MY HOME

MY HOME

Jumat, 22 Januari 2016

Crazy Brother Part 2

Part 2 (Akhirnya.. Kakak...)
“Waktu kalian umur 5 bulan, Juna diadopsi tante Rika dan om Bari karena mereka tidak bisa memiliki keturunan. Maka dari itu Mama sama Papa sering banget ke Surabaya, itu buat nengokin saudara kembar kamu Juna. Arjuna Andara Aryanto.” Cerita Mamanya.
“Kania ke kamar dulu Ma, Pa, Kania pusing..” kata Kania seraya melangkah menuju kamarnya.
“Kamu nggak apa-apa sayang?” tanya Papa.
Nothing” jawab Kania yang sudah membelakangi mereka. Air mata Kania sudah mengalir dari pelupuk matanya.
Kania segera memasuki kamarnya, menutup pintu, dan terduduk lemas di balik pintu kamarnya. Air matanya masih terus mengalir seolah tak ada habisnya.
“Gue.. kembar?” kata Kania di sela-sela isakannya. Ia teringat dengan teman chattingnya yang juga kembar dan ciri-cirinya sama dengan dirinya. Kania segera mengambil hpnya dan mengetik SMS untuk orang itu. Arjuna.
To : Arjuna
Siapa nama kembaran loe?
From : Arjuna
Emangnya kenapa?
To : Arjuna
Loe cukup jawab pertanyaan gue
From : Arjuna
Gue gak bisa jawab
To : Arjuna
Rese loe, gue kagak mau jadi temen lagi kalau loe gak jawab pertanyaan gue ini dengan jujur. Nama loe Arjuna Andara Aryanto bukan? Kalau bukan siapa?
From : Arjuna
Iya
To : Arjuna
Loe sodara kembar gue?
From : Arjuna
Iya
To : Arjuna
Sejak kapan loe tau?
From : Arjuna
Sejak kecil, karena Papa sama Mama sering ngunjungin gue
To : Arjuna
Loe gak kangen sama gue?
From : Arjuna
Kangen lah, dari dulu gue selalu ingin punya adik
To : Arjuna
Terus kenapa loe gak nemuin gue?
From : Arjuna
Gak dibolehin sama Mama dan Papa
To : Arjuna
Kalau gini siapa yang jahat?
From : Arjuna
Gak ada
“Gue pengen banget ketemu sama kembaran gue..” gumam Kania sambil terus menangis.
Kania keluar kamarnya setelah membasuh mukanya agar tidak kelihatan habis menangis.
“Mau kemana loe kak?” tanya Mela yang masih duduk dengan Mama dan Papa di ruang keluarga.
“Terserah gue..” jawab Kania jutek sambil terus berjalan keluar dari rumahnya.
**
--di taman--
Kania masih menangis sesenggukan di kursi taman. Ia tak merasa malu karena diliatin banyak orang. Yang ia inginkan hanyalah beban di pikirannya hilang, itu aja. Sebenarnya Kania jarang bahkan hampir tidak pernah menangis di depan umum. Tapi hari ini lain masalahnya.
“Kenapa sih, gini amat hidup gue..” kata Kania sambil meremas-remas kain bajunya.
“Ehem.. kirain tadi yang nangis di siang bolong kaya gini, di taman pula, itu si mbak Kunti, eh ternyata lebih parah dari Kunti toh..” kata seseorang mengagetkan Kania.
“Apa loe.. suka-suka gue dong..” sahut Kania.
“Ternyata gak punya urat malu ya loe.. nangis di tempat umum, menjijikan..” kata orang itu lagi.
“Masalah gitu buat loe, udahlah Ya, loe kalau masih mengaku sahabat gue, loe duduk trus hibur gue, tapi kalau loe butuh banget dipecat jadi sahabat gue, loe pergi dan jangan pernah ganggu hidup gue lagi.” oceh Kania kepada orang itu yang ternyata Arya.
“Yaelah, sadis amat.. iya nih, gue duduk, loe kenapa sih nangis-nangis sampe gak berbentuk gini? Abis diputusin pacar?” cerocos Arya setelah duduk di samping Kania.
“Sahabat macam apa sih loe.. gue kan kagak punya pacar, loe gak tau apa pura-pura gak tau sih?” omel Kania geregetan.
“Oh iya lupa, loe kan jones.. emangnya kamu kenapa Kania sayang?” tanya Arya sambil mengelus pundak Kania. Ada desiran halus di hati Kania ketika Arya mengucapkan ‘sayang’ tadi.
‘Kok gue jadi salting gini sih.. bodo ah, mungkin gue gak terbiasa aja.’ batin Kania sambil menunduk menyembunyikan semburat merah di pipinya.
“Oke, gue mau nanya, kalau loe dipisahin sama kembaran loe selama 17 tahun, bagaimana perasaan loe?” tanya Kania menetralisir keadaan.
“Loe punya kembaran?” celetuk Arya. Kania mendengus kesal.
“Gue tu nanya, harusnya loe jawab deh..” sebal Kania. Arya hanya cengengesan.
“Ya gue kecewalah, apalagi saudara kembar, ikatan batinnya kuat tuh.. tapi tergantung alasannya kenapa bisa dipisahkan sih.. kalau alasannya gak jelas ya pasti gue bakalan marah-marah gak jelas, tapi kalau jelas ya gue bakalan menerima alasan tersebut.” Tutur Arya. Kania tersenyum mendengarnya. Baru kali ini ia mendengar Arya berkata panjang lebar. Cukup membuatnya terkagum.
“Apa loe senyum-senyum, kesambet ya? Atau kagum sama gue?” sewot Arya. Air muka Kania langsung berubah malu dan berusaha mencari-cari pelampiasan.
“Idih.. pede gilak, gue tuh nggak nyangka aja, seseorang yang konyol kaya loe bisa ngomong segitu bijaknya, belajar darimana loe... hahaha.” Ledek Kania. Kini tak tampak lagi kesedihan dalam wajahnya.
“Kania... loe niat muji kagak sih?” geram Arya. Kania malah tertawa terbahak-bahak.
“Emang gue muji? Orang gue ngledek.. hahaha” mereka langsung bermain kejar-kejaran di taman seperti anak kecil. Mereka tak sadar diperhatikan.
**
Sesampainya di rumah, Kania melihat ada seorang laki-laki berbadan tegap, tengah menonton televisi membelakanginya.
“Siapa ya?” gumam Kania pelan. Terkesan seperti bisikan. Terdengar suara langkah kedua orang tuanya menuruni tangga.
“Kania, sudah pulang sayang?” tanya Mamanya.
‘Iya-iyalah, sekarang kan gue udah di rumah, hadeh, ada-ada aja nyokap.’ Batin Kania.
“Iya Ma, siapa sih?” tanya Kania setengah berbisik kepada mamanya sambil menunjukkan dagunya kearah orang yang kini masih asyik menonton acara televisi dan papanya malah menyusulnya.
“Dia kembaran kamu, Juna, ini Kania.” Teriak Mama. Juna segera menoleh kearah Kania dan Mamanya.
“Ehm, aku ke kamar dulu deh Ma.” Kata Kania segera berlari ke kamarnya.
“Ma, aku boleh kan bicara sama Kania di kamarnya?” pinta Juna. Mamanya hanya mengangguk. Juna berlari menaiki tangga menuju kamar Kania.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
Suara pintu kamar Kania diketuk seseorang. Ia kini berdiri di balkon kamarnya, masih dengan air mata berlinang. Karena tak dibukakan pintu, Juna dengan terpaksa membuka pintu yang tak terkunci tersebut. Ia melihat seorang gadis tengah membelakanginya berdiri di balkon.
“Ka..” panggil Juna sambil berjalan mendekati Kania.
“Siapa?” tanya Kania jutek. Padahal ia tahu bahwa itu Juna, kembarannya.
“Gue Juna, kembaran loe, Arjuna Andara Aryanto, temen chatting loe selama lima tahun.” Jelas Juna. Kania diam tanpa membalas ucapan Juna. “Kenapa loe diem aja? Loe gak mau nerima gue sebagai kembaran loe? Loe masih marah sama Mama dan Papa, gak cukupkah penjelasan temen loe tadi?” tanya Juna dengan nada di buat marah.
“Loe tadi ngikutin gue?” Kania malah balik bertanya.
“Nggak penting, kayanya loe emang belum siap nerima gue..” kata Juna sambil berbalik badan berniat ingin meninggalkan Kania. Pelukan dari belakang terasa hangat pada tubuh Juna. Siapa lagi kalau bukan Kania yang memeluknya.
“Loe tega ninggalin gue lagi?” tanya Kania dalam keadaan terisak di punggung Juna.
“Gue gak ada niat sama sekali buat ninggalin loe, gue udah bilang kan, disini gak da yang perlu disalahkan..” jelas Juna sambil memutar tubuhnya menghadap Kania dan menarik tubuh Kania ke dadanya yang sudah lumayan bidang di umurnya yang masih 17 tahun. Nyaman. Itu yang dirasakan Kania.
“Gue kangen sama loe.. dari dulu gue pengen banget punya sodara cowok.” Kata Kania di pelukan Juna.
“Gue udah denger semua percakapan loe dengan temen loe tadi, eh, pacar loe kali yak.. hahaha” kata Juna sambil tertawa renyah.
“Dia sahabat gue. Just my bestfriend brother..” sahut Kania. Betul-betul mirip dengan Ferdy kembarannya ini.
“Sahabat? Kok gue ragu ya.. tadi waktu dia manggil loe ‘sayang’ kok muka loe memerah.. hahaha” tak henti-hentinya Juna meledek Kania.
“Gue curiga, sebenarnya loe kembaran gue, atau detektiv yang disewa bokap gue sih?” celetuk Kania sambil merengut dan melepaskan pelukannya.
“Kagak deh, bercanda doang, duduk gih, gue mau banyak cerita.” Kata Juna mempersilakan duduk Kania di ranjang Kania.
“Bukannya ini kamar gue ya? Kok loe sih yang berasa jadi tuannya, gue berasa tamu.” Sahut Kania dengan wajah heran yang dibuat-buat.
“Hahaha, lagian loe nggak peka banget, kan capek berdiri terus..” kata Juna yang langsung duduk saja tanpa mempedulikan yang punya kamar. Kania mengikuti duduk di samping Juna. Mereka bercerita banyak. Mulai dari kehidupan Juna di Surabaya, sampai akhirnya bisa bertemu dengan Kania sekarang ini. Tak jarang pula diselingi canda tawa. Mama sama Papa mereka tersenyum melihat keakraban anak kembarnya yang belum ada sehari bertemu.
“Kayanya Kania emang pengen banget deh punya saudara laki-laki Ma, sama Mela aja jarang akur kaya gini loh..” celetuk Papa.
“Itu karena Papanya jarang di rumah, jarang ada waktu untuk Kania, jadi dia membutuhkan sosok yang bisa menjaganya dalam keadaan apapun. Itu yang dikeluhkan Kania dari dulu.” Cerita Mama sambil terus merangkul erat pinggang Papa.
“Ah masa sih? Buat apa Papa masukin dia ke klub karate kalau masih butuh penjagaan hahaha” canda Papa, tapi masih pada taraf pelan karena takut ketahuan anak-anaknya.
“Namanya juga anak-anak, banyak maunya..” balas Mama asal.
“Coba kalau dia nggak punya kembaran, apa dia minta dibuatin kakak cowok ya.. hahaha” tambah Papa, Mama tertawa pelan mendengarnya dan segera mengajak suaminya tersebut turun kembali ke ruang keluarga.
**
“Sumpah, kalian berdua mirip banget sih?” celetuk Mela ketika Kania dan Juna sudah bersiap berangkat sekolah dan turun dari kamar untuk sarapan.
“Iyelah, namanya juga kembar..” sahut Juna tak kalah cempreng seperti Kania biasanya.
“Ebusett, kagak ada bedanya Ma, Pa, sama Kak Kania, sama-sama cempreng. Satu aja bikin pusing, sekarang ada dua, tamatlah riwayatku..” semua tertawa mendengar ucapan pasrah Mela. Mereka sarapan bersama-sama dengan keluarga yang utuh.
“Eh Kak Jun, nanti di sekolah kita seolah gak kenal aja ya, biar temen-temen yang nebak sendiri aja..” celetuk Kania. Keluarganya menatap dengan tatapan aneh.
“Bukannya pacar loe udah tau ya.. hahaha” ledek Juna yang langsung mendapat tatapan heran dari orang tuanya.
“Kyaaaa Kak Juna.. Arya bukan pacar gue, dia sahabat gue... helloo Mama sama Papa juga tahu gue sama dia sahabatan sejak kecil..” teriak Kania. Orang tuanya hanya geleng-geleng melihat tingkah anak-anaknya. Kalau biasanya hanya Kania dan Mela yang ribut di meja makan, kini tambah satu.
“Masak yah Ma, Pa, kalo Cuma sahabat, kemarin waktu Kania dipanggil ‘sayang’ gitu mukanya langsung merah merona..” ledek Juna tak ada habisnya.
“Ah udahlah.. Kania mau berangkat, ingat Kak Juna, seolah tak kenal Oke.. Pa anterin Kak Juna aja ya nanti hahaha.” Kata Kania sambil meninggalkan meja makan menuju garasi.
“Kalau biasanya gue yang selalu jadi pelaku pertengkaran bareng Kak Kania, baru kali ini gue jadi pendengar setia.. REKOR. Hem.. Kak Juna berangkat bareng Mela ya.” Kata Mela sambil menyangklong tasnya.
“Oke, ayok..” seru Juna sambil menggandeng Mela dan bersalaman dengan orang tua mereka.
“Hati-hati.” Kata orang tua mereka.
“Oke” sahut Mela dan Juna.

**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar