Cahya.
“Eh enggak, tadi aku kaget aja, makasih ya untuk kemarin, kak Andre sudah cerita banyak, pokoknya makasih Andri..” ucap Cahya tulus sambil tersenyum.
“Iya sama-sama” sahut Andri sambil tersenyum pula.
“Eh.. kemarin-kemarin yang adzan juga kamu?” tanya Cahya to the point.  Andri hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Kenapa? Ada yang aneh atau gimana gitu ya?” tanya Andri balik. Cahya menggeleng kuat-kuat. Andri terkikik melihat tingkah Cahya.
“Enggak kok.. lupakan..” kata Cahya karena sudah ada beberapa orang yang ingin sholat berdatangan termasuk Andre.
Tuh kan salah orang.. jadi yang adzan selama ini Andri.. kirain Wahyu, eh apaan sih Cahya..’ batin Cahya sambil memukul-mukul kepalanya pelan dan kembali duduk menunggu iqomah karena Andri sendiri juga sudah bersiap mengumandangkan iqomah.
♫♫♫
“Dek... kenapa sih dari tadi ngelamun mulu? Masih pusing?” tanya Andre setelah mereka sampai di rumah karena sejak perjalanan pulang tadi Cahya tidak berkata-kata sedikitpun. Biasanya jalan raya seperti milik mereka karena obrolan mereka yang mengganggu pengendara lain.
“Huh.. nanti aja deh bang ceritanya, Cahya mandi dulu..”  kata Cahya seraya meninggalkan Andre yang mematung di ambang pintu.
“Kenapa sih tuh anak..” desis Andre dan berjalan menuju kamarnya setelah menutup pintu.
Sehabis mandi, Cahya duduk di taman belakang rumahnya menikmati pemandangan sore dan menunggu saat-saat berbuka. Dia tidak masak hari ini karena tadi tetangganya sudah memberi mereka menu berbuka puasa bermacam-macam rasa dan bentuknya -_-
“Tuh kan ngelamun lagi.. ada apa sih dek?” kata Andre yang telah duduk di samping Cahya.
“Enggak apa-apa bang, tadi waktu sholat Asar aku ketemu Andri.” Sahutnya dengan fokus memandang ke depan tanpa menolehkan wajahnya.
“Abang juga, kan tadi sholatnya barengan..” kata Andre dengan muka polos. Cahya gemas mendengar ucapan kakaknya.
“Bukan itu maksudnya bang.. jadi pemilik suara adzan yang merdu itu selama ini Andri, bukan Wahyu..” kata Cahya yang kini telah memandang kakaknya.
“Oh itu toh.. Cieee.. jadi ceritanya ada yang galau nih.. hahaha Akhi, aku jatuh cinta pada suara adzanmu.. hahahaha” ledek Andre sambil tertawa, menertawakan kebingungan adiknya.
“Oke.. abang mah gitu.. ngledek terus.. bukan gitu loh.. aku Cuma ngefans aja, nggak jatuh cinta.. huh..” Cahya hanya bisa pasrah entah abangnya mau berbuat apa lagi setelah mendengar pengakuannya.
“Acie cie, ada yang lagi main suka-sukaan nih... aku bilangin Ayah loh.. hahaha”
“Enggakkk abang....” teriak Cahya sambil berlari mengejar kakaknya dan kini mulai bermain kejar-kejaran lagi.
♪♪♪
Sebulan lebih telah berlalu, lebaran pun telah berlalu sejak seminggu yang lalu. Besok saatnya masuk sekolah kembali.
“Dek.. udah kangen sama Andri atau Wahyu belum?” ledek Andre yang kini sedang duduk-duduk di emperan rumah bersama Cahya. Orang tua mereka sedang ke rumah temannya untuk menengok anak temannya yang sakit.
“Auk ah bang.. eh bang, ayah sama bunda tadi kemana?” tanya Cahya mengalihkan pembicaraan.
“Nengokin anak temen mereka yang kecelakaan pas lebaran kemarin?” jawab Andre. Cahya menganga mendengar jawaban Andre.
“Ha?? Masa iya lebaran-lebaran kecelakaan...”sahut Cahya.
“Kenapa? Nggak boleh?” tanya Andre yang aneh mendengar pernyataan Cahya.
“Enggak.. nggak jadi deh.. heheheh” Andre menggeleng mendengar jawaban Cahya.
“Lama juga nggak denger suara adzannya Andri hehehe” celetuk Cahya. Seketika Andre langsung menolehkan wajahnya menatap Cahya. Yang merasa ditatap langsung perasaannya merasa tak enak. ‘Aduh.. salah ngomong deh, pasti habis ini di bully bang Andre habis-habisan..’ batinnya. Dan benar, tak berapa lama Andre langsung tertawa terbahak-bahak.
“Hahahaha tuh kan... Andri apa Wahyu nih??” ledek Andre. Wajah Cahya memerah malu.
“Ehm.. kan yang ngumandangin adzan Andri..” sahutnya asal.
“Kalau orangnya?” tanya Andre dengan memasang tampang penasaran.
“Andri deh..” jawab Cahya malu-malu.
“Duilehhh akhirnya adekku jujur juga.. acie-cie.. hahaha” Andre semakin menjadi-jadi. Cahya hanya menundukkan wajahnya meratapi jawabannya tersebut. Entah mengapa dia bisa memilih Andri.
♥♥♥
Seminggu berlalu waktu sekolah telah terlewati. Selama itu juga Cahya tak pernah mendengar suara adzan Andri, bahkan melihat orangnya.
“Akhi.. aku jatuh cinta pada suara adzanmu, dan sekarang aku meridukanmu..” gumam Cahya.
“Ishh apaan sih Cahya..” tambahnya lagi. Ia kini tengah duduk termenung di perpustakaan.
“Rendra yah? Kelas X 1..” tanya Cahya ketika ada seseorang sedang mencari-cari buku di depannya.
“Iya.. ada apa?” tanya Rendra yang telah mengenal Cahya. Siapa juga yang tidak mengenal Lintang Cahya Permadany.
“Ehm.. kalau boleh tau, Andri kemana ya?” tanya Cahya hati-hati sekali.
“Oh.. dia emang belum masuk dari lebaran kemarin, katanya sih sakit, tapi kami juga belum sempat menjenguk, rencananya sih nanti sepulang sekolah, mau ikut?” tawar Rendra. Ya, Rendra adalah ketua kelas X 1.
“Ehm.. boleh deh.. aku boleh ngajak kakakku nggak? Soalnya kakakku juga kenal banget sama Andri.”
“Oke, nanti sepulang sekolah kita kumpul di parkiran..” kata Rendra yang kini telah menemukan buku yang dicarinya.
“Sipp” jawab Cahya.
“Oke, aku ke kelas dulu ya..” pamit Rendra.
“Iya..” sahut Cahya.
♫♫♫
Sepulang sekolah seperti kesepakatan, mereka telah  bersiap untuk menjenguk Andri. Andre juga sudah ada disana.
“Gimana? Sudah siap?” tanya Rendra kepada teman-temannya.
“Siap..” jawab mereka serentak.
“Ayo kita berangkat, Roni yang udah tau rumah Andri paling depan ya..” ucapnya lagi.
“Oke..” sahut Roni.
Merekapun akhirnya berangkat dengan Roni sebagai penunjuk jalan.
Sesampainya di rumah Andri, Cahya sedikit terpana melihat keindahan rumah Andri. Memang tak semegah rumahnya, tapi konsep rumahnya begitu kreatif. Teman-teman yang lain pun ikut berdecak kagum. Mereka tak menyangka bahwa Andri anak orang kaya.
“Permisi bi, Andrinya ada?” tanya Roni dengan sopan. Roni adalah teman Andri sejak SMP, jadi pembantu Andri sudah hafal dengan Roni, begitupun sebaliknya.
“Ada den, den Andrinya di dalam kamar, silakan langsung ke kamarnya saja. Kebetulan Tuan dan Nyonya sedang dinas di luar kota.” Jawab pembantu Andri. Roni langsung mengajak teman-temannya menuju kamar Andri.
“Assalamualaikum.. Andri..” sahut mereka serentak. Kamar Andri yang tidak tertutup membuat mereka mengetahui aktivitas yang dilakukan Andri. Andri tengah membaca buku di ranjangnya.
“Waalaikumsalam.. eh temen-temen masuk aja..” jawab Andri dan membenahkan posisi duduknya. Kondisi Andri sangat memprihatinkan. Kepalanya dibalut dengan kasa yang dapat ditebak bahwa kepalanya masih sering berdarah, tangan kanannya juga diperban dan kaki kiri bagian tungkai atasnya mengalami patah tulang tertutup.
“Sudah ada kemajuan Ndri?” tanya Roni yang kini duduk di samping Andri. Sedangkan teman-teman cewek mereka duduk di sofa yang berada di kamar Andri.
“Ya seperti yang kamu lihat deh Ron..” jawab Andri sekenanya.
“Eh, kok bisa sampe kaya gini sih Ndri?” tanya Rendra.
“Ya bisalah.. yang namanya takdir mana ada yang tahu hehehe” jawab Andri asal.
“Bisaan aja kamu Ndri, eh rumah kamu gede juga ya..” celetuk Andre. Semua yang mendengarnya tertawa.
“Hehehe, tapi nggak segede rumah kak Andre kan.. hahaha” goda Andri, Andre merengut mendengarnya. Yang lain tertawa melihat ekspresi Andre.
Setelah berbincang-bincang hampir setengah jam, semua pamit kecuali Andre dan Cahya. Cahya yang sedari tadi belum membuka pembicaraan sedikitpun ingin mengobati kecurigaannya. Begitupun dengan Andre. Menurut mereka, kecelakaan yang dialami Andri bukanlah kecelakaan biasa, tapi akibat adu jotos, karena banyak terdepat luka-luka lebam di wajah dan sekujur tubuh Andri.
“Hem ya udah Andri, Cahya sama kak Andre, kami pulang dulu.. Assalamualaikum” pamit Rendra dan teman-temannya.
“Iya, hati-hati.. Waalaikumsalam” jawab mereka bersamaaan.
Setelah teman-teman mereka sudah dirasa benar-benar telah meninggalkan rumah Andri, Andre semakin mendekat kepada Andri.
“Sebenarnya kecelakaan kamu itu gimana sih Ndri? Jawab yang jujur deh..” kata Andre sambil melayangkan tatapan penuh selidik. Cahya merasa tak enak karena kakaknya seperti itu.
“Hem.. yaudah deh, sebenarnya Andri dikeroyok preman setelah pulang dari sholat Idul Fitri, dan preman yang ngeroyok Andri itu....” belum sempat Andri meneruskan ceritanya, Cahya telah memotongnya.
“Yang waktu itu mau bawa aku?” tanya Cahya. Andri hanya menganggukkan kepalanya.
“Ya, karena waktu itu, Andri udah mukulin anak buah mereka, jadi mereka marah..” Seketika air mata Cahya mengalir membasahi pipinya. Jadi ini semua gara-gara dirinya.
“Maaf Ndri.. mungkin kalau waktu itu kamu nggak nolongin aku, pasti kamu nggak akan seperti ini..” kata Cahya sambil bersimpuh di bawah ranjang Andri. Andri dan Andre terbelalak akan tingkah Cahya.
“Ya.. udahlah, kamu ngapain disitu, udah aku nggak apa-apa kok..” kata Andri berusaha menenangkan Cahya yang makin terisak. Andre yang melihatnya hanya membiarkan apa yang dilakukan Cahya. Dia tahu Cahya begitu karena Cahya merasa bersalah pada Andri.
“Nggak apa-apa gimana? Keadaan kamu kayak gini masih bisa-bisanya kamu ngomong nggak apa-apa...” sahut Cahya disela-sela isakannya. Andri turun dari ranjangnya dengan hati-hati dan duduk menyejajari Cahya. Andre memilih menunggu di balkon kamar Andri.
“Beneran.. aku nggak apa-apa kok, ini aku udah enakkan kok, udah sehat, kamu nggak usah nangis gitu dong.. jelek tauk..” ucap Andri menghibur Cahya. Cahya memandang semua luka-luka pada tubuh Andri, air matanya tak dapat ditahannya karena rasa bersalahnya semakin besar.
“Maaf...” kata Cahya sekali lagi, kini tubuhnya bergetar hebat. Ingin sekali Andri memeluknya, tapi Andri bukanlah pria yang tak mengerti agama.
“Maaf juga..” kata Andri yang sukses membuat Cahya mendongakkan kepala.
“Maaf buat??” tanya Cahya heran.
“Maaf karena telah membuatmu menangis..” jawab Andri mantap.
“Sudahlah.. disini kita tidak ada yang perlu dipersalahkan.. udah ya Cahya.. jangan nangis lagi.. senyum dong..” kata Andri sambil mencontohkan tersenyum. Cahya tertawa melihat tingkah Andri. Andre yang melihatnya dari balkon kamar Andri pun ikut tersenyum.
“Nah gitu dong.. nggak usah sedih lagi..” kata Andri sambil tersenyum.  Cahya mengangguk mendengarnya.
“Eitss.. udah sore adek-adek, saatnya pulang..” celetuk Andre yang sudah keluar dari persembunyiannya.
“Ndri, cepet sembuh ya, trus bisa sekolah lagi.. aku pamit dulu ya..” ucap Cahya seraya berdiri dari duduknya.
“Iya Ndri.. cepet sembuh ya.. nanti ada yang kangen loh..” sahut Andre, Cahya langsung melirik tajam kearah kakaknya.
“Hah? Maksudnya, siapa kak?” tanya Andri penasaran.
“Itu, tukang kebun sekolah hahaha, aku sama Cahya pulang dulu ya, Assalamualaikum” pamit Andre.
“Iya kak, hati-hati, makasih uda jengukin.. Waalaikumsalam” jawab Andri.  
♪♪♪
Selama seminggu setelah menjenguk Andri, Cahya merasa Andri juga belum masuk sekolah.
“Ndri.. maafin aku.. maaf banget..” gumam Cahya.
“Nggak ada yang salah Cahya..” kata seseorang yang kini dibelakangnya.
“Andri..” sahut Cahya yang kini melihat Andri tanpa menggunakan kruk lagi.
“Iya.. nih, udah sembuh kan..” kata Andri sambil memamerkan tubuhnya yang telah sehat.
“Hem, Alhamdulillah deh.. trus pelajaran-pelajaran kamu yang tertinggal gimana?” tanya Cahya yang mulai diliputi rasa takut kembali.
“Gampang.. selama di rumah kan aku juga belajar hehehe, tenang aja lah..” sahut Andri menenangkan Cahya.
“Eh tapi kok kamu bisa di depan kelasku gini sih?” tanya Cahya heran, maklum kelasnya dan kelas Andri agak jauhan.
“Ehm.. nggak tau tadi pengen aja nyamperin kamu..” kata Andri yang sukses membuat pipi Cahya memanas.
“Emang kenapa kok pengen nyamperin aku?” tanya Cahya untuk menetralisir kesaltingannya.
“Kayanya sih kangen, hehehe, eh udah mau Dhuhur, ke masjid yuk..” ajak Andri.
“Duileh.. yang jadi muadzin SMA ini..” goda Cahya yang sebenarnya dia belum bisa mengontrol sepenuhnya detak jantungnya.
“Bukan Wahyu?” tanya Andri sedikit menggoda karena dia sudah tau semuanya dari Andre. Cahya merengut mendengar pertanyaan Andri yang terkesan menggodanya.
“Hahaha bercanda Ya.. udah yok..” ajak Andri lagi. Cahya mengangguk dan mengikuti langkah kaki Andri menuju masjid.
Adzan dikumandangkan oleh Andri. Cahya tertegun sejenak.
“Akhi, aku benar-benar jatuh cinta pada suara adzanmu...” gumam Cahya dan melanjutkan untuk mengambil air wudhu.
♪♫♥END♥♫♪

Minggu, 10 Mei 2015

Akhi, Aku Jatuh Cinta Dengan Suara Adzanmu part 2




Akhi, Aku Jatuh Cinta Dengan Suara Adzanmu part 2
            Cahya meniup lilinnya dan memotong-motong blackforest tersebut untuk disantap bersama-sama dengan keluarganya.
            “Uhh.. Cahya lupa kalau hari ini ultah, mana tadi di sekolah dikerjain sama senior habis-habisan lagi..” gerutu Cahya dengan muka melas.
“Yahh.. coba tadi abang ada, bisa buat tontonan tuh.. hahaha.” Ledek Andre sambil mengunyah blackforest.
“Yelah, abang mah gitu kalau liat adiknya menderita seneng banget.. Yah, Bun.. Bang Andre nakal...” rajuk Cahya yang diikuti ketawa ketiwi dari Andre. Ayah bunda mereka hanya tersenyum.
♥♥♥
Selama 3 hari setelah MOS, sekolah Cahya diliburkan karena untuk menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah.
“Sahurrrrrrrrr adekku yang cantik saatnya Sahurrrrr sayang...” teriak Andre yang sudah mengalahkan toa masjid di kuping Cahya. Ayah dan Bunda mereka telah pergi lagi setelah merayakan ulang tahun Cahya kemarin. Kini meraka hanya berdua lagi.
“Aduh abang.. iye-iye, kagak usah pake tereak-tereak juga bisa nggak sih...” Cahya menggeliat sambil meraba-raba ponselnya di bawah bantal.
“Udah.. kalo jomblo mah kagak mungkin ada SMS masuk di hp, kagak usah sok-sok’an ngecek hp segala..” ledek Andre yang disambut sebuah bantal terbang mengenai kepalanya.
“Liat jam abang... kaya situ nggak jomblo aja..” gerutu Cahya sambil masuk kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.
♥♥♥
“Dek, kamu suka cowok yang gimana sih?” tanya Andre disela-sela jalan-jalan pagi setelah sholat Subuh di masjid.
“Tauk lah bang, kan Cahya belum pernah deket sama cowok kecuali sama abang...” jawab Cahya asal.
“Yaelah.. jangan-jangan kamu naksir sama abang..?” kata Andre dengan nada penuh selidik.
“Hello.. abangku tersayang, nggak gitu-gitu juga kalik..” Cahya merengut mendengar ucapan kakaknya.
“Masa sih nggak ada sama sekali??” tanya Andre lagi.
“Gimana ya bang.. akhir-akhir ini tuh aku sering dengerin adzan yang dikumandangin seseorang.. feeling aku sih yang ngumandangin adzan itu orangnya sama, soalnya tuh cengkoknya bagus banget plus unik banget.. bikin nggak bisa lupa buat siapa aja yang dengerinnya tau nggak sih.. dan feeling aku, dia tuh sesekolah sama kita bang..” cerita Cahya panjang lebar.
“Maksud kamu apaan sih dek? Kamu nyritain apa sih dek? Kok aku nggak ngerti ya..” Cahya hanya melongo mendengar pernyataan kakaknya.
“Ya amplop bang, nih mulut ampe berbusa nyritainnya, abang kagak ngarti? Huaaa” kata Cahya sambil menggigit mukenanya.
“Intinya kamu jatuh cinta sama suara adzan?” tanya Andre.
“Tuh tau... hehehe” jawab Cahya sambil cengengesan.
“Ahelah dek.. orangnya aja belum tau..” sahut Andre.
“Kagak ngaruh kali bang..” kata Cahya sambil berlalu meninggalkan Andre yang mematung di tempatnya.
♥♥♥
Setelah libur 3 hari, akhirnya Cahya masuk ke sekolah barunya. Akan tetapi belum mengenakan seragam, karena hari pertama masuk sekolah diisi dengan kegiatan Sajadah Ramadhan.
Seperti kegiatan Sajadah Ramadhan biasanya, hampir sehari penuh sekolah Cahya mengadakan kegiatan keagamaan tersebut. Tapi untuk hari prtama, acara diikuti oleh kelas X, sedangkan kelas XI dan XII pelajaran seperti biasa. Ketika pembagian doorprize hasil menjawab pertanyaan yang  di berikan oleh kakak Mentor, Cahya sempat tertegun karena mendengar sebuah nama yang menurutnya sangat indah.
“Oke, sekarang kita bagikan doorprize untuk yang tadi sudah menjawab, yang saya panggil harap menuju ke depan ya..”
“1. Amelia Siti Hasanah kelas X 1
2. Rendra Ali Firdaus X 1
3. Lintang Cahya Permadany X 2
4. Muhammad Wahyu Yudiatama Al-Farizy X3”
“Ya ampun.. itu nama apa kereta” gumam Cahya sambil berjalan menuju sumber suara.
“Amelia” kata Kakak Mentor setelah mereka berdiri di depan, yang mempunyai nama segera mengangkat tangannya.
Ketika sampai pada anak yang mempunyai nama terpanjang tadi, Cahya segera mengenalnya. Dia adalah anak yang ditabraknya ketika MOS hari kedua.
Dia kan yang waktu itu.. Oh namanya Muhammad Wahyu Yudiatama Al-Farizy.. nama yang keren..’ batin Cahya sambil tersenyum. Dia memang anak yang pandai menghafal nama.
“Yang waktu itu aku tabrak kan?” sapa Cahya yang memang berdiri tepat di samping cowok itu.
“Na’am, antum masih ingat saja..” Cahya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. ‘Untung aku sering belajar bahasa Arab sama bang Andre hehehe’.
“Iya.. waktu itu maaf ya, aku beneran buru-buru. Oh iya, nama sepanjang itu dipanggil siapa?” tanya Cahya sambil berjalan ke tempat duduknya kembali bersamaan dengan cowok itu karena sudah dipersilakan kembali duduk oleh kakak mentor.
“Panggil Wahyu saja...”
“Oh iya, aku Cahya, salam kenal..” Wahyu dan Cahya berpisah karena tempat duduk mereka agak berjauhan.
♥♥♥
Waktu telah menunjukkan pukul 11.30 WIB. Kakak mentor membimbing adik-adiknya menuju masjid untuk persiapan Sholat Dhuhur. Pertama yang disuruh keluar gedung aula adalah siswa putra. Baru diikuti yang putri. Terdengar salah satu kakak mentor yang merupakan ketua dari organisasi Rohis di SMA Cahya tersebut berteriak.
“Yang Ikhwan salah satu adzan ya...” sangat sangat terdengar jelas di telinga Cahya. Senyum Cahya langsung merekah. ‘Saat ini juga aku akan mengetahui siapa pemilik suara yang mengumandangkan adzan dengan merdu kemarin-kemarin..’ batin Cahya, tapi sebentar saja senyumnya memudar. ‘Ya kalau dia yang ngumandangin adzan kalau siswa lain gimana ya..?’ Cahya mulai pesimis. Dia tak mau ambil pusing, langsung berjalan bersama siswi-siswi yang lain.
Cahya melongok ke dalam masjid, tapi ternyata ada ruang tersendiri untuk adzan, Cahya tidak bisa mengetahui siapa yang mengumandangkan adzan. Akan tetapi, adzan itu yang membuat Cahya akhir-akhir ini sering melamun.
“Aduh.. kenapa nggak keliatan sih yang adzan..” gerutu Cahya sambil berjalan untuk mengambil air wudhu.
Setelah berwudhu, Cahya kembali melihat ke dalam masjid karena belum banyak yang masuk ke dalam masjid, ya karena adzan baru saja selesai dikumandangkan. Dilihatnya masih banyak siswa-siswa yang masih bercanda di luar masjid. Ketika melihat ke dalam masjid, hanya ada Wahyu yang tengah mengerjakan Sholat Sunnah.
“Hah? Jadi selama ini Wahyu yang ngumandangin adzan seperti itu.. wow..” gumam Cahya yang langsung beranjak karena melihat tatapan-tatapan tak mengenakkan dari siswi-siswi lain. Bagaimana tidak, Cahya terlihat seperti maling yang sedang mengendap-ngendap.
♫♪♫
“Gimana dek? Udah nemuin sang muadzin tercinta belum? hahaha” goda Andre yang melihat Cahya melamun di balkon kamarnya dengan pintu kamar yang tidak ditutup, jadi dengan seenaknya Andre dapat masuk.
“Apaan sih bang.. udah sih.. tapi nggak nyangka aja..”  Cahya menerawang entah apa yang dipikirkannya.
“Oke sebelum kamu cerita, abang mau cerita.. tadi pas di depan perpus abang kepleset waktu bawa buku-buku banyak banget, trus ditolongin cowok, unyu-unyu deh dek mukanya, kayanya sih dia orang baik..” cerocos Andre yang membuat Cahya melongo.
“Ha? Trus abang naksir sampe bilang unyu-unyu segala..” timpal Cahya yang di sambut senyuman oleh Andre. Cahya begidik ngeri.
“Enggak.. abang Cuma cerita aja hahaha, udah gantian kamu yang cerita.”
“Udah? Gitu doang ceritanya? Ya ampun abang, apa untungnya coba kaya gitu diceritain sama Cahya..” sungut Cahya. Andre memicingkan matanya.
“Ya ampun adek.. kagak khawatir apa abangnya kepleset..” balasnya dengan mata melotot. Cahya sampai ngeri melihatnya.
“Kan udah ditolongin juga.. ngapain mesti khawatir..” jawab Cahya santai sambil terus memandangi sekitar rumah mereka dari balkon kamarnya.
“Iye-iye, aduh susah ya punya adek kagak ada peka-pekanya sama sekali, pantesan jomblo.. Oke adekku tersayang, tadi mau ceritain apa? Abang penasaran, lanjutin deh..” kata Andre sambil duduk di ranjang milik Cahya.
Cahya mendekati kakaknya dan duduk di sofa yang terletak di sebelah ranjang. ‘Sebenernya nih kamar punya siapa sih, kan yang harusnya duduk di ranjang itu kalo di film-film aku, eh ini malah tamunya..’ batin Cahya sambil memutar bola matanya malas.
“Gini bang, tadi aku udah nemuin siapa yang ngumandangin adzan dengan merdu itu.. tau nggak bang, tuh cowok yang aku tabrak, eh nggak deh tepatnya tabrakan sama aku waktu hari kedua MOS di depan gerbang, trus dihukum suruh jalan jongkok bareng aku, dan tadi aku tau namanya bang, sumpah keren banget, namanya tuh ya Muhammad Wahyu Yudiatama Al-Farizy kelas X 3, terus tadi waktu Dhuhur, dia juga yang ngumandangin adzan..” cerocos Cahya, Andre hanya manggut-manggut.
“Dan itu tadi yang nolongin abang waktu kepleset..” sahut Andre yang memang mempunyai kemampuan sama dengan Cahya, menghafal nama orang dengan cepat.
“Wow.. It’s too perfect..” kata Cahya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Idihh bahasa Inggrisnya itu loh.. sok bener aja..” ledek Andre yang memang mengetahui bahwa Cahya tidak terlalu pandai berbahasa Inggris.
“Ihh kagak apa-apalah sekali-sekali salah..” Cahya memanyunkan bibirnya karena kesal diledek Andre.
“Hellooo berkali-kali adek.. hahaha” tambah Andre yang semakin membuat Cahya merengut.
“Trus, intinya kamu suka sama Wahyu?”  tanya Andre yang menatap Cahya yang kini sedang membenahi jilbabnya di kaca riasnya.
“Enggak tau deh bang..” jawab Cahya sekenanya.
“Gimana nggak jadi jomblo menahun coba, kalau ditanya jawabnya selalu tau lah bang, enggak tau deh bang..” celoteh Andre. Cahya melirik kakaknya dengan tajam seperti ingin menguliti kakaknya hidup-hidup.
“Cahya aduin ke Ayah baru tau rasa bang, atas tuduhan bang Andre ngajarin adiknya nggak bener, disuruh pacaran, bang Andre kan tau sendiri aku nggak mau pacaran karena aku ini perempuan. Aku ingin mewujudkan apa yang dicita-citakan oleh Ayah sama Bunda. Lagian apa enaknya pacaran, Ayah sama Bunda kan tidak pernah ngajarin, mereka menyuruh kita untuk menikah langsung, tidak perlu pacaran, ingatkan kata mereka, Indahnya pacaran setelah pernikahan..” sengit Cahya akan tetapi dengan nada lembut yang malah semakin membuat Andre takut dan susah payah menelan ludahnya. Akan tetapi Andre sangat kagum dengan kedewasaan adiknya.
“Iye-iye maap... pinter deh adek abang, jadi kalau udah tau gitu nggak usah macem-macem ya..” kata Andre. ‘Adekku kok galak banget yak.. siapa yang ngajarin..’ batin Andre sambil beranjak dari ranjang adiknya.
“Perasaan abang deh yang ngompor-ngomporin..” Cahya merengut karena Andre malah menanggapinya dengan begitu.
“ Kan bercanda doang.. hehehe, abang Cuma mau ngetes doang kali.. Abang mau nyari makan ke warung pojok di ujung gang sana.. ikut gak?” tanya Andre lagi.
“Ikut... mau beli es buat buka puasa nanti hehehe, males masak..” sahut Cahya sambil menyambar jaketnya di almari gantungnya.  
♪♪♪
“Huih... aromanya menggoda..” celetuk Andre.
“Sabar atu bang, kaya anak baru belajar puasa aja, ahahaha, maghrib sejam lagi.. hahaha” ledek Cahya.
“Aduh.. maaf-maaf” kata Cahya sambil memegangi pantatnya akibat menjadi korban tabrakan dengan seseorang dan mendarat mulus di trotoar.
“Maaf-maaf, aku yang salah, kurang hati-hati, sakit ya?” tanya seorang cowok yang menabrak Cahya tadi dengan berjongkok di depan Cahya tanpa memegang Cahya karena nampaknya dia tahu betul etika memperlakukan gadis muslimah.
“Hem, nggak papa kok..” sahut Cahya yang mencoba berdiri dengan dibantu Andre.
“Hahaha makanya dek.. jangan ledekin abang terus, meleng kan jadinya, nabrak orang deh.. hahaha, maafin adekku ya, dia mah gitu orangnya.. hahaha” celoteh Andre yang dibalas senyuman ringan oleh cowok tadi.
“Apaan sih abang..” sungut Cahya.
“Hem.. iya nggak apa-apa, oh ya, kamu Lintang Cahya Permadany kelas X 2 kan??” tanya cowok tadi. Andre heran karena begitu terkenalnya adiknya itu, seolah mengetahui isi pikiran kakaknya, Cahya segera bernarsis ria.
“Segitu terkenalnya ya aku? Hahaha” kata Cahya yang dihadiahi jitakan dari Andre.
“Gimana kagak terkenal, kamu MOS tiap hari dihukum kali dek..” kata Andre. Cahya meringis kesakitan sambil tersenyum mengingat apa yang dikatakan Andre itu benar adanya.
“Aku taunya tadi waktu pembagian doorprize dari kakak mentor itu kok.. hehehe” kata cowok tadi menetralkan keadaan.
“Tuh kan bang.. abang suudzon mulu sih.. oh ya, kamu siapa? Dari kelas apa?” tanya Cahya yang kini mereka sudah duduk di salah satu bangku yang tersedia di warung pojok tersebut. Cowok tadi ikutan duduk karena dia juga membeli sesuatu dan keadaan warung masih antri panjang banget.
“Aku Andrian Khoirul Saputro, dari kelas X 1, panggil aja Andri..” kata Andri sambil tersenyum. Andre menjabat tangan Andri sambil mengenalkan dirinya.
“Aku Ahmad Andrean Saputro, kakaknya Cahya, kelas XII IPA 1, beda tipis ya nama kita.. hahaha” kata Andre sambil tertawa renyah.
“Iya, salam kenal kak Andre, dan ...”
“Panggil Cahya aja..” potong Cahya seolah mengetahui yang dipikirkan Andri.
“Oh iya, salam kenal Cahya dan kak Andre..” kata Andri sambil tak henti-hentinya tersenyum.
“Iya..”  jawab Andre dan Cahya bersamaan.
Mereka melanjutkan obrolan mereka sampai pesanan mereka akhirnya telah di bungkus dan akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
♥Di rumah Cahya & Andre♥
“Bang, ayah sama bunda pulangnya lebaran nanti?” tanya Cahya ketika selesai berbuka puasa.
“Katanya sih dua hari sebelum lebaran..” jawab Andre sambil membereskan meja makan dan mengangkut piring-piring kotor untuk diletakkan di tempat cuci piring.
“Mau dicuci sekarang bang piringnya?” tanya Cahya lagi.
“Enggak, besok aja, waktu kamu masak buat makan sahur, abang yang cuci piring.” Jawab Andre. Ya mereka berdua memang sudah terlatih hidup mandiri.
“Oke-oke, kan bang Andre bakat  banget kan ya kalau disuruh cuci piring.. hahahaha” ledek Cahya sambil memeletkan lidahnya. Andre geram mendengarnya, setelah meletakkan piring-piring kotor di tempat cucian piring, dia langsung bermain kejar-kejaran dengan adik tersayangnya itu.
            Hoosshh hoshhh
            “Udah ah bang.. keringetan lagi kan.. masa harus mandi lagi, bentar lagi adzan Isya woyy..” ucap Cahya sambil memegangi dadanya yang terasa sesak dan mengatur nafasnya.
“Yaiyalah mandi dulu, liat noh keringet kamu, iewh.. pasti bau banget.” Sahut Andre dengan tatapan jijik. Sebuah ide segar mengalir di pikiran Cahya.
“Ah abang, masa sih?” Cahya mendekati Andre yang mulai menghindar.
“Ih.. apaan sih kamu dek.. bahasanya alay gitu kaya banci kaleng..  nggak usah deket-deket..” Andre menutup hidungnya, Cahya semakin gencar mendekatinya.
“Ih.. siapa juga yang mau deketin abang GR banget, orang Cahya mau ngambil handuk juga.. wlee” Cahya memeletkan lidahnya. Sebenarnya Andre pun sadar, keadaan bagaimanapun Cahya tetap wangi. Disela-sela melamun, ternyata Cahya sudah berada di sampingnya.
“Makasih bang.. hahaha” kata Cahya sambil mengelap keringatnya menggunakan baju Andre.
“Cahyaaaaaaaaaaaaaaaaa” yang merasa mempunyai nama tersebut lantas lari sambil cekikikan menuju kamar untuk mandi dan bersiap sholat Tarawih.
♫♫♫
Sepulang sholat Tarawih, Cahya langsung pulang, sedangkan Andre bersama teman-temannya masih meneruskan untuk tadarus Al-Qur’an. Dalam perjalanan, Cahya merasa ada yang memperhatikan, karena kebetulan tadi ketika tetangga-tetangganya pulang, Cahya ngacir dulu ke toilet masjid, dan sekarang dia sendiri. Di jalan sepi, ya, benar-benar sendiri.
“Kok aku merinding gini ya.. bang Andre help me..” desisnya disela-sela ketakutannya.
“Hai cantik.. wuih.. bener-bener cantik bos, kaya bidadari, tubuhnya oke banget..” seru seorang pria yang bersama dengan tiga pria lainnya yang kini berada di belakang dan di samping Cahya. Kini Cahya terkepung.
“Wow.. kok sendirian neng? Mau abang temenin?” tanya seorang lagi sambil mencolek pinggang Cahya, daerah tubuh Cahya yang paling sensitif.
“Maaf, kita bukan mahram, jadi jangan sentuh saya..” kata Cahya sambil berusaha menepis tangan preman tersebut dengan kasar.
“Galak amat neng... nanti cantiknya ilang lo..” kata bos preman tersebut. ‘Bodo amat’ batin Cahya.
“Ayo neng..” sahut bos preman itu lagi sambil berniat melingkarkan tangannya ke pinggang Cahya, akan tetapi di tepis secara kasar oleh Cahya.
“Jangan harap! Ini bulan Ramadhan bang, lebih baik abang-abang ini tobat deh, trus otaknya di reparasi, bulan Ramadhan itu bulan yang penuh berkah bang, jangan dinodai dengan hal-hal seperti ini!!” bentak Cahya walaupun di dalam hatinya menyimpan banyak ketakutan.
“Wow.. ceramah dia, banyak omong loe..” kata bos preman sambil memukul tengkuk Cahya hingga..
“Bang Andre...” kata Cahya hingga akhirnya pingsan di gendongan salah satu preman.
“Berhenti!!!” kata seorang cowok di belakang preman-preman itu. Seketika preman-preman tersebut membalikkan badannya.
“Ada anak bawang disini mau jadi pahlawan, jangan buang-buang tenaga nak, simpan saja nyawamu..” kata bos preman sambil memandang sinis cowok di depannya yang ternyata adalah Andri.
“Jangan sentuh dia!” bentak Andri.
“Hah? Ngomong apa kamu? Dia siapa? Pacar kamu?” ejek bos preman.
“Dia gadis baik-baik bang, tidak pantas kalian perlakukan seperti itu, kalian tidak tahu caranya memperlakukan wanita dengan sopan? Jangan sampai tubuh najis kalian menyentuh gadis itu!” tanpa gencar Andri terus menghujat preman-preman itu.
“Sialan.. kamu benar-benar nantang hah?” kata salah satu preman sambil melayangkan kepalan tangannya kearah Andri, tapi naas, Andri lebih pandai daripadanya.
Satu per satu preman-preman tersebut ambruk tak berdaya, kini tinggal bos preman yang menggendong Cahya karena anak buahnya disuruhnya untuk menghadapi Andri yang memang harus ia akui bahwa anak itu jago bela diri.
“Cepat segera tinggalkan gadis itu disini, atau tinggal nyawa anda yang tersisa disini akan melayang sekarang juga!” ancam Andri. Tanpa rasa takut bos preman tersebut menidurkan Cahya di rumput-rumput pinggir jalan dan mendekati Andri yang sudah bersiap dengan kuda-kudanya.
“ Heh.. justru gue merasa tertantang atas keberanian loe anak muda..” kata bos preman tersebut sambil melayangkan tendangannya ke dada Andri. Akan tetapi Andri malah menangkap kakinya.
“Ingat umur bang..” kata Andri sambil menarik ulur kaki bos preman tersebut.
Setelah mendapatkan beberapa tendangan serta tonjokan dari Andri, bos preman tersebut ambruk tak berdaya.
“Gimana bang? Masih mau jadi preman lagi?” tanya Andri sambil menginjak dada bos preman.
“Ampun dek.. bebaskan abang..” mohon si bos preman. Andri membebaskannya lalu bos preman tersebut lari terbirit-birit.
“Ya ampun, Cahya.. bangun Ya..” kata Andri di dekat Cahya.
“Aduh gimana nih.. masa iya aku pegang..”
“Aduh please Ya.. bangun Ya..”
Merasa tak ada respon, Andri dengan hati-hati menggoyangkan tubuh Cahya.
“Aduh.. rumahnya Cahya mana lagi.. huaaa bingung..” desis Andri frustasi.
“Kak Andre.. Cahya kak..” teriak Andri ketika dia melihat Andre tengah berjalan dengan teman-temannya.
“Hah? Dia kenapa?” tanya Andre segera membangunkan Cahya, tapi nihil, Cahya tak merespon sedikitpun.
“Ceritanya panjang kak.. kita bawa pulang dulu saja biar dia bisa istirahat.” Kata Andri yang disetujui anggukan oleh Andre. Andre segera menggendong adiknya, sedangkan Andri membawakan mukena Cahya.
♥♥♥
Sesampai di rumah, Cahya segera ditidurkan di kamarnya. Andri hanya menunggu di ruang tamu karena tak enak kalau mengikuti mereka masuk ke kamar Cahya, lagian Andri tak pernah sekalipun masuk ke kamar cewek.
“Besar juga rumahnya Cahya, anaknya orang kaya, tapi Cahya dan kak Andre selalu bersikap sederhana, jadi salut deh..” gumam Andri.
“Woy.. Nih minum..” kata Andre sambil mengulurkan minuman kaleng.
“Makasih kak, oh ya, menurut kakak, mungkin nggak kalau Cahya bakalan trauma?” tanya Andri dengan hati-hati.
“Hah? Emangnya kejadiannya gimana sih? Sampe harus trauma..” sahut Andre dengan tampang Syok ketika mendengar kata Trauma.
“Jadi begini ceritanya, tadi aku waktu dari warung pojok trus ke rumah tante dan ikut nganterin Mama ke bandara yang berangkat dari rumah tante, trus waktu pulang, aku pulangnya ke rumah tante lagi, aku sholat Isya’ di rumah karena di masjid udah selesai sholat Tarawihnya, kebetulan di rumah tanteku Cuma ada pembantunya, cewek lagi, kan nggak enak kalau Cuma berdua di rumah tante, sopir yang tadi nganterin mama sudah pulang, yaudah aku jalan-jalan keluar, trus aku liat banyak preman sedang menggoda seorang gadis dan berujung salah satu preman memukul tengkuk sang gadis hingga pingsan. Kudengar samar-samar gadis itu mengucapkan “Bang Andre..” sebelum pingsan, nah aku teringat Cahya, yaudah aku tolongin deh. Untungnya preman-preman itu nggak bawa benda tajam atau pistol, jadi kami hanya tanding adu jurus doang.. trus aku nggak enak kalau mau gendong Cahya, lagian aku juga belum tahu rumah kalian, untungnya tadi kak Andre muncul.. gitu..” cerita Andri panjang kali lebar kali tinggi. Andre hanya manggut-manggut mendengarnya.
Maafin abang dek.. tidak seharusnya abang membiarkanmu sendiri..’ Andre menyesal karena merasa telah ceroboh menjaga adiknya.
“Semoga aja nggak apa-apa deh.. adikku mah kuat kok orangnya hehehe, oh ya rumah kamu dimana?”  tanya Andre.
“Jauh juga sih kak dari sini, dari sekolah aja perjalanan setengah jam, tapi kalau nanti mungkin aku nginep di rumah tante trus balik besok abis subuh, kebetulan semua peralatan sekolah untuk besok sudah aku siapkan..” jawab Andri.
“Oh.. by the way makasih ya udah nolongin Cahya..” ucap Andre yang dibalas dengan senyuman oleh Andri.
“Ya sudah kak, Andri pulang dulu, nanti dicariin tante, semoga besok Cahya bisa turun sekolah..” pamit Andri sambil menjabat tangan Andre.
“Iya, sekali lagi makasih, hati-hati ya..” sahut Andre sebelum Andri meninggalkan rumahnya.
“Iya kak, salam buat Cahya, Assalamualaikum wr. Wb.” Kata Andri seraya meninggalkan rumah Andre.
“Waalaikumsalam wr.wb.” balas Andre yang lantas menutup pintu dan berjalan menuju kamar adiknya.
Bersambung... *_*