Part
1 (I Hope...)
When you try your best, but you don't succeed
When you get what you want, but not what you need
When you feel so tired, but you can't sleep
Stuck in reverse
When the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?
Lights will guide you home
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
High up above or down below
High up above or down below
When you too in love to let it goIf you never try you
will never know
Just what your worth
Lights will guide you home
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
Tears stream down your face
Tears stream down your face
When you lose something you cannot replace
Tears stream down on your face
And I..
Tears stream down your face
Tears stream down your face
I promise you I will learn from my mistakes
Tears stream down on your face
And I..
Lights will guide you home
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you.
“Wow..
suara loe keren banget dek.” Puji seorang anak laki-laki setelah memainkan
gitarnya, memuji sebuah suara yang sangat lembut baginya.
“Kak Aldo juga keren main
gitarnya, suara Zeva juga keren kok..” kata gadis yang dipuji itu kepada orang
yang memainkan gitar tadi yang ternyata bernama Aldo dan adiknya Zeva yang
merupakan sahabat karib gadis tersebut.
“Enggak Kania.. suara loe jauh lebih keren dari suara
gue..” seru Zeva.
“Sudah-sudah, suara kalian sama-sama keren kok.. kakak ke kamar dulu
ya..” kata Aldo yang dibalas anggukan oleh Kania dan Zeva dan segera beranjak
ke kamarnya.
“Va, enak ya punya kakak cowok..” celetuk Kania. Ya, dari dulu Kania
ingin sekali mempunyai kakak laki-laki. Baginya, seorang kakak laki-laki akan
selalu menjaganya dalam keadaan apapun. Selalu bisa diandalkan. Yang siap
menemaninya bernyanyi, siap menemaninya olahraga, siap menemani ketika orang
tua mereka sedang ke luar kota, pokoknya siap dalam segala hal. Seperti Aldo
yang selalu siap menjaga adiknya, Zeva.
“Iya enak sih..” sahut Zeva bingung dengan arah pembicaraan Kania.
“Gue pengen banget deh punya kakak cowok.. kaya loe gitu.” Kata Kania.
“Hah.. udahlah Ka, loe bisa kan anggap kak Aldo kakak loe juga..” hibur
Zeva yang melihat raut kesedihan di wajah cantik sahabatnya tersebut.
“Iya sih.. makasih ya Va, hem.. gue pulang dulu deh..” pamit Kania
sambil berjalan melenggang mengambil tasnya yang diletakkan di sofa ruang tamu
rumah Zeva.
“Oke, take care yah..” kata
Zeva yang dibalas acungan jempol oleh Kania. Kania segera pergi meninggalkan
rumah Zeva dengan mengendarai sepeda motor maticnya.
**
Impian terbesar Kania dalam hidupnya adalah memiliki kakak laki-laki.
Tapi mungkin itu hanya mimpi. Karena Kania telah berumur 17 tahun. Tidak
mungkin kan ibunya akan melahirkan anak yang lebih tua dari Kania. Kalau adik
mungkin bisa.
“Hem.. di saat umur gue udah 17 tahun gini kok gue masih suka iri kalo
ngeliat temen-temen lagi bersama kakak cowok mereka ya.. huh..” gumam Kania di
sela-sela mengerjakan tugasnya yang seambrek.
“Kalau aja gue punya kakak cowok kan dengan santai + mudah, gue bisa
nyelesein tugas-tugas fisika yang njelimet ini dengan bantuan kakak..”
tambahnya lagi. Kania merasa otaknya sudah agak geser kali ini. Bisa-bisanya
dia ngelantur di siang bolong.
“Ah tauk ah, besok nyontek temen-temen aja ni tugas, blank banget otak
gue..” kata Kania sembari menutup buku Fisikanya dan memasukkan ke dalam tas. Ia
lebih memilih mengutak-atik handphonenya dan segera log in facebook.
“Ih.. tuh kan, mereka pada kenapa sih kok pake upload-upload foto bersama kakak mereka, bikin envy aja deh..” gerutu Kania. Ia memang tak henti-hentinya
menggerutu apabila teman facebooknya ada yang mengunggah foto bersama kakak
laki-laki mereka.
“Kania.. makan dulu sayang..” teriak mamanya dari ruang makan.
“Iya Ma..” sahutnya sembari meletakkan handphonenya di meja belajarnya.
Setelah di meja makan, ia telah disambut oleh Papa, Mama, dan adik
perempuannya.
“Ih, muka loe kagak dibasuh berapa tahun sih kak? Kusut amat..” ledek Mela,
sang adik.
“Bisa diem kan..” kata Kania sambil melirik tajam kearah adiknya.
“Sudah-sudah, kalian kapan sih nggak bertengkar? Mama sama Papa pusing
dengernya..” seru Papanya yang sudah hafal dengan tingkah laku kedua putrinya.
“Oh iya sayang, Papa sama Mama besok mau ke Surabaya, kira-kira 2 hari,
kalian baik-baik di rumah ya..” kata Mama sambil menyendokkan nasi untuk
anak-anaknya.
“Kerja Ma?” tanya Mela dengan polos.
“Iya sayang.. Papa mau ketemu sama clientnya
yang ada di Surabaya..” jawab Mama dengan senyum meneduhkan. Maklum, Papa Kania
adalah seorang pengusaha meubel yang sangat sibuk.
“Perasaan Papa sama Mama sering banget deh ke Surabaya, sekali-sekali
ajak Kania napa..” sahut Kania yang dibalas cibiran oleh Mela.
“Loe kan nyusahin banget kak orangnya, mana mau Mama sama Papa ngajak
loe.. gue yang baik hati aja kagak pernah diajak, apalagi loe..” kata Mela
dengan segenap kenarsisannya.
“Semerdeka loe aja deh..” ujar Kania yang sudah tak tahan dengan
adiknya.
Mereka lalu melanjutkan makan, selesai makan, Mela dan Kania segera
beranjak menuju kamar mereka masing-masing untuk melanjutkan kegiatan mereka.
“Apa besok tidak terlalu mengejutkan Ma?” tanya Papa.
“Mereka harus tau Pa.. Kalau tidak kapan lagi..” jawab Mama dengan nada
mantap. Papa menghembuskan nafas panjang.
**
Di kamar, Kania kembali memainkan handphonenya, tenggelam dalam dunia
mayanya, bersama dengan teman chattingnya yang sudah dikenalnya sejak lima
tahun lalu.
“Hem.. Arjun online, chatting ah..” kata Kania yang melihat sang teman
chatting namanya terpampang jelas pada obrolan paling atas.
Kania Andara Aryanto
Gue minta no hp loe, lagi males chatting
soalnya..
Arjuna Arrounders
085********* kasih nama kalo loe mau SMS
Kania segera menyimpan nomor hp yang diberikan oleh teman chattingnya
tersebut. Sebelum ia mulai berkirim pesan lewat SMS dengan Arjuna, ia melihat
Arjuna memposting sebuah status.
Arjuna Arrounders
Gak sabar besok J We
will meet :K
“Misterius amat nih orang..” gumam Kania. Memang benar, selama lima
tahun chattingan sama Arjuna, Arjuna tak pernah mengunggah fotonya ke facebook
sekalipun.
To: Arjuna
Hay, ini no gue *Kania
From : Arjuna
Iya gue tau
To : Arjuna
Yaelah.. napa tadi pake nyuruh ngasih nama
kalau udah tau..
From : Arjuna
Ya kirain aja loe ngehubunginya besok atau
kapan gitu.
To : Arjuna
Hadeh, terserah lah.
From : Arjuna
Rumah loe daerah mana?
To : Arjuna
Jakarta Pusat, napa mau main?
From : Arjuna
Kagak, Cuma nanya, males gilak main ke Jakarta,
enakan di Surabaya, loe nggak tertarik main ke Surabaya?
To : Arjuna
Sebenarnya orang tua gue sering banget ke
Surabaya, besok aja mereka mau ke Surabaya, tapi gue kagak pernah diijinin buat
ikut.
From : Arjuna
Kasihan..
“Gilak nih orang, gue ngetiknya sampe jempol gue pegel, responnya Cuma
gini, nyakitin banget..” dumel Kania.
To : Arjuna
Eh, loe punya kakak gak?
From : Arjuna
Kagak, kalau kembaran sama adik cewek punya..
To : Arjuna
Wow.. seru tuh.. kembaran loe cewek apa
cowok?
From : Arjuna
Cewek, tapi di Surabaya gue Cuma sendiri
To : Arjuna
La kok bisa?
From : Arjuna
Kan gue di Surabaya kost
To : Arjuna
Oh.. kok loe gak pernah upload foto sih? Gue
kan pengen liat wujud loe
From : Arjuna
Yang pasti wujud gue bukan manusia setengah
dewa seperti maksud om Iwan Fals ataupun manusia setengah salmon seperti maksud
kakak Raditya Dika hahaha
To : Arjuna
Kambing loe.. diajak serius juga..
From : Arjuna
Hahaha maaf, kapan-kapan deh gue main ke
Jakarta.
To : Arjuna
Okelah, eh udah dulu ya, gue mau bobo cantik,
jarang gue hari minggu gini di rumah, mumpung di rumah mau tidur siang dulu
gue, bye..
From : Arjuna
Jangan lupa mimpiin gue
“Orang gila, wujud loe aja gue kagak pernah tahu, disuruh mimpiin, ya
mending gue mimpiin Mario Maurer lah yang udah jelas dan benar-benar keren.”
Oceh Kania dan langsung merebahkan dirinya ke tempat tidur.
**
Keesokan harinya, Kania bangun pagi-pagi sekali. Mela yang melihatnya
sampai bingung. Biasanya pukul setengah tujuh lebih Kania baru turun dari
kamarnya, ini pukul enam sudah sarapan bersama dirinya dengan kecepatan
mengunyah yang gila-gilaan, sangat-sangat menjijikan baginya.
“Loe kagak demam kan kak?” tanya Mela memastikan.
“Emang kenapa sih? Eh Papa sama Mama udah berangkat?” Kania malah
kembali bertanya sambil mengunyah nasi goreng buatan bi Inah.
“Udah dari subuh tadi, kakak kok tumben sih jam segini udah sarapan,
udah rapi pula..” kata Mela sambil mengamati Kania dari ujung kepala sampai
ujung kaki.
“Mau nyontek tugas temen, gue berangkat duluan ya, bye..” kata Kania
sambil menyeruput air putih dan meninggalkan Mela yang masih terpaku di meja
makan.
“Gila tuh orang, berangkat pagi kalau Cuma mau nyontek tugas..” gumam
Mela sambil meneruskan sarapannya.
**
Sesampai di sekolah, Kania segera berlari menuju kelasnya. Ia begitu
hafal, pasti teman-temannya sudah banyak yang datang untuk menyontek tugas.
“Zeva, Anita, Arya, Renata, Ferdy, semuanya.. gue nyontek Fisika..”
teriak Kania setelah memasuki ruang kelas. Teman-temannya yang semula gaduh
langsung diam. Hening.
“Tuh mulut apa toa sih?” celetuk Ferdy. Semua mata tertuju pada Kania.
Kania hanya cengar-cengir nggak jelas.
“Hehehe maaf-maaf, lanjutin lagi aja ritual kalian, gue hanya ada perlu
dengan mereka berlima..” kata Kania yang merasa bersalah telah menghentikan
aktivitas menyontek teman-temannya.
“Huu..” sahut teman-temannya. Sedangkan Zeva, Anita, Arya, Ferdy, dan
Renata hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah sahabatnya itu.
“Buat rusuh lagi kan loe..” kata Arya, sahabatnya yang paling dekat
dengan Kania setelah Zeva.
“Hehehe peace, gue nyontek beneran loh, gue udah berusaha ngerjain, tapi
hasilnya nihil.” Kata Kania sambil cengengesan.
“Loe sih.. bego dipelihara..” sahut Renata. Yang lainnya tertawa.
“Kamvrett loe.. Fisika doang yang nol besar buat gue..” kata Kania tak
terima sambil menyalin jawaban temannya ke dalam buku tugas Fisika miliknya.
“Percaya deh..” sahut sahabat-sahabatnya serempak. Memang Kania adalah
anak yang pandai dan selalu jadi juara kelas meskipun nilai Fisikanya mepet.
**
Dua hari di rumah bersama dengan Kania tanpa orang tuanya cukup membuat
Mela gondok. Bi Inah pun sering mengelus dadanya kalau kedua anak majikannya
ini sudah bertengkar. Mereka akan selalu membuat keributan di rumah dengan suara
cempreng mereka.
“Non Kania, sudah ditunggu Tuan dan Nyonya di ruang keluarga.” Panggil
bi Inah di depan kamar Kania.
“Yes, Papa sama Mama pulang..” seru Kania sambil beranjak dari
ranjangnya untuk menemui orang tuanya.
“Kalian pasti di rumah bertengkar terus ya..” celetuk Papa ketika Kania
sudah sampai di ruang keluarga.
“Kakak tuh Pa, cari gara-gara terus..” adu Mela. Mela memang baru kelas
6 SD.
“Salahin gue aja terus.. Ma, Pa, kenapa aku dulu nggak punya kakak sih?
Kan enak kalau punya kakak daripada punya adik nyebelin kaya dia mendingan kan
punya kakak, apalagi kakaknya cowok..” sahut Kania. Papa tersedak mendengar
ucapan Kania ketika beliau sedang menyeruput teh hangatnya.
“Uhuk-uhuk” Papa terbatuk.
“Papa hati-hati dong kalau minum, kaya loe kagak nyebelin aja kak, ngaca
dong..” sengit Mela seolah tak memedulikan Papanya. Sedangkan Mama memilih
diam.
“Pa, sekarang aja ya..” kata Mama.Kania dan Mela menatap kedua
orangtuanya bingung.
“Iya Ma..” sahut Papa yang semakin membuat mereka berdua bingung.
“Sayang.. jadi sebenarnya kalian itu punya kakak laki-laki, kembarannya Kania..”
Mama mulai bercerita. Kania melongo mendengarnya.
“Kenapa Mama baru bilang? Mama tau nggak sih, dari dulu Kania pengen
banget punya saudara cowok kaya temen-temen, Mama sama Papa kok tega sih..
Kania pengen ketemu sama kembaran Kania sekarang. Pokoknya sekarang.” Kata
Kania dengan ngototnya.
“Loe bisa diem dulu kagak sih kak? Biarin Mama sama Papa cerita dulu
napa..”sahut Mela yang gemas dengan tingkah kakaknya.
“Waktu kalian umur 5 bulan, Juna diadopsi tante Rika dan om Bari karena
mereka tidak bisa memiliki keturunan. Maka dari itu Mama sama Papa sering
banget ke Surabaya, itu buat nengokin saudara kembar kamu....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar