MY HOME

MY HOME

Sabtu, 30 Januari 2016

Crazy Brother Part 4

Part 4 (Masa Lalu Yang Kelam)
“ Loe suka sama Kania??” tanya Juna to the point.
Srotttttt
“Yakkk kira-kira kali Ya kalo minum..” kata Juna yang sudah memasang tampang bad mood  karena disemprot menggunakan air minum oleh Arya.
“Eheheh sorry-sorry Jun, gue nggak sengaja, lagian pertanyaan loe skeptis amat, bikin gue shock tau nggak sih loe..” balas Arya sambil cengengesan dan membersihkan air minum pada wajah Juna.
“Betul atau tidak?” tanya Juna sekali lagi.
“Hehehe tapi jangan bilang-bilang sama Kania ya..” sahut Arya. Sontak Juna tertawa terbahak-bahak.
“Ya kagaklah.. beginian mah urusan cowok kali bro.. tergantung loe mau nembaknya kapan.. keburu ada yang ambil hahaha tapi hati-hati juga, tau sendiri kan adik gue galaknya minta ampun hahaha” cerocos Juna.
“Ya deh.. tapi beneran ya..” kata Arya.
***
“Kak Junaaa.. yuhuuu I’m very happy today hahaha, tau gak sih loe kak, gue tadi ketemu seseorang, loe tau siapa? Cowok anak SMA sebelah, sumpah deh kak, dia itu ganteng bangetttt... Loe mah lewat.. hahaha” cerocos Kania saat ia sedang menghampiri Juna dikamarnya.
“Yaelah Ka, loe ngomong kaya di hutan aja, ini kamar gue keles.. suara loe tuh cempreng gilak.. loe cerita kesana kemari juga gue kagak bakalan ngarti, kan gue belum tau tuh cowok.. dan satu lagi, yang lebih ganteng dari gue tuh kata loe Cuma Arya.. masa ada saingan lagi..” Sungut Juna.
“Ya kurang lebih ya sebelas duabelaslah sama Arya, yang penting kan lebih ganteng dari loe.. hahaha” tambah Kania dengan cablaknya.
“Yeeee emang siapa sih?” tanya Juna akhirnya karena sangat penasaran.
“Namanya Edo.. sumpah deh kak, ganteng bangettt..” cerita Kania dengan menggebu-gebu.
“Kok gue kaya gak asing ya.. Hemmm terus nasib Arya gimana??” tanya Juna lagi. Ia tak habis pikir kalau kembarannya ini ternyata sudah punya gebetan.
“Yeee kak Juna, kan Kania udah bilang kalau Kania sama Arya itu just friends, not more than okay...” sahut Kania sambil berlalu meninggalkan Juna dikamarnya.
“Aduh.. gue nih yang sesama cowok jadi nggak enak sama Arya, kan dia naksir banget sama lo dek.. Aishhh, kok gue yang ribet ya? Bodo ah... Boci dulu hoammm” cerocos Juna sendiri di tempat tidurnya. Tak lama kemudian, ia sudah terbang ke alam mimpi.
***
Hari-hari berikutnya Kania semakin dekat dengan Edo walaupun notabenya Edo tidak sesekolah dengan Kania. Dan selama itu juga tidak ada yang tau hubungan mereka, bahkan Juna pun tak tau.
Hari ini, Arya sudah bertekad akan menyatakan cintanya pada Kania. Ia sudah menyiapkan mental sedemikian rupa. Hari ini adalah pesta perayaan hari ulang tahun sekolah. Dan ia sudah membuat janji dengan Kania untuk menemuinya di taman belakang sekolah, ia juga telah menyiapkan bouquet bunga mawar merah kesukaan Kania. Berharap hari ini 12 Desember 2012 adalah menjadi hari spesial untuknya dan Kania.
“Eh Arya, udah lama nunggu? Maaf ya tadi gue ke toilet dulu.” Kata Kania sambil mengembangkan senyum yang memperlihatkan lesung pipinya yang cukup dalam serta gingsulnya. Gadis ini untuk ukuran cowok normal seperti Arya terlihat sangatlah manis, ditambah rambutnya yang hitam dan lurus alami dan kulitnya yang putih bersih, Kania bukanlah tipe gadis yang manis lagi, melainkan manis dan cantik.
“Hemm enggak kok.. duduk gih, gue mau ngomong sesuatu.” Balas Arya, ia tetap berusaha terlihat tenang meskipun terdapat pergolakan batin dalam dirinya.
“Oke.. mau ngomong apa?” tanya Kania setelah ia duduk. Arya menarik nafasnya dalam-dalam. ‘Sekarang waktunya.’ Batin Arya mantap.
“Gue suka sama loe Ka, dari sejak kita kelas X, gue bahagia banget bisa deket dengan loe meskipun hanya sebatas sahabat, loe mau nggak jadi pacar gue? Kalau loe mau loe terima bunga mawar ini trus loe bawa, kalo loe gak mau, loe terima bunga mawar ini tapi loe taruh dan loe tinggalin disini. Maaf gue gak bisa romantis, tapi gue harap loe bisa jawab sekarang juga.” Kata Arya dengan sangat sangat tenang.
Tanpa pikir panjang, Kania segera mengambil alih bunga mawar di tangan Arya dan tampak menimang-nimang.
“Sorry Ya, tapi gue udah punya pacar..” kata Kania sambil menaruh bunga mawar tersebut di kursi dan meninggalkan Arya dengan berbagai pertanyaan.
“Ternyata dugaan gue salah besar, loe udah punya pacar Ka.. asalkan loe bahagia deh Ka, gue akan selalu berdoa buat loe..” gumam Arya sambil memandang kerlip lampu di depannya yang tampak sangat indah. Tak terasa air matanya meleleh di pipinya.
 “Maafin adek gue broo.. gue juga nggak tau kalau dia udah punya pacar, maaf juga dari tadi gue udah nguping pembicaraan kalian.” Kata Juna  yang tiba-tiba duduk di samping Arya.
“Iya broo nggak apa-apa. Gue aja yang terlalu cengeng.” Sahut Arya sambil mengusap airmatanya.
“Yaelah Ya, gue juga kalau di posisi loe bakalan ngelakuin hal yang sama kaya loe ini. Secara kan udah cinta banget tuh sama cewek, tapi nggak apa-apa Ya, tetep semangat.. Tohcewek bukan Cuma Kania kan..” Juna berusaha menyemangati sahabat barunya tersebut.
“Tapi gue belum yakin bisa move” ucap Arya perlahan. Juna menepuk bahu sahabatnya.
“Kalau adek gue jodoh loe, pasti nggak akan kemana kok.. stay cool brother..” Arya tersenyum pada Juna, mengerti akan maksudnya.
“Kalau gue nunggu adek loe putus, boleh nggak Jun? Hahaha” kelakar Arya. Juna tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
“Boleh banget.. asalkan kalian bahagia, gue dukung kok..” balas Juna lantas mengajak Arya kembali ke gedung pesta.
  **
Hari-hari berlalu begitu cepat. Kania masih berhubungan dengan Edo. Dan itu sangat-sangat menyakitkan bagi Arya. Sahabat Kania yang lain pun selalu menujukkan ketidak sukaan mereka pada Edo. Menurut mereka, Edo adalah cowok yang sangat sombong. Karena setiap sahabat-sahabat Kania ingin berkenalan dengan Edo, Edo selalu beralasan kalau dia sibuk. Berbeda dengan Arya yang sangat lembut dan memiliki sense of humor. Juna pun apabila Kania telah menceritakan Edo, ia memilih diam, atau bahkan pergi meninggalkan Kania. Karena selama ini pun ia tak pernah melihat yang namanya Edo Edo itu.  Sampai pesta kelulusan pun Kania masih bersama Edo.
Juna menghampiri Arya yang sedang duduk di taman belakang sekolah. Persis seperti waktu pesta hari ulang tahun sekolah dulu. Waktu Arya ditolak oleh Kania.
“Ya.. loe belum bisa move dari adek gue?” tanya Juna membuka pembicaraan.
“Belum Jun.. susah banget. Gue nggak bisa lupain dia. Yah meskipun, you knowlah.. sekarang gue sama dia udah nggak pernah dekat lagi. Ngobrol pun jarang banget, nggak seintens waktu dulu. Dia juga udah nggak pernah main lagi ke rumah gue. Mana nyokap nanyain mulu..” Jawab Arya sambil memainkan ranting pohon.
“Dulu, gue kira Kania juga suka sama loe, kan pas gue baru pertama dateng, dia ngebandingin kegantengan gue sama loe segitunya, eh ternyata dia udah tergila-gila sama orang yang namanya Edo itu, yang belum pernah gue tau wujudnya, yang katanya cinta pertama Kania, tapi kok perasaan gue nggak enak ya..” kata Juna. Arya menolehkan wajahnya menatap Juna.
“Nggak enak gimana Jun?” tanya Arya dengan wajah harap-harap cemas.
“Nggak tau ya..” jawab Juna dengan nada lemas. Bersamaan dengan itu, hapenya berdering.
From : 082xxxxxxxxx
Kalau ingin adek kembar loe tersayang selamat. Temui gue di bawah jembatan deket sekolah loe. #Your bestfriend.
Hape yang dipegang Juna serasa ingin jatuh kalau tak segera Arya menyadarkannya.
“Loe kenapa Jun?” tanya Arya mulai khawatir.
“Loe ikut gue sekarang.. suruh Renata dan yang lain ngehubungi polisi, kita standby di jembatan deket sekolah sini.” Kata Juna sambil bergegas menuju tempat yang dimaksud.
  **
-di bawah jembatan dekat sekolah-
Juna melihat kawanan orang berbaju hitam sedang menyekap Kania. Juna dan Arya mempercepat langkahnya untuk sampai di tempat itu.
Welcome back my brother.” Kata seseorang yang berada tepat di belakang Kania dengan tersenyum sinis kearah Juna.
“Edo...” Juna terperangah melihat siapa yang berbicara.
“Yapz, apakabar kawan lama, duh.. tambah ganteng aja nih kawan lama, pantesan punya kembaran yang cantik jelita tapi begonya nggak ketulungan hahaha.” Tawa Edo semakin membahana. Arya ikut geram mendengarnya. Sama saja orang itu menghina Kania.
“Oh jadi Edo-Edo yang selalu diceritain Kania tuh elo.. Pantesan gue kaya gak asing gitu.. Urusan loe sama gue ya, bukan sama kembaran gue, jadi tolong loe lepasin kembaran gue, dasar manusia biadab..” geram Juna. Tangannya sudah mengepal. Kemarahannya sudah di ubun-ubun. Kania yang melihatnya hanya bisa menangis karena ia tak tau akal bulus Edo yang hanya memanfaatkannya untuk membalas dendam terhadap Juna.
“Suka-suka gue dong. Abisnya loe punya kembaran cantik banget sih..” kata Edo sambil mengelus-elus pipi mulus Kania.
“Lepasin tangan kotor loe dari wajah Kania.” Teriak Arya yang merasa orang yang disayanginya itu dilecehkan.
“Ouw ouw ouw, ada yang sok mau jadi pahlawan nih.. Loe suka sama Kania trus nggak kesampean ya? Hahaha” ledek Edo dengan tak tau malunya.
“Edo, loe nggak berubah sama sekali ya dari dulu. Loe mau apa dari gue?” tanya Juna setenang mungkin.
“Gue.. mau loe membayar kesalahan loe waktu loe dengan culunnya nglaporin gue ke polisi yah walaupun bukan loe yang nglaporin, tapi temen loe atas tuduhan pembunuhan terhadap cewek loe yang gue perkosa waktu itu hahaha dan gue mau loe nyerahin adek loe yang cantik ini, atau loe bayar gue 100 juta. Impas kan?” kata Edo yang kini malah memeluk Kania dari belakang dengan sangat erat hingga air mata Kania semakin deras.
“Loe bunuh gue aja sekarang, gue nggak punya uang 100 juta, dan gue nggak mau ngrepotin orang tua gue. Gue juga nggak mau loe sedikitpun nyakitin Kania, karena dia orang yang sangat gue sayang melebihi nyawa gue sendiri. Jadi lebih baik loe bunuh gue sekarang dan loe lepaskan Kania.”  Jelas Juna sambil menatap tajam Kania yang terus menangis. Arya tidak bisa apa-apa. Hanya diam seribu bahasa.  Perlahan, Edo melepaskan bungkaman pada mulut Kania.
“Ada yang mau kamu katakan buat kembaran loe yang bego itu cantik?” tanya Edo yang masih terus memeluk Kania dari belakang dengan erat.
You’re crazy brother.. biarin gue aja yang mati, loe nggak usah aneh-aneh. Dari awal emang gue yang salah karena nggak nurutin perkataan loe. Jadi gue mohon tinggalin gue..” kata Kania disela isak tangisnya.
“Lebih gila mana loe sama gue? Loe gitu aja nangis, cengeng banget sih loe..” seru Juna setengah meledek. Arya melongo melihatnya.
Disaat yang lain kalau kembarannya terancam bahaya pasti udah gulung-gulung nangis, ini malah saling mengolok-olok, Aishhh padahal gue khawatir banget Ka sama loe..’ batin Arya.
“Ya.. loe bawa kakak gue pulang..” teriak Kania semakin tak tertahankan isak tangisnya.
“Kita tetap disini. Loe percaya kan sama Kania, dia atlet karate kan? Satu hal yang gue tau dari cerita-cerita Kania kalau Edo tak pernah tau dia atlet karate, jadi gue akan tetap disini seolah terus meledek Kania hingga Edo jengah, dan loe pura-pura ketakutan, lari dan temui polisi suruh kesini. Edo itu pembunuh.” Bisik Juna dan Arya hanya manggut-manggut mendengarnya.
“Sorry Ka, kakak loe gak bisa kebujuk, gue mau lari aja, gue takut mati konyol disini..” teriak Arya seraya berlari meninggalkan mereka. Kania ingin menyalahkan Arya, sahabat macam apa dia. Tapi dia sadar kalau perbuatannya pun banyak menyakiti Arya.
“Gue nggak habis pikir sama loe Do, loe tuh manusia atau bukan sih?” retoris Juna.
“Apa pertanyaan loe perlu gue jawab? Sebaiknya loe cepet milih deh, lo pilih adek loe kembali dengan selamat trus ngasih uang ke gue 100 juta, atau loe pulang sekarang, cuci tangan dan cuci kaki, trus bobo cakep di rumah, tapi adek loe yah paling-paling gue hamilin trus gue bunuh kaya mantan loe waktu dulu hahaha.” Kata Edo sambil tertawa keras dan tawanya terdengar sangat menakutkan.
“Bangsat loe Do.. loe bunuh gue aja sekarang, udah gue bilang kan kalau semua itu nggak ada hubungannya sama Kania, jadi lepasin Kania.” Geram Juna yang sudah tak tahan dengan kata-kata Edo.
“Oke-oke, kalian berlima maju, habisi dia..” suruh Edo pada anak buahnya.
“Kak Juna...” teriak Kania. Tak perlu pikir panjang, ia segera menginjak kaki Edo. Dan dalam sekali sentakan, ikatan di tangannya lepas. Kania segera menghajar Edo yang tak siap dengan serangan Kania secara tiba-tiba. Setelah Edo ambruk, Kania segera membantu Juna menghajar kelima anak buah Edo. Tak berapa lama datanglah Arya dan Polisi. Edo dan anak buahnya digiring ke kantor Polisi.
“Awas loe, nggak akan gue biarkan lolos lagi..” ancam Edo ketika mau masuk ke mobil Polisi.
Ketika mobil polisi sudah berlalu meninggalkan mereka yang kini sudah ada Renata, Anita, Zeva, dan Ferdy, Juna langsung terduduk lemas.
“Kak, loe kenapa?” tanya Kania sambil memegang pundak Juna.
“Peluk gue Ka..” kata Juna yang air matanya telah meleleh membasahi pipinya. Kania semakin bingung melihatnya, dia hanya menuruti apa yang dikatakan saudara kembarnya itu.
Kania memeluk Juna sangat erat,  bahkan ia bisa merasakan tubuh Juna bergetar. Kania ikut menangis.
“Loe kenapa kak?” tanya Kania sekali lagi.
“Bawa gue pulang..” jawab Juna dengan tatapan mata kosong sambil melepaskan pelukannya pada Kania.
“Gue anter Ka.. kalian pulang duluan aja..” kata Arya sambil memberi kode pada teman-temannya.
Didalam mobil Arya, mereka bertiga terbungkam. Juna masih terdiam dengan tatapan mata kosong. Arya memandang Kania dan Juna yang duduk di belakang dengan tatapan bertanya-tanya.
“Putusin Edo..” ucap Juna tiba-tiba.
“Iya, gue udah bertekad buat putusin dia kok kak..” kata Kania dengan nada menyesal. Arya tersenyum di balik kemudi.
“Jangan pernah sesekali loe terlibat pembicaraan atau apapun bersama Edo kalau loe masih pengen hidup.” Arya dan Kania teperanjat mendengar ucapan Juna. Mereka tak percaya bahwa Juna yang terkenal memiliki sense of humor yang berlebihan, kini terlihat sangat menakutkan.
“Loe sebenarnya punya masalah apa dengan Edo, Jun? Jangan loe pendem sendiri kalau punya masalah..” kata Arya yang disambut anggukan oleh Kania.
“Dia pembunuh. Edo ngebunuh pacar gue setelah Edo dan komplotannya berhasil memperkosanya. Gue bukan orang yang berguna. Gue lalai dalam menjaga orang yang gue cintai.” Tersadar dengan perubahan air muka Juna, Kania segera memeluk kakak kembarnya dan membiarkan Juna terisak di pelukan Kania.

‘Gue baru tau Kak kalau hidup loe berat banget, gue janji bakal jaga diri gue sendiri Kak, gak akan gue ngecewain loe..’ tak terasa air mata Kania meleleh dengan sendirinya. 

Jumat, 29 Januari 2016

Crazy Brother Part 3

Part 3 (I’m Her Brother)
Sesampai di sekolah, Juna masih harus mengurus kepindahannya di ruang Kepala Sekolah.
“Eh, temen-temen, kita kedatangan teman baru di kelas ini, sumpah... ganteng bangettt..” kata ibu-ibu rumpi di kelas Kania.
“Ih apaan sih tuh ibu-ibu rumpi..” celetuk Ferdy. Kania ingin tertawa. Apakah yang dimaksud teman-temannya itu Juna? Tapi kok segitu dipujinya? Hahaha apakah seganteng itu kembarannya. Bel masuk membuyarkan lamunannya. Bu Titik masuk dengan seorang anak laki-laki dibelakangnya. Terdengar bisik-bisik ibu-ibu rumpi.
“Tuh ganteng kan..” celetuk salah satu personil ibu-ibu rumpi. Kania ingin tertawa mendengarnya, kalau tidak demi rencananya.
“Anak-anak, kalian ada teman baru, pindahan dari Surabaya, silakan perkenalkan dirimu Nak..” kata Bu Titik mempersilakan Juna.
“Perkenalkan nama saya Arjuna, panggil saja Juna, saya pindahan dari SMA Antariksa Surabaya, mohon bantuannya..” kata Juna.
“Kok wajahnya familiar ya..” celetuk Zeva. Kania hanya tersenyum.
“Masa sih?” sahutnya pura-pura tidak menyadari. ‘Hahaha dia kembaran gue temen-temen.’
“Sekarang kamu duduk sama Arya ya.” Kata Bu Titik sambil menunjuk tempat duduk Arya.
“Mati gue..” ceplos Kania pelan.
“Kenapa Ka?” tanya Zeva khawatir pada sahabatnya.
“Enggak.. hehehe.” Jawab Kania asal. ‘Arghhh mati gue sampe rumah nanti, pasti Kak Juna ledekin abis-abisan.’ Benar seperti dugaannya. Juna berjalan melewatinya sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Hai.. gue Juna.” Kata Juna sambil mengulurkan tangan pada Arya.
“Arya.. loe mirip seseorang deh..” sahut Arya dengan wajah masih bingung.
“Mirip siapa? Saudara loe? Temen loe? Atau pacar loe?” sengaja volume suara Juna agak dibesarkan agar Kania denger, karena Bu Titik juga sedang keluar kelas untuk menerima telepon. Kania yang mendengarnya langsung menepuk jidat.
“Sialan tuh orang..” gerutu Kania.
“Hahaha, mungkin perasaan gue saja..” kata Arya.
**
Bel isitirahat berbunyi, saat-saat menyenangkan bagi Kania dan teman-temannya. Di kantin mereka bercanda ria, personil mereka tambah satu, Juna.
“Eh Jun, nama loe Cuma Arjuna gitu doang to?” tanya Renata penasaran dengan logat agak sedikit medok.
“Ada deh.. hahaha” kata Juna. Semua merengut, kecuali Kania. Juna penasaran dengan hubungan Kania dan Arya. Ia lalu mendapat ide yang sangat cemerlang.
“Ka, nanti pulang bareng gue yak, gue anter sampe rumah deh..” kata Juna. Kania mencibir mendengarnya tanpa mengetahui rencana Juna.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Anita yang sangat mengagumi Juna sejak perkenalan tadi.
“Kania pacar gue, kita dulu LDR.” Jawab Juna enteng. Shock Kania mendengarnya. Teman-temannya pun juga. Yang paling menyenangkan bagi Juna adalah melihat ekspresi Arya, yang menyiratkan kecemburuan, sakit hati, kaget, pokoknya Juna nggak kuat untuk meneruskan sandiwaranya.
“Apaan sih loe..” sungut Kania. Semua masih tak percaya. Juna hampir tertawa melihat ekspresi kembarannya dan teman-teman barunya. Akhirnya tawa itu tak dapat ditahannya.
“Hahaha Sumpah Ka, gue gak kuat.. Oke temen-temen, kenalin, gue Arjuna Andara Aryanto, kakak kembar dari Kania Andara Aryanto, apa kita kurang mirip kok kalian sampe nggak bisa nyamain kita berdua?” semua melongo mendengar pengakuan Juna. Mereka langsung menatap Juna dan Kania secara bergantian.
“Iya.. ih, mirip banget.. kok kita bego ya..” celetuk Ferdy, Kania tertawa.
“Kan emang iya Fer..” sahut Kania. Semua tertawa. Juna puas dengan ekspresi yang dilihatnya dari wajah Arya tadi. Menyiratkan kekecewaan, dan kini Arya tersenyum kembali. Sungguh mencurigakan, pikirnya.
“Disini ada yang ada hati sama gue atau Kania?” tanya Juna dengan narsisnya.
“Setau gue, dari loe perkenalan tadi, sudah ada yang senyum-senyum ngliatin loe hahaha, kalau Kania mah, gue tau kayanya yang suka sama dia.” Kata Zeva sambil melirik Anita dan Arya secara bergantian. Ketika Zeva melirik Arya, Juna langsung tertawa.
“Persis dengan yang gue perkirakan Va.. hahaha” sahut Juna sambil tertawa karena tebakannya benar.  Ia memang pintar masalah beginian.
“Eh tapi, siapa yang ada rasa sama gue?” tanya Juna lagi dengan segenap kenarsisannya.
“Semua personil ibu-ibu rumpi.. Loe belum dateng aja udah pada heboh. Apalagi waktu loe kenalan, kuping gue panas dengerin celotehan mereka yang katanya ganteng bangetttt.. Dih jijay gue, gantengan juga Arya kemana-mana hahaha.” Cerocos Kania tanpa sadar dengan ucapannya yang dapat menimbulkan masalah karena Juna mendengarnya. Tak salah, Juna langsung tersenyum penuh arti. ‘Kena loe’ Kania yang sadar akan ucapannya langsung menepuk jidat.
“Tega banget loe ngejodohin gue sama ibu-ibu rumpi.. Oh ya deh, gantengan Arya.” Kata Juna dengan nada memelas disambung dengan senyum sinis yang hanya Kania yan tahu.
“Pada ngomongin apa sih?” tanya Arya dengan tampang polos. Semua tertawa ngakak.
**
“Kak Juna tadi maksudnya apa sih?” tanya Kania seusai mereka sampai di rumah.
“Hehehe tadi gue Cuma mau ngeliat ekspresinya Arya doang, sumpah Ka.. dia tuh kayanya suka deh sama loe, masa denger pernyataan gue tadi dia langsung shock, di matanya itu lo, ada ekspresi patah hati dan kecewa, hahaha puas banget gue. Kenapa kalian nggak jadian aja sih..” cerocos Juna.
“Sumpah deh loe kak, loe tau kan genk ibu-ibu rumpi di kelas kita.. masuk aja loe jadi personilnya, gilakk loe lebih parah dari mereka tau nggak sih..” sungut Kania.
“Ye.. beda, kalau mereka versi cewek, gue versi cowok..” jelas Juna dengan bangganya.
“Semerdeka loe aja lah.. gue mau ke kamar..” kata Kania yang langsung meninggalkan Juna di ruang tamu.
“Eh Ka, Mela kemana?” teriak Juna berharap Kania masih mendengarnya.
“Biasanya les ballet..” jawab Kania sekenanya.
“Tungguin gue dong..” kata Juna sambil mengejar Kania.
**
“Ngapain loe ikut ke kamar gue?” sewot Kania yang ketika hendak menutup pintu, Juna menerobos masuk dan langsung merebahkan diri di ranjang Kania.
“Yaelah, masa iya harus ijin dulu masuk ke kamar kembaran sendiri..” kata Juna sambil menatap langit-langit.
“Ya harus, gue kan cewek, nanti pas loe masuk trus gue nggak make baju gimana?” kata Kania dengan polosnya.
“Yah.. kita kan dulu waktu kecil nggak sempet gitu-gituan kan ya, biasanya aja kalau anak kembar tuh mandi bareng, ganti baju bareng, tidur bareng, pokoknya hampir semua kegiatan dilakuin bareng-bareng deh.. nah kita nggak sempet waktu dulu, gimana kalau sekarang sebagai gantinya, kita kembar kan ya.. gak papa kan?” sahut Juna sambil tersenyum jahil kearah Kania.
“Sarapp loe kak.. loe kira kita masih anak dua tahun, ingat umur woyyy.. kalau mau gituan sana sama Mela, gue mah OGAH..”  seru Kania sambil melemparkan sepatu pada Juna. Juna malah menangkap sepatu yang dilemparkan Kania.
“Hem.. sepatu loe aja wangi, apalagi....” belum sempat ia meneruskan perkataannya, Kania sudah mengambil ancang-ancang untuk melemparkan sapu. Juna langsung lari terbirit-birit sambil tertawa ngakak. Sementara Kania dibuat bad mood olehnya.
**
“Non Kania.. sudah ditunggu yang lain untuk makan malam..” kata bi Inah dari luar kamar Kania.
“Iya.. sebentar lagi Kania keluar, baru kelar mandi nih bi..” teriak Kania dari dalam kamarnya.
Setelah selesai, Kania segera menuju ke ruang makan. Di ruang makan sudah ada keluarganya, lengkap.
“Duileee.. cantiknya, huh, loe pake jadi kembaran gue segala sih.. kan kagak bisa gue pacarin.. hahaha” kata Juna menggoda Kania.
“Makan tuh gombalan loe Kak, gue gak butuh..” sewot Kania. Keluarganya tertawa.
“Kania udah punya pacar?” tanya Papa.
“Dih, Papa kepo deh..” jawab Kania sambil menuang minuman ke gelasnya.
“Udah Pa, tapi belum ditembak.. hahaha, pokoknya ada yang suka Pa, dua-duanya udah cocok tapi Cuma sahabatan.. Tadi aja ada yang keceplosan waktu ganteng-gantengan sama Juna hahaha. Kan katanya kalau keceplosan tuh tulus dari hati hahaha.” Kelakar Juna yang langsung disambut lirikan maut oleh Kania.
“Arya?” tanya Mama ikutan.
“Iya Ma.. betul bangettt..” jawab Juna antusias.
“Kyaaaaa Kak Juna.. kan udah gue bilang, just bestfriend not more than.. Please deh.. gak usah rumpi..” kata Kania sambil memutar bola matanya malas.
“Awas aja loe sampe jadian sama Arya, gue minta ditraktir di mall. Loe harus bayarin semua yang gue beli.. Oke..” sahut Juna sambil tersenyum jahil. Mangsa baru.
“Mela jugaa..” seru Mela antusias.
“Dan awas, jangan make uang Papa dan Mama, harus uang sendiri.” Tambah Mama. Sungguh membuat Kania jengkel.
“Kok kalian gitu sih..” sungut Kania.
“Berarti ada kemungkinan dong loe jadian sama Arya... hahaha, please deh Ka, loe gak bakal bisa ngalahin gue..” kata Juna penuh kemenangan.
“Semerdeka loe deh kak, yang penting kalau loe minta semua itu, gue males ngabulin. Duit gue mau gue tabung.” Seru Kania sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
“Di tabung, buat biaya nikah sama Arya ya..” ledek Juna lagi sampai Kania tersedak.
You’re crazy brother... Kayanya otak lo beneran harus direparasi deh Kak, cepet selesein makan loe trus ikut gue ke kamar, jangan tanya aneh-aneh karena gue gak mau jawab.” sahut Kania sambil terus melanjutkan makannya.
“Aduh, jadi deg-degan gue Ka, loe mau apain gue?” tanya Juna sambil tersenyum jahil. Kania mengerti apa yang ada dipikiran Juna, karena kembarannya ini otaknya memang perlu direparasi. Kania hanya diam, toh tadi sudah dipertegas kalau Juna tanya aneh-aneh ia tak mau menjawab. Keluarganya tersenyum melihatnya.
**
Selesai makan, Juna dan Kania menuju kamar Kania dengan langkah orang yang kekenyangan.
“Aduh perut gue buncit seketika..” celetuk Juna sambil tangan kanannya memegangi perutnya dan tangan kirinya memegang pada pegangan tangga.
“Awas buk, nanti keguguran, hati-hati jalannya hahaha.” Kata Kania sambil memegang perut Juna dan berlari meninggalkannya.
“Kaniaaa awas loe..” teriak Juna yang tak kuat untuk mengejar Kania.
“Serasa hutan aja nih rumah..” sahut Mela yang berjalan di belakang Juna. Juna berbalik badan dan menatapnya tajam.
“Sirik aja loe..” Mela melongo mendengarnya.
Well kembar... apa-apa sama, termasuk sifatnya. Mela, yang sabar ya..” dumel Mela setelah Juna masuk ke kamar Kania. Ia sendiri segera masuk ke kamarnya.
**
“Loe ambil buku-buku loe deh, kita ngerjain PR bareng-bareng..” kata Kania ketika Juna baru masuk ke kamarnya. Juna mendengus kesal, ia segera berbalik arah dan menuju kamarnya. Kania terkikik melihat ekspresi kesal Juna. Setelah Juna kembali, Kania segera membuka ruang belajar dadakan di kamarnya.
“Kan kita saingan Ka kalau di pelajaran..” seru Juna dengan muka dimelas-melaskan. Kania menatapnya sinis.
“Ya udah kalau loe gak kasihan sama gue yang udah suka rela nyiapin ruang belajar dadakan nih..” gerutu Kania sambil menunjuk tempat tamu di kamarnya yang sudah disulap menjadi tempat belajar.
“Yayayaya oke, PR Matematika, Fisika, dan Sejarah. Mari dikerjakan..” sahut Juna layaknya seorang pramugari.
“Oke, pertama ngerjain Matematika, gue denger loe bintang akademik di SMA loe dulu, gimana kalau kita tantangan ngerjainnya, nanti dicocokin bareng-bareng, cepet-cepetan, oke..” kata Kania yang sudah nyolong start. Juna tak mau ketinggalan segera mengeluarkan pensilnya dan mengerjakan soal-soal di depannya. Kania dan Juna sangat serius dengan soal Matematika mereka, sampai hp mereka berdering tak dihiraukan sama sekali.
“Yosshhhaaa selesai...”  teriak Kania dengan wajah sumringah.
“Gue juga...” balas Juna. Mereka segera mencocokkan hasil mereka bersama-sama. Sama persis jawabnya. Yang beda hanya tulisannya, karena tulisan mereka memang berbeda.
“Berarti nih bener semua hahaha” kata Juna dan Kania bersama-sama sambil tertawa. Selanjutnya, Fisika. Kania meneguk ludah dalam-dalam. Ia tidak sanggup kalau harus bertanding mengerjakan Fisika.
“Ayolah.. katanya rangking 1 di kelas, loe mau gue geser? Dicoba dulu..” rengek Juna ketika Kania sudah menyatakan ‘menyerah’ dan ingin nyontek pekerjaan Juna saja.
“Fisika doang gue mau ngalah buat loe... gue percaya loe anak olimpiade Fisika, ngebayangin aja gue udah ngeri.. udahlah Kak, loe kerjain aja, nanti gue nyontek, atau nggak gue ngerjain Sejarah trus loe Fisika, nanti kalau sudah selesai, kita tukeran jawaban, gimana? Tawaran menarik bukan?” akhirnya Kania mengeluarkan ide gilanya.
“Sayangnya gue nggak tertarik.. Udah sini, perlahan-lahan gue ajarin..” sahut Juna dan mulai mengajari Kania.
Dan memang benar, kedua anak kembar itu memang luar biasa. Setiap tes tengah semester maupun semester, peringkat mereka selalu bertukar posisi antara 1 dan 2. Orang tua mereka benar-benar bangga, teman-teman pun kagum dengan keduanya.
***
Written in these walls are the stories that I can't explain
I leave my heart open but it stays right here empty for days
She told me in the morning she don't feel the same about us in her bones
It seems to me that when I die these words will be written on my stone
And I'll be gone, gone tonight
The ground beneath my feet is open wide
The way that I've been holdin' on too tight
With nothing in between
The story of my life
I take her home
I drive all night to keep her warm
And time... is frozen (the story of, the story of)
The story of my life
I give her hope
I spend her love
Until she's broke
Inside
The story of my life (the story of, the story of)
Written on these walls are the colors that I can't change
Leave my heart open but it stays right here in its cage
I know that in the morning now I see ascending light upon a hill
Although I am broken, my heart is untamed, still
And I'll be gone, gone tonight
The fire beneath my feet is burning bright
The way that I've been holdin' on so tight
With nothing in between
The story of my life
I take her home
I drive all night to keep her warm
And time... is frozen (the story of, the story of)
The story of my life
I give her hope
I spend her love
Until she's broke
Inside
The story of my life
            “Wowww... suara loe keren sumpah broo..” celetuk Juna mengagetkan Arya yang sedang bermain gitar sambil bernyanyi di taman belakang sekolah. ‘Mangsa baru..’ pikir Juna sambil tersenyum jahil.
“Eh Juna, ngapain disini?” tanya Arya sambil membenahi posisi duduknya agar enak ngobrol dengan Juna.
“Enggak, tadi Cuma muter-muter sini aja sambil nyari angin, eh liat loe, ya udah deh gue samperin. Tapi ngomong-ngomong lagunya dalem banget, buat siapa tuh??” seringai jahil Juna kembali muncul.
“Yaelah Juna... nyanyi doang, gue mah kalo nyanyi emang dalem hahaha” seloroh Arya. Juna dibuat kikuk. ‘Ternyata nih orang gokil juga hahaha’ batin Juna.
“Duileh.. eh cewek yang loe suka siapa sih Ya..?” tanya Juna memastikan bahwa yang disuka Arya adalah Kania, kembarannya.
“Hemm.. siapa ya.. gue tuh jarang banget sih suka sama cewek, tapi gue udah suka sama cewek sejak dua tahun yang lalu, tapi dianya nggak tau kayanya.” Jawab Arya sambil menerawang ke pohon yang tak jauh dari tempatnya duduk.
“Kok loe nggak nembak?” selidik Juna. Batinnya tertawa penuh kemenangan.
“Gue takut ditolak, lagian gue lebih nyaman deket sama dia walaupun nggak pacaran.” Jawab Arya enteng sambil menyeruput minuman botol yang dibawanya tadi.

“ Loe suka sama Kania??” tanya Juna to the point. 

Jumat, 22 Januari 2016

Crazy Brother Part 2

Part 2 (Akhirnya.. Kakak...)
“Waktu kalian umur 5 bulan, Juna diadopsi tante Rika dan om Bari karena mereka tidak bisa memiliki keturunan. Maka dari itu Mama sama Papa sering banget ke Surabaya, itu buat nengokin saudara kembar kamu Juna. Arjuna Andara Aryanto.” Cerita Mamanya.
“Kania ke kamar dulu Ma, Pa, Kania pusing..” kata Kania seraya melangkah menuju kamarnya.
“Kamu nggak apa-apa sayang?” tanya Papa.
Nothing” jawab Kania yang sudah membelakangi mereka. Air mata Kania sudah mengalir dari pelupuk matanya.
Kania segera memasuki kamarnya, menutup pintu, dan terduduk lemas di balik pintu kamarnya. Air matanya masih terus mengalir seolah tak ada habisnya.
“Gue.. kembar?” kata Kania di sela-sela isakannya. Ia teringat dengan teman chattingnya yang juga kembar dan ciri-cirinya sama dengan dirinya. Kania segera mengambil hpnya dan mengetik SMS untuk orang itu. Arjuna.
To : Arjuna
Siapa nama kembaran loe?
From : Arjuna
Emangnya kenapa?
To : Arjuna
Loe cukup jawab pertanyaan gue
From : Arjuna
Gue gak bisa jawab
To : Arjuna
Rese loe, gue kagak mau jadi temen lagi kalau loe gak jawab pertanyaan gue ini dengan jujur. Nama loe Arjuna Andara Aryanto bukan? Kalau bukan siapa?
From : Arjuna
Iya
To : Arjuna
Loe sodara kembar gue?
From : Arjuna
Iya
To : Arjuna
Sejak kapan loe tau?
From : Arjuna
Sejak kecil, karena Papa sama Mama sering ngunjungin gue
To : Arjuna
Loe gak kangen sama gue?
From : Arjuna
Kangen lah, dari dulu gue selalu ingin punya adik
To : Arjuna
Terus kenapa loe gak nemuin gue?
From : Arjuna
Gak dibolehin sama Mama dan Papa
To : Arjuna
Kalau gini siapa yang jahat?
From : Arjuna
Gak ada
“Gue pengen banget ketemu sama kembaran gue..” gumam Kania sambil terus menangis.
Kania keluar kamarnya setelah membasuh mukanya agar tidak kelihatan habis menangis.
“Mau kemana loe kak?” tanya Mela yang masih duduk dengan Mama dan Papa di ruang keluarga.
“Terserah gue..” jawab Kania jutek sambil terus berjalan keluar dari rumahnya.
**
--di taman--
Kania masih menangis sesenggukan di kursi taman. Ia tak merasa malu karena diliatin banyak orang. Yang ia inginkan hanyalah beban di pikirannya hilang, itu aja. Sebenarnya Kania jarang bahkan hampir tidak pernah menangis di depan umum. Tapi hari ini lain masalahnya.
“Kenapa sih, gini amat hidup gue..” kata Kania sambil meremas-remas kain bajunya.
“Ehem.. kirain tadi yang nangis di siang bolong kaya gini, di taman pula, itu si mbak Kunti, eh ternyata lebih parah dari Kunti toh..” kata seseorang mengagetkan Kania.
“Apa loe.. suka-suka gue dong..” sahut Kania.
“Ternyata gak punya urat malu ya loe.. nangis di tempat umum, menjijikan..” kata orang itu lagi.
“Masalah gitu buat loe, udahlah Ya, loe kalau masih mengaku sahabat gue, loe duduk trus hibur gue, tapi kalau loe butuh banget dipecat jadi sahabat gue, loe pergi dan jangan pernah ganggu hidup gue lagi.” oceh Kania kepada orang itu yang ternyata Arya.
“Yaelah, sadis amat.. iya nih, gue duduk, loe kenapa sih nangis-nangis sampe gak berbentuk gini? Abis diputusin pacar?” cerocos Arya setelah duduk di samping Kania.
“Sahabat macam apa sih loe.. gue kan kagak punya pacar, loe gak tau apa pura-pura gak tau sih?” omel Kania geregetan.
“Oh iya lupa, loe kan jones.. emangnya kamu kenapa Kania sayang?” tanya Arya sambil mengelus pundak Kania. Ada desiran halus di hati Kania ketika Arya mengucapkan ‘sayang’ tadi.
‘Kok gue jadi salting gini sih.. bodo ah, mungkin gue gak terbiasa aja.’ batin Kania sambil menunduk menyembunyikan semburat merah di pipinya.
“Oke, gue mau nanya, kalau loe dipisahin sama kembaran loe selama 17 tahun, bagaimana perasaan loe?” tanya Kania menetralisir keadaan.
“Loe punya kembaran?” celetuk Arya. Kania mendengus kesal.
“Gue tu nanya, harusnya loe jawab deh..” sebal Kania. Arya hanya cengengesan.
“Ya gue kecewalah, apalagi saudara kembar, ikatan batinnya kuat tuh.. tapi tergantung alasannya kenapa bisa dipisahkan sih.. kalau alasannya gak jelas ya pasti gue bakalan marah-marah gak jelas, tapi kalau jelas ya gue bakalan menerima alasan tersebut.” Tutur Arya. Kania tersenyum mendengarnya. Baru kali ini ia mendengar Arya berkata panjang lebar. Cukup membuatnya terkagum.
“Apa loe senyum-senyum, kesambet ya? Atau kagum sama gue?” sewot Arya. Air muka Kania langsung berubah malu dan berusaha mencari-cari pelampiasan.
“Idih.. pede gilak, gue tuh nggak nyangka aja, seseorang yang konyol kaya loe bisa ngomong segitu bijaknya, belajar darimana loe... hahaha.” Ledek Kania. Kini tak tampak lagi kesedihan dalam wajahnya.
“Kania... loe niat muji kagak sih?” geram Arya. Kania malah tertawa terbahak-bahak.
“Emang gue muji? Orang gue ngledek.. hahaha” mereka langsung bermain kejar-kejaran di taman seperti anak kecil. Mereka tak sadar diperhatikan.
**
Sesampainya di rumah, Kania melihat ada seorang laki-laki berbadan tegap, tengah menonton televisi membelakanginya.
“Siapa ya?” gumam Kania pelan. Terkesan seperti bisikan. Terdengar suara langkah kedua orang tuanya menuruni tangga.
“Kania, sudah pulang sayang?” tanya Mamanya.
‘Iya-iyalah, sekarang kan gue udah di rumah, hadeh, ada-ada aja nyokap.’ Batin Kania.
“Iya Ma, siapa sih?” tanya Kania setengah berbisik kepada mamanya sambil menunjukkan dagunya kearah orang yang kini masih asyik menonton acara televisi dan papanya malah menyusulnya.
“Dia kembaran kamu, Juna, ini Kania.” Teriak Mama. Juna segera menoleh kearah Kania dan Mamanya.
“Ehm, aku ke kamar dulu deh Ma.” Kata Kania segera berlari ke kamarnya.
“Ma, aku boleh kan bicara sama Kania di kamarnya?” pinta Juna. Mamanya hanya mengangguk. Juna berlari menaiki tangga menuju kamar Kania.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
Suara pintu kamar Kania diketuk seseorang. Ia kini berdiri di balkon kamarnya, masih dengan air mata berlinang. Karena tak dibukakan pintu, Juna dengan terpaksa membuka pintu yang tak terkunci tersebut. Ia melihat seorang gadis tengah membelakanginya berdiri di balkon.
“Ka..” panggil Juna sambil berjalan mendekati Kania.
“Siapa?” tanya Kania jutek. Padahal ia tahu bahwa itu Juna, kembarannya.
“Gue Juna, kembaran loe, Arjuna Andara Aryanto, temen chatting loe selama lima tahun.” Jelas Juna. Kania diam tanpa membalas ucapan Juna. “Kenapa loe diem aja? Loe gak mau nerima gue sebagai kembaran loe? Loe masih marah sama Mama dan Papa, gak cukupkah penjelasan temen loe tadi?” tanya Juna dengan nada di buat marah.
“Loe tadi ngikutin gue?” Kania malah balik bertanya.
“Nggak penting, kayanya loe emang belum siap nerima gue..” kata Juna sambil berbalik badan berniat ingin meninggalkan Kania. Pelukan dari belakang terasa hangat pada tubuh Juna. Siapa lagi kalau bukan Kania yang memeluknya.
“Loe tega ninggalin gue lagi?” tanya Kania dalam keadaan terisak di punggung Juna.
“Gue gak ada niat sama sekali buat ninggalin loe, gue udah bilang kan, disini gak da yang perlu disalahkan..” jelas Juna sambil memutar tubuhnya menghadap Kania dan menarik tubuh Kania ke dadanya yang sudah lumayan bidang di umurnya yang masih 17 tahun. Nyaman. Itu yang dirasakan Kania.
“Gue kangen sama loe.. dari dulu gue pengen banget punya sodara cowok.” Kata Kania di pelukan Juna.
“Gue udah denger semua percakapan loe dengan temen loe tadi, eh, pacar loe kali yak.. hahaha” kata Juna sambil tertawa renyah.
“Dia sahabat gue. Just my bestfriend brother..” sahut Kania. Betul-betul mirip dengan Ferdy kembarannya ini.
“Sahabat? Kok gue ragu ya.. tadi waktu dia manggil loe ‘sayang’ kok muka loe memerah.. hahaha” tak henti-hentinya Juna meledek Kania.
“Gue curiga, sebenarnya loe kembaran gue, atau detektiv yang disewa bokap gue sih?” celetuk Kania sambil merengut dan melepaskan pelukannya.
“Kagak deh, bercanda doang, duduk gih, gue mau banyak cerita.” Kata Juna mempersilakan duduk Kania di ranjang Kania.
“Bukannya ini kamar gue ya? Kok loe sih yang berasa jadi tuannya, gue berasa tamu.” Sahut Kania dengan wajah heran yang dibuat-buat.
“Hahaha, lagian loe nggak peka banget, kan capek berdiri terus..” kata Juna yang langsung duduk saja tanpa mempedulikan yang punya kamar. Kania mengikuti duduk di samping Juna. Mereka bercerita banyak. Mulai dari kehidupan Juna di Surabaya, sampai akhirnya bisa bertemu dengan Kania sekarang ini. Tak jarang pula diselingi canda tawa. Mama sama Papa mereka tersenyum melihat keakraban anak kembarnya yang belum ada sehari bertemu.
“Kayanya Kania emang pengen banget deh punya saudara laki-laki Ma, sama Mela aja jarang akur kaya gini loh..” celetuk Papa.
“Itu karena Papanya jarang di rumah, jarang ada waktu untuk Kania, jadi dia membutuhkan sosok yang bisa menjaganya dalam keadaan apapun. Itu yang dikeluhkan Kania dari dulu.” Cerita Mama sambil terus merangkul erat pinggang Papa.
“Ah masa sih? Buat apa Papa masukin dia ke klub karate kalau masih butuh penjagaan hahaha” canda Papa, tapi masih pada taraf pelan karena takut ketahuan anak-anaknya.
“Namanya juga anak-anak, banyak maunya..” balas Mama asal.
“Coba kalau dia nggak punya kembaran, apa dia minta dibuatin kakak cowok ya.. hahaha” tambah Papa, Mama tertawa pelan mendengarnya dan segera mengajak suaminya tersebut turun kembali ke ruang keluarga.
**
“Sumpah, kalian berdua mirip banget sih?” celetuk Mela ketika Kania dan Juna sudah bersiap berangkat sekolah dan turun dari kamar untuk sarapan.
“Iyelah, namanya juga kembar..” sahut Juna tak kalah cempreng seperti Kania biasanya.
“Ebusett, kagak ada bedanya Ma, Pa, sama Kak Kania, sama-sama cempreng. Satu aja bikin pusing, sekarang ada dua, tamatlah riwayatku..” semua tertawa mendengar ucapan pasrah Mela. Mereka sarapan bersama-sama dengan keluarga yang utuh.
“Eh Kak Jun, nanti di sekolah kita seolah gak kenal aja ya, biar temen-temen yang nebak sendiri aja..” celetuk Kania. Keluarganya menatap dengan tatapan aneh.
“Bukannya pacar loe udah tau ya.. hahaha” ledek Juna yang langsung mendapat tatapan heran dari orang tuanya.
“Kyaaaa Kak Juna.. Arya bukan pacar gue, dia sahabat gue... helloo Mama sama Papa juga tahu gue sama dia sahabatan sejak kecil..” teriak Kania. Orang tuanya hanya geleng-geleng melihat tingkah anak-anaknya. Kalau biasanya hanya Kania dan Mela yang ribut di meja makan, kini tambah satu.
“Masak yah Ma, Pa, kalo Cuma sahabat, kemarin waktu Kania dipanggil ‘sayang’ gitu mukanya langsung merah merona..” ledek Juna tak ada habisnya.
“Ah udahlah.. Kania mau berangkat, ingat Kak Juna, seolah tak kenal Oke.. Pa anterin Kak Juna aja ya nanti hahaha.” Kata Kania sambil meninggalkan meja makan menuju garasi.
“Kalau biasanya gue yang selalu jadi pelaku pertengkaran bareng Kak Kania, baru kali ini gue jadi pendengar setia.. REKOR. Hem.. Kak Juna berangkat bareng Mela ya.” Kata Mela sambil menyangklong tasnya.
“Oke, ayok..” seru Juna sambil menggandeng Mela dan bersalaman dengan orang tua mereka.
“Hati-hati.” Kata orang tua mereka.
“Oke” sahut Mela dan Juna.

**