Misteri
Masa Lalumu
Ketika
senja mulai menyapa, burung burung gereja beterbangan dari atap rumah ke
dahan-dahan pohon atau sebaliknya. Suasana sore ini terasa sunyi dari biasanya.
Aku melemas-lemaskan kakiku yang terasa ngilu. Sejenak kupandangi setangkai
bunga mawar merah di meja belajarku. Teringat setiap kenangan dari bunga mawar
itu. Bunga yang mungkin kalau dipandangi sudah terlalu kumal. Beruntung bunga
tersebut terbuat dari plastik. Kalau bunga asli mungkin sudah layu bahkan sudah
tidak berbentuk bunga lagi sekarang. Mengingat bunga tersebut aku dapatkan
sekitar sepuluh tahun lalu.
“Azizah.. kamu beneran
mau pindah?” tanya Nata. “Iya, besok aku sama ayah dan ibu mau pindah ke rumah nenekku yang ada di
Surabaya..” jawabku dengan nada sedih. “Aku sedih.. nanti aku main sama siapa? Terus
bakalan jarang dong ketemu kamu.. Surabaya dan Jakarta kan jaraknya jauh..”
Nata bercerita dengan nada sedih. Akupun ikut sedih, aku baru teringat kalau
aku satu-satunya teman akrab Nata. “Ya nanti kalau udah gedhe, kamu main ke
Surabaya naik pesawat ya..” hiburku agar Nata tidak berlarut-larut dalam
kesedihan.
Keesokan
harinya ketika aku mau berangkat ke Bandara. Nata ke rumahku dengan membawa
setangkai bunga mawar merah. “Ini kenang-kenangan dariku Zi, ini aku ambil dari
vas bunga bunda. Semoga kamu tidak melupakanku..” kata Nata sambil memelukku.
Aku tidak bisa menahan buliran-buliran air mata yang berlomba-lomba jatuh dari
kelopak mataku.
Tiga bulan lalu, aku ke rumah nenek yang di
Jakarta. Aku mampir ke rumah Nata. Ternyata rumah Nata tidak berpenghuni.
Ketika aku bertanya pada nenek, nenek menjawab kalau Nata dan keluarganya telah
pindah entah kemana. Aku sedih, aku mencoba bertanya sama tetangga dekat Nata.
Ada yang bilang kalau Nata pindah keluar negeri. Ada juga yang bilang kalau
Nata hanya pindah ke luar kota. Ketika kutanyakan sebab kepindahan Nata, hampir
semua yang kutanya memiliki argumen yang sama. Mereka menjawab kalau Nata
depresi gara-gara pacarnya meninggal karena kecelakaan waktu bersamanya. Pacar?
Aku selama ini menunggu Nata dengan segenap kesetiaanku. Tapi ternyata Nata
sudah pernah memiliki pacar, dan itu bukan aku. Hancur sudah semua harapanku.
Tapi sekarang Nata dimana? Apakah dia terlalu cinta dengan pacarnya tersebut
sehingga dia sampai mengalami depresi berat? Kulangkahkan kakiku dengan lunglai
kembali ke rumah nenek.
Sampai saat ini Nata
masih ada dihatiku. Tapi entah mengapa tadi pagi aku melihat seseorang dan
jantungku berdegup sangat kencang. Dan ternyata cowok itu sekelas denganku.
Alvin namanya. Hidungnya mancung, matanya sipit, mirip sama Nata waktu kecil.
Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah di SMA. Aku berusaha sedikit
demi sedikit melupakan Nata. Ketika season perkenalan, hampir sekelas aku sudah
tahu namanya. Ketika aku berbasa-basi untuk berkenalan dengan Alvin, salah satu
temanku mencegahku. “Jangan deket-deket dia, dia anaknya cuek, nyebelin banget
deh..” tapi aku tidak menghiraukan kata-kata temanku.
Setapak demi setapak
kulangkahkan kakiku mendekati Alvin. “Echm, boleh duduk disini nggak?” tanyaku
sambil menunjuk tempat duduk di sebelah Alvin. “Silahkan” jawab Alvin dengan
ekspresi datar. “Oh ya, namaku Sivia A...” belum sempat aku meneruskan nama
lengkapku, Alvin telah menimpali. “Udah tau, aku Alvin” jawabnya sambil ngeloyor
pergi meninggalkanku. Oh Tuhan.. ternyata benar kata temanku tadi, Alvin
sungguhlah sangat cuek.
Setiap hari aku selalu
mengamati tingkah laku Alvin. Dia seperti tidak bisa akrab dengan teman-teman
sekelas. Bahkan dia duduk sendiri di bangku paling belakang. Aku bertanya pada
teman seSMPnya. Ternyata Alvin pindahan dari Jakarta ketika memasuki semester
dua kelas IX. “Dia waktu SMP juga seperti ini.. seperti tidak kenal sama
temannya sendiri. Bahkan ketika ada lawan jenis mendekati, dia selalu membentak-bentak”
kata teman SMP Alvin. Tidak ada yang tahu masa lalu Alvin.
Tapi kenapa aku bisa
suka sama Alvin? Semoga saja ini hanyalah sementara. Kalaupun memang tidak
dapat terpungkiri bahwa perasaan itu benar-benar ada, aku akan berusaha
menghapusnya. Itupun kalau Alvin benar-benar tidak mau mengenalku.
Pelajaran yang paling
kubenci akhirnya tiba. FISIKA, itu yang selalu membuatku ketakutan berangkat
sekolah kalau hari sabtu. Mengapa aku harus masuk IPA? Sehingga aku harus
bertemu dengan mata pelajaran paling spektakuler hebatnya dalam membuat aku
pusing. Pelajaran hari ini mengerjakan soal secara kelompok. Setiap kelompok
terdiri dari 2 orang. Alvinlah yang menjadi partnerku. Kugunakan kesempatan ini
untuk mengeruk informasi tentangnya sebanyak mungkin.
“Huah fisika.. bikin
pusing aja..” kataku sambil memainkan pensil. “Kata siapa?” tanya Alvin.
‘Tumben’ pikirku. “Kataku barusan.. gak kedengeran apa?” jawabku dengan nada
sewot. Sebenarnya ini bukan sifat asliku. Aku hanya ingin mengetes Alvin,
bagaimana kalau digituin seperti yang dilakukannya kepada teman-teman. “Ya
biasa aja kale jawabnya..” seru Alvin yang membuatku kaget. Alvin berkata
seperti itu sambil tersenyum kecil. Aku heran, la kok bisa Alvin tersenyum?
Biasanya kan muka datar terus. Tapi ngomong-ngomong ganteng banget kalau
tersenyum. “Terus ini caranya gimana?” tanyaku masih dengan nada jutek. Alvin
menggeser tempat duduknya lebih mendekat ke sampingku. Dia menjelaskan setiap
rumus-rumus dari soal-soal yang kami kerjakan dengan suara lembut. Aku semakin
terpesona. Dan ternyata aku lebih paham kalau Alvin yang menjelaskan. Mungkin
karena aku memperhatikan setiap penjelasannya dengan sepenuh hati. Tidak
seperti kalau dijelaskan guru, acuh tak acuh.
Alvin ternyata tidak
seburuk yang kupikirkan, dia asyik juga orangnya. Satu-satunya orang di kelasku
yang bisa dekat dengan Alvin adalah aku. Ya walaupun cueknya juga sering
kambuh, tapi aku bahagia.
Suatu hari, aku mendengarkan
Alvin bernyanyi sambil memainkan gitar di belakang lab. Komputer. Karena dalam
kurikulum 2013 tidak ada pelajaran TIK maka lab komputerpun sudah lama jarang
dikunjungi orang. Aku tidak sengaja melihatnya ketika melintasi samping lab
komputer.
Tak kan pernah habis
air mataku
Bila kuingat tentang
dirimu..
Mungkin hanya kau yang
tau
Mengapa sampai saat ini
ku masih sendiri
Adakah disana kau rindu
padaku
Meski kita kini ada di
dunia berbeda
Bila masih mungkin
waktu berputar kan kutunggu dirimu
Biarlah kusimpan sampai
nanti aku
Kan ada disana
tenanglah dirimu dalam kedamaian
Ingatlah cintaku kau
tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi..
Suara Alvin sangat menyayat hati, aku sampai
meneteskan airmata ketika mendengarnya. Ketika kulihat ke Alvin, ternyata dia
menyanyi sambil menangis. Ada apa dengan Alvin? Ada apa dengan lagu itu? Apakah
ada hubungannya dengan masalalu Alvin? Semua pertanyaan seperti menghantuiku.
Aku tetap terpaku di samping lab. Komputer, tanpa kusadari kalau Alvin telah
pergi entah kemana.
Malam
ini, terasa sulit untuk memejamkan mata. Aku masih memikirkan Alvin dan lagunya
tadi. Apakah sudah ada cewek lain yang ada di hati Alvin? Sungguh perasaan
bingung kini menyelimutiku. Kuputuskan untuk membuka laptop dan masuk ke
facebook. Kubuka beranda, dan tepat status paling atas yang muncul adalah
statusnya Alvin.
Alvin
JS
HBD Adinda :’(
Adinda?
Siapa dia? Seketika semua impianku hancur berkeping-keping. Segini dalamkah
rasa cintaku ke Alvin? Aku memutuskan untuk menulis sebuah status.
Sivia
A. Zahrani
Maaf untuk selama ini, maaf karena aku diam-diam
suka sama kamu. Tapi mungkin sekarang aku harus mulai menghilangkan perasaan
ini. Semoga kamu bahagia dengannya.
Aku
segera menyudahi acara facebookanku, aku sudah tidak tahan berlama-lama lagi
facebookan. Hal yang paling mujarab untuk mengurangi kemelut hatiku saat ini
adalah dengan beranjak tidur. ‘Semoga
besok aku sudah lupa dengan Alvin’ pikirku.
Meskipun
aku berniat untuk melupakan Alvin, aku malah merasa penasaran tentang masalalu
Alvin. Kini aku telah berdiri di depan pagar rumah Alvin. Kuketuk pintu pagar,
dan keluarlah seorang wanita separuh baya dengan pakaian lusuh. Langsung
kuketahui bahwa beliau adalah pembantu di rumah Alvin.
“Nyari siapa Non?”
tanya bibi itu dengan sopan.
“Apa benar ini rumah Alvin bi?” tanyaku.
‘Sebaiknya aku tanya-tanya sama bibi ini saja’ pikirku.
“Iya betul, temannya
Den Alvin ya? Sebentar saya panggilkan Den Alvinnya.” Kata bibi itu. Aku segera
mencegahnya.
“Nggak usah bi, mau
tanya-tanya sama bibi aja.. Kalau boleh tau, Alvin kenapa sich kok kayanya
nggak bisa akrab gitu sama temen?”
“Oh itu karena Den
Alvin nggak mau nyakitin temen-temennya..” Nyakitin? Aku langsung teringat
sinetron dan lanjut tanya-tanya.
“Emang Alvin pernah
nyakitin temennya bi? Tolong bi, aku butuh banget penjelasan tentang Alvin, ini
menyangkut perasaan bi..” kataku memohon-mohon.
“Yang saya tahu Den
Alvin pernah kecelakaan bersama pacarnya dan pacarnya meninggal. Dan sejak saat
itu pula Den Alvin kaya nggak kenal dengan yang namanya Cinta. Karena Den Alvin
sangat mencintai pacarnya tersebut...” belum selesai bibi cerita, sudah ada
yang memanggil dari dalam rumah. Aku segera pamit dan memberitahu bibi agar
merahasiakan kedatanganku.
Oh
ternyata begitu masalalu Alvin.. aku menuju balkon rumah sambil menikmati
cahaya bulan yang sangat terang. Aku duduk di kursi santai sambil memikirkan
informasi yang kuperoleh tadi. Aku tersentak ketika mengingat informasi dari
bibi. Kecelakaan bersama pacar hingga pacarnya meninggal? Kok aku seperti
pernah mendengar cerita itu ya? Kuingat-ingat dan akhirnya “Nata kan dulu juga
pernah kecelakaan bersama pacarnya hingga pacarnya meninggal.. kok bisa sama
ya?” Kini perasaan bingung kembali menyelimutiku. Alvin juga pindahan dari
Jakarta, apakah Alvin itu Nata? Kok kalau Alvin itu Nata, dia tidak
mengenaliku..
Hari
ini aku pergi ke sekolah masih dengan kekacauan semalam. Aku tidak konsen
ngapa-ngapain. Sampai-sampai jalan ramai sekalipun aku tidak terlalu memperhatikan.
Ada sepeda motor melintas di depanku, tapi secepat kilat ada yang menarikku aku
jatuh terduduk kepalaku membentur kursi dan orang itu jatuh terpenlanting
membentur dinding toko samping
sekolahku. Aku segera bangun dan memastikan siapa yang menolongku. Ternyata Alvin. Aku segera
menghampirinya dengan air mata rasa bersalahku. “Alvin... sadar Vin..” kataku
sambil menangis. Darah bercucuran dari kepalanya. Banyak orang yang mengerumuni
dan menolong Alvin. Setelah Alvin dimasukkan ke dalam mobil dan akan dibawa ke
rumah sakit, aku pingsan.
Setelah
aku sadar, aku merasa berada di ruang yang dipenuhi bau obat-obatan. Sudah ada
ayah dan ibuku. Aku segera teringat Alvin. Sebenarnya ibuku melarang, karena
akibat benturan tadi aku syok, setelah aku merengek-rengek akhirnya diijinkan.
Aku melihat ke ruang ICU, disitu terbaring orang yang aku cintai dengan muka
pucat pasi dan balutan perban di kepala. Lagi-lagi aku hanya bisa menangis.
Akulah yang menyebabkan Alvin seperti itu. Akulah yang bersalah dalam kasus
ini. Mungkin kalau Alvin meninggal, akulah yang pertama menjadi tersangka. Akan
tetapi aku ingin selalu bersama Alvin. Aku tidak ingin berpisah sedetikpun dari
Alvin. Setelah kehilangan Nata, aku tidak mau kehilangan Alvin pula. Kurasakan
sentuhan tangan di pundakku. Dengan segera aku memalingkan wajahku. Aku
terkejut. Ada Tante Anita dan Om Suryo, ayah dan ibunya Nata. Ada apa ini?
Mengapa mereka ada disini? Mana Nata?
penjelasan dari Tante Anita. “Bisa dimulai Tan
ceritanya?” tanyaku sudah tidak sabar. “Iya, dulu waktu kelas enam, Nata
mengalami amnesia parah akibat kecelakaan bersama Om dan Tante ketika mau
berangkat sekolah. Sampai-sampai harus dirawat di rumah sakit selama
berbulan-bulan. Ketika masuk SMP, teman-temannya memanggilnya Alvin, dan di
rumahpun kami memanggilnya Alvin. Ketika kelas tiga SMP, dia mulai mengenal
yang namanya pacaran. Dan pacarnya itu bernama...” belum selesai Tante Anita
bercerita, aku mencoba menebaknya. “Adinda, dan Adinda meninggal akibat
kecelakaan waktu bersamanya Tan?” kataku yang disambut anggukan oleh Tante
Anita. “Sebenarnya, kecelakaan Adinda tidak murni disebabkan oleh Nata. Adinda
meninggal karena dia tertimpa balok ketika berjalan bersama Nata melintasi
sebuah toko yang sedang di bangun. Dan ternyata Adinda juga mengidap penyakit
Kanker Otak stadium lanjut.” Kata Tante Anita mengakhiri ceritanya. Kepalaku
panas kembali. Tuhan, sandiwara apa ini? Jadi selama ini Alvin itu Nata? Teman
kecilku yang ceria, dan yang telah menghantuiku selama ini..
Kini
aku telah berada di samping Nata, pangeran kecilku. Yang tergolek lemah tak
berdaya di atas ranjang rumah sakit dengan alat-alat kesehatan yang membelit
tubuhnya. “Jadi nama lengkap kamu Alvin Jonathan Sindunata? Bodohnya aku selama
ini tidak pernah tau itu..” kataku sambil mengamati Alvin. “A.. zi.. zah..”
kata Alvin terbata-bata. Aku tersentak sekaligus gembira karena ingatan Alvin
telah sembuh, dan nama yang pertama kali disebut itu namaku. “Iya Nat.. aku
disini, kamu cepat sembuh ya..” kataku seraya mendekatinya. Alvin mencoba
membuka matanya dan memandangiku sambil tersenyum.
Hari-hari
berganti lebih ceria daripada dulu. Kini kulalui bersama Alvin. Bukan Nata
lagi. “Jadi kamu baru tau kalau namaku Alvin Jonathan Sindunata sehingga bisa
di panggil Nata?” ledek Alvin. “Ih kayak kamu udah tau nama lengkapku aja pake
ngledek.” Cibirku. “Aku tau, namamu Sivia Azizah Zahrani kan?” katanya bangga.
“Baru tau tadi pagi aja bangga” sahutku sambil memeletkan lidahku. “yayaya
sekarang tidak ada lagi Nata dan Azizah, yang ada Alvin dan Sivia, Sivia, would
you be my princess?” kata Alvin sambil memberikan sebuah cincin untukku. “Echm,
yes.. i will..” jawabku, seketika Alvin langsung memelukku.
~Selesai~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar