MY HOME

MY HOME

Rabu, 26 April 2017

PART 1

Hijrahnya Izy
Sore ini tak seperti biasanya. Seorang gadis yang biasanya bermalas-malasan sambil menyaksikan drama Korea yang menye-menye, ataupun membaca novel sambil sesenggukan, hari ini telah rapi mengenakan pakaian yang tak seperti biasanya pula. Ya, dia Izy. Biasanya Izy mengenakan celana jeans ketat dengan kaos dan kerudung lilit, hari ini nampak anggun dengan rok, kemeja, dan jilbab bergo. Ia tersenyum mendapati pantulan dirinya di cermin.
“Zy, loe mau kemana? Kondangan? Pengajian? Atau loe mau ngedate sama anak masjid?” tanya Vika, teman sekamar Izy di kost. Izy melengos mendengarkan pertanyaan Vika yang sangat absurd.
“Mau ke mall.” Singkat Izy sambil mengubek almari mencari tasnya.
“Ha?” Vika melongo mendengar jawaban singkat dari Izy. Siapa yang tidak bingung jika teman sekamar yang kebiasaannya saja sudah dihafal di luar kepala tiba-tiba berubah drastis begitu.
“Iya ke mall, mau ikut kagak? Gue mau beli sesuatu.” Izy mematut dirinya sekali lagi di depan cermin.
“Dengan tampilan loe yang seperti ini? Mall?” Tanya Vika memastikan lagi. Izy mendelik tajam kearahnya yang langsung dihadiahi cengiran oleh Vika.  “Iye-iye gue ambil tas dulu, galak amat sih.”
“Gue tunggu di parkiran.” Vika mencibir setelah kepergian Izy lalu bergegas menyusulnya.
~~~~~~~~
Ketika berada di mall, Izy dan Vika memang berpisah. Izy yang membeli apapun yang sudah ditulis di note nya, sedangkan Vika mengantri membeli paketan internet. Setelah selesai, mereka berjanji bertemu di salah satu food court di mall tersebut.
“Ebusett, loe belanja atau ngerampok Zy? Banyak bener..” nyaris Vika menyemburkan es jeruk yang diminumnya setelah menilik barang belanjaan yang dibawa Izy yang menurutnya sangatlah banyak.
“Sekali-sekali atuh neng belanja banyak.” Kata Izy sambil menyomot kentang goreng yang sudah dipesan Vika dengan tampang tanpa dosanya.
“Coba liat.” Vika mengambil salah satu paper bag Izy dan langsung melotot dengan apa yang dilihatnya. “Loe beli gamis dan khimar syar’i? Loe sehat Zy? Wah gue harus beritahu bang Izal biar keluarga lo bisa ngadain selamatan.” Heboh Vika sambil melebarkan khimar milik Izy. “Eh tapi ini buat loe sendiri kan? Bukan buat kado ulang tahun atau nikahan sodara loe?”
“Vik sumpah, loe lebay banget. Iya ini buat gue pake sendiri, kenapa?” dengan masih asyik menyantap kentang goreng, Izy memperhatikan Vika yang masih terkagum-kagum.
“Wah.. dapet hidayah darimana loe?”
“Dari wattpad.” Vika melotot lagi mendengar jawaban Izy yang menurutnya tidak masuk akal.
“Kok bisa? Cerita apa? Lah semua cerita yang loe baca kan yang saranin gue? Kok loe sih yang dapet hidayah? Ihhh nggak adil deh.” Cerocos Vika sambil manyun-manyun.
“Hijrah yuk...” Vika melongo seketika. Izy yang biasanya cerewet tak karuan hari ini sangat irit bicara. Izy senewen menatap wajah cengo Vika. Ia lalu membawa barang-barangnya dan bergegas meninggalkan Vika.
“Lah gue ditinggalin, oeee Izy tungguin napa, belum bayar nih.” Teriak Vika yang sukses mengundang tatapan dari orang-orang disekitarnya. Vika tak peduli lantas membayar dan mengejar Izy.
~~~~~
Di kampus, Izy hanya terdiam tanpa minat menjawab pertanyaan teman-temannya. Ada yang mengucap syukur karena ia sudah taubat, ada pula yang ngejek bisakah ia istiqomah.
“Assalamu’alaykum, Izy ini kamu? Subhanallah, cantik sekali, aku sampai pangling, ya ampun alhamdulillah Ya Allah, akhirnya Izy tergugah hatinya.” Sapa Aisyah, teman dekat Izy yang paling getol ngompor-ngomporin untuk berhijrah.
“Wa’laykumussalam, ya ampun Ais, bisa nggak sih nggak lebay gitu, iya ini gue Arizy, emang aneh ya penampilan gue? Perasaan daritadi mereka gosipin gue, untungnya gue bebal hehehe.”
“Aneh gimana, orang kamu cantik begini, eh ceritain dong kok bisa kamu hijrah gini?”
“Yah sebenernya gue sih dapet pencerahan setelah baca cerita di wattpad, toh kalo nggak berubah mulai sekarang mau kapan lagi, Izy kan nggak mau masuk neraka hehehe.”
“Ada manfaatnya juga ya bacaan kamu yang aneh itu hehehe ampun, damai mbak.”
“Ihh nggak aneh lah, wajar gitu kalau cewek bacanya novel dan sejenisnya, lah situ bacaannya komik sih..”
“Nggak apa-apa, lebih menghibur, daripada baper-baper nggak jelas hehehe, eh kan tampilannya udah cakep gini nih, nanti siang ikut kajian yuk... sekalian kamu daftar UKM kerohanian deh, biar lebih mantep hijrahnya, ya ya ya, sama aku kok.”
“Aisyah, aku malu.”
“Lah kenapa malu? Toh kan yang dilakuin kebaikan, maaf ya Aisyah nggak terima protes, noh udah ada dosen.”
Izy besyukur masih memiliki seorang sahabat yang bisa menuntunnya ke jalan yang benar. Ya meskipun Vika nggak buruk-buruk amat sih.
~~~~~
“Assalamu’alaykum, Kak kenalin ini temenku Arizy Faila Zahrani, biasa dipanggil Izy.” Kata Aisyah ketika mereka sudah sampai di tempat pendaftaran dan menemui seorang wanita yang menurut Izy sangat anggun dengan baluta hijab syar’inya. Oh iya, hampir semua yang ada di tempat ini mengenakan pakaian syar’i.
“Wa’alaykumussalam, salam kenal dek Izy, cantik sekali, sini merapat, aku Laila Qurrotun Nisa, biasa dipanggil Ila.” Ila mengulurkan tangan menjabat tangan Izy dan Aisyah secara bergantian.
“Iya salam kenal Kak Ila, mohon bantuannya ya, aku baru berhijrah Kak hehehe.” Izy mengeluarkan suara dengan mengganti loe-gue yang biasanya ia pakai menjadi aku-kamu.
“Alhamdulillah, sini merapat, kajiannya sebentar lagi dimulai. Kalian mau ikut UKM ini?”
“In syaa Allah Kak, kami pengen ikut, kalau mau ikut bagaimana ya kak?” tanya Aisyah dengan mata berbinar sedari pagi tadi ketika melihat Izy.
“Nanti isi formulir dan langsung screening, tapi abis kajian ya.”
“Iya Kak.”
Kajian pun dimulai, Izy benar-benar bangga di tengah-tengah mereka. Betul kata pepatah, kalau satu sahabat yang beriman dan mengajak kita menuju surganya lebih berharga daripada seribu sahabat yang mementingkan dunia. Ah alangkah indahnya jika Izy bisa mengajak Vika dalam kajian ini.
Setelah kajian selesai, Izy dan Aisyah segera menuju tempat pendaftaran UKM sekaligus tempat screening. Mereka segera mengisi formulir dan menunggu giliran untuk screening. Sampai tiba giliran Izy.
“Assalamu’alaykum, dek Arizy Faila Zahrani, panggilnya apa nih?” tanya mbak-mbak yang nyecreening Izy. Dia cantik dengan jilbab yang menjuntai. Ditambah kacamatanya yang menambah sisi anggun.
“Wa’alaykumussalam, Izy aja kak.”
“Wah, nama ana Siska, anak-anak sering manggil Mbak Siska soalnya ana sudah semester 5 hehehe jadi curhat, anti bisa panggil ana Mbak Siska atau Ukhty Siska seperti yang lain.” Untung Izy sering baca novel, jadi tahu sedikit-sedikit bahasa Arab dasar kaya gitu.
“Oh iya Mbak Siska saja ya, soalnya belum biasa gunain ukhty mbak, akraban panggil mbak kalau Izy hehehe.” Izy merasa agak wagu kalau memanggilnya Ukhty.
“Iya gapapa, Nah ini ana mau nanya-nanya sedikit, kok anti mau ikut UKM ini mengapa?”
“Karena Izy kan ilmu agamanya masih minim, Izy mau nambah pengalaman dengan ikut UKM ini, nambah pengetahuan, nambah temen, sama mempererat ukhuwah mbak.”
“Sejak kapan dek Izy pakai jilbab gede seperti ini?”
“Hehehe baru tadi mbak.”
“Subhanallah, istiqomah ya..”
“In syaa Allah mbak”
“Shalat 5 waktu tertib?”
“In syaa Allah tertib mbak.”
“Ibadah sunnah?”
“Baru shalat tahajud kadang-kadang sama Dhuha mbak.”
“Pernah pacaran?” glekk pernah mbak, baru putus kemarin. Dulu-dulu malah parah banget, pupus tumbuh lagi.
“Pernah mbak, tapi itu sebelum saya berubah seperti ini, maklum mbak namanya manusia hehehe.” Jawab Izy sambil cengengesan. ‘Ya Allah, pakai acara khilaf juga sih aku dulu. Coba tobat dari dulu, mungkin enak banget hidupku sekarang. Ah, penyesalan memang datangnya belakangan.’ Batin Izy.
“Hehehe nggak apa-apa, toh dulu ana sebelum berhijrah juga pernah pacaran, asal nggak diulangi saja. Manusia yang baik adalah yang mau berproses menuju kebaikan, betul kan?” setidaknya tanggapan mbak Siska tidak terlalu membuatnya malu.
“Iya mbak.”
“Rencana anti ke depan bagaimana? Khususnya tentang asmara, kalau ada seorang ikhwan yang mengkhitbah anti, anti udah siap?” ‘Waduh... apa ini? selama ini aja aku masih main-main kalau masalah asmara. Adek masih unyu bang.’ Izy bergulat dengan pikirannya.
“Itu belum terpikirkan sama sekali mbak hehehe, aku masih mau fokus kuliah dulu.” Izy hanya cengar-cengir karena di pikirannya hanya satu, ia ingun lulus kuliah dengan cepat terlebih dahulu. Setelah itu bekerja dan baru memikirkan tentang jodoh.
“Loh kalau jodohnya anti sudah datang, anti mau menolak?” Ingin Izy berteriak tapi apalah daya...
“Belum tau mbak, seumur-umur aku belum mikirin jodoh serius mbak.”
“Hehehe ya sudah, pertanyaan selanjutnya... bla-bla-bla...”
Akhirnya sesi screening selesai. Aisyah sudah pulang meninggalkan Izy karena ada janji dengan mamanya. Izy pun berjalan menuju parkiran untuk mengambil sepeda motornya. Ia ingin segera pulang ke kos dan tidur. Akan tetapi karena tidak hati-hati, ia menabrak seseorang yang tengah membawa buku-buku di halaman dekat parkiran masjid kampusnya itu.
“Astagfirullah afwan ukh, bukunya terlalu tinggi jadi ana gak bisa lihat kedepan.” Kata orang itu sambil mencoba berdiri karena ia terjatuh ngejengkang ke belakang sedangkan buku-bukunya sudah berhamburan. Izy tidak mempermasalahkan karena ia juga meleng. Dan ia sangat bersyukur karena keadaan halaman masjid tidak basah, jadi buku-buku yang berjatuhan tadi aman. Akan tetapi, ia merasa ada yang aneh setelah mendengar suara laki-laki yang ditabraknya tadi. Izy segera mendongakkan wajahnya dan mengamati laki-laki tadi yang tengah sibuk memunguti bukunya. Seketika Izy menahan tawa, teringat kata-kata yang diucapkan laki-laki tadi.
“Bang Izal..” seru Izy yang sontak membuat laki-laki tadi menoleh dan melotot karena yang ia tabrak tadi adalah...
“Astagfirullah eh Subhanallah eh Alhamdulillah adek gue insaf Ya Allah.” Tanpa aba-aba, Izal memeluk Izy yang masih terduduk.
“Apaan sih bang, kagak malu apa.” Izy melepaskan pelukan itu secara paksa. Wajah Izal sama berbinarnya dengan wajah Aisyah tadi pagi.
“Wah, kudu laporan Mama sama Papa nih.” Izal tak menghiraukan ucapan Izy, ia segera mengeluarkan hp nya dan Ckrekk..
“Apa dah Bang Izal, minggir Izy mau pulang.” Izy segera pergi meninggalkan Izal yang masih senyum-senyum mengetik sesuatu di hp nya.
~~~~~
Sesampai di kos, Izy merebahkan tubuhnya di kasur. Dhuhur masih sejam lagi, ia lalu mengambil hp nya yang ternyata sudah banyak notif masuk. Terutama grup line keluarganya yang berisi ia, Izal, Mama, dan Papa. Izy memutar bola matanya malas membacanya.
Izal Unyuk : Yuhuu coba tebak ini siapa?
Mama Kembar : Izy kah?
Papa Iz : Alhamdulillah..
Izal Unyuk : Iye Ma, ahelah Papa cuek amat sih responnya gitu doang
Mama Kembar : Ini Papa kamu malah lagi sujud sambil terharu Zal
Izal Unyuk : Masa?
Papa Iz : Mama buka aib ih
Mama Kembar : Ini mana orangnya? Kok nggak nongol?
Izal Unyuk : Lagi ngaji kali Ma, tadi aja Izal ketemu di halaman masjid
Papa Iz : Masa? Subhanallah
Mama Kembar : Apa deh Papa ikut-ikutan Izal, nggak bapak nggak anak sama saja
Papa Iz : Like father like son
Izal Unyuk : Like father like son
Izal Unyuk : Tau gitu titip Pa
Arizy FZ : Berisik sekali
Izal Unyuk : Tuh Pa, Ma muncul...
Mama Kembar : Izyyyyyyyy
Papa Iz : Nak kamu masih disana?
Izy meletakkan hp nya tidak mau meladeni keluarga somplaknya lalu ia memejamkan mata. Bisakah ia mempertahakan semua ini? Memang ia sudah niat, akan tetapi masih ada keraguan di dalam hatinya. Segera ia teringat bayangan Izal yang tanpa sepengetahuan orang tua mereka, ia sudah hafidz Al-Qur’an. Meskipun tampilannya selengean, Izal berhasil menipu dengan kemampuan menghafal yang ia miliki. Iri terhadap kebaikan, boleh kan? Izy juga ingin mempersembahkan kemuliaan untuk kedua orang tuanya. Dan tanpa sadar, ia kini telah memantapkan niatnya.

Rabu, 26 April 2017
07 : 39



Izy & Izal

PROLOG
            Izal tak pernah menyangka, adiknya yang petakilan akan berubah drastis hanya karena membaca novel. Ya, Arizy Faila Zahrani Hermawan adalah adik kembar dari Arizal Fairuz Erga Hermawan yang hanya berselang 5 menit. Izy dan Izal memang tak pernah disekolahkan di sekolah yang sama oleh orang tua mereka. Orang tua mereka masih mempercayai mitos bahwa anak kembar tidak boleh disekolahkan di tempat yang sama. Alasan lainnya, Izy dan Izal memang tak pernah akur sedari kecil. Izy yang keras kepala dan Izal yang sangat jahil. Akan tetapi, Izal lebih rajin beribadah dibanding Izy. Izal sedari kecil memang sudah tertarik pada ilmu Agama tanpa sepengetahuan orang tua mereka. Sedangkan Izy, memang sedari SMP sudah memutuskan berhijab, tapi menurut Izal, Izy hanya sekedar berhijab, tidak dengan kelakuannya.
            Oleh sebab itu, ketika mengetahui bahwa Izy yang hobi membaca novel tersebut terbuka hatinya untuk berhijrah lebih baik lagi, Izal tak henti tersenyum. Pasalnya ia selalu mengejek Izy karena sangat menyukai membaca novel yang menurutnya sangat menye-menye itu.
            Izy dan Izal satu tempat kuliah, akan tetapi berbeda kos karena Izal memilih tempat kosnya sendiri sedangkan Izy kesepakatan dengan Vika.