Part
5 (Flashback Masa Lalu Juna)
**Flashback**
Di dekat sebuah danau, ada dua insan sedang melihat angsa. Mereka telah
berdiam disitu selama kurang lebih 15 menit tanpa bicara satu katapun. Mereka
asyik dengan pikiran masing-masing sambil menerawang kearah sunset.
“Juna..” kata sang cewek memecah keheningan.
“Iya..” jawab yang cowok yang tak lain adalah Juna.
“Aku mau kita putus.” Kata sang cewek.
“Kenapa? Kok mendadak?” tanya Juna dengan ekspresi kaget. Siapa sangka
hubungannya yang terjalin dari SMP harus putus disaat mereka baru masuk SMA.
“Aku bosan dengan hubungan ini Jun.. Monoton menurutku, begini-begini
terus.” Jawabnya. Cukup tidak masuk akal. Karena pada dasarnya Juna adalah tipe
orang yang tidak membosankan.
“Ada cowok lain?” tanya Juna memastikan.
“Ya..” jawab cewek itu dengan tegas. Seperti tidak ada keraguan dalam
mengucapkannya. Hancur. Pasti. Itu yang dirasakan Juna.
“Terimakasih untuk selama ini Sa, semoga kamu bahagia dengan cowok itu.
Jangan pernah sedih, karena aku tak bisa melihatmu bersedih. Kita tetap jadi
sahabat kan?” ucap Juna berusaha tegar dan tak terlihat sama sekali kerapuhan
hatinya. Juna adalah tipe orang yang sangat pandai menjaga emosi.
“Pasti Jun..” kata cewek itu sambil menjabat tangan Juna lalu pergi
meninggalkan Juna mematung sendiri ditemani senja.
Setelah kepergian cewek tersebut, Juna masih memfokuskan pandangannya
kearah dua angsa yang sedang bercinta di tengah danau. Tanpa terasa, air
matanya menetes merembas di pipinya. Ia begitu terkhianati.
“Mungkin aku memang bukan untukmu Sa. Tapi hati ini akan susah untuk
melupakanmu. Kau adalah cinta pertama yang mampir dihatiku. Aku bersyukur
pernah menjadi bagian hidupmu. Semoga kau bahagia selalu Sa.” Kata Juna. Tanpa
disadari, cewek tadi mendengar semuanya dari balik pohon dan menangis
sesenggukan.
“Bukan maksudku menyakitimu Jun. Tapi aku dipaksa Edo karena utang ayahku pada ayahnya. Maaf
Jun, maaf banget. Kamu orang baik, dan pantas mendapatkan yang terbaik.” Lirih
cewek tersebut dan berlari meninggalkan danau sambil air mata terus menetes di
pipinya.
Dariku
kau terima seluruh cinta seutuhnya
Darinya
engkau dapatkan sedikit perhatian
Namun
yang kau pilih malah sebaliknya
Dariku
kau dapatkan segala kasih dan pengorbanan
Darinya
engkau dapatkan cinta sementara
Namun
kenyataan kini kau dengannya
Tak
perlu kau pulangkan lagi
Semua
yang telah aku berikan biarlah menjadi luka
Berharap
pun tak kan bisa merubah
Kenyataan
kau memilih dia
Dariku
kau dapatkan segala kasih dan pengorbanan
Darinya
engkau dapatkan cinta sementara
Namun
kenyataan kini kau dengannya
Tak
perlu kau pulangkan lagi
Semua
yang telah aku berikan biarlah menjadi luka
Berharap
pun tak kan bisa merubah
Kenyataan
kau memilih dia
Tak
perlu kau pulangkan lagi
Semua
yang telah aku berikan biarlah menjadi luka
Berharap
pun tak kan bisa merubah
Kenyataan
kau memilih dia
**
Esok paginya, Juna berangkat sekolah dengan tekad bahwa ia harus membuka
lembaran baru. Membuat kisah yang baru. Ia berjalan melewati lapangan basket
dan melihat Salsa mantan pacarnya sedang bersama Edo. Edo adalah anak orang
terkaya di kotanya. Akan tetapi sebenarnya lebih kaya orang tua Juna, hanya
saja Juna tak pernah menampakkan kekayaan orang tuanya. Ia kesekolah selalu
mengendarai sepedanya, tidak seperti Edo yang menggunakan Honda CRV.
“Wajar saja..” gumam Juna. Ia berjalan terus melewati Edo dan Salsa.
“Sayang.. bukannya orang aneh itu mantan kamu ya??” sindir Edo. Ada
sedikit nyeri di hati Salsa. ‘Maafin aku
Jun..’ batin Salsa.
“Iya.” Jawab Salsa singkat.
“Hey Juna, loe nggak bisa bahagiain Salsa ya, kok sampai bisa jatuh ke
tangan gue? Payah loe..” kata Edo semakin menjadi hingga membuat langkah Juna
terhenti. Salsa semakin tak karuan perasaannya. Di satu sisi ia ingin membela
Juna, disisi lain ia sangat takut pada Edo.
“Akhirnya loe berhenti juga, jadi kan kita bisa ngobrol-ngobrol bareng,
gue sebagai pacarnya Salsa, dan loe mantannya yang tak becus menjaganya.” Emosi
Juna sedikit tersulut atas ucapan Edo. Tapi ia tetap mencoba sabar.
“Maaf, gue sibuk.” Kata Juna
hendak meninggalkan mereka.
“Ternyata benar, loe itu pengecut Juna, pengecut tingkat tinggi. Pantas
saja loe gak bisa ngejaga pacar loe. Mana ada cewek yang mau sama loe
nantinya.” Edo terus mencercanya dengan kata-kata yang Juna pun tak tau arah
pembicaraan Edo.
“Mau loe apa sih Do?” tanya Juna akhirnya. Ia begitu panas meskipun
wajahnya terlihat tenang.
“Gue mau apa? Oke, karena loe nanya, gue mau loe nanti datang ke tempat
latihan taekwondo sepulang sekolah. Kita tanding disana.” Jawab Edo sambil
tersenyum penuh kemenangan. Ia sangat yakin bahwa Juna akan menangis ketakutan
karena Edo adalah bintang taekwondo di sekolah mereka. Di luar dugaan, Juna
tersenyum sinis sesinis-sinisnya yang membuat Edo bingung.
“Loe nantang gue? Udah merasa hebat loe? Kayanya kok yakin banget bakal
menang.” Sinis Juna yang membuat Edo emosi.
“Nggak usah sok deh loe.. kalo berani dateng aja, itupun kalau loe
berani. Karena pertandingan kita bakalan disaksikan murid satu sekolah.” Kata
Edo sambil menarik tangan Salsa dan meninggalkan Juna. Salsa harap-harap cemas
dengan semua ini. Walau bagaimanapun, ia lah yang menyebabkan semua ini.
“Yah, loe yang nantang Do, gue bisa apa..” lirih Juna seraya meneruskan
perjalanannya menuju kelas.
**
Hari ini sepulang sekolah, tepat latihan taekwondo di SMA Antariksa
Surabaya telah dipenuhi oleh murid-murid yang ingin menyaksikan pertandingan
antara Edo dan Juna. Yang menurut mereka adalah pertandingan yang sampai
kapanpun tidak akan seimbang, karena Edo adalah bintang taekwondo sedangkan
Juna adalah bintang akademik. Sangat bertolak belakang.
“Gue takut nanti Juna nggak bisa pulang gara-gara nggak kuat bangun.”
Bisik salah satu cowok pada teman sebelahnya.
“Iya, nyali dia gede banget ya sampai berani tanding taekwondo dengan bintang
taekwondo sekolah kita. Apa dia udah bosan hidup?” balas temannya.
“Yah kita lihat saja.” Bersamaan dengan itu, lonceng pertandingan telah
dibunyikan.
Edo dan Juna telah berdiri berhadap-hadapan. Juna memasang pertahanan
karena ia tahu bahwa Edo akan berambisi menghajarnya. Seperti dugaannya, Edo
melakukan serangan pada Juna, tapi berkali-kali Juna dapat menghindar. Sampai
akhirnya tenaga Edo mulai terkuras. Penonton bersorak sorai mendukung jagoan
masing-masing dan mereka sangat kagum dengan Juna karena tak sekalipun pukulan
Edo mengenai Juna. Intinya, berarti Juna juga bisa taekwondo.
“Loe udah cape?” tanya Juna yang melihat Edo terengah-engah.
“Sebenarnya loe siapa Jun?” balas Edo dengan tatapan garang. Ia merasa
dipermalukan.
“Gue Juna lah.. siapa lagi.” Kata Juna santai. Edo masih berusaha
menyerang Juna sampai akhirnya tenaganya sudah mulai habis dan ia sudah mulai
lengah. Juna memanfaatkan kelengahan Edo. Dalam satu sentakan, Edo tersungkur
ke lantai dengan darah mengucur dari hidungnya karena hidungnya terbentur
lantai. Penonton bersorak dengan kagum dengan kemampuan Juna. Tidak ada yang
menyangka bahwa Juna sang ahli eksak di SMA Antariksa yang mempunyai
kepribadian ceria bahkan gokil, berhasil mengalahkan Edo sang bintang
taekwondo.
“Loe bisa berdiri nggak? Kalau nggak kita akhiri saja pertandingan ini.
Kasihan nanti badan loe rontok semua.” Kata Juna sambil tertawa renyah.
“Oke, kali ini gue kalah, tapi lain kali, loe gak akan lolos dari gue.”
Kata Edo sambil menyeka darah di hidungnya. Dari tatapan matanya tersimpan
dendam yang sangat mendalam. Salsa menatapnya dengan kelegaan. ‘Akhirnya kamu nggak kenapa-napa Jun.’
Batinnya.
**
Ketika Juna selesai berganti pakaian, sahabatnya berjalan menyejajarinya.
“Loe siapa sih Jun.. misterius banget hidup loe, gue baru tau loe jago
taekwondo sedari SMP kita berteman.” Rajuk sahabatnya. Juna tersenyum, ia
memang sangat tertutup dengan sahabat-sahabatnya walaupun ia memiliki pribadi
ceria dan hampir semua rahasia sahabat-sahabatnya diceritakan kepadanya.
“Gue Juna kok Ren, yaelah, gue mah nggak jago, Cuma bisa doang..”
jawabnya santai.
“Loe belajar dimana?” tanya sahabatnya tersebut yang bernama Rendy.
“Dari gue ngeliat tv hahaha.” Jawab Juna sambil tertawa.
“Seriusan.. tapi sumpah loe tadi keren maksimal..” heboh Rendy. Juna
tersenyum. Sekali lagi ia tersenyum, tak menyangka rahasia bermain taekwondonya
terbongkar saat ini.
“Basket yuk.. besok penilaian shooting loh..” ajak Juna yang disambut
anggukan oleh Rendy. Mereka lalu melepas seragam atasan hingga tersisa kaos
putih yang mereka pakai. Juna yang sudah berada di lapangan basket mendengar
teriakan Rendy.
“Jun.. hp loe ada sms..” teriak Rendy sambil mengacung-ngacungkan hp
Juna.
“Bawa sini aja Ren..” balas Juna sambil tetap mendribble bolanya. Rendy
berlari mendekati Juna dan memberikan hpnya.
-Temui gue besok pukul 23.00 di Hotel Krisan-
Juna mengernyitkan dahi. Ada yang tidak beres. Walaupun tidak tahu nama
pengirimnya, sudah pasti itu dari Edo karena Hotel Krisan adalah hotel milik
orangtua Edo.
“Kira-kira rencana Edo apa ya?” tanya Juna yang sebenarnya tidak
membutuhkan jawaban karena ia tahu Rendy juga tidak tahu.
“Jangan dateng Jun, nanti kalau kamu ditantangin minum minuman keras
gimana? Kan itu hotel bintang lima dan langsung ada tempat clubbingnya. Nggak
usah dateng deh sebaiknya, lagian itu juga malem banget, gue takut loe
kenapa-napa..” kata Rendy dengan wajah khawatir yang sangat kentara.
“Ihh co cweet deh sahabat gue.. jadi gemes.. gue gak bakalan kenapa-napa
tenang aja sayang hahaha.” Sahut Juna dengan wajah dibuat seimut mungkin sambil
memainkan pipi Rendy ala orang gemes.
“Dih.. gue punya temen gini amat, hiii, yaudah kalau loe nekat buat
dateng, gue bakal temenin loe apapun yang terjadi. Nggak boleh protes oke..”
kata Rendy sambil menyambar bola yang dipegang Juna dan menembakkannya ke ring.
“Okelah..” pasrah Juna dan mengikuti alur permainan basket Rendy.
**
“Tante, Mama ada nelpon gak hari ini?” tanya Juna selesai mandi dan
menemui Tantenya di dapur.
“Nggak ada Jun, tapi tadi ada temen kamu kesini nganterin sesuatu, tante
taruh di almari buku-buku kamu.” Jawab Tante Rika. Juna bergegas menuju
kamarnya untuk melihat ‘sesuatu’ itu.
Ketika Juna membuka sebuah kotak berwarna biru malam yang berada dalam
almari bukunya, ia terperangah. Kotak tersebut berisi barang-barang yang pernah
diberikannya kepada Salsa. Ada foto-foto mereka, jaket couple, dan masih banyak
lagi.ia juga menemukan secarik kertas dan membacanya.
Dear Juna
Hai Juna, apa kabar? Maaf disaat loe
bertengkar dengan Edo, gue gak bisa berbuat apapun. Tapi loe tadi keren banget
waktu main taekwondo, gue baru tau loe jago banget. Oh ya mungkin gue nggak tau
malu banget karena ngembaliin semua barang-barang yang pernah loe kasih ke gue.
Tapi ini semua demi kebaikan orang tua gue. Sebenarnya gue gak pernah dan gak
sedikitpun cinta sama Edo. Itu semata-mata karena orang tua gue punya hutang
sama orang tuanya Edo. Nggak tau kenapa, Edo maksa gue buat jadi pacarnya.
Berulangkali gue menolak, tapi dia mengancam bakalan nyakitin loe. Gue sayang
banget sama loe, apalagi sama orang tua gue. Yaudah deh gue relain aja semua
perasaan gue hehehe. Gue juga bersyukur Jun, loe pernah jadi bagian hidup gue,
dan gue harap loe juga akan bahagia meskipun tidak bersama gue. Loe cowok baik
Jun, sangat baik malah. Loe juga nggak
ngebosenin karena gue juga gak akan pernah bosen apabila di dekat loe. Maaf
Juna, bukan maksud gue menyakiti loe, tapi ini untuk kebaikan kita. Jodoh nggak bakalan kemana kok. Satu hal yang
perlu loe tahu sebelum terlambat, gue cinta banget sama loe Jun. I love you so
much Mr. Junaku J
-Salsa-
Juna meremas kertas tersebut, tak terasa matanya basah. Ia menangis,
benar-benar menangis. Andaikan ia telah dewasa, pasti ia akan melunasi
hutang-hutang orang tua Salsa pada orang tua Edo agar Salsa tak mendapat
kenyataan ini.
**
Keesokan harinya, Juna berangkat sekolah dengan pikiran masih kacau.
Sampai-sampai Tante Rika khawatir dan mencegahnya untuk berangkat sekolah. Ia
tak pernah melihat penampilan Juna yang biasanya rapi, kini jangankan rapi,
memakai dasi saja seperti anak TK yang baru belajar simpul-simpul tali.
Berantakan sekali.
“Juna kamu kenapa? Kesiangan? Sakit? Kalau sakit nggak usah sekolah..”
kata Tante Rika pada Juna yang kini sedang menikmati nasi goreng. Juna
mendongak menatap Tante Rika yang telah merawatnya hingga ia berumur 16 tahun
seperti sekarang.
“Enggak tante, nanti kalau Juna nggak sekolah malah berabe, hari ini
banyakkk banget ulangan, tesnya juga sebentar lagi. Juna nggak apa-apa kok,
hanya tadi sedikit kesiangan karena tadi malem ngelembur tugas hehehe.” Alibi
Juna. Sebenarnya sedikitpun ia tak menyentuh tugasnya karena pikirannya yang
sangat kacau. Bahkan semalam ia sama sekali tidak tidur.
“Nggak biasanya kamu ngelembur tugas nak, biasanya sepulang sekolah
langsung kamu kerjain..” ujar Tante Rika masih penasaran. Ia tau betul cara
belajar Juna. Maka dari itu, Juna tak pernah terdompleng teman-temannya dari
peringkat paling atas.
“Saking banyaknya tante.. trus Juna juga sempet kelupaan tugasnya juga
hehehe, yaudah Juna berangkat dulu, nanti kayanya Juna pulang agak telat karena
ada bimbingan buat olimpiade Fisika 2 minggu lagi.” Pamit Juna sambil mengecup
tangan Tante Rika dan pipi tantenya tersebut.
“Hati-hati..” hanya itu kata yang keluar dari mulut Tante Rika sementara
Juna sudah hilang dari pandangan mata. Tante Rika bergegas menuju kamarnya. Ia
mengambil hpnya dan menghubungi seseorang.
“Halo.. mbak, kapan kamu ambil Juna?” tanya Tante Rika pada orang
diseberang telepon.
“Memangnya kenapa Rik?” tanya balik orang tersebut yang ternyata adalah
Mama Juna yang di Jakarta.
“Kondisi disini buruk mbak, ia baru putus dari pacarnya dan aku rasa itu
sangat mempengaruhi pikirannya. Padahal sebentar lagi Juna mau ikut Olimpiade
Fisika.” Celoteh Tante Rika.
“Aku akan jemput dia waktu kelas 2 Rik, biarkan dia belajar di situasi
seperti itu dulu, nanti aku jemput dia setelah ulang tahun Kania dan Juna yang
ke 17.” Jelas Mama Juna.
“Iya mbak, semoga Juna bisa bersikap dewasa, ya sudah aku mau berangkat
dulu, salam buat Papanya anak-anak.” Ucap Tante Rika sebelum menutup sambungan
teleponnya.
“Ya salam juga untuk Bari dan Juna.” Balas Mama Juna. Tante Rika segera
menutup sambungan telepon karena waktu telah menunjukkan pukul 7 kurang
seperempat dan itu artinya lima belas menit lagi harus sudah sampai kantornya.
**
Selama dalam perjalanan ke
sekolah, Juna menahan rasa sakit kepalanya hingga berulang kali ia hampir
menabrak sesuatu. Mungkin efek tidak tidur semalam suntuk. Setibanya di sekolah
ia langsung terduduk di parkiran sepeda. Kepalanya terasa berat. Tak berapa
lama, Rendy dan Afgan menghampirinya.
“Ya ampun broo.. loe kenapa?” teriak Afgan mendapati Juna yang sudah
pucat pasi.
“Pusing banget...” jawab Juna singkat. Terdengar seperti rintihan. Di
wajahnya sudah mengalir keringat dingin.
“Loe gila ya?? Kalau sakit kenapa masuk sekolah?” kata Rendy panik. Ia
lalu mengambil hpnya dan berniat menghubungi Tante Rika.
“Loe masukin hp loe sekarang juga, gue nggak apa-apa kok, pusing
sebentar doang, nanti juga sembuh.” Tegas Juna. Ia sudah begitu hafal
gerak-gerik sahabat-sahabatnya.
“Yaudah deh, tapi loe harus mau istirahat di UKS oke..” sahut Rendy
segera.
“Ya, nanti gue ikut ulangan dulu.” Kata Juna seraya berjalan
meninggalkan sahabat-sahabatnya.
“Dia? Waras kan? Kalau gue mah ogah-ogahan ikut ulangan kalau kepala gue
lagi pusing.. kok dia ngotot banget sih?” cerocos Afgan.
“Biarlah..” ujar Rendy sambil mengikuti Juna.
“Yelah..” pasrah Afgan dan mengejar kedua sahabatnya.
**
“Loe belajar sampe gak tidur ya Jun? Kantung mata loe udah mirip kungfu
Panda..” celoteh Rendy sambil memapah Juna.
“Gue nggak belajar sama sekali malah..” balas Juna.
“Apa loe kata? Loe nggak belajar sama sekali sementara nilai matematika
loe 100? Gilak.. loe manusia bukan sih?” sahut Afgan. Ia memang baru mengenal
Juna beberapa minggu yang lalu karena ia pindahan dari Bandung.
“Gue hantu, puas loe...” kata Juna sambil berbaring di ranjang UKS.
“Apa kata loe deh? Tapi loe nggak tidur beneran Jun? Mikirin apaan? SMS
Edo yang kemarin?” buru Rendy yang penasaran dengan penampilan Juna sejak pagi
tadi.
“Gue semalam nggak bisa tidur aja, udah gue coba tapi tetep nggak bisa.
Idih ngapain gue mikirin manusia seperti dia, mending gue mikirin orang ini..
hahaha.” Seru Juna sambil memamerkan foto seseorang di hpnya.
“Ajegileh... baru putus udah dapet yang baru, tapi sumpah sama Salsa
cantikan ini.. Kenalin dong..” kata Afgan setelah melihat foto yang disodorkan
Juna.
“Siapa nih Jun? Sumpah cantik banget..” tambah Rendy yang juga
terkagum-kagum.
“Jaga mata loe.. dosa tauk..” sahut Juna sambil cekikikan melihat
tingkah lucu sahabatnya.
“Ye.. mengagumi keindahan ciptaan Tuhan hahaha siapa sih? Pacar loe?”
Afgan masih tetap berdecak kagum. Kalaupun gadis di foto tersebut adalah pacar
Juna, mungkin ia akan patah hati hebat.
“Kalau nih cewek saudara gue, kalian mau apa? Mau deketin? Deketin aja
kalau berani..” kata Juna sambil memasang tampang sangar yang di buat-buat.
“Kagak.. kita mah minder kalau nih cewek saudara loe.. loe yang tampang
oon aja hebatnya kagak ketulungan, apalagi tampang nih cewek keliatan banget
kalau dia pinter, males gue berurusan ama keluarga loe yang terkenal jenius,
sepupu jauh loe aja pemenang olimpiade kimia internasional, sedangkan kita?
Kagak berani deh..” cerocos Rendy yang ditambahi anggukan oleh Afgan. Juna
terkikik mendengarnya.
“Hahaha bagus deh, dia Kania Andara Aryanto, kembaran gue..” Rendy dan Afgan
langsung shock mendengarnya. Mereka lalu mengambil posisi duduk nyempil di
ranjang Juna. Siap menginterogasi. Juna meneguk ludahnya dalam-dalam. ‘Bakalan berbusa nih mulut.’ Batin Juna.
Rendy langsung menyambar hp Juna. Mengamati foto cewek tersebut lekat-lekat,
sesekali memandang Juna diikuti oleh Afgan.
“Ihh beneran mirip banget loh..” celetuk Afgan. Juna tersenyum. Rendy
menyikut perut Juna hingga Juna sedikit meringis.
“Rahasia apalagi yang belum loe ceritain pada kita? Ha? Kemarin loe
tunjukkin pada satu sekolah kalau loe jago taekwondo, hari ini loe tunjukkin
sama kita foto cewek cantik yang katanya kembaran loe, loe mau cerita, atau gue
suruh nraktir es krim sampe kita puas? Hayo pilih mana?” ancam Rendy yang
bersiap menarik kerah seragam Juna. Juna tertawa dengan tingkah Rendy.
“Gak cocok loe bertingkah sok galak gitu.. hahaha oke oke gue bakalan
ceritain semuanya. Gue tuh sebenarnya diadopsi Tante Rika waktu gue dan Kania
masih kecil trus dibawa kesini deh, sementara Kania bersama dengan Papa danMama
di Jakarta. Setiap dua kali dalam sebulan, Papa sama Mama juga nengokin gue
kesini. Katanya gue bakal dipertemukan sama Kania nanti, setelah umur gue dan
Kania 17 tahun. Nah soal taekwondo, Papa gue sengaja nyewa guru privat
taekwondo buat nglatih gue di rumah, jadi nggak usah kaget kalau gue bisa
ngalahin bintang taekwondo SMA Antariksa. Dan asal kalian tau, Kania itu atlet
karate juga.. dan kalian harus janji, cukup kalian yang tau soal gue.” cerita
Juna. Rendy menganga seolah tak percaya.
“Luar biasa... trus kalau kalian sudah ketemu, mau ngapain?” tanya
Afgan.
“Mau peluk cium gitu lah.. sama kembaran sendiri kan..” jawab Juna
polos. Afgan mendengus kesal. Tak menyangka sahabatnya yang terkenal pintar
ternyata jauh lebih o’on darinya. Rendy juga ikutan gemas dengan tampang Juna.
“Maksud Afgan tuh kehidupan loe yang selanjutnya gitu loe Jun.. ah gak
nyangka gue orang macam loe bisa menjadi bintang akademik..” kata Rendy dengan
wajah kecewa yang dibuat-buat.
“Hahaha ngomong dong.. mungkin gue bakalan pindah ke Jakarta, ikut
keluarga asli gue..” sahut Juna. Afgan terbelalak mendengarnya.
“Lah.. kalau loe pindah, trus gue mau nyontek PR sama siapa? Rendy kan
begonya sama kaya gue..” gerutu Afgan yang dihadiahi toyoran oleh Rendy.
“Astagaaaaa kirain kalau gue pindah loe bakalan kesepian atau selalu
kangen gitu, gak taunya Cuma mau nyontek PR..” gemas Juna. Rendy tertawa ngakak
mendengar jawaban Juna.
“Apaan yang bisa kita kangenin dari loe? Hahaha” Juna bersungut- sungut
mendengarnya, baru tahu kalau kedua sahabatnya ini sangat sangat durhaka.
Tinggg
Suara hp Juna mengalihkan fokus mereka. Juna terbelalak melihat nama
seseorang yang mengirimi pesan di layar hpnya. Ada apa? Ia terus
bertanya-tanya.
-Loe gak lupa janji loe nanti malam kan?
Ingat!-
Tanpa sadar, Juna meremas hpnya. Rendy merebut hp Juna dan membacanya.
Ia tidak mengerti apa yang tersirat dalam pesan tersebut. Tapi ia memang ingat
kalau malam nanti Edo menyuruh Juna ke Hotel Bintang, Hotel orang tua Edo.
“Pokoknya kita harus ikut.” Keukeuh Rendy yang ditambah anggukan oleh
Afgan.
“Terlalu bahaya kawan.. biar gue aja yang nyelesein sendiri..” tegas
Juna. Ia tak mau melibatkan sahabat-sahabatnya dalam masalah ini.
“Tapi loe masih sakit Jun. Kalau kita bertiga aja bahaya, apalagi kalau
loe Cuma sendiri.. Mikirrr..” Afgan tetap ngotot walaupun ia belum terlalu
paham akar masalahnya. Yang ia paham adalah sahabatnya dalam bahaya. Rendy
menyikut Afgan, memberi kode agar diam.
“Yaudah deh kalau itu mau loe, kita nggak ikut-ikutan. Sebaiknya loe
sekarang istirahat. Kita pergi dulu ya..” Afgan melotot mendengarnya. Belum
sempat ia protes, Rendy telah menyeretnya keluar dari UKS.
“Kok loe ngomong gitu sih?” tanya Afgan sesampai mereka di luar UKS.
“Kita akan ikuti dia, tanpa sepengetahuan dia. Gue khawatir dia
kenapa-napa. Nanti malem loe ke rumah gue jam 8 trus loe bilang sama orang tua
loe kalau loe bakal nginep di rumah gue.
Nanti sepulang sekolah, kita nyari nomer telepon polisi terdekat, jadi jika
nanti malem terjadi sesuatu di hotel itu, kita udah siapin polisi.” Jawab Rendy
sambil berjalan meninggalkan UKS. Afgan mengangguk-angguk.
“Gak nyangka sohib bego gue pinter juga hahaha.” Cerocos Afgan yang
langsung dilirik tajam oleh Rendy. Afgan hanya cengengesan.
**
Sepulang sekolah, Afgan dan Rendy menghampiri Juna di ruang UKS dengan
membawakan tas Juna.
“Eh Jun, masa hari ini Edo sama Salsa nggak masuk..” kata Afgan membuka
pembicaraan.
“Hah? Mungkin pacaran.” Sambut Juna singkat meskipun ia tak mampu
menyembunyikan kekagetannya.
“Tapi gaya pacaran mereka terlalu berlebihan nggak sih? Masa iya sampe
gak masuk sekolah..” tambah Rendy sambil mengunyah snack yang dibawanya.
“Iya juga sih, emang nggak masuk keterangannya apaan?” tanya Juna
akhirnya. Rasa penasarannya mengalahkan rasa gengsinya.
“Alpha..” jawab Rendy singkat.
“Aishh urusan mereka lah, anterin gue pulang dong.. tenang sepeda gue
sepeda lipat kok hehehe.” Sahut Juna sambil melirik Rendy yang notabenya membawa
mobil.
“Isshh, ye gue anterin.” Afgan cekikikan melihat tingkah
sahabat-sahabatnya.
“Asyikkk makasih kakak..” Juna tertawa ngakak melihat ekspresi pengen
muntah dari Rendy. Mereka lalu meninggalkan sekolah.
**
-Loe langsung ke kamar 184 saja-
SMS itu membuat Juna tak nyaman. Ada yang tak beres. Mungkin kalau ada
Rendy dan Afgan, mereka akan bilang “Jangan-jangan loe mau diperkosa Edo.”
Sampai Juna sudah hafal bagaimana reaksi mereka. Akhirnya Juna memilih diam
untuk dirinya sendiri.
Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Juna terbangun dan menyambar jaketnya
di almari. Ia segera mengendap-endap keluar rumah dan berlari menuju Hotel
Bintang.
Hosshh hoshh
Akhirnya Juna sudah sampai di Hotel Bintang. Tanpa menyadari bahwa Rendy
dan Afgan sudah mengintai hotel tersebut sejak pukul 9.
“Eh Ren, aneh nggak sih? Masa iya, Edo malah sudah keluar dari hotel
sejak sejam yang lalu. Ada sesuatu yang gak beres kayanya. Apa mungkin di kamar
hotel tersebut ada segerombolan preman buat ngeroyok Juna ya..” Celetuk Afgan.
Rendy langsung mengajak Afgan keluar dari mobil untuk menyusul Juna.
Juna hampir pingsan karena lift hotel ternyata eror dan harus lewat
tangga untuk menuju kamar hotel yang letaknya di lantai 11. Dibelakangnya ada
Rendy dan Afgan. Juna menoleh dan mendecak kesal.
“Yaaa udah gue bilang kan nggak usah ikut..” sungut Juna.
“Pala loe peyang, hidup loe dipertaruhkan disini. Edo udah keluar dari
sejam yang lalu. Kita disini mengintai udah dari jam 9, sekarang kita
bareng-bareng buka nih pintu dan lihat serta hadapi apapun yang terjadi
bersama-sama.” Cerocos Rendy yang sudah bersiap hendak membuka pintu. Afgan
bersiap dengan hpnya untuk menghubungi polisi. Juna memantapkan mentalnya
apapun yang terjadi.
“Ayo kita masuk.” Kode Juna. Rendy segera memutar gagang pintu dan masuk
ke kamar hotel tersebut. Gelap sekali. Sepi pula. Afgan mencari-cari saklar
lampu.
“Gotchaa ini dia sa.. Aaaaaaaa..” teriak Afgan karena didepannya ada
mayat perempuan yang sudah bersimbah darah. Juna dan Rendy segera menghampiri
Juna dan terbelalak melihat pemandangan di depannya. Afgan yang masih gemetar
segera menelepon polisi. Sementara Juna langsung terduduk lemas di depan mayat
tersebut yang ternyata Salsa. Darah di tubuh Salsa sudah mengering pertanda
kematiannya sudah agak lama dan pastinya nafas dan nadinya sudah tidak ada.
Salsa hanya berbalut selimut nampaknya tak mengenakan sehelai pakaian pun.
“Salsa..” hanya itu yang dapat diucapkan Juna. Rendy mencari-cari bukti
di sekitarnya dan menemukan secarik kertas.
“Jun, ini kayanya buat loe..” kata Rendy sambil menyerahkan secarik
kertas tersebut.
Hai Juna, selamat ya hahaha selamat atas kematian mantan lugu loe, udah
gue jelajah tuh hahaha. Oh ya kalau loe nyari gue sekarang dimana, gue udah
terbang jauh... Hahaha. Perlu gue giniin juga nggak KEMBARAN loe? Loe pasti
bertanya-tanya kok gue bisa kenal sama kembaran loe KANIA ANDARA ARYANTO,
karena gue udah nyari tau semua tentang loe sedetail mungkin hahaha. Tapi
jangan salah sangka. Loe nikmatin dulu hidup loe di Surabaya, baru setelah loe
pindah ke Jakarta, aksi gue akan mulai hahaha. Oh ya, gue udah tau temen loe
lapor polisi, tapi nggak akan bawa pengaruh buat gue. Sampai Jumpa lagi kawan
hahaha.
-Temen Loe-
“EDOOO MATI LOE..” teriak Juna sambil meremas kertas tersebut. Ia tak
berani menyentuh Salsa. Setelah polisi datang, Juna langsung jatuh pingsan.
Kematian Salsa langsung menyebar malam itu juga. Bahkan di media sosial
banyak tertulis artikel “Seorang Gadis Dibunuh Setelah Diperkosa”. Sementara
itu, Juna dirawat intensif di Rumah Sakit. Keluarganya panik, bahkan Papa dan
Mamanya langsung terbang ke Surabaya. Tante Rika bahkan mengaku kalau belum
pernah melihat Juna sehancur itu. Juna adalah anak yang sangat ceria.
“Mama...” kata Juna setelah sadar, dan yang ada hanyalah mamanya di
ruang rawat.
“Iya sayang.. Kamu nggak apa-apa?” tanya Mama sambil membelai kepala
Juna.
“Ma... Peluk aku Ma, Juna nggak kuat..” Juna menangis kembali mengingat
kejadian 3 jam lalu, karena ia pingsan selama 3 jam. Mama segera memeluknya,
menyalurkan segenap kekuatan untuk anaknya tersebut. Semua yang berada di luar
ruang rawat Juna menyaksikan pemandangan mengharukan tersebut. Mereka tak
menyangka kalau Juna sampai serapuh ini.
**
Hari ini pemakaman Salsa. Juna bersikeras untuk menghadiri pemakaman
tersebut dengan didampingi perawat dan keluarganya. Ia tampak tegar ketika
menghadiri pemakaman tersebut. Tak meneteskan air mata sedikitpun. Di tangan kanannya
membawa seikat bunga lily putih. Setelah pemakaman selesai, ia meminta keluarga
dan perawatnya untuk agak menjauh.
“Harus ya sayang? Biar Mama temenin kamu disini..” seru Mamanya tak
tega.
“Harus Ma, ini sedikit privasi hehehe.” Katanya sambil cengengesan
seperti biasanya. Semua yang memandang terasa teriris hati mereka. Di saat
mungkin hati Juna sudah hancur hingga berkeping-keping, ia sebisa mungkin masih
menunjukkan dirinya yang asli. Setelah tinggal dirinya sendiri, Juna berjongkok
di samping pusara Salsa.
“Sa... Kenapa loe gak pamit sama gue? Setidaknya ngucapin selamat
tinggal kek, jahat amat, hehehe damai ya disana, semoga loe diterima disisi
Tuhan, ingat, loe cinta pertama gue, kalau loe gak mau nunggu gue, ya
setidaknya loe nyari yang lebih ganteng dan lebih baik dari gue hehehe, nih gue
bawain bunga kesukaan loe, oh ya gue masih marah, kok loe ngebalikin semua yang
udah gue berikan ke loe sih? Tapi gak apa-apa lah, gue pulang dulu yah, udah
ditungguin sama yang lain, selamat tinggal Sa.. I love you so much.” Kata Juna sambil meletakkan bunga lily di atas
pusara Salsa. Meskipun ia menceritakan dengan ketawa-ketiwi, tapi air matanya
terus mengalir di pipinya. Ia segera menyeka air matanya dan menyusul
keluarganya.
**Flashback selesai**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar