Part 7 (Pengakuan Lagi)
Hari dimana Kania dan Juna harus meninggalkan Indonesia semakin dekat.
Mereka telah mempersiapkan segala keperluan yang akan dibawa ke London. Juna
seperti biasa, selalu mengganggu Kania ketika packing hingga membuat Kania mencak-mencak.
“Hoeeee ahelah, kagak kebayang deh jika kalian nanti kagak ada di rumah,
udah pasti rumah sepi kayak kuburan...” sungut Mela dari depan pintu kamar
Kania.
“Ohhh sini sini sayangku, cintaku, unyu-unyu, biar kakak ganteng gendong
sebelum kakak berangkat..” Juna merentangkan tangannya sambil mendekat ke adik
bungsunya.
“Dihhh, males, Mela tuh udah mau SMP, masa iya masih mau digendong...”
Mela bergeser sebelum kakaknya yang kocak itu berhasil menggapainya.
“Udah tau mau SMP masih aja suka ngrengek” cibir Kania sambil melipat baju-bajunya.
“Disana nanti jangan lupain Mela ya kakak-kakakku, tetep kabarin Mela
disini apapun yang terjadi.” Juna dan Kania sontak menengok ke Mela? Apa yang
terjadi dengan adiknya yang petakilan satu itu?
“Sumpah deh kak, dia Mela kan? Armela Sofia Aryanto? Kok nyeremin gitu
sih cara bicaranya?” Kania terkagum-kagum dengan penuturan adiknya, Juna masih
melongo memperhatikan Mela, dan sudah dipastikan, bibir Mela manyun beberapa
centi karena kelakuan si kembar.
“GUE SERIUS KAK KANIA..” serunya dengan muka garang. Kania dan Juna
mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya.
“Kok loe bisa serius sih Mel?” Mela yang mendengar ucapan tersebut
terlontar dari bibir seksi Juna dengan tampang polosnya pun ingin
mencakar-cakar wajah Juna.
“Kalian berdua memang duo somplak ya... Bodo amat lupain gue, lupain
kalo kalian punya adek yang masih butuh perhatian, lupain dah lupain...” sungut
Mela sambil berjalan keluar kamar Kania.
“Aduduh adek cantik gue ngambek... butuh perhatian nih ceritanya,
sini-sini main sama kakak ganteng.” Kata Juna sambil merangkul pundak Mela dan
mengajak Mela duduk di ranjang Kania. Kania yang mendengar kata-kata Juna hanya
mencibir kenarsisan kembarannya tersebut.
Juna sangat tahu perasaan Mela, karena semenjak ia bergabung dengan
keluarga aslinya, ia begitu dekat dengan kedua adiknya. Tiada hari dilalui Mela
dan Kania tanpa pertengkaran. Pastilah hampa kalau Kania pergi, apalagi dirinya
juga pergi, Mela akan sendirian di rumah. Orang tuanya selalu mengadakan
perjalanan bisnis yang tidak terduga. Kadang jam 2 dini hari, orang tua mereka
berangkat kerja entah kemana. Tapi diantara mereka tidak pernah kekurangan
kasih sayang, bahkan dirinya yang dulu di Surabaya pun selalu diperhatikan oleh
orang tuanya. Hanya saja intensitas pertemuan yang sedikit kurang.
“Eh iya, tadi pagi-pagi buta Kak Arya kesini nyuruh kita ke rumahnya
sebelum kalian berangkat.” Celetuk Mela. Kania yang masih sibuk dengan
baju-bajunya segera menghentikan aktivitasnya dan melotot ke arah Mela.
“Arya??? Kok gak loe suruh masuk sih?” Kania segera menyadari tatapan
menggoda Juna. Ia benar-benar keceplosan.
“Biasa aja kaleee responnya, segitunya sama Arya.” Kata Juna sambil
mengedip-ngedipkan matanya menggoda.
“Iya ih Kak Kania, biasanya kalau Kak Arya kesini juga yang nemuin Mela,
tadi katanya buru-buru, lagian pas Kak Arya kesini, Kak Juna lagi joging dan
Kak Kania lagi mandi, kalau dianya aja udah bilang buru-buru masa iya suruh
nunggu, gimana sih...” cerocos Mela yang langsung ditimpuk sesuatu oleh Kania.
“Apain nih?” tanya Juna sambil berniat mengambil ‘sesuatu’ tersebut yang
ternyata sebuah bra merah darah milik Kania yang naasnya keduluan Mela. Kania
benar-benar tidak tahu apa yang dilemparkannya. Mela menggeleng senewen atas
kelakuan kakak-kakaknya.
“Yaaaa Kak Kania kira-kira dong kalo mau nimpuk, diliat dulu apa yang
loe lempar, kan ada Kak Juna.. gue sebagai anak yang baru lulus SD aja malu..”
semprot Mela sambil berjalan mengembalikan senjata timpuk kakaknya tersebut.
Juna? Jangan ditanya, ia memasang tampang innocent
yang Kania tahu pasti batin kakak kembarnya itu lagi cengar-cengir gak
jelas.
“Eh itu tadi apaan? Bagus banget bentuknya..” Kania dan Mela sontak
melotot mengirimkan sinyal-sinyal mengerikan pada satu-satunya kakak laki-laki
mereka. Juna yang ditatap sedemikian horor segera lari terbirit-birit sambil
ngakak menuju kamarnya.
**
Sore harinya Juna, Kania, dan Mela bersiap memenuhi undangan Arya. Juna
mengenakan celana jeans hitam dan kemeja hitam polos digulung sampai siku.
Kontras dengan kulit putihnya. Karena kata Mela tadi acaranya semi formal,
makan malam bersama sahabat dan keluarga sahabat-sahabatnya. Mama dan Papa
mereka tidak ada dirumah, jadi hanya bertiga. Mela mengenakan gaun floral tanpa
lengan berwarna pink selutut couple dengan milik Kania hanya saja berbeda
ukuran pastinya. Rambutnya dikepang dan dililitkan menyerupai bando. Mela
memang sangat handal menata rambut diumurnya yang masih 12 tahun. Sedangkan
Kania hanya mengeriting gantung rambutnya, terlihat sangat seksi.
Setelah semua siap, mereka berangkat ke rumah Arya menggunakan Avanza
putih milik Kania karena mobil Juna sedang menginap di bengkel.
Setibanya di rumah Arya, baru ada mobil Ferdy. Rumah Arya memang besar,
bergaya ala-ala rumah konglomerat Belanda dengan garasi yang muat sekitar 8
mobil dan bangunan bertingkat 2. Kakek Arya asli Belanda, maka dari itu
bangunan rumah ini ada sentuhan interior Belanda nya. Juna masih memarkirkan
mobilnya serapi mungkin agar yang datang belakangan kebagian tempat. Kania dan
Mela mendahuluinya karena malas menunggu Juna. Setelah memencet bel 2 kali,
keluarlah seorang lelaki tampan mengenakan kemeja biru malam dengan motif
polkadot digulung sampai siku dan bawahan celana jeans hitam. Rambut yang
dipangkas rapi dan dibikin spike. Siapa lagi kalau bukan Arya.
“Eh kalian udah dateng, masuk yuk..” ajak Arya sambil tersenyum kikuk
karena gugup berhadapan dengan Kania yang begitu cantik.
“Lorenza ada kak?” tanya Mela karena merasakan aura disekitarnya begitu
canggung.
“Ada kok diatas, kamu langsung ke kamarnya aja.” Lorenza adalah adik
perempuan Arya dan teman sekelas Mela dari TK.
“Makasih kak, duluan ya..” Mela langsung ngibrit kabur dari situasi yang
sangat-sangat awkward tersebut. Kania masih mematung karena terlalu terpesona
dengan penampilan Arya. Siapa yang tidak menyangka kalau Arya yang biasanya
tampil dengan kaos oblong dan rambut awut-awutan bisa tampil ganteng bin cetar
membahana. Kalau ada acara-acara besar waktu di sekolah, bahkan waktu
perpisahan pun Arya tak memperhatikan penampilannya.
“Ehm kayanya gue dilupain..” sahut Juna yang baru dari garasi. Kania
tersentak dan mencari pengalihan pandangan, sedangkan Arya menggaruk tengkuknya
yang tidak gatal.
“Lama amat parkirnya.” Sungut Kania untuk menutupi kegugupannya. Juna
hanya senyum-senyum melihat ekspresi adiknya dan sahabatnya.
“Udah tau lama nape masih mematung menatap keindahan ciptaan Tuhan
disini? Hahaha whatsup broo, gue haus boleh minta minum kagak hahaha.” Ucap
Juna tanpa tedeng aling-aling. Kania menatap senewen kelakuan kembarannya.
“Sopan santun loe mana sih kak?” sindir Kania, Arya tergelak
mendengarnya.
“Hahaha sorry, ini gue yang kesindir karena nggak membawa kalian masuk
daritadi, ayo masuk..” Arya merangkul pundak Juna sedangkan Kania bersungut-sungut
dibelakangnya sambil menutup pintu rumah Arya. ‘Berasa kaya gue yang punya rumah’ batin Kania sambil mendengus
sebal.
Di ruang keluarga Arya masih sepi, baru Ferdy yang sedang bermain PS
dengan Aldo kakak Zeva, dan Zeva yang asik mengutak-atik hpnya. Sedangkan
keluarga mereka riuh di taman belakang rumah Arya. Selang berapa detik, Mama
Arya keluar dari kamarnya dan langsung tersenyum sumringah menatap Kania.
“Ya ampun Kania.. Tante kangen banget sama kamu, kamu kok jarang banget
main kesini bareng yang lain sih? Juna sama Mela aja sering banget main kesini
kok..” ucap Mama Arya yang langsung memeluk Kania erat seperti baru bertemu
dengan anak kandungnya setelah sekian lama berpisah.
“Hehehe maafin Kania Tan..” kata Kania sambil membalas pelukan Mama
Arya.
“Sibuk sama pacarnya ya..” Mama Arya melepas pelukannya, Kania meringis
mendengar pertanyaan oh bukan, akan tetapi pernyataan Mamanya Arya. Dadanya
nyeri, ia benar-benar menyesal.
“Hehehe itu dulu Tante, Kania udah putus.” Sahutnya dengan muka yang ia
buat sebiasa mungkin.
“Duh Mama, yang kagak ketemu lama sama anak kesayangannya..” sahut Arya
yang baru balik dari dapur bersama Juna untuk mengambil air minum.
“Iya nih Tante, setiap ketemu Juna aja kagak pernah dipeluk begitu..”
tambah Juna sambil berpura-pura ngambek. Semua yang ada di ruang keluarga
tergelak dengan tingkah Juna.
“Aduh sini-sini Juna sayang Tante peluk, gitu aja kok iri sama adeknya
sih..” Mama Arya menghampiri Juna dan memeluk Juna. Juna yang tidak tahu kalau
candaannya direspon sungguhan oleh Mama Arya hanya terkikik geli. Ia lantas
menenggelamkan kepalanya dengan manja di leher Mama Arya. Arya senewen melihat
tingkah konyol sahabatnya itu.
“Heh loe peluk Mama gue lama-lama, gue juga peluk Kania lama-lama nih..”
ancam Arya yang sontak mengalihkan perhatian Ferdy, Aldo, Zeva dari aktivitas
yang dilakukan. Juna malah nyengir seolah memberi kode pada Mama Arya.
“Peluk ajah sanah... Juna sayang Tante.” Kata Juna sambil terus memeluk
Mama Arya. Sedangkan Ferdy, Aldo, dan Zeva sudah tertawa ngakak akibat ulah
Juna yang mirip pecinta tante-tante. Arya berjalan mendekati Kania dan segera
menarik ke pelukannya. Kania tersentak kaget, tetapi hanya bisa mematung.
Sedangkan yang lain senyum-senyum melihat adegan entahlah adegan apa itu. Kalau
mau dibilang romantis, biasa aja, mau dibilang mengharukan, enggak juga, tau
lah. Juna terkikik-kikik sambil mengurai pelukannya bersama Mama Arya. Mama
Arya juga ikut senyum-senyum.
“Ka, gue kangen loe.” Bisik Arya, ia merasakan detak jantungnya dan
jantung Kania saling beradu seolah mencari pemenang dari keduanya.
“Kan baru beberapa hari kita ketemu Ya..” balas Kania di leher Arya.
Kalau biasanya tinggi badan Kania sedada Arya, hari ini seleher karena Kania mengenakan
sepatu hak tinggi.
“Udah lama gak meluk loe kaya gini.” Ucap Arya tanpa basa-basi masih
dengan berbisik. Pipi Kania bersemu merah, ia lalu membalas pelukan Arya dengan
melingkarkan tangannya di pinggang Arya. Juna heboh mengambil hp di saku
celananya untuk memotret momen tersebut dan Mama Arya terkikik melihatnya.
“Maafin gue Ya kalau dulu...” belum selesai Kania mengucapkannya, Arya
telah melepas pelukannya dan menempelkan jari telunjuknya di bibir seksi Kania.
“Yang dulu-dulu biarlah berlalu Ka, sekarang saatnya fokus ke masa
depan, masa depan aku dan kamu.” Kania langsung memeluk Arya lebih erat lagi.
Arya tersenyum lebar karena hatinya begitu bahagia.
“Ehmmmmmmm ada acara apa nih kok adegannya peluk-pelukan???” ucap Renata
yang baru muncul dengan keluarganya dan Anita. Sontak Kania dan Arya melepaskan
pelukan mereka dan tersenyum kikuk.
“Ahelah Renata.. loe ganggu momen-momen bahagia tau gak sihhhh, mentang-mentang
sepupunya Arya langsung masuk rumah Arya seenak jidat, gemes gue ama loe.” Omel
Juna yang membuat semua tertawa dan membuat Kania melotot kepadanya.
“Heh jangan omelin bebeb gue dong..” celetuk Ferdy. Semua yang mendengar
melotot kearah Ferdy yang sekarang salah tingkah. Untungnya keluarga-keluarga
yang mereka bawa telah digiring Mama Arya ke taman belakang.
“Anjirrr loe jadian sama Renata? Kenapa kagak bilang-bilang?? Wahhh PJ
dong..” kalau biasanya ketika Juna heboh begini langsung ditimpuk sama salah
satu dari mereka, ini berbeda, karena mereka semua menyetujui ucapan Juna.
“Hehehe ah napa loe keceplosan segala sih Fer...” kata Renata sambil
cengar-cengir.
“Eitsss loe?? Kan udah diganti say...” belum selesai Ferdy berbicara
sudah disambung Zeva.
“Thonnirojim hahaha.” Juna terpingkal-pingkal sambil nunduk-nunduk di
lantai, karena kalau berdiri sudah dipastikan kakinya tidak kuat menahan berat
badannya akibat ekspresi cengo Ferdy.
“Aduh gilakk itu muka loe bisa dikondisikan gak sih Fer? Gak usah sok
jelek ihh..” kata Juna disela-sela tawanya, tidak menyadari bahwa ada seseorang
tersenyum karena ulahnya itu.
“Ihh kalian mah jahattt.. kembalikan aku pada orang tuakuhh..” Ferdy
dramatis yang langsung ditimpuk bantal sofa oleh Zeva.
“Najis Ren pacar loe.” Ucap Zeva sambil fokus kembali pada hpnya. Mereka
semua pun duduk di sofa ruang keluarga Arya. Juna sedikit melirik-lirik Zeva
yang masih fokus pada hpnya. Bukan Juna melirik Zeva, tapi Juna melirik hp
Zeva, kepo atas apa yang dikerjakan Zeva.
“Loe utang penjelasan loh Ren.” Kania mengucapkannya dengan nada
mengitimidasi.
“Eh kagak kebalik? Harusnya loe yang utang penjelasan, gue baru dateng
udah disambut adegan berpelukan.” Skakmattt. Kania hanya nyengir menanggapinya.
“Juna pliss deh, tingkah loe ada aja daritadi, kasihan tuh yang
merhatiin tingkah abnormal loe sambil senyum-senyum.” Kata Arya to the point. Pasalnya
daritadi ia memperhatikan Anita yang senyum-senyum sambil memandang Juna. Dalam
batinnya pun terkikik karena Anita dari dulu sukanya sama cowok yang abnormal.
Arya, Kania, dan Anita telah berteman sejak kecil, lebih lama diantara yang
lainnya.
“Eh kampret loe ngintipin ya??” Zeva nyolot karena menangkap Juna yang
mengamati hpnya.
“Guys guys Zeva punya pacar anak kuliahan hahahaha anjirr.. disini
tinggal gue sama Anita yang jomblo hahaha, atau Anita udah punya pacar?” tanya
Juna pada Anita yang kini salah tingkah.
“Kakak loe kok kagak ada peka-pekanya sama sekali sih Ka, sama kaya loe,
udah tau Anita suka senyum-senyum kalau liatin dia.” Kania melotot ke Arya yang
membisikkan kata-kata tersebut. Ia tak segan-segan mencubit pinggang Arya
sampai Arya meringis.
“Loe kira kita keluarga yang kagak punya kepekaan gitu..” Arya malah
mencubit hidung Kania dan kabur kesebelah Zeva.
“Etdahhh nasib-nasib.” Gerutu Juna yang melihat kemesraan adiknya dan
sahabatnya.
“Eh iya Anita udah ada pacar belum?” ulang Juna. Semuanya menatap Juna
dengan tatapan –tau-ah-Jun-
“Belum Juna..” jawab Anita dengan gemas, yah sekaligus kode keras.
“Aduh gue jadi deg-deg an, niat hati mau nembak, tapi keinget kalau
besok gue harus hidup di negri orang, masa iya harus ngegantungin anak orang
juga.” Ferdy sudah hampir terjungkal menahan tawanya.
“Kampret bahasa loe Jun hahahahaha.” Akhirnya Ferdy meledakkan tawanya.
Anita hanya tersenyum malu-malu, dalam batinnya berkata, biarpun ia harus
menunggu kepulangan Juna selama bertahun-tahun akan ia lakukan.
“Berisikkkkkkkkkk.” Teriak seseorang dari lantai 2. Ya, itu suara
Lorenza, adik Arya. Mela yang disebelahnya malah terbahak-bahak.
“Loe juga kagak kalah berisik Ezaaa.” Teriak Ferdy tak kalah toanya.
“Aduh kalian kok malah teriak-teriak kaya di hutan sih.. ayo sini makan
dulu.” Kata Mama Arya yang baru muncul dari pintu belakang.
“Ayee makan..” teriak Juna yang langsung ngeloyor menghampiri Mama Arya
dan merangkulnya seperti mamanya sendiri. Yang lain pun mengikuti kepergian Juna
menuju taman belakang rumah.
“Ini siapa sih yang anaknya Mama?” Kania tergelak mendengar ucapan Arya
yang bernada tersiksa.
“Udah anggep aja tukeran.” Kata Kania sambil merangkul pinggang Arya
yang disambut dengan senang hati oleh Arya.
Mereka makan dengan suka cita. Setelah makan, mereka melanjutkan obrolan
kembali di ruang keluarga, tapi tidak dengan Kania dan Arya. Mereka memilih
tetap tinggal di samping kolam renang dengan menenggelamkan kaki mereka.
Menikmati bulan yang bersinar terang tepat diatas kepala mereka.
“Ka?” Kania menoleh menatap Arya yang pandangannya fokus kepada pantulan
sinar bulan di dalam air.
“Ada apa Ya?” tanya Kania lalu tiba-tiba Arya menoleh kearahnya. Kania
takjub, baru kali ini ia memandang Arya dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan
tadi diantara adegan pelukan, ia tak memandang mata Arya. Dan satu fakta telah
diketahuinya. Warna mata Arya. Bukan hitam yang seperti ia kira selama ini,
tapi biru gelap dan itu menambah ketampanannya.
“Kalau gue nembak loe lagi? Loe mau jawab apa?” Kania masih fokus pada
mata Arya yang seolah-olah menghipnotisnya.
“Loe maunya gue jawab apa?” Kania malah balik bertanya dan itu membuat
Arya mengerang frustasi.
“Ka, gue gak mau kalap disini terus ngajakin loe nyebur ke kolam renang
ya.. cukup Yes or No baby..” Kania tersenyum melihat Arya yang seperti tersiksa
dengan pertanyaannya sendiri.
“Arya.. loe tau kan gue sama Kak Juna besok mau berangkat ke London, loe
yakin bisa ngejalanin kalau gue jawab IYA?” Arya tersentak. Apakah Kania ada
rasa atau tidak dengannya.
“Enggak harus dijalanin Ka, kita sama-sama berjuang dulu buat cita-cita
kita, kalau jodoh pasti nanti kita dipertemukan lagi.” Ucap Arya yang membuat Kania
tersenyum.
“Ya, kalau gue boleh jujur, loe mau denger kejujuran gue gak?” Arya
memandang Kania yang kini fokus bermain air dengan tangannya.
“Mau banget Ka.” Kania berhenti sejenak seperti berpikir, lalu menoleh
pada Arya sambil tersenyum.
“Mungkin gue mulai jatuh cinta sama loe Ya..” Arya mengerjap-ngerjapkan
matanya tak percaya, tapi setelah melihat mata coklat cerah milik Kania, ia tak
menemukan kebohongan sama sekali. Ketulusanlah yang ia temukan. Dalam hati ia
bersyukur, usahanya selama ini tidak sia-sia.
“Gue percaya..” kata Arya yang langsung menarik kepala Kania untuk
disandarkan di dada bidangnya. Kania menurut saja, ia menikmati elusan tangan
Arya dikepalanya. Sebenarnya ia tidak ingin mengakhiri momen seperti ini. Ah
andaikan dulu Kania tak menolak Arya, mungkin momen seperti ini sering terjadi.
“Ka, gue boleh minta satu hal gak dari loe?” Kania yang mulai memejamkan
matanya kembali membuka matanya.
“Apapun Ya..” jawab Kania dan kembali memejamkan matanya.
“Loe kalau disana jangan lirik bule ya..” spontan Kania terkikik. Ia
merasakan debaran jantung Arya yang sangat cepat.
“Gue udah ada bule disini Ya, ngapain repot-repot lirik bule yang
disana..” Kania tersenyum yah walaupun ia yakin Arya tak melihatnya.
“Bule disini?” Arya mengerutkan keningnya. Pikirannya terlalu dangkal
untuk memikirkan kode dari Kania.
“Iya..” Arya langsung menjauhkan Kania dari dadanya dan menatap mata
Kania dalam-dalam.
“Siapa?” Tanyanya yang menyiratkan sedikit kecemburuan. Kania menahan
dirinya untuk tidak terpingkal-pingkal.
“Dulu temen gue ada yang bilang, duluuu banget, waktu gue sekolah TK aja
belum, dia bilang kalau pengen banget ketemu bule, terus gue nanya, bule itu
apa? Dianya jawab kalau bule itu bukan orang Indonesia, dan yang punya warna
mata yang berbeda dengan orang Indonesia, dan gue udah nemuinnya disini.” Kania
mengelus pipi Arya sambil tersenyum. “Warna mata loe, bukan warna mata orang
Indonesia.”
Arya tersenyum sambil memegang tangan Kania yang ada di pipinya. Ia tak
mau kalap mencium bibir seksi Kania yang selalu mengucapkan kata-kata manis
hari ini. Ia masih ingin menjadi anak baik kesayangan mamanya, maka dari itu ia
kini hanya terus tersenyum dan memeluk Kania.
“Gue sayang sama loe, jaga diri loe baik-baik disana ya nanti.” Kania
hanya mengangguk dalam pelukan Arya.
“Ka.. loe pernah dicium Edo?” tanya Arya takut-takut kalau menyinggung
Kania. Kania menggeleng dalam pelukannya.
“Setiap Edo mau mencium gue, gue selalu menghindar Ya, karena gue belum
siap dicium oleh siapapun selain keluarga gue.” Ucap Kania yang ternyata kini
mengantuk di pelukan Arya.
“Ehm, kayanya kamu ngantuk deh Ka, masuk yuk..” Arya langsung
menggandeng tangan Kania dan meninggalkan kolam renang.
Di ruang keluarga tinggal orang tua Arya, Lorenza, Zeva dan Aldo. Zeva
dan Aldo berpamitan untuk pulang.
“Loh Tante.. Kak Juna sama Mela mana?” tanya Kania karena ia tak
menemukan adik maupun kakaknya.
“Juna sama Mela baru aja keluar, kamu biar diantar Arya saja, soalnya
Juna sama Mela mau nganterin Anita dulu, tadi orang tua Anita buru-buru ke
bandara, nggak apa-apa kan di antar Arya?” Kania menggeleng.
“Asalkan tidak merepotkan saja Tan.” Mama Arya langsung menghampiri
Kania.
“Oh jelas nggak merepotkan, bahkan dengan senang hati Arya bakal nganterin
kamu, iya kan Ya?” heboh Mama Arya. Papa Arya menggeleng melihat kelakuan
istrinya dalam hal mendekatkan Arya dengan Kania.
“Iya Ka, ayo gue antar.” Kania segera memeluk Mama Arya dan pamit serta
meminta doa restu untuk keberangkatannya besok. Tak lupa juga pada Papanya
Arya. Setelah selesai berpamitan, Kania segera pulang dengan diantar Arya.
Selama perjalanan, Kania tertidur disamping Arya yang mengemudikan
mobilnya. Setelah sampai, Arya tak langsung membangunkan Kania. Ia mematikan
mesin mobilnya dan meletakkan kepalanya di setir mobil sambil mengamati Kania.
“Loe cantik banget Ka, tapi gue paling suka sifat ceria loe yang bisa
membawa energi positif buat orang-orang disekitar loe. Mungkin nanti gue
bakalan kangen sama loe. Jaga kesehatan loe Ka, gue sayang loe.” Ucap Arya pada
Kania yang masih tidur. Kania seperti tak terganggu dengan ucapannya itu.
Tangan Arya bergerak menyusuri wajah Kania, merekam setiap jengkalnya agar
selalu tersimpan di memori hatinya. Menyelipkan rambut yang menutupi wajah
Kania di belakang telinga. Kania menggeliat tak nyaman, Arya tersenyum lalu
sedikit mengguncang bahu Kania.
“Ka, udah sampe rumah loe..” Kania membuka matanya perlahan-lahan,
kelihatan kalau ia benar-benar ngatuk.
“Aduh maaf Ya, gue ketiduran..” kata Kania sambil merapikan rambutnya
dan ingin membuka pintu mobil Arya tapi tangannya dicegah oleh Arya.
“Kumpulin dulu nyawa loe, biar gue bukain pintunya.” Arya langsung turun
dari mobilnya dan berputar untuk membukakan pintu untuk Kania. “Silakan Tuan
Putri..” kata Arya sambil membungkuk ala pengawal istana. Kania tersipu malu
dan ikut membungkuk untuk mengecup pipi Arya sebagai ucapan terimakasih. Arya
membeku, rasanya seperti ada banyak kupu-kupu beterbangan dalam perutnya.
“Terimakasih Arya.” Arya tersenyum menetralisir jantungnya yang sudah
ingin melocat.
“Iya, selamat tidur Tuan Putri..” ucapnya sambil terus tersenyum. Kania
mengangguk dan membalas senyum Arya dengan senyum yang sangat manis meski
matanya terlihat sayu karena mengantuk.
“Iya sama-sama..” Kania sudah akan beranjak masuk pagar rumahnya. Akan
tetapi ucapan Arya menahan langkahnya.
“Ka, besok gue boleh ikut nganterin loe dan Juna ke bandara kan?” Arya
terlihat harap-harap cemas. Kania mengangguk sambil tersenyum.
“Sure Arya.. semua juga pengen
ikut kok.” Arya tersenyum sumringah kembali.
“Yaudah Ka, gue pulang dulu ya, Good
Night Princess.” Arya segera masuk ke mobilnya dan menjalankan mobilnya
untuk pulang. Tapi sebelumnya ia melambaikan tangannya pada Kania. Kania balas
melambaikan tangannya mengiringi kepergian mobil Arya sampai tak terlihat oleh
matanya. Ia segera masuk rumah dan istirahat untuk besok karena mobilnya belum
ada di garasi, dipastikan Juna dan Mela belum pulang dari mengantar Anita.
Acieeeehhh adek apdet lagi :V Tapi sorry ye, abis ini entah kapan apdet lagi, soalnya lagi suibukkkkkkk banget mo nulis :'V sok sibuk gilakkk
Nanti kalau kangen kepoin medsos adek aja B)
Oh ye, palin nih cerita bentar lagi end. yah kalau end rencananya adek mau buat cerita baru yang bergenre romance religi. Curahan hati sih :'V
See ya kapan-kapan lagi :*