MY HOME

MY HOME

Kamis, 12 Maret 2015

Misteri Masa Lalumu



Misteri Masa Lalumu
Ketika senja mulai menyapa, burung burung gereja beterbangan dari atap rumah ke dahan-dahan pohon atau sebaliknya. Suasana sore ini terasa sunyi dari biasanya. Aku melemas-lemaskan kakiku yang terasa ngilu. Sejenak kupandangi setangkai bunga mawar merah di meja belajarku. Teringat setiap kenangan dari bunga mawar itu. Bunga yang mungkin kalau dipandangi sudah terlalu kumal. Beruntung bunga tersebut terbuat dari plastik. Kalau bunga asli mungkin sudah layu bahkan sudah tidak berbentuk bunga lagi sekarang. Mengingat bunga tersebut aku dapatkan sekitar sepuluh tahun lalu.
“Azizah.. kamu beneran mau pindah?” tanya Nata. “Iya, besok aku sama ayah dan  ibu mau pindah ke rumah nenekku yang ada di Surabaya..” jawabku dengan nada sedih. “Aku sedih.. nanti aku main sama siapa? Terus bakalan jarang dong ketemu kamu.. Surabaya dan Jakarta kan jaraknya jauh..” Nata bercerita dengan nada sedih. Akupun ikut sedih, aku baru teringat kalau aku satu-satunya teman akrab Nata. “Ya nanti kalau udah gedhe, kamu main ke Surabaya naik pesawat ya..” hiburku agar Nata tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
Keesokan harinya ketika aku mau berangkat ke Bandara. Nata ke rumahku dengan membawa setangkai bunga mawar merah. “Ini kenang-kenangan dariku Zi, ini aku ambil dari vas bunga bunda. Semoga kamu tidak melupakanku..” kata Nata sambil memelukku. Aku tidak bisa menahan buliran-buliran air mata yang berlomba-lomba jatuh dari kelopak mataku.
 Tiga bulan lalu, aku ke rumah nenek yang di Jakarta. Aku mampir ke rumah Nata. Ternyata rumah Nata tidak berpenghuni. Ketika aku bertanya pada nenek, nenek menjawab kalau Nata dan keluarganya telah pindah entah kemana. Aku sedih, aku mencoba bertanya sama tetangga dekat Nata. Ada yang bilang kalau Nata pindah keluar negeri. Ada juga yang bilang kalau Nata hanya pindah ke luar kota. Ketika kutanyakan sebab kepindahan Nata, hampir semua yang kutanya memiliki argumen yang sama. Mereka menjawab kalau Nata depresi gara-gara pacarnya meninggal karena kecelakaan waktu bersamanya. Pacar? Aku selama ini menunggu Nata dengan segenap kesetiaanku. Tapi ternyata Nata sudah pernah memiliki pacar, dan itu bukan aku. Hancur sudah semua harapanku. Tapi sekarang Nata dimana? Apakah dia terlalu cinta dengan pacarnya tersebut sehingga dia sampai mengalami depresi berat? Kulangkahkan kakiku dengan lunglai kembali ke rumah nenek.
Sampai saat ini Nata masih ada dihatiku. Tapi entah mengapa tadi pagi aku melihat seseorang dan jantungku berdegup sangat kencang. Dan ternyata cowok itu sekelas denganku. Alvin namanya. Hidungnya mancung, matanya sipit, mirip sama Nata waktu kecil. Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah di SMA. Aku berusaha sedikit demi sedikit melupakan Nata. Ketika season perkenalan, hampir sekelas aku sudah tahu namanya. Ketika aku berbasa-basi untuk berkenalan dengan Alvin, salah satu temanku mencegahku. “Jangan deket-deket dia, dia anaknya cuek, nyebelin banget deh..” tapi aku tidak menghiraukan kata-kata temanku.
Setapak demi setapak kulangkahkan kakiku mendekati Alvin. “Echm, boleh duduk disini nggak?” tanyaku sambil menunjuk tempat duduk di sebelah Alvin. “Silahkan” jawab Alvin dengan ekspresi datar. “Oh ya, namaku Sivia A...” belum sempat aku meneruskan nama lengkapku, Alvin telah menimpali. “Udah tau, aku Alvin” jawabnya sambil ngeloyor pergi meninggalkanku. Oh Tuhan.. ternyata benar kata temanku tadi, Alvin sungguhlah sangat cuek.
Setiap hari aku selalu mengamati tingkah laku Alvin. Dia seperti tidak bisa akrab dengan teman-teman sekelas. Bahkan dia duduk sendiri di bangku paling belakang. Aku bertanya pada teman seSMPnya. Ternyata Alvin pindahan dari Jakarta ketika memasuki semester dua kelas IX. “Dia waktu SMP juga seperti ini.. seperti tidak kenal sama temannya sendiri. Bahkan ketika ada lawan jenis mendekati, dia selalu membentak-bentak” kata teman SMP Alvin. Tidak ada yang tahu masa lalu Alvin.
Tapi kenapa aku bisa suka sama Alvin? Semoga saja ini hanyalah sementara. Kalaupun memang tidak dapat terpungkiri bahwa perasaan itu benar-benar ada, aku akan berusaha menghapusnya. Itupun kalau Alvin benar-benar tidak mau mengenalku.
Pelajaran yang paling kubenci akhirnya tiba. FISIKA, itu yang selalu membuatku ketakutan berangkat sekolah kalau hari sabtu. Mengapa aku harus masuk IPA? Sehingga aku harus bertemu dengan mata pelajaran paling spektakuler hebatnya dalam membuat aku pusing. Pelajaran hari ini mengerjakan soal secara kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 2 orang. Alvinlah yang menjadi partnerku. Kugunakan kesempatan ini untuk mengeruk informasi tentangnya sebanyak mungkin.
“Huah fisika.. bikin pusing aja..” kataku sambil memainkan pensil. “Kata siapa?” tanya Alvin. ‘Tumben’ pikirku. “Kataku barusan.. gak kedengeran apa?” jawabku dengan nada sewot. Sebenarnya ini bukan sifat asliku. Aku hanya ingin mengetes Alvin, bagaimana kalau digituin seperti yang dilakukannya kepada teman-teman. “Ya biasa aja kale jawabnya..” seru Alvin yang membuatku kaget. Alvin berkata seperti itu sambil tersenyum kecil. Aku heran, la kok bisa Alvin tersenyum? Biasanya kan muka datar terus. Tapi ngomong-ngomong ganteng banget kalau tersenyum. “Terus ini caranya gimana?” tanyaku masih dengan nada jutek. Alvin menggeser tempat duduknya lebih mendekat ke sampingku. Dia menjelaskan setiap rumus-rumus dari soal-soal yang kami kerjakan dengan suara lembut. Aku semakin terpesona. Dan ternyata aku lebih paham kalau Alvin yang menjelaskan. Mungkin karena aku memperhatikan setiap penjelasannya dengan sepenuh hati. Tidak seperti kalau dijelaskan guru, acuh tak acuh.
Alvin ternyata tidak seburuk yang kupikirkan, dia asyik juga orangnya. Satu-satunya orang di kelasku yang bisa dekat dengan Alvin adalah aku. Ya walaupun cueknya juga sering kambuh, tapi aku bahagia.
Suatu hari, aku mendengarkan Alvin bernyanyi sambil memainkan gitar di belakang lab. Komputer. Karena dalam kurikulum 2013 tidak ada pelajaran TIK maka lab komputerpun sudah lama jarang dikunjungi orang. Aku tidak sengaja melihatnya ketika melintasi samping lab komputer.
Tak kan pernah habis air mataku
Bila kuingat tentang dirimu..
Mungkin hanya kau yang tau
Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri
Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita kini ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu berputar kan kutunggu dirimu
Biarlah kusimpan sampai nanti aku
Kan ada disana tenanglah dirimu dalam kedamaian
Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi..

            Suara  Alvin sangat menyayat hati, aku sampai meneteskan airmata ketika mendengarnya. Ketika kulihat ke Alvin, ternyata dia menyanyi sambil menangis. Ada apa dengan Alvin? Ada apa dengan lagu itu? Apakah ada hubungannya dengan masalalu Alvin? Semua pertanyaan seperti menghantuiku. Aku tetap terpaku di samping lab. Komputer, tanpa kusadari kalau Alvin telah pergi entah kemana.
            Malam ini, terasa sulit untuk memejamkan mata. Aku masih memikirkan Alvin dan lagunya tadi. Apakah sudah ada cewek lain yang ada di hati Alvin? Sungguh perasaan bingung kini menyelimutiku. Kuputuskan untuk membuka laptop dan masuk ke facebook. Kubuka beranda, dan tepat status paling atas yang muncul adalah statusnya Alvin.
            Alvin JS
HBD Adinda :’(
            Adinda? Siapa dia? Seketika semua impianku hancur berkeping-keping. Segini dalamkah rasa cintaku ke Alvin? Aku memutuskan untuk menulis sebuah status.
            Sivia A. Zahrani
Maaf untuk selama ini, maaf karena aku diam-diam suka sama kamu. Tapi mungkin sekarang aku harus mulai menghilangkan perasaan ini. Semoga kamu bahagia dengannya.
            Aku segera menyudahi acara facebookanku, aku sudah tidak tahan berlama-lama lagi facebookan. Hal yang paling mujarab untuk mengurangi kemelut hatiku saat ini adalah dengan beranjak tidur. ‘Semoga besok aku sudah lupa dengan Alvin’ pikirku.
            Meskipun aku berniat untuk melupakan Alvin, aku malah merasa penasaran tentang masalalu Alvin. Kini aku telah berdiri di depan pagar rumah Alvin. Kuketuk pintu pagar, dan keluarlah seorang wanita separuh baya dengan pakaian lusuh. Langsung kuketahui bahwa beliau adalah pembantu di rumah Alvin.
“Nyari siapa Non?” tanya bibi itu dengan sopan.
 “Apa benar ini rumah Alvin bi?” tanyaku. ‘Sebaiknya aku tanya-tanya sama bibi ini saja’ pikirku.
“Iya betul, temannya Den Alvin ya? Sebentar saya panggilkan Den Alvinnya.” Kata bibi itu. Aku segera mencegahnya.
“Nggak usah bi, mau tanya-tanya sama bibi aja.. Kalau boleh tau, Alvin kenapa sich kok kayanya nggak bisa akrab gitu sama temen?”
“Oh itu karena Den Alvin nggak mau nyakitin temen-temennya..” Nyakitin? Aku langsung teringat sinetron dan lanjut tanya-tanya.
“Emang Alvin pernah nyakitin temennya bi? Tolong bi, aku butuh banget penjelasan tentang Alvin, ini menyangkut perasaan bi..” kataku memohon-mohon.
“Yang saya tahu Den Alvin pernah kecelakaan bersama pacarnya dan pacarnya meninggal. Dan sejak saat itu pula Den Alvin kaya nggak kenal dengan yang namanya Cinta. Karena Den Alvin sangat mencintai pacarnya tersebut...” belum selesai bibi cerita, sudah ada yang memanggil dari dalam rumah. Aku segera pamit dan memberitahu bibi agar merahasiakan kedatanganku.
            Oh ternyata begitu masalalu Alvin.. aku menuju balkon rumah sambil menikmati cahaya bulan yang sangat terang. Aku duduk di kursi santai sambil memikirkan informasi yang kuperoleh tadi. Aku tersentak ketika mengingat informasi dari bibi. Kecelakaan bersama pacar hingga pacarnya meninggal? Kok aku seperti pernah mendengar cerita itu ya? Kuingat-ingat dan akhirnya “Nata kan dulu juga pernah kecelakaan bersama pacarnya hingga pacarnya meninggal.. kok bisa sama ya?” Kini perasaan bingung kembali menyelimutiku. Alvin juga pindahan dari Jakarta, apakah Alvin itu Nata? Kok kalau Alvin itu Nata, dia tidak mengenaliku..
            Hari ini aku pergi ke sekolah masih dengan kekacauan semalam. Aku tidak konsen ngapa-ngapain. Sampai-sampai jalan ramai sekalipun aku tidak terlalu memperhatikan. Ada sepeda motor melintas di depanku, tapi secepat kilat ada yang menarikku aku jatuh terduduk kepalaku membentur kursi dan orang itu jatuh terpenlanting membentur dinding  toko samping sekolahku. Aku segera bangun dan memastikan siapa yang  menolongku. Ternyata Alvin. Aku segera menghampirinya dengan air mata rasa bersalahku. “Alvin... sadar Vin..” kataku sambil menangis. Darah bercucuran dari kepalanya. Banyak orang yang mengerumuni dan menolong Alvin. Setelah Alvin dimasukkan ke dalam mobil dan akan dibawa ke rumah sakit, aku pingsan.
            Setelah aku sadar, aku merasa berada di ruang yang dipenuhi bau obat-obatan. Sudah ada ayah dan ibuku. Aku segera teringat Alvin. Sebenarnya ibuku melarang, karena akibat benturan tadi aku syok, setelah aku merengek-rengek akhirnya diijinkan. Aku melihat ke ruang ICU, disitu terbaring orang yang aku cintai dengan muka pucat pasi dan balutan perban di kepala. Lagi-lagi aku hanya bisa menangis. Akulah yang menyebabkan Alvin seperti itu. Akulah yang bersalah dalam kasus ini. Mungkin kalau Alvin meninggal, akulah yang pertama menjadi tersangka. Akan tetapi aku ingin selalu bersama Alvin. Aku tidak ingin berpisah sedetikpun dari Alvin. Setelah kehilangan Nata, aku tidak mau kehilangan Alvin pula. Kurasakan sentuhan tangan di pundakku. Dengan segera aku memalingkan wajahku. Aku terkejut. Ada Tante Anita dan Om Suryo, ayah dan ibunya Nata. Ada apa ini? Mengapa mereka ada disini? Mana Nata?
penjelasan dari Tante Anita. “Bisa dimulai Tan ceritanya?” tanyaku sudah tidak sabar. “Iya, dulu waktu kelas enam, Nata mengalami amnesia parah akibat kecelakaan bersama Om dan Tante ketika mau berangkat sekolah. Sampai-sampai harus dirawat di rumah sakit selama berbulan-bulan. Ketika masuk SMP, teman-temannya memanggilnya Alvin, dan di rumahpun kami memanggilnya Alvin. Ketika kelas tiga SMP, dia mulai mengenal yang namanya pacaran. Dan pacarnya itu bernama...” belum selesai Tante Anita bercerita, aku mencoba menebaknya. “Adinda, dan Adinda meninggal akibat kecelakaan waktu bersamanya Tan?” kataku yang disambut anggukan oleh Tante Anita. “Sebenarnya, kecelakaan Adinda tidak murni disebabkan oleh Nata. Adinda meninggal karena dia tertimpa balok ketika berjalan bersama Nata melintasi sebuah toko yang sedang di bangun. Dan ternyata Adinda juga mengidap penyakit Kanker Otak stadium lanjut.” Kata Tante Anita mengakhiri ceritanya. Kepalaku panas kembali. Tuhan, sandiwara apa ini? Jadi selama ini Alvin itu Nata? Teman kecilku yang ceria, dan yang telah menghantuiku selama ini..
            Kini aku telah berada di samping Nata, pangeran kecilku. Yang tergolek lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit dengan alat-alat kesehatan yang membelit tubuhnya. “Jadi nama lengkap kamu Alvin Jonathan Sindunata? Bodohnya aku selama ini tidak pernah tau itu..” kataku sambil mengamati Alvin. “A.. zi.. zah..” kata Alvin terbata-bata. Aku tersentak sekaligus gembira karena ingatan Alvin telah sembuh, dan nama yang pertama kali disebut itu namaku. “Iya Nat.. aku disini, kamu cepat sembuh ya..” kataku seraya mendekatinya. Alvin mencoba membuka matanya dan memandangiku sambil tersenyum.
            Hari-hari berganti lebih ceria daripada dulu. Kini kulalui bersama Alvin. Bukan Nata lagi. “Jadi kamu baru tau kalau namaku Alvin Jonathan Sindunata sehingga bisa di panggil Nata?” ledek Alvin. “Ih kayak kamu udah tau nama lengkapku aja pake ngledek.” Cibirku. “Aku tau, namamu Sivia Azizah Zahrani kan?” katanya bangga. “Baru tau tadi pagi aja bangga” sahutku sambil memeletkan lidahku. “yayaya sekarang tidak ada lagi Nata dan Azizah, yang ada Alvin dan Sivia, Sivia, would you be my princess?” kata Alvin sambil memberikan sebuah cincin untukku. “Echm, yes.. i will..” jawabku, seketika Alvin langsung memelukku.

~Selesai~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar