Part
3 (I’m Her Brother)
Sesampai di sekolah, Juna masih harus mengurus kepindahannya di ruang
Kepala Sekolah.
“Eh, temen-temen, kita kedatangan teman baru di kelas ini, sumpah...
ganteng bangettt..” kata ibu-ibu rumpi di kelas Kania.
“Ih apaan sih tuh ibu-ibu rumpi..” celetuk Ferdy. Kania ingin tertawa.
Apakah yang dimaksud teman-temannya itu Juna? Tapi kok segitu dipujinya? Hahaha
apakah seganteng itu kembarannya. Bel masuk membuyarkan lamunannya. Bu Titik
masuk dengan seorang anak laki-laki dibelakangnya. Terdengar bisik-bisik
ibu-ibu rumpi.
“Tuh ganteng kan..” celetuk salah satu personil ibu-ibu rumpi. Kania
ingin tertawa mendengarnya, kalau tidak demi rencananya.
“Anak-anak, kalian ada teman baru, pindahan dari Surabaya, silakan
perkenalkan dirimu Nak..” kata Bu Titik mempersilakan Juna.
“Perkenalkan nama saya Arjuna, panggil saja Juna, saya pindahan dari SMA
Antariksa Surabaya, mohon bantuannya..” kata Juna.
“Kok wajahnya familiar ya..” celetuk Zeva. Kania hanya tersenyum.
“Masa sih?” sahutnya pura-pura tidak menyadari. ‘Hahaha dia kembaran gue temen-temen.’
“Sekarang kamu duduk sama Arya ya.” Kata Bu Titik sambil menunjuk tempat
duduk Arya.
“Mati gue..” ceplos Kania pelan.
“Kenapa Ka?” tanya Zeva khawatir pada sahabatnya.
“Enggak.. hehehe.” Jawab Kania asal. ‘Arghhh
mati gue sampe rumah nanti, pasti Kak Juna ledekin abis-abisan.’ Benar
seperti dugaannya. Juna berjalan melewatinya sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Hai.. gue Juna.” Kata Juna sambil mengulurkan tangan pada Arya.
“Arya.. loe mirip seseorang deh..” sahut Arya dengan wajah masih
bingung.
“Mirip siapa? Saudara loe? Temen loe? Atau pacar loe?” sengaja volume
suara Juna agak dibesarkan agar Kania denger, karena Bu Titik juga sedang
keluar kelas untuk menerima telepon. Kania yang mendengarnya langsung menepuk
jidat.
“Sialan tuh orang..” gerutu Kania.
“Hahaha, mungkin perasaan gue saja..” kata Arya.
**
Bel isitirahat berbunyi, saat-saat menyenangkan bagi Kania dan teman-temannya.
Di kantin mereka bercanda ria, personil mereka tambah satu, Juna.
“Eh Jun, nama loe Cuma Arjuna gitu doang to?” tanya Renata penasaran
dengan logat agak sedikit medok.
“Ada deh.. hahaha” kata Juna. Semua merengut, kecuali Kania. Juna
penasaran dengan hubungan Kania dan Arya. Ia lalu mendapat ide yang sangat
cemerlang.
“Ka, nanti pulang bareng gue yak, gue anter sampe rumah deh..” kata
Juna. Kania mencibir mendengarnya tanpa mengetahui rencana Juna.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Anita yang sangat mengagumi Juna
sejak perkenalan tadi.
“Kania pacar gue, kita dulu LDR.” Jawab Juna enteng. Shock Kania
mendengarnya. Teman-temannya pun juga. Yang paling menyenangkan bagi Juna
adalah melihat ekspresi Arya, yang menyiratkan kecemburuan, sakit hati, kaget,
pokoknya Juna nggak kuat untuk meneruskan sandiwaranya.
“Apaan sih loe..” sungut Kania. Semua masih tak percaya. Juna hampir
tertawa melihat ekspresi kembarannya dan teman-teman barunya. Akhirnya tawa itu
tak dapat ditahannya.
“Hahaha Sumpah Ka, gue gak kuat.. Oke temen-temen, kenalin, gue Arjuna
Andara Aryanto, kakak kembar dari Kania Andara Aryanto, apa kita kurang mirip kok
kalian sampe nggak bisa nyamain kita berdua?” semua melongo mendengar pengakuan
Juna. Mereka langsung menatap Juna dan Kania secara bergantian.
“Iya.. ih, mirip banget.. kok kita bego ya..” celetuk Ferdy, Kania
tertawa.
“Kan emang iya Fer..” sahut Kania. Semua tertawa. Juna puas dengan
ekspresi yang dilihatnya dari wajah Arya tadi. Menyiratkan kekecewaan, dan kini
Arya tersenyum kembali. Sungguh mencurigakan, pikirnya.
“Disini ada yang ada hati sama gue atau Kania?” tanya Juna dengan
narsisnya.
“Setau gue, dari loe perkenalan tadi, sudah ada yang senyum-senyum ngliatin
loe hahaha, kalau Kania mah, gue tau kayanya yang suka sama dia.” Kata Zeva
sambil melirik Anita dan Arya secara bergantian. Ketika Zeva melirik Arya, Juna
langsung tertawa.
“Persis dengan yang gue perkirakan Va.. hahaha” sahut Juna sambil
tertawa karena tebakannya benar. Ia
memang pintar masalah beginian.
“Eh tapi, siapa yang ada rasa sama gue?” tanya Juna lagi dengan segenap
kenarsisannya.
“Semua personil ibu-ibu rumpi.. Loe belum dateng aja udah pada heboh.
Apalagi waktu loe kenalan, kuping gue panas dengerin celotehan mereka yang
katanya ganteng bangetttt.. Dih jijay gue, gantengan juga Arya kemana-mana
hahaha.” Cerocos Kania tanpa sadar dengan ucapannya yang dapat menimbulkan
masalah karena Juna mendengarnya. Tak salah, Juna langsung tersenyum penuh
arti. ‘Kena loe’ Kania yang sadar
akan ucapannya langsung menepuk jidat.
“Tega banget loe ngejodohin gue sama ibu-ibu rumpi.. Oh ya deh,
gantengan Arya.” Kata Juna dengan nada memelas disambung dengan senyum sinis
yang hanya Kania yan tahu.
“Pada ngomongin apa sih?” tanya Arya dengan tampang polos. Semua tertawa
ngakak.
**
“Kak Juna tadi maksudnya apa sih?” tanya Kania seusai mereka sampai di
rumah.
“Hehehe tadi gue Cuma mau ngeliat ekspresinya Arya doang, sumpah Ka.. dia
tuh kayanya suka deh sama loe, masa denger pernyataan gue tadi dia langsung
shock, di matanya itu lo, ada ekspresi patah hati dan kecewa, hahaha puas
banget gue. Kenapa kalian nggak jadian aja sih..” cerocos Juna.
“Sumpah deh loe kak, loe tau kan genk ibu-ibu rumpi di kelas kita..
masuk aja loe jadi personilnya, gilakk loe lebih parah dari mereka tau nggak
sih..” sungut Kania.
“Ye.. beda, kalau mereka versi cewek, gue versi cowok..” jelas Juna
dengan bangganya.
“Semerdeka loe aja lah.. gue mau ke kamar..” kata Kania yang langsung
meninggalkan Juna di ruang tamu.
“Eh Ka, Mela kemana?” teriak Juna berharap Kania masih mendengarnya.
“Biasanya les ballet..” jawab Kania sekenanya.
“Tungguin gue dong..” kata Juna sambil mengejar Kania.
**
“Ngapain loe ikut ke kamar gue?” sewot Kania yang ketika hendak menutup
pintu, Juna menerobos masuk dan langsung merebahkan diri di ranjang Kania.
“Yaelah, masa iya harus ijin dulu masuk ke kamar kembaran sendiri..”
kata Juna sambil menatap langit-langit.
“Ya harus, gue kan cewek, nanti pas loe masuk trus gue nggak make baju
gimana?” kata Kania dengan polosnya.
“Yah.. kita kan dulu waktu kecil nggak sempet gitu-gituan kan ya,
biasanya aja kalau anak kembar tuh mandi bareng, ganti baju bareng, tidur
bareng, pokoknya hampir semua kegiatan dilakuin bareng-bareng deh.. nah kita
nggak sempet waktu dulu, gimana kalau sekarang sebagai gantinya, kita kembar
kan ya.. gak papa kan?” sahut Juna sambil tersenyum jahil kearah Kania.
“Sarapp loe kak.. loe kira kita masih anak dua tahun, ingat umur woyyy..
kalau mau gituan sana sama Mela, gue mah OGAH..” seru Kania sambil melemparkan sepatu pada
Juna. Juna malah menangkap sepatu yang dilemparkan Kania.
“Hem.. sepatu loe aja wangi, apalagi....” belum sempat ia meneruskan
perkataannya, Kania sudah mengambil ancang-ancang untuk melemparkan sapu. Juna
langsung lari terbirit-birit sambil tertawa ngakak. Sementara Kania dibuat bad mood olehnya.
**
“Non Kania.. sudah ditunggu yang lain untuk makan malam..” kata bi Inah
dari luar kamar Kania.
“Iya.. sebentar lagi Kania keluar, baru kelar mandi nih bi..” teriak
Kania dari dalam kamarnya.
Setelah selesai, Kania segera menuju ke ruang makan. Di ruang makan sudah
ada keluarganya, lengkap.
“Duileee.. cantiknya, huh, loe pake jadi kembaran gue segala sih.. kan
kagak bisa gue pacarin.. hahaha” kata Juna menggoda Kania.
“Makan tuh gombalan loe Kak, gue gak butuh..” sewot Kania. Keluarganya
tertawa.
“Kania udah punya pacar?” tanya Papa.
“Dih, Papa kepo deh..” jawab Kania sambil menuang minuman ke gelasnya.
“Udah Pa, tapi belum ditembak.. hahaha, pokoknya ada yang suka Pa,
dua-duanya udah cocok tapi Cuma sahabatan.. Tadi aja ada yang keceplosan waktu
ganteng-gantengan sama Juna hahaha. Kan katanya kalau keceplosan tuh tulus dari
hati hahaha.” Kelakar Juna yang langsung disambut lirikan maut oleh Kania.
“Arya?” tanya Mama ikutan.
“Iya Ma.. betul bangettt..” jawab Juna antusias.
“Kyaaaaa Kak Juna.. kan udah gue bilang, just bestfriend not more
than.. Please deh.. gak usah rumpi..” kata Kania sambil memutar bola
matanya malas.
“Awas aja loe sampe jadian sama Arya, gue minta ditraktir di mall. Loe
harus bayarin semua yang gue beli.. Oke..” sahut Juna sambil tersenyum jahil.
Mangsa baru.
“Mela jugaa..” seru Mela antusias.
“Dan awas, jangan make uang Papa dan Mama, harus uang sendiri.” Tambah
Mama. Sungguh membuat Kania jengkel.
“Kok kalian gitu sih..” sungut Kania.
“Berarti ada kemungkinan dong loe jadian sama Arya... hahaha, please deh
Ka, loe gak bakal bisa ngalahin gue..” kata Juna penuh kemenangan.
“Semerdeka loe deh kak, yang penting kalau loe minta semua itu, gue
males ngabulin. Duit gue mau gue tabung.” Seru Kania sambil menyuapkan nasi ke
mulutnya.
“Di tabung, buat biaya nikah sama Arya ya..” ledek Juna lagi sampai
Kania tersedak.
“You’re crazy brother... Kayanya
otak lo beneran harus direparasi deh Kak, cepet selesein makan loe trus ikut
gue ke kamar, jangan tanya aneh-aneh karena gue gak mau jawab.” sahut Kania
sambil terus melanjutkan makannya.
“Aduh, jadi deg-degan gue Ka, loe mau apain gue?” tanya Juna sambil
tersenyum jahil. Kania mengerti apa yang ada dipikiran Juna, karena kembarannya
ini otaknya memang perlu direparasi. Kania hanya diam, toh tadi sudah
dipertegas kalau Juna tanya aneh-aneh ia tak mau menjawab. Keluarganya
tersenyum melihatnya.
**
Selesai makan, Juna dan Kania menuju kamar Kania dengan langkah orang
yang kekenyangan.
“Aduh perut gue buncit seketika..” celetuk Juna sambil tangan kanannya
memegangi perutnya dan tangan kirinya memegang pada pegangan tangga.
“Awas buk, nanti keguguran, hati-hati jalannya hahaha.” Kata Kania
sambil memegang perut Juna dan berlari meninggalkannya.
“Kaniaaa awas loe..” teriak Juna yang tak kuat untuk mengejar Kania.
“Serasa hutan aja nih rumah..” sahut Mela yang berjalan di belakang
Juna. Juna berbalik badan dan menatapnya tajam.
“Sirik aja loe..” Mela melongo mendengarnya.
“Well kembar... apa-apa sama,
termasuk sifatnya. Mela, yang sabar ya..” dumel Mela setelah Juna masuk ke
kamar Kania. Ia sendiri segera masuk ke kamarnya.
**
“Loe ambil buku-buku loe deh, kita ngerjain PR bareng-bareng..” kata
Kania ketika Juna baru masuk ke kamarnya. Juna mendengus kesal, ia segera
berbalik arah dan menuju kamarnya. Kania terkikik melihat ekspresi kesal Juna.
Setelah Juna kembali, Kania segera membuka ruang belajar dadakan di kamarnya.
“Kan kita saingan Ka kalau di pelajaran..” seru Juna dengan muka
dimelas-melaskan. Kania menatapnya sinis.
“Ya udah kalau loe gak kasihan sama gue yang udah suka rela nyiapin
ruang belajar dadakan nih..” gerutu Kania sambil menunjuk tempat tamu di
kamarnya yang sudah disulap menjadi tempat belajar.
“Yayayaya oke, PR Matematika, Fisika, dan Sejarah. Mari dikerjakan..”
sahut Juna layaknya seorang pramugari.
“Oke, pertama ngerjain Matematika, gue denger loe bintang akademik di
SMA loe dulu, gimana kalau kita tantangan ngerjainnya, nanti dicocokin
bareng-bareng, cepet-cepetan, oke..” kata Kania yang sudah nyolong start. Juna tak mau ketinggalan segera
mengeluarkan pensilnya dan mengerjakan soal-soal di depannya. Kania dan Juna
sangat serius dengan soal Matematika mereka, sampai hp mereka berdering tak
dihiraukan sama sekali.
“Yosshhhaaa selesai...” teriak
Kania dengan wajah sumringah.
“Gue juga...” balas Juna. Mereka segera mencocokkan hasil mereka
bersama-sama. Sama persis jawabnya. Yang beda hanya tulisannya, karena tulisan
mereka memang berbeda.
“Berarti nih bener semua hahaha” kata Juna dan Kania bersama-sama sambil
tertawa. Selanjutnya, Fisika. Kania meneguk ludah dalam-dalam. Ia tidak sanggup
kalau harus bertanding mengerjakan Fisika.
“Ayolah.. katanya rangking 1 di kelas, loe mau gue geser? Dicoba dulu..”
rengek Juna ketika Kania sudah menyatakan ‘menyerah’ dan ingin nyontek
pekerjaan Juna saja.
“Fisika doang gue mau ngalah buat loe... gue percaya loe anak olimpiade
Fisika, ngebayangin aja gue udah ngeri.. udahlah Kak, loe kerjain aja, nanti
gue nyontek, atau nggak gue ngerjain Sejarah trus loe Fisika, nanti kalau sudah
selesai, kita tukeran jawaban, gimana? Tawaran menarik bukan?” akhirnya Kania
mengeluarkan ide gilanya.
“Sayangnya gue nggak tertarik.. Udah sini, perlahan-lahan gue ajarin..” sahut
Juna dan mulai mengajari Kania.
Dan memang benar, kedua anak kembar itu memang luar biasa. Setiap tes
tengah semester maupun semester, peringkat mereka selalu bertukar posisi antara
1 dan 2. Orang tua mereka benar-benar bangga, teman-teman pun kagum dengan
keduanya.
***
Written in these walls are the stories that I can't
explain
I leave my heart open but it stays right here empty for
days
She told me in the morning she don't feel the same about us in her bones
She told me in the morning she don't feel the same about us in her bones
It seems to me that when I die these words will be
written on my stone
And I'll be gone, gone tonight
And I'll be gone, gone tonight
The ground beneath my feet is open wide
The way that I've been holdin' on too tight
With nothing in between
The story of my life
The story of my life
I take her home
I drive all night to keep her warm
And time... is frozen (the story of, the story of)
The story of my life
I give her hope
I spend her love
Until she's broke
Inside
The story of my life (the story of, the story of)
Written on these walls are the colors that I can't change
Written on these walls are the colors that I can't change
Leave my heart open but it stays right here in its cage
I know that in the morning now I see ascending light upon a hill
I know that in the morning now I see ascending light upon a hill
Although I am broken, my heart is untamed, still
And I'll be gone, gone tonight
And I'll be gone, gone tonight
The fire beneath my feet is burning bright
The way that I've been holdin' on so tight
With nothing in between
The story of my life
The story of my life
I take her home
I drive all night to keep her warm
And time... is frozen (the story of, the story of)
The story of my life
I give her hope
I spend her love
Until she's broke
Inside
The story of my life
“Wowww... suara loe keren sumpah
broo..” celetuk Juna mengagetkan Arya yang sedang bermain gitar sambil
bernyanyi di taman belakang sekolah. ‘Mangsa
baru..’ pikir Juna sambil tersenyum jahil.
“Eh Juna, ngapain disini?” tanya Arya sambil membenahi posisi duduknya
agar enak ngobrol dengan Juna.
“Enggak, tadi Cuma muter-muter sini aja sambil nyari angin, eh liat loe,
ya udah deh gue samperin. Tapi ngomong-ngomong lagunya dalem banget, buat siapa
tuh??” seringai jahil Juna kembali muncul.
“Yaelah Juna... nyanyi doang, gue mah kalo nyanyi emang dalem hahaha”
seloroh Arya. Juna dibuat kikuk. ‘Ternyata
nih orang gokil juga hahaha’ batin
Juna.
“Duileh.. eh cewek yang loe suka siapa sih Ya..?” tanya Juna memastikan
bahwa yang disuka Arya adalah Kania, kembarannya.
“Hemm.. siapa ya.. gue tuh jarang banget sih suka sama cewek, tapi gue
udah suka sama cewek sejak dua tahun yang lalu, tapi dianya nggak tau kayanya.”
Jawab Arya sambil menerawang ke pohon yang tak jauh dari tempatnya duduk.
“Kok loe nggak nembak?” selidik Juna. Batinnya tertawa penuh kemenangan.
“Gue takut ditolak, lagian gue lebih nyaman deket sama dia walaupun
nggak pacaran.” Jawab Arya enteng sambil menyeruput minuman botol yang
dibawanya tadi.
“ Loe suka sama Kania??” tanya Juna to the point.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar