MY HOME

MY HOME

Selasa, 28 Februari 2017

Crazy Brother Part 7

Part  7 (Pengakuan Lagi)
Hari dimana Kania dan Juna harus meninggalkan Indonesia semakin dekat. Mereka telah mempersiapkan segala keperluan yang akan dibawa ke London. Juna seperti biasa, selalu mengganggu Kania ketika packing hingga membuat Kania mencak-mencak.
“Hoeeee ahelah, kagak kebayang deh jika kalian nanti kagak ada di rumah, udah pasti rumah sepi kayak kuburan...” sungut Mela dari depan pintu kamar Kania.
“Ohhh sini sini sayangku, cintaku, unyu-unyu, biar kakak ganteng gendong sebelum kakak berangkat..” Juna merentangkan tangannya sambil mendekat ke adik bungsunya.
“Dihhh, males, Mela tuh udah mau SMP, masa iya masih mau digendong...” Mela bergeser sebelum kakaknya yang kocak itu berhasil menggapainya.
“Udah tau mau SMP masih aja suka ngrengek” cibir Kania sambil melipat baju-bajunya.
“Disana nanti jangan lupain Mela ya kakak-kakakku, tetep kabarin Mela disini apapun yang terjadi.” Juna dan Kania sontak menengok ke Mela? Apa yang terjadi dengan adiknya yang petakilan satu itu?
“Sumpah deh kak, dia Mela kan? Armela Sofia Aryanto? Kok nyeremin gitu sih cara bicaranya?” Kania terkagum-kagum dengan penuturan adiknya, Juna masih melongo memperhatikan Mela, dan sudah dipastikan, bibir Mela manyun beberapa centi karena kelakuan si kembar.
“GUE SERIUS KAK KANIA..” serunya dengan muka garang. Kania dan Juna mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya.
“Kok loe bisa serius sih Mel?” Mela yang mendengar ucapan tersebut terlontar dari bibir seksi Juna dengan tampang polosnya pun ingin mencakar-cakar wajah Juna.
“Kalian berdua memang duo somplak ya... Bodo amat lupain gue, lupain kalo kalian punya adek yang masih butuh perhatian, lupain dah lupain...” sungut Mela sambil berjalan keluar kamar Kania.
“Aduduh adek cantik gue ngambek... butuh perhatian nih ceritanya, sini-sini main sama kakak ganteng.” Kata Juna sambil merangkul pundak Mela dan mengajak Mela duduk di ranjang Kania. Kania yang mendengar kata-kata Juna hanya mencibir kenarsisan kembarannya tersebut.
Juna sangat tahu perasaan Mela, karena semenjak ia bergabung dengan keluarga aslinya, ia begitu dekat dengan kedua adiknya. Tiada hari dilalui Mela dan Kania tanpa pertengkaran. Pastilah hampa kalau Kania pergi, apalagi dirinya juga pergi, Mela akan sendirian di rumah. Orang tuanya selalu mengadakan perjalanan bisnis yang tidak terduga. Kadang jam 2 dini hari, orang tua mereka berangkat kerja entah kemana. Tapi diantara mereka tidak pernah kekurangan kasih sayang, bahkan dirinya yang dulu di Surabaya pun selalu diperhatikan oleh orang tuanya. Hanya saja intensitas pertemuan yang sedikit kurang.
“Eh iya, tadi pagi-pagi buta Kak Arya kesini nyuruh kita ke rumahnya sebelum kalian berangkat.” Celetuk Mela. Kania yang masih sibuk dengan baju-bajunya segera menghentikan aktivitasnya dan melotot ke arah Mela.
“Arya??? Kok gak loe suruh masuk sih?” Kania segera menyadari tatapan menggoda Juna. Ia benar-benar keceplosan.
“Biasa aja kaleee responnya, segitunya sama Arya.” Kata Juna sambil mengedip-ngedipkan matanya menggoda.
“Iya ih Kak Kania, biasanya kalau Kak Arya kesini juga yang nemuin Mela, tadi katanya buru-buru, lagian pas Kak Arya kesini, Kak Juna lagi joging dan Kak Kania lagi mandi, kalau dianya aja udah bilang buru-buru masa iya suruh nunggu, gimana sih...” cerocos Mela yang langsung ditimpuk sesuatu oleh Kania.
“Apain nih?” tanya Juna sambil berniat mengambil ‘sesuatu’ tersebut yang ternyata sebuah bra merah darah milik Kania yang naasnya keduluan Mela. Kania benar-benar tidak tahu apa yang dilemparkannya. Mela menggeleng senewen atas kelakuan kakak-kakaknya.
“Yaaaa Kak Kania kira-kira dong kalo mau nimpuk, diliat dulu apa yang loe lempar, kan ada Kak Juna.. gue sebagai anak yang baru lulus SD aja malu..” semprot Mela sambil berjalan mengembalikan senjata timpuk kakaknya tersebut. Juna? Jangan ditanya, ia memasang tampang innocent yang Kania tahu pasti batin kakak kembarnya itu lagi cengar-cengir gak jelas.
“Eh itu tadi apaan? Bagus banget bentuknya..” Kania dan Mela sontak melotot mengirimkan sinyal-sinyal mengerikan pada satu-satunya kakak laki-laki mereka. Juna yang ditatap sedemikian horor segera lari terbirit-birit sambil ngakak menuju kamarnya.
**
Sore harinya Juna, Kania, dan Mela bersiap memenuhi undangan Arya. Juna mengenakan celana jeans hitam dan kemeja hitam polos digulung sampai siku. Kontras dengan kulit putihnya. Karena kata Mela tadi acaranya semi formal, makan malam bersama sahabat dan keluarga sahabat-sahabatnya. Mama dan Papa mereka tidak ada dirumah, jadi hanya bertiga. Mela mengenakan gaun floral tanpa lengan berwarna pink selutut couple dengan milik Kania hanya saja berbeda ukuran pastinya. Rambutnya dikepang dan dililitkan menyerupai bando. Mela memang sangat handal menata rambut diumurnya yang masih 12 tahun. Sedangkan Kania hanya mengeriting gantung rambutnya, terlihat sangat seksi.
Setelah semua siap, mereka berangkat ke rumah Arya menggunakan Avanza putih milik Kania karena mobil Juna sedang menginap di bengkel.
Setibanya di rumah Arya, baru ada mobil Ferdy. Rumah Arya memang besar, bergaya ala-ala rumah konglomerat Belanda dengan garasi yang muat sekitar 8 mobil dan bangunan bertingkat 2. Kakek Arya asli Belanda, maka dari itu bangunan rumah ini ada sentuhan interior Belanda nya. Juna masih memarkirkan mobilnya serapi mungkin agar yang datang belakangan kebagian tempat. Kania dan Mela mendahuluinya karena malas menunggu Juna. Setelah memencet bel 2 kali, keluarlah seorang lelaki tampan mengenakan kemeja biru malam dengan motif polkadot digulung sampai siku dan bawahan celana jeans hitam. Rambut yang dipangkas rapi dan dibikin spike. Siapa lagi kalau bukan Arya.
“Eh kalian udah dateng, masuk yuk..” ajak Arya sambil tersenyum kikuk karena gugup berhadapan dengan Kania yang begitu cantik.
“Lorenza ada kak?” tanya Mela karena merasakan aura disekitarnya begitu canggung.
“Ada kok diatas, kamu langsung ke kamarnya aja.” Lorenza adalah adik perempuan Arya dan teman sekelas Mela dari TK.
“Makasih kak, duluan ya..” Mela langsung ngibrit kabur dari situasi yang sangat-sangat awkward tersebut. Kania masih mematung karena terlalu terpesona dengan penampilan Arya. Siapa yang tidak menyangka kalau Arya yang biasanya tampil dengan kaos oblong dan rambut awut-awutan bisa tampil ganteng bin cetar membahana. Kalau ada acara-acara besar waktu di sekolah, bahkan waktu perpisahan pun Arya tak memperhatikan penampilannya. 
“Ehm kayanya gue dilupain..” sahut Juna yang baru dari garasi. Kania tersentak dan mencari pengalihan pandangan, sedangkan Arya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Lama amat parkirnya.” Sungut Kania untuk menutupi kegugupannya. Juna hanya senyum-senyum melihat ekspresi adiknya dan sahabatnya.
“Udah tau lama nape masih mematung menatap keindahan ciptaan Tuhan disini? Hahaha whatsup broo, gue haus boleh minta minum kagak hahaha.” Ucap Juna tanpa tedeng aling-aling. Kania menatap senewen kelakuan kembarannya.
“Sopan santun loe mana sih kak?” sindir Kania, Arya tergelak mendengarnya.
“Hahaha sorry, ini gue yang kesindir karena nggak membawa kalian masuk daritadi, ayo masuk..” Arya merangkul pundak Juna sedangkan Kania bersungut-sungut dibelakangnya sambil menutup pintu rumah Arya. ‘Berasa kaya gue yang punya rumah’ batin Kania sambil mendengus sebal.
Di ruang keluarga Arya masih sepi, baru Ferdy yang sedang bermain PS dengan Aldo kakak Zeva, dan Zeva yang asik mengutak-atik hpnya. Sedangkan keluarga mereka riuh di taman belakang rumah Arya. Selang berapa detik, Mama Arya keluar dari kamarnya dan langsung tersenyum sumringah menatap Kania.
“Ya ampun Kania.. Tante kangen banget sama kamu, kamu kok jarang banget main kesini bareng yang lain sih? Juna sama Mela aja sering banget main kesini kok..” ucap Mama Arya yang langsung memeluk Kania erat seperti baru bertemu dengan anak kandungnya setelah sekian lama berpisah.
“Hehehe maafin Kania Tan..” kata Kania sambil membalas pelukan Mama Arya.
“Sibuk sama pacarnya ya..” Mama Arya melepas pelukannya, Kania meringis mendengar pertanyaan oh bukan, akan tetapi pernyataan Mamanya Arya. Dadanya nyeri, ia benar-benar menyesal.
“Hehehe itu dulu Tante, Kania udah putus.” Sahutnya dengan muka yang ia buat sebiasa mungkin.
“Duh Mama, yang kagak ketemu lama sama anak kesayangannya..” sahut Arya yang baru balik dari dapur bersama Juna untuk mengambil air minum.
“Iya nih Tante, setiap ketemu Juna aja kagak pernah dipeluk begitu..” tambah Juna sambil berpura-pura ngambek. Semua yang ada di ruang keluarga tergelak dengan tingkah Juna.
“Aduh sini-sini Juna sayang Tante peluk, gitu aja kok iri sama adeknya sih..” Mama Arya menghampiri Juna dan memeluk Juna. Juna yang tidak tahu kalau candaannya direspon sungguhan oleh Mama Arya hanya terkikik geli. Ia lantas menenggelamkan kepalanya dengan manja di leher Mama Arya. Arya senewen melihat tingkah konyol sahabatnya itu.
“Heh loe peluk Mama gue lama-lama, gue juga peluk Kania lama-lama nih..” ancam Arya yang sontak mengalihkan perhatian Ferdy, Aldo, Zeva dari aktivitas yang dilakukan. Juna malah nyengir seolah memberi kode pada Mama Arya.
“Peluk ajah sanah... Juna sayang Tante.” Kata Juna sambil terus memeluk Mama Arya. Sedangkan Ferdy, Aldo, dan Zeva sudah tertawa ngakak akibat ulah Juna yang mirip pecinta tante-tante. Arya berjalan mendekati Kania dan segera menarik ke pelukannya. Kania tersentak kaget, tetapi hanya bisa mematung. Sedangkan yang lain senyum-senyum melihat adegan entahlah adegan apa itu. Kalau mau dibilang romantis, biasa aja, mau dibilang mengharukan, enggak juga, tau lah. Juna terkikik-kikik sambil mengurai pelukannya bersama Mama Arya. Mama Arya juga ikut senyum-senyum.
“Ka, gue kangen loe.” Bisik Arya, ia merasakan detak jantungnya dan jantung Kania saling beradu seolah mencari pemenang dari keduanya.
“Kan baru beberapa hari kita ketemu Ya..” balas Kania di leher Arya. Kalau biasanya tinggi badan Kania sedada Arya, hari ini seleher karena Kania mengenakan sepatu hak tinggi.
“Udah lama gak meluk loe kaya gini.” Ucap Arya tanpa basa-basi masih dengan berbisik. Pipi Kania bersemu merah, ia lalu membalas pelukan Arya dengan melingkarkan tangannya di pinggang Arya. Juna heboh mengambil hp di saku celananya untuk memotret momen tersebut dan Mama Arya terkikik melihatnya.
“Maafin gue Ya kalau dulu...” belum selesai Kania mengucapkannya, Arya telah melepas pelukannya dan menempelkan jari telunjuknya di bibir seksi Kania.
“Yang dulu-dulu biarlah berlalu Ka, sekarang saatnya fokus ke masa depan, masa depan aku dan kamu.” Kania langsung memeluk Arya lebih erat lagi. Arya tersenyum lebar karena hatinya begitu bahagia.
“Ehmmmmmmm ada acara apa nih kok adegannya peluk-pelukan???” ucap Renata yang baru muncul dengan keluarganya dan Anita. Sontak Kania dan Arya melepaskan pelukan mereka dan tersenyum kikuk.
“Ahelah Renata.. loe ganggu momen-momen bahagia tau gak sihhhh, mentang-mentang sepupunya Arya langsung masuk rumah Arya seenak jidat, gemes gue ama loe.” Omel Juna yang membuat semua tertawa dan membuat Kania melotot kepadanya.
“Heh jangan omelin bebeb gue dong..” celetuk Ferdy. Semua yang mendengar melotot kearah Ferdy yang sekarang salah tingkah. Untungnya keluarga-keluarga yang mereka bawa telah digiring Mama Arya ke taman belakang.
“Anjirrr loe jadian sama Renata? Kenapa kagak bilang-bilang?? Wahhh PJ dong..” kalau biasanya ketika Juna heboh begini langsung ditimpuk sama salah satu dari mereka, ini berbeda, karena mereka semua menyetujui ucapan Juna.
“Hehehe ah napa loe keceplosan segala sih Fer...” kata Renata sambil cengar-cengir.
“Eitsss loe?? Kan udah diganti say...” belum selesai Ferdy berbicara sudah disambung Zeva.
“Thonnirojim hahaha.” Juna terpingkal-pingkal sambil nunduk-nunduk di lantai, karena kalau berdiri sudah dipastikan kakinya tidak kuat menahan berat badannya akibat ekspresi cengo Ferdy.
“Aduh gilakk itu muka loe bisa dikondisikan gak sih Fer? Gak usah sok jelek ihh..” kata Juna disela-sela tawanya, tidak menyadari bahwa ada seseorang tersenyum karena ulahnya itu.
“Ihh kalian mah jahattt.. kembalikan aku pada orang tuakuhh..” Ferdy dramatis yang langsung ditimpuk bantal sofa oleh Zeva.
“Najis Ren pacar loe.” Ucap Zeva sambil fokus kembali pada hpnya. Mereka semua pun duduk di sofa ruang keluarga Arya. Juna sedikit melirik-lirik Zeva yang masih fokus pada hpnya. Bukan Juna melirik Zeva, tapi Juna melirik hp Zeva, kepo atas apa yang dikerjakan Zeva.
“Loe utang penjelasan loh Ren.” Kania mengucapkannya dengan nada mengitimidasi.
“Eh kagak kebalik? Harusnya loe yang utang penjelasan, gue baru dateng udah disambut adegan berpelukan.” Skakmattt. Kania hanya nyengir menanggapinya.
“Juna pliss deh, tingkah loe ada aja daritadi, kasihan tuh yang merhatiin tingkah abnormal loe sambil senyum-senyum.” Kata Arya to the point. Pasalnya daritadi ia memperhatikan Anita yang senyum-senyum sambil memandang Juna. Dalam batinnya pun terkikik karena Anita dari dulu sukanya sama cowok yang abnormal. Arya, Kania, dan Anita telah berteman sejak kecil, lebih lama diantara yang lainnya.
“Eh kampret loe ngintipin ya??” Zeva nyolot karena menangkap Juna yang mengamati hpnya.
“Guys guys Zeva punya pacar anak kuliahan hahahaha anjirr.. disini tinggal gue sama Anita yang jomblo hahaha, atau Anita udah punya pacar?” tanya Juna pada Anita yang kini salah tingkah.
“Kakak loe kok kagak ada peka-pekanya sama sekali sih Ka, sama kaya loe, udah tau Anita suka senyum-senyum kalau liatin dia.” Kania melotot ke Arya yang membisikkan kata-kata tersebut. Ia tak segan-segan mencubit pinggang Arya sampai Arya meringis.
“Loe kira kita keluarga yang kagak punya kepekaan gitu..” Arya malah mencubit hidung Kania dan kabur kesebelah Zeva.
“Etdahhh nasib-nasib.” Gerutu Juna yang melihat kemesraan adiknya dan sahabatnya.
“Eh iya Anita udah ada pacar belum?” ulang Juna. Semuanya menatap Juna dengan tatapan –tau-ah-Jun-
“Belum Juna..” jawab Anita dengan gemas, yah sekaligus kode keras.
“Aduh gue jadi deg-deg an, niat hati mau nembak, tapi keinget kalau besok gue harus hidup di negri orang, masa iya harus ngegantungin anak orang juga.” Ferdy sudah hampir terjungkal menahan tawanya.
“Kampret bahasa loe Jun hahahahaha.” Akhirnya Ferdy meledakkan tawanya. Anita hanya tersenyum malu-malu, dalam batinnya berkata, biarpun ia harus menunggu kepulangan Juna selama bertahun-tahun akan ia lakukan.
“Berisikkkkkkkkkk.” Teriak seseorang dari lantai 2. Ya, itu suara Lorenza, adik Arya. Mela yang disebelahnya malah terbahak-bahak.
“Loe juga kagak kalah berisik Ezaaa.” Teriak Ferdy tak kalah toanya.
“Aduh kalian kok malah teriak-teriak kaya di hutan sih.. ayo sini makan dulu.” Kata Mama Arya yang baru muncul dari pintu belakang.
“Ayee makan..” teriak Juna yang langsung ngeloyor menghampiri Mama Arya dan merangkulnya seperti mamanya sendiri. Yang lain pun mengikuti kepergian Juna menuju taman belakang rumah.
“Ini siapa sih yang anaknya Mama?” Kania tergelak mendengar ucapan Arya yang bernada tersiksa.
“Udah anggep aja tukeran.” Kata Kania sambil merangkul pinggang Arya yang disambut dengan senang hati oleh Arya.
Mereka makan dengan suka cita. Setelah makan, mereka melanjutkan obrolan kembali di ruang keluarga, tapi tidak dengan Kania dan Arya. Mereka memilih tetap tinggal di samping kolam renang dengan menenggelamkan kaki mereka. Menikmati bulan yang bersinar terang tepat diatas kepala mereka.
“Ka?” Kania menoleh menatap Arya yang pandangannya fokus kepada pantulan sinar bulan di dalam air.
“Ada apa Ya?” tanya Kania lalu tiba-tiba Arya menoleh kearahnya. Kania takjub, baru kali ini ia memandang Arya dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan tadi diantara adegan pelukan, ia tak memandang mata Arya. Dan satu fakta telah diketahuinya. Warna mata Arya. Bukan hitam yang seperti ia kira selama ini, tapi biru gelap dan itu menambah ketampanannya.
“Kalau gue nembak loe lagi? Loe mau jawab apa?” Kania masih fokus pada mata Arya yang seolah-olah menghipnotisnya.
“Loe maunya gue jawab apa?” Kania malah balik bertanya dan itu membuat Arya mengerang frustasi.
“Ka, gue gak mau kalap disini terus ngajakin loe nyebur ke kolam renang ya.. cukup Yes or No baby..” Kania tersenyum melihat Arya yang seperti tersiksa dengan pertanyaannya sendiri.
“Arya.. loe tau kan gue sama Kak Juna besok mau berangkat ke London, loe yakin bisa ngejalanin kalau gue jawab IYA?” Arya tersentak. Apakah Kania ada rasa atau tidak dengannya.
“Enggak harus dijalanin Ka, kita sama-sama berjuang dulu buat cita-cita kita, kalau jodoh pasti nanti kita dipertemukan lagi.” Ucap Arya yang membuat Kania tersenyum.
“Ya, kalau gue boleh jujur, loe mau denger kejujuran gue gak?” Arya memandang Kania yang kini fokus bermain air dengan tangannya.
“Mau banget Ka.” Kania berhenti sejenak seperti berpikir, lalu menoleh pada Arya sambil tersenyum.
“Mungkin gue mulai jatuh cinta sama loe Ya..” Arya mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya, tapi setelah melihat mata coklat cerah milik Kania, ia tak menemukan kebohongan sama sekali. Ketulusanlah yang ia temukan. Dalam hati ia bersyukur, usahanya selama ini tidak sia-sia.
“Gue percaya..” kata Arya yang langsung menarik kepala Kania untuk disandarkan di dada bidangnya. Kania menurut saja, ia menikmati elusan tangan Arya dikepalanya. Sebenarnya ia tidak ingin mengakhiri momen seperti ini. Ah andaikan dulu Kania tak menolak Arya, mungkin momen seperti ini sering terjadi.
“Ka, gue boleh minta satu hal gak dari loe?” Kania yang mulai memejamkan matanya kembali membuka matanya.
“Apapun Ya..” jawab Kania dan kembali memejamkan matanya.
“Loe kalau disana jangan lirik bule ya..” spontan Kania terkikik. Ia merasakan debaran jantung Arya yang sangat cepat.
“Gue udah ada bule disini Ya, ngapain repot-repot lirik bule yang disana..” Kania tersenyum yah walaupun ia yakin Arya tak melihatnya.
“Bule disini?” Arya mengerutkan keningnya. Pikirannya terlalu dangkal untuk memikirkan kode dari Kania.
“Iya..” Arya langsung menjauhkan Kania dari dadanya dan menatap mata Kania dalam-dalam.
“Siapa?” Tanyanya yang menyiratkan sedikit kecemburuan. Kania menahan dirinya untuk tidak terpingkal-pingkal.
“Dulu temen gue ada yang bilang, duluuu banget, waktu gue sekolah TK aja belum, dia bilang kalau pengen banget ketemu bule, terus gue nanya, bule itu apa? Dianya jawab kalau bule itu bukan orang Indonesia, dan yang punya warna mata yang berbeda dengan orang Indonesia, dan gue udah nemuinnya disini.” Kania mengelus pipi Arya sambil tersenyum. “Warna mata loe, bukan warna mata orang Indonesia.”
Arya tersenyum sambil memegang tangan Kania yang ada di pipinya. Ia tak mau kalap mencium bibir seksi Kania yang selalu mengucapkan kata-kata manis hari ini. Ia masih ingin menjadi anak baik kesayangan mamanya, maka dari itu ia kini hanya terus tersenyum dan memeluk Kania.
“Gue sayang sama loe, jaga diri loe baik-baik disana ya nanti.” Kania hanya mengangguk dalam pelukan Arya.
“Ka.. loe pernah dicium Edo?” tanya Arya takut-takut kalau menyinggung Kania. Kania menggeleng dalam pelukannya.
“Setiap Edo mau mencium gue, gue selalu menghindar Ya, karena gue belum siap dicium oleh siapapun selain keluarga gue.” Ucap Kania yang ternyata kini mengantuk di pelukan Arya.
“Ehm, kayanya kamu ngantuk deh Ka, masuk yuk..” Arya langsung menggandeng tangan Kania dan meninggalkan kolam renang.
Di ruang keluarga tinggal orang tua Arya, Lorenza, Zeva dan Aldo. Zeva dan Aldo berpamitan untuk pulang.
“Loh Tante.. Kak Juna sama Mela mana?” tanya Kania karena ia tak menemukan adik maupun kakaknya.
“Juna sama Mela baru aja keluar, kamu biar diantar Arya saja, soalnya Juna sama Mela mau nganterin Anita dulu, tadi orang tua Anita buru-buru ke bandara, nggak apa-apa kan di antar Arya?” Kania menggeleng.
“Asalkan tidak merepotkan saja Tan.” Mama Arya langsung menghampiri Kania.
“Oh jelas nggak merepotkan, bahkan dengan senang hati Arya bakal nganterin kamu, iya kan Ya?” heboh Mama Arya. Papa Arya menggeleng melihat kelakuan istrinya dalam hal mendekatkan Arya dengan Kania.
“Iya Ka, ayo gue antar.” Kania segera memeluk Mama Arya dan pamit serta meminta doa restu untuk keberangkatannya besok. Tak lupa juga pada Papanya Arya. Setelah selesai berpamitan, Kania segera pulang dengan diantar Arya.
Selama perjalanan, Kania tertidur disamping Arya yang mengemudikan mobilnya. Setelah sampai, Arya tak langsung membangunkan Kania. Ia mematikan mesin mobilnya dan meletakkan kepalanya di setir mobil sambil mengamati Kania.
“Loe cantik banget Ka, tapi gue paling suka sifat ceria loe yang bisa membawa energi positif buat orang-orang disekitar loe. Mungkin nanti gue bakalan kangen sama loe. Jaga kesehatan loe Ka, gue sayang loe.” Ucap Arya pada Kania yang masih tidur. Kania seperti tak terganggu dengan ucapannya itu. Tangan Arya bergerak menyusuri wajah Kania, merekam setiap jengkalnya agar selalu tersimpan di memori hatinya. Menyelipkan rambut yang menutupi wajah Kania di belakang telinga. Kania menggeliat tak nyaman, Arya tersenyum lalu sedikit mengguncang bahu Kania.
“Ka, udah sampe rumah loe..” Kania membuka matanya perlahan-lahan, kelihatan kalau ia benar-benar ngatuk.
“Aduh maaf Ya, gue ketiduran..” kata Kania sambil merapikan rambutnya dan ingin membuka pintu mobil Arya tapi tangannya dicegah oleh Arya.
“Kumpulin dulu nyawa loe, biar gue bukain pintunya.” Arya langsung turun dari mobilnya dan berputar untuk membukakan pintu untuk Kania. “Silakan Tuan Putri..” kata Arya sambil membungkuk ala pengawal istana. Kania tersipu malu dan ikut membungkuk untuk mengecup pipi Arya sebagai ucapan terimakasih. Arya membeku, rasanya seperti ada banyak kupu-kupu beterbangan dalam perutnya.
“Terimakasih Arya.” Arya tersenyum menetralisir jantungnya yang sudah ingin melocat.
“Iya, selamat tidur Tuan Putri..” ucapnya sambil terus tersenyum. Kania mengangguk dan membalas senyum Arya dengan senyum yang sangat manis meski matanya terlihat sayu karena mengantuk.
“Iya sama-sama..” Kania sudah akan beranjak masuk pagar rumahnya. Akan tetapi ucapan Arya menahan langkahnya.
“Ka, besok gue boleh ikut nganterin loe dan Juna ke bandara kan?” Arya terlihat harap-harap cemas. Kania mengangguk sambil tersenyum.
Sure Arya.. semua juga pengen ikut kok.” Arya tersenyum sumringah kembali.

“Yaudah Ka, gue pulang dulu ya, Good Night Princess.” Arya segera masuk ke mobilnya dan menjalankan mobilnya untuk pulang. Tapi sebelumnya ia melambaikan tangannya pada Kania. Kania balas melambaikan tangannya mengiringi kepergian mobil Arya sampai tak terlihat oleh matanya. Ia segera masuk rumah dan istirahat untuk besok karena mobilnya belum ada di garasi, dipastikan Juna dan Mela belum pulang dari mengantar Anita.


Acieeeehhh adek apdet lagi :V Tapi sorry ye, abis ini entah kapan apdet lagi, soalnya lagi suibukkkkkkk banget mo nulis :'V sok sibuk gilakkk
Nanti kalau kangen kepoin medsos adek aja B) 
Oh ye, palin nih cerita bentar lagi end. yah kalau end rencananya adek mau buat cerita baru yang bergenre romance religi. Curahan hati sih :'V 
See ya kapan-kapan lagi :* 

Senin, 27 Februari 2017

Crazy Brother Part 6

Part 6 (Maaf)
Sesampai di rumah, Kania segera memapah Juna ke kamarnya. Sedangkan Arya berpamitan untuk pulang. Orang tua Kania dan Juna sedang ada bisnis di luar kota. Mela ada camping tahunan. Sedangkan Bi Inah sedang pulang kampung.
“Istirahat dulu kak... Gue ambilin makan malam dulu..” kata Kania setelah Juna tertidur di ranjangnya. Juna hanya berdehem, tatapan matanya masih kosong.
“Aisshhh, kagak ada makanan sama sekali? Wah pasti ngiranya hari ini kita makan malam di sekolah, masak deh...” Sesampai di ruang makan, tak ada lauk sedikitpun, hanya ada nasi di magic jar. Kania mendengus kesal, pasalnya ia sangat-sangat kelelahan.
Setelah kurang lebih setengah jam ia berkutat di dapur, jadilah masakan yang pasti enak rasanya. Sop Buntut Sapi. Makanan favorit Kania dan Juna. Kania pun seorang chef rumahan yang kemampuan memasaknya sudah tidak bisa diragukan lagi. Akan tetapi, ia sangat malas mengembangkan bakat memasaknya. Hanya kadang kalau kepepet seperti sekarang.
“Kak, makan dulu gih.. Dari tadi siang belum makan kan? Ayo makan...” Juna segera terbangun dan tertatih menuju ruang makan dengan digandeng Kania. Kania cukup paham dengan keadaan Juna setelah mendengar ceritanya tadi. Ia baru tahu, sekonyol-konyolnya Juna, tak pernah main-main dengan perasaan. Betapa beruntungnya cewek yang disayangi Juna.
“Minggu depan kita berangkat ke London, apa misi loe selanjutnya Ka?”  tanya Juna di sela-sela makannya. Kania segera mendongak menatap Juna.
“Mungkin lupain semua masa lalu gue Kak, loe juga kan...” jawab Kania mantap.
“Iya, gue pengen buka lembaran baru disana, tapi nggak mau sama cewek bule hehehe.” Kata Juna enteng. Kania tersenyum karena Juna sudah bisa tertawa lagi. Ia sangat pandai mengubah emosinya.
“Hahaha yang lokal aja Kak, gak usah aneh-aneh. Loe kagak makan berapa tahun sih? Gitu amat..” sewot Kania karena Juna makan seperti orang kesurupan. Padahal biasanya kalau Kania sedang tidak enak hati, malah tidak makan. Lah Juna? Ia malah bisa makan dengan lahapnya.
“Yaaaa laper kali, kan energi gue udah terkuras waktu nemuin Edo tadi, lari-lari, ditambah lagi gue belum makan sedari siang Kania sayang.. Aisshhh” celoteh Juna. Kania hanya geleng-geleng mendengarnya.
“Dihabisin makannya, trus tidur..” Kata Kania sambil terus melahap makanan di piringnya.
“Ogah ah, ini kan masih jam 10, gimana kalau kita keluar Ka..” celetuk Juna. Kania mendelik mendengarnya.
“Apa loe kata? Masih jam 10? Helllooo Kakak Juna tersayang, jam 10 tuh bagi gue udah malem keless.. lagian keluar kemana coba..” sungut Kania karena waktu tidur malamnya harus terpotong.
“Nanti gue tunjukkin..” balas Juna.
**
Benar saja, Juna mengajak Kania ke sebuah cafe 24 jam yang tak jauh dari kompleks rumah mereka. Juna mengenal sang pemilik cafe karena ia sudah sering berkunjung ke cafe itu.
“Hai mas Rey, kenalin ini Kania kembaran gue..” sapa Juna pada pemilik cafe tersebut.
“Oh hai.. pantesan Juna ganteng banget, kembarannya juga cantik banget ternyata..” sahut Mas Rey sambil mengulurkan tangan.  Kania segera menjabat tangan Mas Rey tersebut.
“Eh Mas, kita boleh nyumbang lagu nggak?” tanya Juna yang langsung disambut antusias oleh Mas Rey.
“Boleh banget, ayo gue anter ke panggung..” Mas Rey berjalan mendekati panggung diikuti Juna dan Kania. Sesampai di panggung, Mas Rey berdiskusi sebentar dengan band nya dan mempersilakan Juna dan Kania memainkan sebuah lagu.
“Lagu apaan Kak?” tanya Kania yang masih belum ngeh dengan tingkah Juna.
The Man Who Can’t Be Moved bisa kan loe?” Juna tahu Kania sering mendengarkan lagu itu di mp3.
“Bisa, oke gue ngikut loe aja alurnya.” Juna langsung memetik gitarnya.
Going back to the corner where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag I'm not gonna move
Got some words on cardboard, got your picture in my hand
Saying, "If you see this girl can you tell her where I am?"

Some try to hand me money, they don't understand
I'm not broke – I'm just a broken-hearted man
I know it makes no sense but what else can I do?
How can I move on when I'm still in love with you?

Cause if one day you wake up and find that you're missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you'll come back here to the place that we'd meet
And you'll see me waiting for you on the corner of the street

So I'm not moving, I'm not moving

Policeman says, "Son, you can't stay here."
I said, "There's someone I'm waiting for if it's a day, a month, a year.
Gotta stand my ground even if it rains or snows.
If she changes her mind this is the first place she will go."

'Cause if one day you wake up and find that you're missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you'll come back here to the place that we'd meet
And you'll see me waiting for you on the corner of the street

So I'm not moving, I'm not moving,
I'm not moving, I'm not moving

People talk about the guy that's waiting on a girl, oh ohh
There are no holes in his shoes but a big hole in his world, hmm

And maybe I'll get famous as the man who can't be moved
Maybe you won't mean to but you'll see me on the news
And you'll come running to the corner
'Cause you'll know it's just for you
I'm the man who can't be moved
I'm the man who can't be moved

'Cause if one day you wake up and find that you're missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you'll come back here to the place that we'd meet
And you'll see me waiting for you on the corner of the street

Going back to the corner where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag, I'm not gonna move

Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan cafe. Mas Rey terkagum-kagum dengan penampilan Juna dan Kania, ia segera menghampiri mereka di panggung.
“Oke guys ini bintang tamu kita malam ini, si kembar Juna dan Kania, gimana penampilannya? Keren kan? Gimana kalau kita suruh nyanyi lagi? Jarang-jarang kan mereka datang kesini?” Kania mendelik atas ucapan Mas Rey. Sementara Juna hanya tersenyum menanggapinya.
“Yah asalkan ada kompensasinya mas hahaha” kelakar Kania hingga seisi cafe ikut tertawa.
“Oke gampang nanti, mau ya nyanyi setidaknya 2 lagu lagi.. hehehe” balas Mas Rey. Semua pengunjung cafe setuju. Juna tersenyum lagi dan mengajak Kania mengambil posisi untuk penampilan selanjutnya. Tanpa Kania sadari, ada Arya disana yang tersenyum kearah Juna, dan Juna membalasnya.
“Oke di lagu kedua ini, saya akan memainkan piano sementara yang nyanyi Kania. Lagu yang mewakili perasaannya atas kesalahan yang tak disadari...” Kania mendelik tak mengerti maksud Juna. Arya semakin serius mendengarnya.
“Kami akan membawakan lagu Back to December..” Kania kaget. Sudah pasti yang dimaksud kesalahan oleh Juna adalah penolakannya pada Arya waktu pesta ulang tahun sekolah malam itu. Kania hanya meneguk ludah dalam-dalam.
“Semangat adek.. ditonton tuh.. hehehe” bisik Juna sambil menunjukkan dagunya kearah Arya yang sedang duduk menikmati caramel machiato nya. Kania melotot, ia hanya bisa mendengus kesal. Sudah dibayangkan apa yang akan dilakukannya pada Juna sepulang dari cafe ini. Juna mulai menekan tuts-tuts piano dengan harmoninya.
I’m so glad you made time to see me
How’s life? Tell me, how’s your family?
I haven’t seen them in a while
You’ve been good busier than ever
We small talk, work and the weather
Your guard is up and I know why

Because the last time you saw me
Is still burned in the back of your mind
You gave me roses, and I left them there to die

So this is me swallowing my pride
Standing in front of you, saying I’m sorry for that night
And I go back to December all the time
Salah satu karyawan yang sudah di setting Juna memberikan mawar kepada Arya untuk diberikan kepada Kania. Arya malu-malu menuju panggung. Kania sebisa mungkin mencoba untuk tetap biasa sambil meneruskan nyanyinya.
It turns out freedom ain’t nothing but missing you
Wishing I’d realized what I had when you were mine
I go back to December, turn around and make it alright
I go back to December all the time
Arya menyerahkan mawar yang dibawanya kepada Kania. Kania menerimanya dengan malu-malu, sementara sudah ada kameramen yang sudah disiapkan Juna yang sudah memotret momen-momen penting tersebut dengan diam-diam.
“Sorry ya Ya untuk yang waktu itu..” bisik Kania. Arya tersenyum mendengarnya.
“Iya nggak apa-apa, dilanjut lagi gih nyanyinya..” balas Arya, sementara Juna mengiringi momen-momen tersebut dengan pianonya sambil cekikikan. Mas Rey menyuruh Arya menemani Kania bernyanyi. Cekikikan Juna semakin tak tertahankan. Kania sangat malu.
These days I haven’t been sleeping
Staying up playing back myself leaving
When your birthday passed and I didn’t call
Then I think about summer, all the beautiful time
I watched you laughing from the passenger side
And realized I love you in the fall

And then the cold came, the dark days
When fear crept into my mind
You gave me all your love, and all I gave you was good bye
Tak terasa, air mata Kania menetes. Arya mengusap air mata tersebut dengan tangannya. Sementara Juna heboh mengode kameramen bayarannya untuk memotret momen tersebut. Untung saja permainan pianonya tidak buyar.
So this is me swallowing my pride
Standing in front of you, saying I’m sorry for that night
And I go back to December all the time

It turns out freedom ain’t nothing but missing you
Wishing I’d realized what I had when you were mine
I go back to December, turn around and make it alright
I go back to December all the time

I miss yor tan skin, your sweet smile
So good to me, so right
And how you held me in your arms that September night
The first time you ever saw me cry

Maybe this is wishful thinking
Probably mindless dreaming
But if we loved again, I swear I'd love you right

I'd go back in time and change it, but I can't
So if the chain is on your door, I understand

So this is me swallowing my pride
Standing in front of you, saying I’m sorry for that night
And I go back to December all the time

It turns out freedom ain’t nothing but missing you
Wishing I’d realized what I had when you were mine
I go back to December, turn around and make it alright
I go back to December all the time
Tepuk tangan riuh menggema di ruangan cafe. Kania menahan malunya ia pun segera balas dendam kepada Juna, akan tetapi ketika ia hendak berbicara, Juna dengan sengaknya berpamitan dengan alasan ia sudah mengantuk dan tidak diperbolehkan keluar lewat tengah malam oleh orang tuanya. Arya terkikik geli melihat ekspresi Kania.
“Aisshhh...” desis Kania. Ia segera berpamitan pula dengan para pengunjung cafe dan tak lupa pula berpamitan dengan Mas Rey.
“Jiahaha nggak ada kesempatan balas dendam deh..” ejek Juna ketika mereka berjalan menuju parkiran.
“Kayak nggak ada hari lain aja..” sewot Kania sambil berlalu masuk ke mobil. Juna dan Arya terkikik.
“Minggu depan kita berangkat ke London, loe nggak ada niat buat ngulangin pernyataan loe ke Kania?” tanya Juna pada Arya. Arya menghentikan langkahnya. Tampak raut wajah berpikir pada wajah tampannya.
“Gue belum tau Jun.. Nanti gue pikirin dulu.. gue balik ya..” sahut Arya dan masuk ke mobilnya. Juna memandang kepergian Arya dengan tatapan entahlah.
“Hoeee kak Juna.. tadi loe bilang loe ngantuk? Kok malah bengong disitu?” teriak Kania dari dalam mobil. Juna tergeragap dan segera menyusul Kania di mobil.
“Loe kira gue sopir? Pindah ke depan Kania..” Juna geregetan karena Kania duduk di belakang.
“Ogah, gue mau tidur.” Jawab Kania singkat.
“Helloo di depan juga bisa tidur kalik... pindah atau gak pulang..” ancam Juna dengan wajah dibuat sangar.
“Terserah loe, gue mau bobok cantik.. wekkk.” Balas Kania sambil melet dan mencari posisi enak untuk tidur.
“Arghhh kampret loe Ka..” pasrah Juna dan segera menyalakan mesin mobilnya dan menuju rumah. Kania terkikik geli melihat tingkah Juna.

**


Haiiiiii... aku post lagi nih.. 
oh iye, sorry ye kalau typo dimana-mana, sorry juga kalau postnya lamaaaaaa. Soalnya yah, selain penulis amatiran, adek kan juga pelajar yang harus belajar juga :'V 
Jangan bosen-bosen deh nungguin nih cerita ;V 
Salam cantik nan unyu dari adek :) {}

Sabtu, 11 Februari 2017

:* :*

Ayeyyyyy udah post yang part 5 ya :V
Padahal tugas magang gue belum kelar "((
Tapi kagak apa-apalah :D
Oh ya, yang mau baca lewat wattpad bisa, tpi belum aku post, mungkin nanti setelah tanggal 20 Februari baru bisa posting di wattpad. Jangan lupa follow akun gue yak, cari aja di kotak pencarian wattpad loe, Rizqi Anjar Setyani. Pasti ketemu deh...
Saran dan masukan sangat dibutuhkan disini :V
Maklum gue kan penulis amatiran...
Tapi ngomog-ngomong ya, inih cerita Crazy Brother tuh asli imajinasi gue yang paling panjang :'V
Biasanya baru 2 lembar nih otak udah mampet :V
Kalau mau tau lebih banyak tentang gue bisa add Facebook gue ya biasa nama gue kaya yang diatas tadi, kalau ig @rizqianjars_29 kalau twiter di @rizqiAS_17
Mungkin gue post lagi kalau punya paketan yak :'V
Mumpung lagi semangat nulis :D
Salam sayang dari Princess :* {{}}

Crazy Brother Part 5

Part 5 (Flashback Masa Lalu Juna)
**Flashback**
Di dekat sebuah danau, ada dua insan sedang melihat angsa. Mereka telah berdiam disitu selama kurang lebih 15 menit tanpa bicara satu katapun. Mereka asyik dengan pikiran masing-masing sambil menerawang kearah sunset.
“Juna..” kata sang cewek memecah keheningan.
“Iya..” jawab yang cowok yang tak lain adalah Juna.
“Aku mau kita putus.” Kata sang cewek.
“Kenapa? Kok mendadak?” tanya Juna dengan ekspresi kaget. Siapa sangka hubungannya yang terjalin dari SMP harus putus disaat mereka baru masuk SMA.
“Aku bosan dengan hubungan ini Jun.. Monoton menurutku, begini-begini terus.” Jawabnya. Cukup tidak masuk akal. Karena pada dasarnya Juna adalah tipe orang yang tidak membosankan.
“Ada cowok lain?” tanya Juna memastikan.
“Ya..” jawab cewek itu dengan tegas. Seperti tidak ada keraguan dalam mengucapkannya. Hancur. Pasti. Itu yang dirasakan Juna.
“Terimakasih untuk selama ini Sa, semoga kamu bahagia dengan cowok itu. Jangan pernah sedih, karena aku tak bisa melihatmu bersedih. Kita tetap jadi sahabat kan?” ucap Juna berusaha tegar dan tak terlihat sama sekali kerapuhan hatinya. Juna adalah tipe orang yang sangat pandai menjaga emosi.
“Pasti Jun..” kata cewek itu sambil menjabat tangan Juna lalu pergi meninggalkan Juna mematung sendiri ditemani senja.
Setelah kepergian cewek tersebut, Juna masih memfokuskan pandangannya kearah dua angsa yang sedang bercinta di tengah danau. Tanpa terasa, air matanya menetes merembas di pipinya. Ia begitu terkhianati.
“Mungkin aku memang bukan untukmu Sa. Tapi hati ini akan susah untuk melupakanmu. Kau adalah cinta pertama yang mampir dihatiku. Aku bersyukur pernah menjadi bagian hidupmu. Semoga kau bahagia selalu Sa.” Kata Juna. Tanpa disadari, cewek tadi mendengar semuanya dari balik pohon dan menangis sesenggukan.
“Bukan maksudku menyakitimu Jun. Tapi aku dipaksa  Edo karena utang ayahku pada ayahnya. Maaf Jun, maaf banget. Kamu orang baik, dan pantas mendapatkan yang terbaik.” Lirih cewek tersebut dan berlari meninggalkan danau sambil air mata terus menetes di pipinya.
Dariku kau terima seluruh cinta seutuhnya
Darinya engkau dapatkan sedikit perhatian
Namun yang kau pilih malah sebaliknya
Dariku kau dapatkan segala kasih dan pengorbanan
Darinya engkau dapatkan cinta sementara
Namun kenyataan kini kau dengannya
Tak perlu kau pulangkan lagi
Semua yang telah aku berikan biarlah menjadi luka
Berharap pun tak kan bisa merubah
Kenyataan kau memilih dia
Dariku kau dapatkan segala kasih dan pengorbanan
Darinya engkau dapatkan cinta sementara
Namun kenyataan kini kau dengannya
Tak perlu kau pulangkan lagi
Semua yang telah aku berikan biarlah menjadi luka
Berharap pun tak kan bisa merubah
Kenyataan kau memilih dia
Tak perlu kau pulangkan lagi
Semua yang telah aku berikan biarlah menjadi luka
Berharap pun tak kan bisa merubah
Kenyataan kau memilih dia
**
Esok paginya, Juna berangkat sekolah dengan tekad bahwa ia harus membuka lembaran baru. Membuat kisah yang baru. Ia berjalan melewati lapangan basket dan melihat Salsa mantan pacarnya sedang bersama Edo. Edo adalah anak orang terkaya di kotanya. Akan tetapi sebenarnya lebih kaya orang tua Juna, hanya saja Juna tak pernah menampakkan kekayaan orang tuanya. Ia kesekolah selalu mengendarai sepedanya, tidak seperti Edo yang menggunakan Honda CRV.
“Wajar saja..” gumam Juna. Ia berjalan terus melewati Edo dan Salsa.
“Sayang.. bukannya orang aneh itu mantan kamu ya??” sindir Edo. Ada sedikit nyeri di hati Salsa. ‘Maafin aku Jun..’ batin Salsa.
“Iya.” Jawab Salsa singkat.
“Hey Juna, loe nggak bisa bahagiain Salsa ya, kok sampai bisa jatuh ke tangan gue? Payah loe..” kata Edo semakin menjadi hingga membuat langkah Juna terhenti. Salsa semakin tak karuan perasaannya. Di satu sisi ia ingin membela Juna, disisi lain ia sangat takut pada Edo.
“Akhirnya loe berhenti juga, jadi kan kita bisa ngobrol-ngobrol bareng, gue sebagai pacarnya Salsa, dan loe mantannya yang tak becus menjaganya.” Emosi Juna sedikit tersulut atas ucapan Edo. Tapi ia tetap mencoba sabar.
 “Maaf, gue sibuk.” Kata Juna hendak meninggalkan mereka.
“Ternyata benar, loe itu pengecut Juna, pengecut tingkat tinggi. Pantas saja loe gak bisa ngejaga pacar loe. Mana ada cewek yang mau sama loe nantinya.” Edo terus mencercanya dengan kata-kata yang Juna pun tak tau arah pembicaraan Edo.
“Mau loe apa sih Do?” tanya Juna akhirnya. Ia begitu panas meskipun wajahnya terlihat tenang.
“Gue mau apa? Oke, karena loe nanya, gue mau loe nanti datang ke tempat latihan taekwondo sepulang sekolah. Kita tanding disana.” Jawab Edo sambil tersenyum penuh kemenangan. Ia sangat yakin bahwa Juna akan menangis ketakutan karena Edo adalah bintang taekwondo di sekolah mereka. Di luar dugaan, Juna tersenyum sinis sesinis-sinisnya yang membuat Edo bingung.
“Loe nantang gue? Udah merasa hebat loe? Kayanya kok yakin banget bakal menang.” Sinis Juna yang membuat Edo emosi.
“Nggak usah sok deh loe.. kalo berani dateng aja, itupun kalau loe berani. Karena pertandingan kita bakalan disaksikan murid satu sekolah.” Kata Edo sambil menarik tangan Salsa dan meninggalkan Juna. Salsa harap-harap cemas dengan semua ini. Walau bagaimanapun, ia lah yang menyebabkan semua ini.
“Yah, loe yang nantang Do, gue bisa apa..” lirih Juna seraya meneruskan perjalanannya menuju kelas.
**
Hari ini sepulang sekolah, tepat latihan taekwondo di SMA Antariksa Surabaya telah dipenuhi oleh murid-murid yang ingin menyaksikan pertandingan antara Edo dan Juna. Yang menurut mereka adalah pertandingan yang sampai kapanpun tidak akan seimbang, karena Edo adalah bintang taekwondo sedangkan Juna adalah bintang akademik. Sangat bertolak belakang.
“Gue takut nanti Juna nggak bisa pulang gara-gara nggak kuat bangun.” Bisik salah satu cowok pada teman sebelahnya.
“Iya, nyali dia gede banget ya sampai berani tanding taekwondo dengan bintang taekwondo sekolah kita. Apa dia udah bosan hidup?” balas temannya.
“Yah kita lihat saja.” Bersamaan dengan itu, lonceng pertandingan telah dibunyikan.
Edo dan Juna telah berdiri berhadap-hadapan. Juna memasang pertahanan karena ia tahu bahwa Edo akan berambisi menghajarnya. Seperti dugaannya, Edo melakukan serangan pada Juna, tapi berkali-kali Juna dapat menghindar. Sampai akhirnya tenaga Edo mulai terkuras. Penonton bersorak sorai mendukung jagoan masing-masing dan mereka sangat kagum dengan Juna karena tak sekalipun pukulan Edo mengenai Juna. Intinya, berarti Juna juga bisa taekwondo.
“Loe udah cape?” tanya Juna yang melihat Edo terengah-engah.
“Sebenarnya loe siapa Jun?” balas Edo dengan tatapan garang. Ia merasa dipermalukan.
“Gue Juna lah.. siapa lagi.” Kata Juna santai. Edo masih berusaha menyerang Juna sampai akhirnya tenaganya sudah mulai habis dan ia sudah mulai lengah. Juna memanfaatkan kelengahan Edo. Dalam satu sentakan, Edo tersungkur ke lantai dengan darah mengucur dari hidungnya karena hidungnya terbentur lantai. Penonton bersorak dengan kagum dengan kemampuan Juna. Tidak ada yang menyangka bahwa Juna sang ahli eksak di SMA Antariksa yang mempunyai kepribadian ceria bahkan gokil, berhasil mengalahkan Edo sang bintang taekwondo.
“Loe bisa berdiri nggak? Kalau nggak kita akhiri saja pertandingan ini. Kasihan nanti badan loe rontok semua.” Kata Juna sambil tertawa renyah.
“Oke, kali ini gue kalah, tapi lain kali, loe gak akan lolos dari gue.” Kata Edo sambil menyeka darah di hidungnya. Dari tatapan matanya tersimpan dendam yang sangat mendalam. Salsa menatapnya dengan kelegaan. ‘Akhirnya kamu nggak kenapa-napa Jun.’ Batinnya.
**
Ketika Juna selesai berganti pakaian, sahabatnya berjalan menyejajarinya.
“Loe siapa sih Jun.. misterius banget hidup loe, gue baru tau loe jago taekwondo sedari SMP kita berteman.” Rajuk sahabatnya. Juna tersenyum, ia memang sangat tertutup dengan sahabat-sahabatnya walaupun ia memiliki pribadi ceria dan hampir semua rahasia sahabat-sahabatnya diceritakan kepadanya.
“Gue Juna kok Ren, yaelah, gue mah nggak jago, Cuma bisa doang..” jawabnya santai.
“Loe belajar dimana?” tanya sahabatnya tersebut yang bernama Rendy.
“Dari gue ngeliat tv hahaha.” Jawab Juna sambil tertawa.
“Seriusan.. tapi sumpah loe tadi keren maksimal..” heboh Rendy. Juna tersenyum. Sekali lagi ia tersenyum, tak menyangka rahasia bermain taekwondonya terbongkar saat ini.  
“Basket yuk.. besok penilaian shooting loh..” ajak Juna yang disambut anggukan oleh Rendy. Mereka lalu melepas seragam atasan hingga tersisa kaos putih yang mereka pakai. Juna yang sudah berada di lapangan basket mendengar teriakan Rendy.
“Jun.. hp loe ada sms..” teriak Rendy sambil mengacung-ngacungkan hp Juna.
“Bawa sini aja Ren..” balas Juna sambil tetap mendribble bolanya. Rendy berlari mendekati Juna dan memberikan hpnya.
-Temui gue besok pukul 23.00 di Hotel Krisan-
Juna mengernyitkan dahi. Ada yang tidak beres. Walaupun tidak tahu nama pengirimnya, sudah pasti itu dari Edo karena Hotel Krisan adalah hotel milik orangtua Edo.
“Kira-kira rencana Edo apa ya?” tanya Juna yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban karena ia tahu Rendy juga tidak tahu.
“Jangan dateng Jun, nanti kalau kamu ditantangin minum minuman keras gimana? Kan itu hotel bintang lima dan langsung ada tempat clubbingnya. Nggak usah dateng deh sebaiknya, lagian itu juga malem banget, gue takut loe kenapa-napa..” kata Rendy dengan wajah khawatir yang sangat kentara.
“Ihh co cweet deh sahabat gue.. jadi gemes.. gue gak bakalan kenapa-napa tenang aja sayang hahaha.” Sahut Juna dengan wajah dibuat seimut mungkin sambil memainkan pipi Rendy ala orang gemes.
“Dih.. gue punya temen gini amat, hiii, yaudah kalau loe nekat buat dateng, gue bakal temenin loe apapun yang terjadi. Nggak boleh protes oke..” kata Rendy sambil menyambar bola yang dipegang Juna dan menembakkannya ke ring.
“Okelah..” pasrah Juna dan mengikuti alur permainan basket Rendy.
**
“Tante, Mama ada nelpon gak hari ini?” tanya Juna selesai mandi dan menemui Tantenya di dapur.
“Nggak ada Jun, tapi tadi ada temen kamu kesini nganterin sesuatu, tante taruh di almari buku-buku kamu.” Jawab Tante Rika. Juna bergegas menuju kamarnya untuk melihat ‘sesuatu’ itu.
Ketika Juna membuka sebuah kotak berwarna biru malam yang berada dalam almari bukunya, ia terperangah. Kotak tersebut berisi barang-barang yang pernah diberikannya kepada Salsa. Ada foto-foto mereka, jaket couple, dan masih banyak lagi.ia juga menemukan secarik kertas dan membacanya.
Dear Juna
Hai Juna, apa kabar? Maaf disaat loe bertengkar dengan Edo, gue gak bisa berbuat apapun. Tapi loe tadi keren banget waktu main taekwondo, gue baru tau loe jago banget. Oh ya mungkin gue nggak tau malu banget karena ngembaliin semua barang-barang yang pernah loe kasih ke gue. Tapi ini semua demi kebaikan orang tua gue. Sebenarnya gue gak pernah dan gak sedikitpun cinta sama Edo. Itu semata-mata karena orang tua gue punya hutang sama orang tuanya Edo. Nggak tau kenapa, Edo maksa gue buat jadi pacarnya. Berulangkali gue menolak, tapi dia mengancam bakalan nyakitin loe. Gue sayang banget sama loe, apalagi sama orang tua gue. Yaudah deh gue relain aja semua perasaan gue hehehe. Gue juga bersyukur Jun, loe pernah jadi bagian hidup gue, dan gue harap loe juga akan bahagia meskipun tidak bersama gue. Loe cowok baik Jun, sangat baik malah.  Loe juga nggak ngebosenin karena gue juga gak akan pernah bosen apabila di dekat loe. Maaf Juna, bukan maksud gue menyakiti loe, tapi ini untuk kebaikan kita.  Jodoh nggak bakalan kemana kok. Satu hal yang perlu loe tahu sebelum terlambat, gue cinta banget sama loe Jun. I love you so much Mr. Junaku J
                                                                             -Salsa-
Juna meremas kertas tersebut, tak terasa matanya basah. Ia menangis, benar-benar menangis. Andaikan ia telah dewasa, pasti ia akan melunasi hutang-hutang orang tua Salsa pada orang tua Edo agar Salsa tak mendapat kenyataan ini.
**
Keesokan harinya, Juna berangkat sekolah dengan pikiran masih kacau. Sampai-sampai Tante Rika khawatir dan mencegahnya untuk berangkat sekolah. Ia tak pernah melihat penampilan Juna yang biasanya rapi, kini jangankan rapi, memakai dasi saja seperti anak TK yang baru belajar simpul-simpul tali. Berantakan sekali.
“Juna kamu kenapa? Kesiangan? Sakit? Kalau sakit nggak usah sekolah..” kata Tante Rika pada Juna yang kini sedang menikmati nasi goreng. Juna mendongak menatap Tante Rika yang telah merawatnya hingga ia berumur 16 tahun seperti sekarang.
“Enggak tante, nanti kalau Juna nggak sekolah malah berabe, hari ini banyakkk banget ulangan, tesnya juga sebentar lagi. Juna nggak apa-apa kok, hanya tadi sedikit kesiangan karena tadi malem ngelembur tugas hehehe.” Alibi Juna. Sebenarnya sedikitpun ia tak menyentuh tugasnya karena pikirannya yang sangat kacau. Bahkan semalam ia sama sekali tidak tidur.
“Nggak biasanya kamu ngelembur tugas nak, biasanya sepulang sekolah langsung kamu kerjain..” ujar Tante Rika masih penasaran. Ia tau betul cara belajar Juna. Maka dari itu, Juna tak pernah terdompleng teman-temannya dari peringkat paling atas.
“Saking banyaknya tante.. trus Juna juga sempet kelupaan tugasnya juga hehehe, yaudah Juna berangkat dulu, nanti kayanya Juna pulang agak telat karena ada bimbingan buat olimpiade Fisika 2 minggu lagi.” Pamit Juna sambil mengecup tangan Tante Rika dan pipi tantenya tersebut.
“Hati-hati..” hanya itu kata yang keluar dari mulut Tante Rika sementara Juna sudah hilang dari pandangan mata. Tante Rika bergegas menuju kamarnya. Ia mengambil hpnya dan menghubungi seseorang.
“Halo.. mbak, kapan kamu ambil Juna?” tanya Tante Rika pada orang diseberang telepon.
“Memangnya kenapa Rik?” tanya balik orang tersebut yang ternyata adalah Mama Juna yang di Jakarta.
“Kondisi disini buruk mbak, ia baru putus dari pacarnya dan aku rasa itu sangat mempengaruhi pikirannya. Padahal sebentar lagi Juna mau ikut Olimpiade Fisika.” Celoteh Tante Rika.
“Aku akan jemput dia waktu kelas 2 Rik, biarkan dia belajar di situasi seperti itu dulu, nanti aku jemput dia setelah ulang tahun Kania dan Juna yang ke 17.” Jelas Mama Juna.
“Iya mbak, semoga Juna bisa bersikap dewasa, ya sudah aku mau berangkat dulu, salam buat Papanya anak-anak.” Ucap Tante Rika sebelum menutup sambungan teleponnya.
“Ya salam juga untuk Bari dan Juna.” Balas Mama Juna. Tante Rika segera menutup sambungan telepon karena waktu telah menunjukkan pukul 7 kurang seperempat dan itu artinya lima belas menit lagi harus sudah sampai kantornya.
**
 Selama dalam perjalanan ke sekolah, Juna menahan rasa sakit kepalanya hingga berulang kali ia hampir menabrak sesuatu. Mungkin efek tidak tidur semalam suntuk. Setibanya di sekolah ia langsung terduduk di parkiran sepeda. Kepalanya terasa berat. Tak berapa lama, Rendy dan Afgan menghampirinya.
“Ya ampun broo.. loe kenapa?” teriak Afgan mendapati Juna yang sudah pucat pasi.
“Pusing banget...” jawab Juna singkat. Terdengar seperti rintihan. Di wajahnya sudah mengalir keringat dingin.
“Loe gila ya?? Kalau sakit kenapa masuk sekolah?” kata Rendy panik. Ia lalu mengambil hpnya dan berniat menghubungi Tante Rika.
“Loe masukin hp loe sekarang juga, gue nggak apa-apa kok, pusing sebentar doang, nanti juga sembuh.” Tegas Juna. Ia sudah begitu hafal gerak-gerik sahabat-sahabatnya.
“Yaudah deh, tapi loe harus mau istirahat di UKS oke..” sahut Rendy segera.
“Ya, nanti gue ikut ulangan dulu.” Kata Juna seraya berjalan meninggalkan sahabat-sahabatnya.
“Dia? Waras kan? Kalau gue mah ogah-ogahan ikut ulangan kalau kepala gue lagi pusing.. kok dia ngotot banget sih?” cerocos Afgan.
“Biarlah..” ujar Rendy sambil mengikuti Juna.
“Yelah..” pasrah Afgan dan mengejar kedua sahabatnya.
**
“Loe belajar sampe gak tidur ya Jun? Kantung mata loe udah mirip kungfu Panda..” celoteh Rendy sambil memapah Juna.
“Gue nggak belajar sama sekali malah..” balas Juna.
“Apa loe kata? Loe nggak belajar sama sekali sementara nilai matematika loe 100? Gilak.. loe manusia bukan sih?” sahut Afgan. Ia memang baru mengenal Juna beberapa minggu yang lalu karena ia pindahan dari Bandung.
“Gue hantu, puas loe...” kata Juna sambil berbaring di ranjang UKS.
“Apa kata loe deh? Tapi loe nggak tidur beneran Jun? Mikirin apaan? SMS Edo yang kemarin?” buru Rendy yang penasaran dengan penampilan Juna sejak pagi tadi.
“Gue semalam nggak bisa tidur aja, udah gue coba tapi tetep nggak bisa. Idih ngapain gue mikirin manusia seperti dia, mending gue mikirin orang ini.. hahaha.” Seru Juna sambil memamerkan foto seseorang di hpnya.
“Ajegileh... baru putus udah dapet yang baru, tapi sumpah sama Salsa cantikan ini.. Kenalin dong..” kata Afgan setelah melihat foto yang disodorkan Juna.
“Siapa nih Jun? Sumpah cantik banget..” tambah Rendy yang juga terkagum-kagum.
“Jaga mata loe.. dosa tauk..” sahut Juna sambil cekikikan melihat tingkah lucu sahabatnya.
“Ye.. mengagumi keindahan ciptaan Tuhan hahaha siapa sih? Pacar loe?” Afgan masih tetap berdecak kagum. Kalaupun gadis di foto tersebut adalah pacar Juna, mungkin ia akan patah hati hebat.
“Kalau nih cewek saudara gue, kalian mau apa? Mau deketin? Deketin aja kalau berani..” kata Juna sambil memasang tampang sangar yang di buat-buat.
“Kagak.. kita mah minder kalau nih cewek saudara loe.. loe yang tampang oon aja hebatnya kagak ketulungan, apalagi tampang nih cewek keliatan banget kalau dia pinter, males gue berurusan ama keluarga loe yang terkenal jenius, sepupu jauh loe aja pemenang olimpiade kimia internasional, sedangkan kita? Kagak berani deh..” cerocos Rendy yang ditambahi anggukan oleh Afgan. Juna terkikik mendengarnya.
“Hahaha bagus deh, dia Kania Andara Aryanto, kembaran gue..” Rendy dan Afgan langsung shock mendengarnya. Mereka lalu mengambil posisi duduk nyempil di ranjang Juna. Siap menginterogasi. Juna meneguk ludahnya dalam-dalam. ‘Bakalan berbusa nih mulut.’ Batin Juna. Rendy langsung menyambar hp Juna. Mengamati foto cewek tersebut lekat-lekat, sesekali memandang Juna diikuti oleh Afgan.
“Ihh beneran mirip banget loh..” celetuk Afgan. Juna tersenyum. Rendy menyikut perut Juna hingga Juna sedikit meringis.
“Rahasia apalagi yang belum loe ceritain pada kita? Ha? Kemarin loe tunjukkin pada satu sekolah kalau loe jago taekwondo, hari ini loe tunjukkin sama kita foto cewek cantik yang katanya kembaran loe, loe mau cerita, atau gue suruh nraktir es krim sampe kita puas? Hayo pilih mana?” ancam Rendy yang bersiap menarik kerah seragam Juna. Juna tertawa dengan tingkah Rendy.
“Gak cocok loe bertingkah sok galak gitu.. hahaha oke oke gue bakalan ceritain semuanya. Gue tuh sebenarnya diadopsi Tante Rika waktu gue dan Kania masih kecil trus dibawa kesini deh, sementara Kania bersama dengan Papa danMama di Jakarta. Setiap dua kali dalam sebulan, Papa sama Mama juga nengokin gue kesini. Katanya gue bakal dipertemukan sama Kania nanti, setelah umur gue dan Kania 17 tahun. Nah soal taekwondo, Papa gue sengaja nyewa guru privat taekwondo buat nglatih gue di rumah, jadi nggak usah kaget kalau gue bisa ngalahin bintang taekwondo SMA Antariksa. Dan asal kalian tau, Kania itu atlet karate juga.. dan kalian harus janji, cukup kalian yang tau soal gue.” cerita Juna. Rendy menganga seolah tak percaya.
“Luar biasa... trus kalau kalian sudah ketemu, mau ngapain?” tanya Afgan.
“Mau peluk cium gitu lah.. sama kembaran sendiri kan..” jawab Juna polos. Afgan mendengus kesal. Tak menyangka sahabatnya yang terkenal pintar ternyata jauh lebih o’on darinya. Rendy juga ikutan gemas dengan tampang Juna.
“Maksud Afgan tuh kehidupan loe yang selanjutnya gitu loe Jun.. ah gak nyangka gue orang macam loe bisa menjadi bintang akademik..” kata Rendy dengan wajah kecewa yang dibuat-buat.
“Hahaha ngomong dong.. mungkin gue bakalan pindah ke Jakarta, ikut keluarga asli gue..” sahut Juna. Afgan terbelalak mendengarnya.
“Lah.. kalau loe pindah, trus gue mau nyontek PR sama siapa? Rendy kan begonya sama kaya gue..” gerutu Afgan yang dihadiahi toyoran oleh Rendy.
“Astagaaaaa kirain kalau gue pindah loe bakalan kesepian atau selalu kangen gitu, gak taunya Cuma mau nyontek PR..” gemas Juna. Rendy tertawa ngakak mendengar jawaban Juna.
“Apaan yang bisa kita kangenin dari loe? Hahaha” Juna bersungut- sungut mendengarnya, baru tahu kalau kedua sahabatnya ini sangat sangat durhaka.
Tinggg
Suara hp Juna mengalihkan fokus mereka. Juna terbelalak melihat nama seseorang yang mengirimi pesan di layar hpnya. Ada apa? Ia terus bertanya-tanya.
-Loe gak lupa janji loe nanti malam kan? Ingat!-
Tanpa sadar, Juna meremas hpnya. Rendy merebut hp Juna dan membacanya. Ia tidak mengerti apa yang tersirat dalam pesan tersebut. Tapi ia memang ingat kalau malam nanti Edo menyuruh Juna ke Hotel Bintang, Hotel orang tua Edo.
“Pokoknya kita harus ikut.” Keukeuh Rendy yang ditambah anggukan oleh Afgan.
“Terlalu bahaya kawan.. biar gue aja yang nyelesein sendiri..” tegas Juna. Ia tak mau melibatkan sahabat-sahabatnya dalam masalah ini.
“Tapi loe masih sakit Jun. Kalau kita bertiga aja bahaya, apalagi kalau loe Cuma sendiri.. Mikirrr..” Afgan tetap ngotot walaupun ia belum terlalu paham akar masalahnya. Yang ia paham adalah sahabatnya dalam bahaya. Rendy menyikut Afgan, memberi kode agar diam.
“Yaudah deh kalau itu mau loe, kita nggak ikut-ikutan. Sebaiknya loe sekarang istirahat. Kita pergi dulu ya..” Afgan melotot mendengarnya. Belum sempat ia protes, Rendy telah menyeretnya keluar dari UKS.
“Kok loe ngomong gitu sih?” tanya Afgan sesampai mereka di luar UKS.
“Kita akan ikuti dia, tanpa sepengetahuan dia. Gue khawatir dia kenapa-napa. Nanti malem loe ke rumah gue jam 8 trus loe bilang sama orang tua loe kalau  loe bakal nginep di rumah gue. Nanti sepulang sekolah, kita nyari nomer telepon polisi terdekat, jadi jika nanti malem terjadi sesuatu di hotel itu, kita udah siapin polisi.” Jawab Rendy sambil berjalan meninggalkan UKS. Afgan mengangguk-angguk.
“Gak nyangka sohib bego gue pinter juga hahaha.” Cerocos Afgan yang langsung dilirik tajam oleh Rendy. Afgan hanya cengengesan.
**
Sepulang sekolah, Afgan dan Rendy menghampiri Juna di ruang UKS dengan membawakan tas Juna.
“Eh Jun, masa hari ini Edo sama Salsa nggak masuk..” kata Afgan membuka pembicaraan.
“Hah? Mungkin pacaran.” Sambut Juna singkat meskipun ia tak mampu menyembunyikan kekagetannya.
“Tapi gaya pacaran mereka terlalu berlebihan nggak sih? Masa iya sampe gak masuk sekolah..” tambah Rendy sambil mengunyah snack yang dibawanya.
“Iya juga sih, emang nggak masuk keterangannya apaan?” tanya Juna akhirnya. Rasa penasarannya mengalahkan rasa gengsinya.
“Alpha..” jawab Rendy singkat.
“Aishh urusan mereka lah, anterin gue pulang dong.. tenang sepeda gue sepeda lipat kok hehehe.” Sahut Juna sambil melirik Rendy yang notabenya membawa mobil.
“Isshh, ye gue anterin.” Afgan cekikikan melihat tingkah sahabat-sahabatnya.
“Asyikkk makasih kakak..” Juna tertawa ngakak melihat ekspresi pengen muntah dari Rendy. Mereka lalu meninggalkan sekolah.
**
-Loe langsung ke kamar 184 saja-
SMS itu membuat Juna tak nyaman. Ada yang tak beres. Mungkin kalau ada Rendy dan Afgan, mereka akan bilang “Jangan-jangan loe mau diperkosa Edo.” Sampai Juna sudah hafal bagaimana reaksi mereka. Akhirnya Juna memilih diam untuk dirinya sendiri.
Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Juna terbangun dan menyambar jaketnya di almari. Ia segera mengendap-endap keluar rumah dan berlari menuju Hotel Bintang.
Hosshh hoshh
Akhirnya Juna sudah sampai di Hotel Bintang. Tanpa menyadari bahwa Rendy dan Afgan sudah mengintai hotel tersebut sejak pukul 9.
“Eh Ren, aneh nggak sih? Masa iya, Edo malah sudah keluar dari hotel sejak sejam yang lalu. Ada sesuatu yang gak beres kayanya. Apa mungkin di kamar hotel tersebut ada segerombolan preman buat ngeroyok Juna ya..” Celetuk Afgan. Rendy langsung mengajak Afgan keluar dari mobil untuk menyusul Juna.
Juna hampir pingsan karena lift hotel ternyata eror dan harus lewat tangga untuk menuju kamar hotel yang letaknya di lantai 11. Dibelakangnya ada Rendy dan Afgan. Juna menoleh dan mendecak kesal.
“Yaaa udah gue bilang kan nggak usah ikut..” sungut Juna.
“Pala loe peyang, hidup loe dipertaruhkan disini. Edo udah keluar dari sejam yang lalu. Kita disini mengintai udah dari jam 9, sekarang kita bareng-bareng buka nih pintu dan lihat serta hadapi apapun yang terjadi bersama-sama.” Cerocos Rendy yang sudah bersiap hendak membuka pintu. Afgan bersiap dengan hpnya untuk menghubungi polisi. Juna memantapkan mentalnya apapun yang terjadi.
“Ayo kita masuk.” Kode Juna. Rendy segera memutar gagang pintu dan masuk ke kamar hotel tersebut. Gelap sekali. Sepi pula. Afgan mencari-cari saklar lampu.
“Gotchaa ini dia sa.. Aaaaaaaa..” teriak Afgan karena didepannya ada mayat perempuan yang sudah bersimbah darah. Juna dan Rendy segera menghampiri Juna dan terbelalak melihat pemandangan di depannya. Afgan yang masih gemetar segera menelepon polisi. Sementara Juna langsung terduduk lemas di depan mayat tersebut yang ternyata Salsa. Darah di tubuh Salsa sudah mengering pertanda kematiannya sudah agak lama dan pastinya nafas dan nadinya sudah tidak ada. Salsa hanya berbalut selimut nampaknya tak mengenakan sehelai pakaian pun.
“Salsa..” hanya itu yang dapat diucapkan Juna. Rendy mencari-cari bukti di sekitarnya dan menemukan secarik kertas.
“Jun, ini kayanya buat loe..” kata Rendy sambil menyerahkan secarik kertas tersebut.
Hai Juna, selamat ya hahaha selamat atas kematian mantan lugu loe, udah gue jelajah tuh hahaha. Oh ya kalau loe nyari gue sekarang dimana, gue udah terbang jauh... Hahaha. Perlu gue giniin juga nggak KEMBARAN loe? Loe pasti bertanya-tanya kok gue bisa kenal sama kembaran loe KANIA ANDARA ARYANTO, karena gue udah nyari tau semua tentang loe sedetail mungkin hahaha. Tapi jangan salah sangka. Loe nikmatin dulu hidup loe di Surabaya, baru setelah loe pindah ke Jakarta, aksi gue akan mulai hahaha. Oh ya, gue udah tau temen loe lapor polisi, tapi nggak akan bawa pengaruh buat gue. Sampai Jumpa lagi kawan hahaha.
-Temen Loe-
“EDOOO MATI LOE..” teriak Juna sambil meremas kertas tersebut. Ia tak berani menyentuh Salsa. Setelah polisi datang, Juna langsung jatuh pingsan.
Kematian Salsa langsung menyebar malam itu juga. Bahkan di media sosial banyak tertulis artikel “Seorang Gadis Dibunuh Setelah Diperkosa”. Sementara itu, Juna dirawat intensif di Rumah Sakit. Keluarganya panik, bahkan Papa dan Mamanya langsung terbang ke Surabaya. Tante Rika bahkan mengaku kalau belum pernah melihat Juna sehancur itu. Juna adalah anak yang sangat ceria.
“Mama...” kata Juna setelah sadar, dan yang ada hanyalah mamanya di ruang rawat.
“Iya sayang.. Kamu nggak apa-apa?” tanya Mama sambil membelai kepala Juna.
“Ma... Peluk aku Ma, Juna nggak kuat..” Juna menangis kembali mengingat kejadian 3 jam lalu, karena ia pingsan selama 3 jam. Mama segera memeluknya, menyalurkan segenap kekuatan untuk anaknya tersebut. Semua yang berada di luar ruang rawat Juna menyaksikan pemandangan mengharukan tersebut. Mereka tak menyangka kalau Juna sampai serapuh ini.
**
Hari ini pemakaman Salsa. Juna bersikeras untuk menghadiri pemakaman tersebut dengan didampingi perawat dan keluarganya. Ia tampak tegar ketika menghadiri pemakaman tersebut. Tak meneteskan air mata sedikitpun. Di tangan kanannya membawa seikat bunga lily putih. Setelah pemakaman selesai, ia meminta keluarga dan perawatnya untuk agak menjauh.
“Harus ya sayang? Biar Mama temenin kamu disini..” seru Mamanya tak tega.
“Harus Ma, ini sedikit privasi hehehe.” Katanya sambil cengengesan seperti biasanya. Semua yang memandang terasa teriris hati mereka. Di saat mungkin hati Juna sudah hancur hingga berkeping-keping, ia sebisa mungkin masih menunjukkan dirinya yang asli. Setelah tinggal dirinya sendiri, Juna berjongkok di samping pusara Salsa.
“Sa... Kenapa loe gak pamit sama gue? Setidaknya ngucapin selamat tinggal kek, jahat amat, hehehe damai ya disana, semoga loe diterima disisi Tuhan, ingat, loe cinta pertama gue, kalau loe gak mau nunggu gue, ya setidaknya loe nyari yang lebih ganteng dan lebih baik dari gue hehehe, nih gue bawain bunga kesukaan loe, oh ya gue masih marah, kok loe ngebalikin semua yang udah gue berikan ke loe sih? Tapi gak apa-apa lah, gue pulang dulu yah, udah ditungguin sama yang lain, selamat tinggal Sa.. I love you so much.” Kata Juna sambil meletakkan bunga lily di atas pusara Salsa. Meskipun ia menceritakan dengan ketawa-ketiwi, tapi air matanya terus mengalir di pipinya. Ia segera menyeka air matanya dan menyusul keluarganya.

**Flashback selesai**