MY HOME

MY HOME

Kamis, 12 Maret 2015

Semanis Ice Cream Sirsak Variasi



Semanis Ice Cream Sirsak Variasi
Aku rela harus menunggumu.. Meski kau tak pernah tau isi hatiku.
            Pagi ini ibuku berangkat kerja lebih awal dari biasanya. Mau tidak mau aku juga harus berangkat sekolah lebih pagi, karena ibuku yang mengantarku sekolah. Sebenarnya aku sudah bisa membawa motor sendiri, tapi ibuku terlalu khawatir denganku.
            Sampai di sekolah, suasana masih sepi. Sejenak aku berbincang-bincang dengan Pak TK (tukang kebun) membicarakan tentang tetanggaku yang habis kemalingan. Setelah bosan, aku pamit dan menuju ke kelas. Kulihat pintu kelas sudah terbuka sedikit. Terdengar di dalam kelasku seperti ada orang yang sedang membuka lembar-lembar buku. Kubuka pintu lebih lebar, ternyata yang sudah datang adalah Putra.
            “Rajin banget jam segini udah dateng?” tanyaku sambil meletekkan tas tepat dibelakang tempat duduknya.
            “Emang aku kalo dateng jam segini kali.. makanya sekali-kali dateng pagian dikit, udah mau bel baru dateng. Tapi tumben hari ini..”  katanya sambil tetap fokus membaca buku pelajaran sejarah. Maklum, dia belum mengikuti ulangan sejarah minggu kemarin.
            “Echm.. hari ini ibuku kerja agak pagian, jadi ya dianter lebih pagi deh..” jawabku sambil membersihkan laci meja. Setelah itu aku berjalan menuju meja guru untuk mengisi jurnal. Aku baru kelas X, tepatnya X.A1, kelas yang selalu ramai dengan celotehan teman-temanku. Tapi hari ini, jam setengah tujuh yang datang baru aku dan Putra. Sambil mengisi jurnal, aku mengamati Putra yang lagi serius membaca. ‘Cakep juga’ batinku. Aku segera mengalihkan pandanganku ke jurnal kembali, takut ketahuan sama Putra.
            “Sin, bukannya kamu udah bisa bawa motor sendiri ya?” tanyanya. Aku hanya mengangguk. “Kok nggak bawa sendiri?” sambungnya lagi.
            “Nggak boleh sama bokap nyokap..” jawabku dengan nada datar.
            “Mungkin kamu bawa motornya masih kaya orang baru ajar gitu, masih mengkhawatirkan, hahaha” katanya sambil tertawa renyah. Aku hanya memandangnya sinis, dia langsung tersenyum. Uhhh meleleh aku, senyumnya begitu manis, seperti es krim coklat favoritku. Lama aku mengamati, datanglah Anto. Anto adalah anak kelas sebelah yang juga teman akrab Putra. Sebenarnya aku suka sama Anto, tapi aku belum yakin dengan perasaanku.
            Anto dan Putra mengobrolkan sesuatu yang tidak aku mengerti, daripada aku hanya menjadi patung hidup di dalam kelas, aku akhirnya meninggalkan mereka berdua di dalam kelas dan menuju kantin untuk sekedar numpang ngaca.
            “Dek Sinta udah sarapan?” tanya mbak Mirna sang penjaga kantin.
            “Udah mbak tadi sebelum berangkat.” Jawabku sambil merapikan jilbabku.
            “Kok hanya sendirian? Biasanya sama dek Rina atau yang lainnya..” tanyanya lagi.
            “Belum pada dateng  mbak, baru ada Putra sama Anto, jadi aku pergi aja, nggak ngerti aku mereka ngobrolin apaan” jawabku tak menghentikan aktivitas dandanku.
            “Kalau menurutku, dek Sinta sama dek Putra cocok deh.. sama-sama cakep, sama-sama pinter..” kata mbak Mirna yang sontak membuatku kaget.
            “Ah, apaan sich mbak Mirna, masih kelas X, nggak boleh gitu-gituan hehehe” jawabku menutupi salah tingkahku. ‘Aku kan sukanya sama Anto, bukan Putra’ batinku.
            “Hehehe iya, maaf ya..” jawabnya. Aku segera pamit kembali ke kelas.
            Sesampainya di kelas, suasana kelas sudah mulai ramai. Aku langsung masuk ke kelas dan duduk di bangkuku. Di sampingku sudah ada Rina, teman semejaku sejak pendaftaran masuk SMA.
            “Eh Sin, tadi dia nanyain kamu loh..” katanya dengan nada heboh seperti biasanya.
            “Siapa sich?”
            “Anto, dia tadi nanyain, kenapa pas dianya dateng, kok kamu malah keluar..” jawabnya sambil membuka tasnya dan mengambil sebuah buku.
            “Ihh.. la dianya aja ngobrol sama Putra, masa aku harus nimbrung-nimbrung nggak jelas gitu, gengsi kalik..” jawabku sambil melirik Putra yang di depanku. Seketika Putra menoleh dan..
            “Ngapain bawa-bawa namaku?” tanya Putra. Aku dan Rina hanya menggeleng.
            “Emang ada apa sich antara kamu dan Anto Sin?” tanyanya lagi.
            “Sinta kan suka sama Anto, ahh ketinggalan jaman kamu Put..” jawab Rina dengan asal ceplos. Aku langsung mengijak kakinya.
            “Oh..” kata Putra sambil memalingkan wajah.
            “Emang kenapa sich? Kok kakiku diinjak?” tanya Rina.
            “Ya kira-kira donk.. Putra kan temennya Anto, nanti kalau dibilangin ke Anto gimana? Gengsi kali..” jawabku dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh Putra.
            “Kalau gengsi terus, kamu kapan dapet pacarnya..” kata Rina
            “Ihhh siapa juga yang nyari pacar.. belum cukup umur keles..” jawabku sewot.
            “La terus kalau kamu nggak dapet-dapet pacar, kapan aku dapet traktirannya?” langsung kujitak kepala si Rina.
            ***
            Aku semakin dekat dengan Anto. Sudah mulai sms’an, inbox’an di facebook, dan kalau bertemu pun aku selalu salah tingkah. Anto perhatian kepadaku, dan akupun membalas perhatiannya.
            Suatu hari, aku melihat Anto sedang menghibur Ira, teman sekelasnya. Aku mencoba bersikap biasa, karena Anto hanya sekedar menghibur Ira saja.
            “Sin, tadi dicari Anto, suruh ngajarin PR Matematika.” Kata Putra dengan nada datar dan tanpa ekspresi. Paling males aku kalau lihat orang yang mengajakku bicara sewot seperti itu.
            “Kenapa nggak minta ajarin kamu aja.. kan kamu juga temannya.” Jawabku tak kalah sewot.
            “Ya mana ku tahu..” jawabnya sambil berlalu dari hadapanku.
            “Kapan sich tu anak, sekali saja nggak nyuekin aku, nggak membully aku terus..” ocehku sendiri.
***
            Suatu pagi, Ira berada di taman. Aku mengamatinya dari jendela kelasku. Tak berapa lama, Anto datang membawa coklat dan diberikan kepada Ira. Segaris senyum mengembang di wajah Ira. Hatiku sakit, ada hubungan apa antara Anto dan Ira? Mungkin selama ini aku hanya dianggap tak lebih dari seorang teman oleh Anto.  
            “Kok ngelamun Sin?” tanya Rina. Kebetulan dikelasku jam kosong, jadi kelasku sangatlah ramai seperti pasar.
            “Hoeee Sin... awas kesambet loh... ngelamunin siapa sich? Anto baik-baik saja tauk...” teriak Rina. Kelasku yang seperti pasar langsung sunyi senyap. Aku pun kaget. ‘Aduh Rina buka kartu nich..’ pikirku. Aku kikuk diperhatikan teman-temanku. ‘Sumpah Rina buat malu banget’ pikirku.
            “Sin.. kamu suka sama Anto anak kelas sebelah ya?” tanya salah satu temanku. Belum sempat aku menjawab, Rina sudah keburu nyerocos.
            “Yee.. emang Anto cuma anak kelas sebelah situ doang.. kucingnya Sinta namanya Anto juga tauk.. Tadi pas mau berangkat sekolah, kucingnya Sinta nglahirin, jadi Sinta khawatir..” kata Rina menyelamatkanku. Aku bernafas lega.
            “Bukannya Anto tuh nama laki-laki ya.. masa nglahirin..” kata temanku yang lain lagi. ‘Haduh.. Rina.. bego banget sich... aku juga baru kepikiran, ah elah salah strategi..’ “Oh iya, lupa aku” bisik Rina kepadaku. Aku hanya mendengus kesal.
            “Maksud aku tuh istrinya Anto.. kan kemungkinan Anto juga ngurusin anaknya nanti kalau ngompol..” kata Rina seperti mendongeng. Gimana tidak mendongeng coba, mana mungkin kucing kaya gituan.. haduh-haduh Rina..
            “Oh...” kata teman-temanku ber-Ohh ria.
            “Ini yang pe’ak siapa sich Rin?” bisikku pada Rina.
            “Kita semua...” teriak Rina dengan wajah tanpa dosanya. Teman-teman yang lain hanya melongo. Aku hanya menggelengkan kepala.
***
            Waktu istirahat, aku tidak ke kantin bersama Rina dan yang lainnya. Aku lebih memilih menyendiri ke perpustakaan. Di perpustakaan, aku mengambil tempat membaca paling pojok dekat jendela. Dari jendela itu, aku dapat melihat Anto yang sedang bermain basket.
            “Echm.. lagi liatin Anto ya?” tanya Putra yang sudah berada di sampingku.
            “Enggak..” jawabku singkat.
            “Udahlah.. Anto itu lagi suka sama seseorang.. tapi bukan kamu...” cerocos Putra. Sumpah, aku ingin sekali menyuapi Putra dengan novel yang aku pegang. Perkataannya tadi membuat hati dan kupingku panas. Punya dendam apa sich nih anak sama aku..
            “Alah udahlah Put..” kataku sambil meninggalkan Putra yang terdiam mematung di tempat duduknya.
            Sepulang sekolah, aku ada bimbingan belajar bersama guru Bahasa Inggris. Aku masih sewot sama Putra, sampai-sampai Putra menyapaku ketika dia mau extra karate pun aku tidak menghiraukannya.
            Setelah selesai bimbingan, waktu baru menujukkan pukul 14.00, hari ini aku pulang bimbingan lebih awal dari biasanya. Aku tidak segera beranjak pulang, karena aku ingin menemui Putra dan meminta maaf atas sewotku tadi. Ketika aku mau ke ruang karate, aku melewati taman kecil di dekat ruang BP. Kulihat Anto dan Ira sedang duduk berdua, tak berapa lama, Anto mengeluarkan setangkai mawar dari tasnya dan diberikan kepada Ira. Aku cengo melihat kejadian ini. Kepalaku terasa berat, aku segera berlari menuju ruang karate dan mengajak Putra pergi ke kantin.
            “Kenapa Sin? Kok kusut gitu wajahnya? Kangen aku ya?” tanya Putra.
            “Ihh pede gila.. galau banget ini...” jawabku sambil terus menundukkan kepala.
            “Adek-adek mau pesen apa? Cie.. dek Sinta sama dek Putra berduaan aja..” kata mbak Mirna.
            “Apaan sich mbak..” jawab aku dan Putra bersamaan.
            “Ciee kompak banget.. sekarang mau pesen apa nih?” sambung mbak Mirna. Aku hanya malu-malu menanggapinya.
            “Sinta.. traktir yakk.. hehe greentea mbak.. kamu mau pesen apa Sin?”
            “Ya... samain kamu aja..” jawabku dengan nada pasrah.
            “Oke mbak, greentea 2” kata Putra lagi. Mbak Mirna langsung berlalu dari hadapan kami berdua.
            “Galau gara-gara Anto ya? Udah tau kan hubungan Anto sama Ira?” tanya Putra. Nada suaranya tidak secuek biasanya. Ini terdengar lebih halus. Aku bingung sama orang ini, setiap kali bisa berubah sifat.
            “Iya.. maafin aku ya, tadi udah nggak percaya sama kamu..” jawabku penuh penyesalan.
            “Iya nggak  apa-apa, udah jangan sedih lagi.. senyum dong.. Sinta cantik deh kalau senyum..” hibur Putra. Aku langsung ngakak karena ekspresi Putra benar-benar mirip dengan anak kecil umur 5 tahunan yang sedang menghibur temannya.
            “Nah gitu dong..” kata Putra lagi.
            “Pesanan datang..” kata mbak Mirna dengan membawa 2 gelas greentea dan 1 mangkuk es krim.
            “Loh mbak, kita kan nggak pesen es krim..” kataku heran.
            “Ini itu, kalian aku suruh nyicip.. resep baru.. es krim sirsak variasi..hehehe” jawab mbak Mirna. “Semangkuk berdua ya..” sambungnya.
            “Asegg udah dapet traktiran, dapet es krim gratis pula.. senangnya hidup ini.. hahaha” seru Putra berkelakar, kami hanya tertawa mendengar ocehannya tersebut.
            “Enak mbak..” seru aku dan Putra.
            “Udah cocok, seleranya sama lagi..” kata mbak Mirna lagi. Huhh ucapan mbak Mirna selalu membuatku salah tingkah.
***
            Kini aku dan teman-teman sudah berada di ruang kelas baru. Ruang kelas XI IPA 1 dengan personil yang masih utuh. Itu tandanya aku masih sekelas dengan Putra. Semakin hari, aku semakin dekat dengan Putra. Akhirnya perasaan cinta itupun tumbuh. Tapi aku nggak tahu apakah Putra juga punya perasaan yang sama.
“Eh Sin, kertas apaan tuh?” tanya Rina sambil menunjuk kertas HVS yang ada di atas mejaku.
Kubuka kertas itu, dan kubaca isinya. Tulisan tersebut diketik, jadi aku tidak bisa mengetahui siapa penulisnya.


Dear Sinta
            Lama aku menunggumu, tapi kau tak pernah tahu isi hatiku. Apa aku harus bilang kepadamu secara langsung? Please Sin, jaga selalu hatimu untukku
                                                                                                                        Boy

            Boy? Siapa dia? Perasaan di sekolahku tidak ada yang namanya Boy. Huh seandainya ditulis tangan, mungkin aku bisa dengan mudah menemukan pengirimnya, karena aku hampir hafal semua tulisan teman-temanku.
            “Dari siapa Sin? Penggemar rahasia ya? Cie..” kata Rina sambil cengengesan.
            “Entahlah..” jawabku santai.
***
            Setiap pagi, aku selalu mendapatkan surat serupa. Semua itu menimbulkan rasa penasaranku.
            “Echm Sin, lagi ngapain? Sendirian aja nih..” tanya Putra, aku masih duduk memandangi surat yang kupegang dari tadi.
            “Nggak ngapa-ngapain kok..” jawabku sambil memasukkan kertas surat tersebut ke dalam tas.
            “Masih galau tentang Anto?” tanyanya ragu-ragu.
            “Ya gimana ya.. aku nggak bisa bohong sama perasaanku sendiri, emang kenapa sih?” tanyaku balik.
            “Echm.. enggak, aku sama Anto gantengan Anto ya... hahaha”
            “Bercandanya nggak lucu tauk.. emang ada masalah apa sich kamu sama Anto?”
            “Sebenarnya, aku suka sama salah satu fansnya Anto, tapi ternyata sulit untukku menghapus nama Anto dari hatinya.. Akhirnya aku sadar, kalau aku itu kalah jauh sama Anto, aku nggak ada apa-apanya di banding Anto..” cerita Putra. Aku langsung teringat sesuatu. Iya, Putra disukai sama seniorku. Aku langsung menghiburnya.
            “Bukannya kamu juga punya fans ya? Itu kakak kelas XII yang hampir setiap kamu lewat di depannya, dia selalu salting.. dia cocok kok sama kamu.. sama-sama alim..” terangku. Sebenarnya aku sakit untuk mengatakan itu.
            “Tapi dia tidak bisa menggantikan bidadariku di hati ini..” jawabnya dengan tegas sambil menunjuk dadanya.
            “Widihhh bahasanya tingkat dewi, emang siapa sich bidadarimu?” tanyaku sambil tertawa.
            “Ada deh.. pokoknya nanti kamu bakalan tahu sendiri.. hehehe” jawabnya sambil terkekeh.
            “Bikin penasaran aja deh..” ucapku sesaat sebelum bel masuk kelas.
***
            “Adi, pinjem laptop dong.. aku lupa nggak bawa..” pintaku pada Adi, teman semeja Putra.
            “Lagi dipinjem Anto, noh punya Putra nganggur.. pinjem dulu aja, nanti aku bilangin, orangnya lagi ada urusan sama ketua OSIS.” Kata Adi sambil mengunyah keripik singkong.
            “Echm.. oke aku ambil ya..” kataku sambil mengambil laptop Putra.
            Aku segera memasangkan flashdiskku untuk mengubah proposal kegiatan yang akan kukerjakan. Tak sengaja, aku membuka folder kepunyaan Putra. Aneh, nama folder tersebut “SPM” seperti inisial namaku ‘Sinta Putri Maharani’. Karena penasaran aku pun membukanya. Sebelum Putra datang, aku segera mencopy folder beserta file-filenya tersebut ke flashdiskku. Aku tidak jadi mengerjakan proposalku.
            “Sin, nanti pulang sekolah kamu langsung kemana?” tanya Putra setelah bel masuk berbunyi.
            “Langsung pulang aja Put, soalnya mau ngerjain proposal buat kegiatan bulan besok itu.” Jawabku.
            “Echm.. echm.. ciee Putra sama Sinta.. sekarang deket banget..” celetuk Rina.
            “La kan temen, udah ah, Pak Muji udah dateng tuh..” elakku.
            Sesampainya di rumah, aku segera teringat folder SPM milik Putra. Aku bergegas mengambil laptop dan memasangkan flashdisk. Kulihat file demi file. File paling atas bernama ‘Aku dan Dia’ berisi fotoku bersama Putra waktu hari ulang tahun sekolah. File kedua bernama ‘Bidadariku’. Spontan aku langsung membuka file tersebut karena penasaran sejak dulu. Aku terbelalak, file tersebut isinya foto-fotoku. Banyak sekali, hampir 300 foto.
            “Jadi selama ini, bidadarinya Putra itu aku..” gumamku.
                Karena masih penasaran, aku membuka file terakhir, berisi kata-kata yang pernah kubaca sebelumnya. Ternyata Boy selama ini adalah Putra, ya ampun bodohnya aku...
***
            Hari ini aku berangkat lebih pagi dari biasanya. Niatku ingin menangkap basah Putra. Akan tetapi Putra belum datang. “Tumben dia belum dateng” gumamku.
            Untuk mengisi waktu sepiku, aku ke kantin mbak Mirna. Entah kenapa di cuaca sepagi ini aku ingin makan es krim sirsak variasi. Akhir-akhir ini, aku sering makan es krim ini bersama Putra. Aku dan Putra juga pernah melihat cara membuatnya dan pernah juga belajar membuatnya dengan mbak Mirna.
            Aku kembali ke kelas 5 menit sebelum bel. Akan tetapi kulihat Putra belum datang juga.
            “Putra kemana? Kok belum dateng?” tanyaku pada Rina.
            “Ya ampun Sinta.. kamu nggak tau atau pura-pura nggak tau sich?” teriak Rina sampai kupingku terasa berdenging.
            “Ya biasa aja lagi.. nggak usah treak-treak juga.. emang kenapa sich?” tanyaku sambil masih menutup kupingku.
            “Kemarin kan Putra kecelakaan, masa kamu beneran nggak tau..”
            “Hah? Kok bisa? Trus keadaannya gimana? Nggak apa-apakan?”
            “Satu-satu woyy nanyanya.. hahaha khawatir ya.. tenang aja dianya nggak apa-apa, katanya juga udah operasi..” jawab Rina semakin membuatku bingung.
            “Operasi apaan?” tanyaku lagi.
            “Operasi Usus Buntu.. ya aku belum taulah.. emangnya aku emaknya Putra apa? Ya kalau mau tau nanti ikut ngejenguk Putra aja..” jawab Rina sekenanya.
***
            Sepulang sekolah, rombongan yang ingin menjenguk Putra pun telah berkumpul. Kulihat juga kakak kelas XII yang suka sama Putra.
            Sesampainya di rumah Putra, Kak Rena, kakak kelas XII yang menyukai Putra itu sangat khawatir dengan keadaan Putra. Aku melihat Putra hanya lecet-lecet. Operasi yang di maksud Rina nggak tau operasi apaan. Putranya aja cuma lecet-lecet. Seakan tidak ada celah bagiku untuk ngobrol dengan Putra, bahkan untuk menyapa Putra pun kayanya tidak diberi kesempatan oleh fans-fans Putra. Aku merasakan kehilangan untuk kedua kalinya.
            Ketika rombongan mau pulang, aku baru sempat menyapa Putra.
            “Gimana Put? Baik-baik aja kan? Cepet sembuh ya.. aku pamit pulang dulu..” pamitku pada Putra.
            “Echm, iya nggak apa-apa, jangan khawatir, besok aku sudah sekolah kok..” katanya sambil tersenyum kepadaku. Senyuman itu.. Selalu membuatku merasa tenang.
***
            Hari ini aku ke sekolah membawa es krim sirsak variasi buatanku sendiri. Aku ingin Putra yang menyicipinya pertama kali.
            “Udah sembuh Put?” tanyaku ketika Putra masuk ke kelas. Hari memang masih pagi, biasanya yang datang sepagi ini memang hanya aku dan Putra.
            “Sudah..” jawabnya sambil tersenyum.
            “Ke taman yuk.. aku punya sesuatu..” ajakku.
            Di taman aku memberikan es krim buatanku ke Putra.
            “Gimana Put rasanya?” tanyaku. Takut tidak enak.
            “Echm, kamu bakat juga ya jadi koki, tapi kok rasa variasinya beda ya sama punyanya mbak Mirna?” tanyanya heran. Aku tersenyum kecil.
            “Ya jelas bedalah.. kan itu resepnya aku sendiri yang buat..”
            “Kamu tambahin rasa apa?” tanya Putra lagi.
            “Banyak sich hehehe, tapi yang jelas rasa cinta.. wkwkwk” jawabku sambil tertawa.
            “Bisaan aja kamu.. hahaha” kata Putra sambil ikutan tertawa.
            “Echm, Put, jadi Boy selama ini kamu ya?” tanyaku yang mebuat Putra batuk-batuk.
            “Echm.. eh.. anu.. eh..” kata Putra dengan gagap.
            “Udah jujur aja.. nggak apa-apa kok..” sambungku.
            “Kok kamu bisa tau?” tanya Putra. Aku tersenyum, berarti memang benar kalau Boy itu Putra.
            “Aku tau pas aku minjem laptop kamu waktu itu, trus aku nggak sengaja ngebuka folder kamu yang namanya SPM trus ternyata banyak foto-foto aku, sama kata-kata Boy yang pernah aku baca.” Jelasku. Putra menunduk, aku bingung, takut aku salah melakukan itu. Memang aku kedengarannya tidak sopan membuka file-file orang lain. Tapi itu tentang diriku sendiri, jadi kurasa Putra yang salah.
            “Maafkan aku Sin.. mungkin aku salah mengambil foto kamu diam-diam, tapi hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku sakit ketika aku harus bersaing dengan Anto, aku sakit ketika melihatmu bersedih gara-gara Anto..”
            “Makasih buat perhatian kamu Put... aku juga udah janji, bakalan jaga hatiku buat Boy..” kataku sambil tersenyum. Putra juga ikut tersenyum.
            “Makasih Sin..” ucap Putra sambil meneruskan menikmati es krim sirsak variasi.
Cinta itu terkadang manis.. seperti es krim sirsak variasi ini..        

*** ---***Selesai***---***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar