Semanis
Ice Cream Sirsak Variasi
Aku
rela harus menunggumu.. Meski kau tak pernah tau isi hatiku.
Pagi
ini ibuku berangkat kerja lebih awal dari biasanya. Mau tidak mau aku juga
harus berangkat sekolah lebih pagi, karena ibuku yang mengantarku sekolah.
Sebenarnya aku sudah bisa membawa motor sendiri, tapi ibuku terlalu khawatir
denganku.
Sampai
di sekolah, suasana masih sepi. Sejenak aku berbincang-bincang dengan Pak TK
(tukang kebun) membicarakan tentang tetanggaku yang habis kemalingan. Setelah
bosan, aku pamit dan menuju ke kelas. Kulihat pintu kelas sudah terbuka
sedikit. Terdengar di dalam kelasku seperti ada orang yang sedang membuka
lembar-lembar buku. Kubuka pintu lebih lebar, ternyata yang sudah datang adalah
Putra.
“Rajin
banget jam segini udah dateng?” tanyaku sambil meletekkan tas tepat dibelakang
tempat duduknya.
“Emang
aku kalo dateng jam segini kali.. makanya sekali-kali dateng pagian dikit, udah
mau bel baru dateng. Tapi tumben hari ini..”
katanya sambil tetap fokus membaca buku pelajaran sejarah. Maklum, dia
belum mengikuti ulangan sejarah minggu kemarin.
“Echm..
hari ini ibuku kerja agak pagian, jadi ya dianter lebih pagi deh..” jawabku
sambil membersihkan laci meja. Setelah itu aku berjalan menuju meja guru untuk
mengisi jurnal. Aku baru kelas X, tepatnya X.A1, kelas yang selalu ramai dengan
celotehan teman-temanku. Tapi hari ini, jam setengah tujuh yang datang baru aku
dan Putra. Sambil mengisi jurnal, aku mengamati Putra yang lagi serius membaca.
‘Cakep juga’ batinku. Aku segera mengalihkan pandanganku ke jurnal kembali,
takut ketahuan sama Putra.
“Sin,
bukannya kamu udah bisa bawa motor sendiri ya?” tanyanya. Aku hanya mengangguk.
“Kok nggak bawa sendiri?” sambungnya lagi.
“Nggak
boleh sama bokap nyokap..” jawabku dengan nada datar.
“Mungkin
kamu bawa motornya masih kaya orang baru ajar gitu, masih mengkhawatirkan,
hahaha” katanya sambil tertawa renyah. Aku hanya memandangnya sinis, dia
langsung tersenyum. Uhhh meleleh aku, senyumnya begitu manis, seperti es krim
coklat favoritku. Lama aku mengamati, datanglah Anto. Anto adalah anak kelas
sebelah yang juga teman akrab Putra. Sebenarnya aku suka sama Anto, tapi aku
belum yakin dengan perasaanku.
Anto
dan Putra mengobrolkan sesuatu yang tidak aku mengerti, daripada aku hanya
menjadi patung hidup di dalam kelas, aku akhirnya meninggalkan mereka berdua di
dalam kelas dan menuju kantin untuk sekedar numpang ngaca.
“Dek
Sinta udah sarapan?” tanya mbak Mirna sang penjaga kantin.
“Udah
mbak tadi sebelum berangkat.” Jawabku sambil merapikan jilbabku.
“Kok
hanya sendirian? Biasanya sama dek Rina atau yang lainnya..” tanyanya lagi.
“Belum
pada dateng mbak, baru ada Putra sama
Anto, jadi aku pergi aja, nggak ngerti aku mereka ngobrolin apaan” jawabku tak
menghentikan aktivitas dandanku.
“Kalau
menurutku, dek Sinta sama dek Putra cocok deh.. sama-sama cakep, sama-sama
pinter..” kata mbak Mirna yang sontak membuatku kaget.
“Ah,
apaan sich mbak Mirna, masih kelas X, nggak boleh gitu-gituan hehehe” jawabku
menutupi salah tingkahku. ‘Aku kan sukanya sama Anto, bukan Putra’ batinku.
“Hehehe
iya, maaf ya..” jawabnya. Aku segera pamit kembali ke kelas.
Sesampainya
di kelas, suasana kelas sudah mulai ramai. Aku langsung masuk ke kelas dan
duduk di bangkuku. Di sampingku sudah ada Rina, teman semejaku sejak
pendaftaran masuk SMA.
“Eh
Sin, tadi dia nanyain kamu loh..” katanya dengan nada heboh seperti biasanya.
“Siapa
sich?”
“Anto,
dia tadi nanyain, kenapa pas dianya dateng, kok kamu malah keluar..” jawabnya
sambil membuka tasnya dan mengambil sebuah buku.
“Ihh..
la dianya aja ngobrol sama Putra, masa aku harus nimbrung-nimbrung nggak jelas
gitu, gengsi kalik..” jawabku sambil melirik Putra yang di depanku. Seketika
Putra menoleh dan..
“Ngapain
bawa-bawa namaku?” tanya Putra. Aku dan Rina hanya menggeleng.
“Emang
ada apa sich antara kamu dan Anto Sin?” tanyanya lagi.
“Sinta
kan suka sama Anto, ahh ketinggalan jaman kamu Put..” jawab Rina dengan asal
ceplos. Aku langsung mengijak kakinya.
“Oh..”
kata Putra sambil memalingkan wajah.
“Emang
kenapa sich? Kok kakiku diinjak?” tanya Rina.
“Ya
kira-kira donk.. Putra kan temennya Anto, nanti kalau dibilangin ke Anto
gimana? Gengsi kali..” jawabku dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh
Putra.
“Kalau
gengsi terus, kamu kapan dapet pacarnya..” kata Rina
“Ihhh
siapa juga yang nyari pacar.. belum cukup umur keles..” jawabku sewot.
“La
terus kalau kamu nggak dapet-dapet pacar, kapan aku dapet traktirannya?”
langsung kujitak kepala si Rina.
***
Aku
semakin dekat dengan Anto. Sudah mulai sms’an, inbox’an di facebook, dan kalau
bertemu pun aku selalu salah tingkah. Anto perhatian kepadaku, dan akupun
membalas perhatiannya.
Suatu
hari, aku melihat Anto sedang menghibur Ira, teman sekelasnya. Aku mencoba
bersikap biasa, karena Anto hanya sekedar menghibur Ira saja.
“Sin,
tadi dicari Anto, suruh ngajarin PR Matematika.” Kata Putra dengan nada datar
dan tanpa ekspresi. Paling males aku kalau lihat orang yang mengajakku bicara
sewot seperti itu.
“Kenapa
nggak minta ajarin kamu aja.. kan kamu juga temannya.” Jawabku tak kalah sewot.
“Ya
mana ku tahu..” jawabnya sambil berlalu dari hadapanku.
“Kapan
sich tu anak, sekali saja nggak nyuekin aku, nggak membully aku terus..” ocehku
sendiri.
***
Suatu
pagi, Ira berada di taman. Aku mengamatinya dari jendela kelasku. Tak berapa
lama, Anto datang membawa coklat dan diberikan kepada Ira. Segaris senyum
mengembang di wajah Ira. Hatiku sakit, ada hubungan apa antara Anto dan Ira?
Mungkin selama ini aku hanya dianggap tak lebih dari seorang teman oleh Anto.
“Kok
ngelamun Sin?” tanya Rina. Kebetulan dikelasku jam kosong, jadi kelasku
sangatlah ramai seperti pasar.
“Hoeee
Sin... awas kesambet loh... ngelamunin siapa sich? Anto baik-baik saja tauk...”
teriak Rina. Kelasku yang seperti pasar langsung sunyi senyap. Aku pun kaget.
‘Aduh Rina buka kartu nich..’ pikirku. Aku kikuk diperhatikan teman-temanku.
‘Sumpah Rina buat malu banget’ pikirku.
“Sin..
kamu suka sama Anto anak kelas sebelah ya?” tanya salah satu temanku. Belum
sempat aku menjawab, Rina sudah keburu nyerocos.
“Yee..
emang Anto cuma anak kelas sebelah situ doang.. kucingnya Sinta namanya Anto
juga tauk.. Tadi pas mau berangkat sekolah, kucingnya Sinta nglahirin, jadi
Sinta khawatir..” kata Rina menyelamatkanku. Aku bernafas lega.
“Bukannya
Anto tuh nama laki-laki ya.. masa nglahirin..” kata temanku yang lain lagi.
‘Haduh.. Rina.. bego banget sich... aku juga baru kepikiran, ah elah salah
strategi..’ “Oh iya, lupa aku” bisik Rina kepadaku. Aku hanya mendengus kesal.
“Maksud
aku tuh istrinya Anto.. kan kemungkinan Anto juga ngurusin anaknya nanti kalau
ngompol..” kata Rina seperti mendongeng. Gimana tidak mendongeng coba, mana
mungkin kucing kaya gituan.. haduh-haduh Rina..
“Oh...”
kata teman-temanku ber-Ohh ria.
“Ini
yang pe’ak siapa sich Rin?” bisikku pada Rina.
“Kita
semua...” teriak Rina dengan wajah tanpa dosanya. Teman-teman yang lain hanya
melongo. Aku hanya menggelengkan kepala.
***
Waktu
istirahat, aku tidak ke kantin bersama Rina dan yang lainnya. Aku lebih memilih
menyendiri ke perpustakaan. Di perpustakaan, aku mengambil tempat membaca
paling pojok dekat jendela. Dari jendela itu, aku dapat melihat Anto yang
sedang bermain basket.
“Echm..
lagi liatin Anto ya?” tanya Putra yang sudah berada di sampingku.
“Enggak..”
jawabku singkat.
“Udahlah..
Anto itu lagi suka sama seseorang.. tapi bukan kamu...” cerocos Putra. Sumpah,
aku ingin sekali menyuapi Putra dengan novel yang aku pegang. Perkataannya tadi
membuat hati dan kupingku panas. Punya dendam apa sich nih anak sama aku..
“Alah
udahlah Put..” kataku sambil meninggalkan Putra yang terdiam mematung di tempat
duduknya.
Sepulang
sekolah, aku ada bimbingan belajar bersama guru Bahasa Inggris. Aku masih sewot
sama Putra, sampai-sampai Putra menyapaku ketika dia mau extra karate pun aku
tidak menghiraukannya.
Setelah
selesai bimbingan, waktu baru menujukkan pukul 14.00, hari ini aku pulang
bimbingan lebih awal dari biasanya. Aku tidak segera beranjak pulang, karena
aku ingin menemui Putra dan meminta maaf atas sewotku tadi. Ketika aku mau ke
ruang karate, aku melewati taman kecil di dekat ruang BP. Kulihat Anto dan Ira
sedang duduk berdua, tak berapa lama, Anto mengeluarkan setangkai mawar dari
tasnya dan diberikan kepada Ira. Aku cengo melihat kejadian ini. Kepalaku
terasa berat, aku segera berlari menuju ruang karate dan mengajak Putra pergi
ke kantin.
“Kenapa
Sin? Kok kusut gitu wajahnya? Kangen aku ya?” tanya Putra.
“Ihh
pede gila.. galau banget ini...” jawabku sambil terus menundukkan kepala.
“Adek-adek
mau pesen apa? Cie.. dek Sinta sama dek Putra berduaan aja..” kata mbak Mirna.
“Apaan
sich mbak..” jawab aku dan Putra bersamaan.
“Ciee
kompak banget.. sekarang mau pesen apa nih?” sambung mbak Mirna. Aku hanya
malu-malu menanggapinya.
“Sinta..
traktir yakk.. hehe greentea mbak.. kamu mau pesen apa Sin?”
“Ya...
samain kamu aja..” jawabku dengan nada pasrah.
“Oke mbak, greentea 2” kata Putra lagi. Mbak Mirna
langsung berlalu dari hadapan kami berdua.
“Galau
gara-gara Anto ya? Udah tau kan hubungan Anto sama Ira?” tanya Putra. Nada
suaranya tidak secuek biasanya. Ini terdengar lebih halus. Aku bingung sama
orang ini, setiap kali bisa berubah sifat.
“Iya..
maafin aku ya, tadi udah nggak percaya sama kamu..” jawabku penuh penyesalan.
“Iya
nggak apa-apa, udah jangan sedih lagi..
senyum dong.. Sinta cantik deh kalau senyum..” hibur Putra. Aku langsung ngakak
karena ekspresi Putra benar-benar mirip dengan anak kecil umur 5 tahunan yang
sedang menghibur temannya.
“Nah
gitu dong..” kata Putra lagi.
“Pesanan
datang..” kata mbak Mirna dengan membawa 2 gelas greentea dan 1 mangkuk es
krim.
“Loh
mbak, kita kan nggak pesen es krim..” kataku heran.
“Ini
itu, kalian aku suruh nyicip.. resep baru.. es krim sirsak variasi..hehehe”
jawab mbak Mirna. “Semangkuk berdua ya..” sambungnya.
“Asegg
udah dapet traktiran, dapet es krim gratis pula.. senangnya hidup ini.. hahaha”
seru Putra berkelakar, kami hanya tertawa mendengar ocehannya tersebut.
“Enak
mbak..” seru aku dan Putra.
“Udah
cocok, seleranya sama lagi..” kata mbak Mirna lagi. Huhh ucapan mbak Mirna
selalu membuatku salah tingkah.
***
Kini
aku dan teman-teman sudah berada di ruang kelas baru. Ruang kelas XI IPA 1
dengan personil yang masih utuh. Itu tandanya aku masih sekelas dengan Putra.
Semakin hari, aku semakin dekat dengan Putra. Akhirnya perasaan cinta itupun
tumbuh. Tapi aku nggak tahu apakah Putra juga punya perasaan yang sama.
“Eh Sin, kertas apaan
tuh?” tanya Rina sambil menunjuk kertas HVS yang ada di atas mejaku.
Kubuka kertas itu, dan
kubaca isinya. Tulisan tersebut diketik, jadi aku tidak bisa mengetahui siapa
penulisnya.
Dear Sinta
Lama
aku menunggumu, tapi kau tak pernah tahu isi hatiku. Apa aku harus bilang
kepadamu secara langsung? Please Sin, jaga selalu hatimu untukku
Boy
Boy?
Siapa dia? Perasaan di sekolahku tidak ada yang namanya Boy. Huh seandainya
ditulis tangan, mungkin aku bisa dengan mudah menemukan pengirimnya, karena aku
hampir hafal semua tulisan teman-temanku.
“Dari
siapa Sin? Penggemar rahasia ya? Cie..” kata Rina sambil cengengesan.
“Entahlah..”
jawabku santai.
***
Setiap
pagi, aku selalu mendapatkan surat serupa. Semua itu menimbulkan rasa
penasaranku.
“Echm
Sin, lagi ngapain? Sendirian aja nih..” tanya Putra, aku masih duduk memandangi
surat yang kupegang dari tadi.
“Nggak
ngapa-ngapain kok..” jawabku sambil memasukkan kertas surat tersebut ke dalam
tas.
“Masih
galau tentang Anto?” tanyanya ragu-ragu.
“Ya
gimana ya.. aku nggak bisa bohong sama perasaanku sendiri, emang kenapa sih?”
tanyaku balik.
“Echm..
enggak, aku sama Anto gantengan Anto ya... hahaha”
“Bercandanya
nggak lucu tauk.. emang ada masalah apa sich kamu sama Anto?”
“Sebenarnya,
aku suka sama salah satu fansnya Anto, tapi ternyata sulit untukku menghapus
nama Anto dari hatinya.. Akhirnya aku sadar, kalau aku itu kalah jauh sama
Anto, aku nggak ada apa-apanya di banding Anto..” cerita Putra. Aku langsung
teringat sesuatu. Iya, Putra disukai sama seniorku. Aku langsung menghiburnya.
“Bukannya
kamu juga punya fans ya? Itu kakak kelas XII yang hampir setiap kamu lewat di depannya,
dia selalu salting.. dia cocok kok sama kamu.. sama-sama alim..” terangku.
Sebenarnya aku sakit untuk mengatakan itu.
“Tapi
dia tidak bisa menggantikan bidadariku di hati ini..” jawabnya dengan tegas
sambil menunjuk dadanya.
“Widihhh
bahasanya tingkat dewi, emang siapa sich bidadarimu?” tanyaku sambil tertawa.
“Ada
deh.. pokoknya nanti kamu bakalan tahu sendiri.. hehehe” jawabnya sambil
terkekeh.
“Bikin
penasaran aja deh..” ucapku sesaat sebelum bel masuk kelas.
***
“Adi,
pinjem laptop dong.. aku lupa nggak bawa..” pintaku pada Adi, teman semeja
Putra.
“Lagi
dipinjem Anto, noh punya Putra nganggur.. pinjem dulu aja, nanti aku bilangin,
orangnya lagi ada urusan sama ketua OSIS.” Kata Adi sambil mengunyah keripik
singkong.
“Echm..
oke aku ambil ya..” kataku sambil mengambil laptop Putra.
Aku
segera memasangkan flashdiskku untuk mengubah proposal kegiatan yang akan
kukerjakan. Tak sengaja, aku membuka folder kepunyaan Putra. Aneh, nama folder
tersebut “SPM” seperti inisial namaku ‘Sinta Putri Maharani’. Karena penasaran
aku pun membukanya. Sebelum Putra datang, aku segera mencopy folder beserta
file-filenya tersebut ke flashdiskku. Aku tidak jadi mengerjakan proposalku.
“Sin,
nanti pulang sekolah kamu langsung kemana?” tanya Putra setelah bel masuk
berbunyi.
“Langsung
pulang aja Put, soalnya mau ngerjain proposal buat kegiatan bulan besok itu.”
Jawabku.
“Echm..
echm.. ciee Putra sama Sinta.. sekarang deket banget..” celetuk Rina.
“La
kan temen, udah ah, Pak Muji udah dateng tuh..” elakku.
Sesampainya
di rumah, aku segera teringat folder SPM milik Putra. Aku bergegas mengambil
laptop dan memasangkan flashdisk. Kulihat file demi file. File paling atas
bernama ‘Aku dan Dia’ berisi fotoku bersama Putra waktu hari ulang tahun
sekolah. File kedua bernama ‘Bidadariku’. Spontan aku langsung membuka file
tersebut karena penasaran sejak dulu. Aku terbelalak, file tersebut isinya
foto-fotoku. Banyak sekali, hampir 300 foto.
“Jadi
selama ini, bidadarinya Putra itu aku..” gumamku.
Karena
masih penasaran, aku membuka file terakhir, berisi kata-kata yang pernah kubaca
sebelumnya. Ternyata Boy selama ini adalah Putra, ya ampun bodohnya aku...
***
Hari
ini aku berangkat lebih pagi dari biasanya. Niatku ingin menangkap basah Putra.
Akan tetapi Putra belum datang. “Tumben dia belum dateng” gumamku.
Untuk
mengisi waktu sepiku, aku ke kantin mbak Mirna. Entah kenapa di cuaca sepagi
ini aku ingin makan es krim sirsak variasi. Akhir-akhir ini, aku sering makan
es krim ini bersama Putra. Aku dan Putra juga pernah melihat cara membuatnya
dan pernah juga belajar membuatnya dengan mbak Mirna.
Aku
kembali ke kelas 5 menit sebelum bel. Akan tetapi kulihat Putra belum datang
juga.
“Putra
kemana? Kok belum dateng?” tanyaku pada Rina.
“Ya
ampun Sinta.. kamu nggak tau atau pura-pura nggak tau sich?” teriak Rina sampai
kupingku terasa berdenging.
“Ya
biasa aja lagi.. nggak usah treak-treak juga.. emang kenapa sich?” tanyaku
sambil masih menutup kupingku.
“Kemarin
kan Putra kecelakaan, masa kamu beneran nggak tau..”
“Hah?
Kok bisa? Trus keadaannya gimana? Nggak apa-apakan?”
“Satu-satu
woyy nanyanya.. hahaha khawatir ya.. tenang aja dianya nggak apa-apa, katanya
juga udah operasi..” jawab Rina semakin membuatku bingung.
“Operasi
apaan?” tanyaku lagi.
“Operasi
Usus Buntu.. ya aku belum taulah.. emangnya aku emaknya Putra apa? Ya kalau mau
tau nanti ikut ngejenguk Putra aja..” jawab Rina sekenanya.
***
Sepulang
sekolah, rombongan yang ingin menjenguk Putra pun telah berkumpul. Kulihat juga
kakak kelas XII yang suka sama Putra.
Sesampainya
di rumah Putra, Kak Rena, kakak kelas XII yang menyukai Putra itu sangat
khawatir dengan keadaan Putra. Aku melihat Putra hanya lecet-lecet. Operasi
yang di maksud Rina nggak tau operasi apaan. Putranya aja cuma lecet-lecet.
Seakan tidak ada celah bagiku untuk ngobrol dengan Putra, bahkan untuk menyapa
Putra pun kayanya tidak diberi kesempatan oleh fans-fans Putra. Aku merasakan
kehilangan untuk kedua kalinya.
Ketika
rombongan mau pulang, aku baru sempat menyapa Putra.
“Gimana
Put? Baik-baik aja kan? Cepet sembuh ya.. aku pamit pulang dulu..” pamitku pada
Putra.
“Echm,
iya nggak apa-apa, jangan khawatir, besok aku sudah sekolah kok..” katanya
sambil tersenyum kepadaku. Senyuman itu.. Selalu membuatku merasa tenang.
***
Hari
ini aku ke sekolah membawa es krim sirsak variasi buatanku sendiri. Aku ingin
Putra yang menyicipinya pertama kali.
“Udah
sembuh Put?” tanyaku ketika Putra masuk ke kelas. Hari memang masih pagi,
biasanya yang datang sepagi ini memang hanya aku dan Putra.
“Sudah..”
jawabnya sambil tersenyum.
“Ke
taman yuk.. aku punya sesuatu..” ajakku.
Di
taman aku memberikan es krim buatanku ke Putra.
“Gimana
Put rasanya?” tanyaku. Takut tidak enak.
“Echm,
kamu bakat juga ya jadi koki, tapi kok rasa variasinya beda ya sama punyanya
mbak Mirna?” tanyanya heran. Aku tersenyum kecil.
“Ya
jelas bedalah.. kan itu resepnya aku sendiri yang buat..”
“Kamu
tambahin rasa apa?” tanya Putra lagi.
“Banyak
sich hehehe, tapi yang jelas rasa cinta.. wkwkwk” jawabku sambil tertawa.
“Bisaan
aja kamu.. hahaha” kata Putra sambil ikutan tertawa.
“Echm,
Put, jadi Boy selama ini kamu ya?” tanyaku yang mebuat Putra batuk-batuk.
“Echm..
eh.. anu.. eh..” kata Putra dengan gagap.
“Udah
jujur aja.. nggak apa-apa kok..” sambungku.
“Kok
kamu bisa tau?” tanya Putra. Aku tersenyum, berarti memang benar kalau Boy itu
Putra.
“Aku
tau pas aku minjem laptop kamu waktu itu, trus aku nggak sengaja ngebuka folder
kamu yang namanya SPM trus ternyata banyak foto-foto aku, sama kata-kata Boy
yang pernah aku baca.” Jelasku. Putra menunduk, aku bingung, takut aku salah
melakukan itu. Memang aku kedengarannya tidak sopan membuka file-file orang lain.
Tapi itu tentang diriku sendiri, jadi kurasa Putra yang salah.
“Maafkan
aku Sin.. mungkin aku salah mengambil foto kamu diam-diam, tapi hanya itu yang
bisa aku lakukan. Aku sakit ketika aku harus bersaing dengan Anto, aku sakit
ketika melihatmu bersedih gara-gara Anto..”
“Makasih
buat perhatian kamu Put... aku juga udah janji, bakalan jaga hatiku buat Boy..”
kataku sambil tersenyum. Putra juga ikut tersenyum.
“Makasih
Sin..” ucap Putra sambil meneruskan menikmati es krim sirsak variasi.
Cinta itu terkadang
manis.. seperti es krim sirsak variasi ini..
*** ---***Selesai***---***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar