MY HOME

MY HOME

Jumat, 22 Januari 2016

Crazy Brother Part 1


Part 1 (I Hope...)
When you try your best, but you don't succeed
When you get what you want, but not what you need
When you feel so tired, but you can't sleep
Stuck in reverse
When the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
High up above or down below
When you too in love to let it goIf you never try you will never know
Just what your worth
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
Tears stream down your face
When you lose something you cannot replace
Tears stream down on your face
And I..
Tears stream down your face
I promise you I will learn from my mistakes
Tears stream down on your face
And I..
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you.

            “Wow.. suara loe keren banget dek.” Puji seorang anak laki-laki setelah memainkan gitarnya, memuji sebuah suara yang sangat lembut baginya.
“Kak Aldo juga keren main gitarnya, suara Zeva juga keren kok..” kata gadis yang dipuji itu kepada orang yang memainkan gitar tadi yang ternyata bernama Aldo dan adiknya Zeva yang merupakan sahabat karib gadis tersebut.
“Enggak Kania.. suara loe jauh lebih keren dari suara gue..” seru Zeva.
“Sudah-sudah, suara kalian sama-sama keren kok.. kakak ke kamar dulu ya..” kata Aldo yang dibalas anggukan oleh Kania dan Zeva dan segera beranjak ke kamarnya.
“Va, enak ya punya kakak cowok..” celetuk Kania. Ya, dari dulu Kania ingin sekali mempunyai kakak laki-laki. Baginya, seorang kakak laki-laki akan selalu menjaganya dalam keadaan apapun. Selalu bisa diandalkan. Yang siap menemaninya bernyanyi, siap menemaninya olahraga, siap menemani ketika orang tua mereka sedang ke luar kota, pokoknya siap dalam segala hal. Seperti Aldo yang selalu siap menjaga adiknya, Zeva.
“Iya enak sih..” sahut Zeva bingung dengan arah pembicaraan Kania.
“Gue pengen banget deh punya kakak cowok.. kaya loe gitu.” Kata Kania.
“Hah.. udahlah Ka, loe bisa kan anggap kak Aldo kakak loe juga..” hibur Zeva yang melihat raut kesedihan di wajah cantik sahabatnya tersebut.
“Iya sih.. makasih ya Va, hem.. gue pulang dulu deh..” pamit Kania sambil berjalan melenggang mengambil tasnya yang diletakkan di sofa ruang tamu rumah Zeva.
“Oke, take care yah..” kata Zeva yang dibalas acungan jempol oleh Kania. Kania segera pergi meninggalkan rumah Zeva dengan mengendarai sepeda motor maticnya.
**
Impian terbesar Kania dalam hidupnya adalah memiliki kakak laki-laki. Tapi mungkin itu hanya mimpi. Karena Kania telah berumur 17 tahun. Tidak mungkin kan ibunya akan melahirkan anak yang lebih tua dari Kania. Kalau adik mungkin bisa.
“Hem.. di saat umur gue udah 17 tahun gini kok gue masih suka iri kalo ngeliat temen-temen lagi bersama kakak cowok mereka ya.. huh..” gumam Kania di sela-sela mengerjakan tugasnya yang seambrek.
“Kalau aja gue punya kakak cowok kan dengan santai + mudah, gue bisa nyelesein tugas-tugas fisika yang njelimet ini dengan bantuan kakak..” tambahnya lagi. Kania merasa otaknya sudah agak geser kali ini. Bisa-bisanya dia ngelantur di siang bolong.
“Ah tauk ah, besok nyontek temen-temen aja ni tugas, blank banget otak gue..” kata Kania sembari menutup buku Fisikanya dan memasukkan ke dalam tas. Ia lebih memilih mengutak-atik handphonenya dan segera log in facebook.
“Ih.. tuh kan, mereka pada kenapa sih kok pake upload-upload foto bersama kakak mereka, bikin envy aja deh..” gerutu Kania. Ia memang tak henti-hentinya menggerutu apabila teman facebooknya ada yang mengunggah foto bersama kakak laki-laki mereka.
“Kania.. makan dulu sayang..” teriak mamanya dari ruang makan.
“Iya Ma..” sahutnya sembari meletakkan handphonenya di meja belajarnya.
Setelah di meja makan, ia telah disambut oleh Papa, Mama, dan adik perempuannya.
“Ih, muka loe kagak dibasuh berapa tahun sih kak? Kusut amat..” ledek Mela, sang adik.
“Bisa diem kan..” kata Kania sambil melirik tajam kearah adiknya.
“Sudah-sudah, kalian kapan sih nggak bertengkar? Mama sama Papa pusing dengernya..” seru Papanya yang sudah hafal dengan tingkah laku kedua putrinya.
“Oh iya sayang, Papa sama Mama besok mau ke Surabaya, kira-kira 2 hari, kalian baik-baik di rumah ya..” kata Mama sambil menyendokkan nasi untuk anak-anaknya.
“Kerja Ma?” tanya Mela dengan polos.
“Iya sayang.. Papa mau ketemu sama clientnya yang ada di Surabaya..” jawab Mama dengan senyum meneduhkan. Maklum, Papa Kania adalah seorang pengusaha meubel yang sangat sibuk.
“Perasaan Papa sama Mama sering banget deh ke Surabaya, sekali-sekali ajak Kania napa..” sahut Kania yang dibalas cibiran oleh Mela.
“Loe kan nyusahin banget kak orangnya, mana mau Mama sama Papa ngajak loe.. gue yang baik hati aja kagak pernah diajak, apalagi loe..” kata Mela dengan segenap kenarsisannya.
“Semerdeka loe aja deh..” ujar Kania yang sudah tak tahan dengan adiknya.
Mereka lalu melanjutkan makan, selesai makan, Mela dan Kania segera beranjak menuju kamar mereka masing-masing untuk melanjutkan kegiatan mereka.
“Apa besok tidak terlalu mengejutkan Ma?” tanya Papa.
“Mereka harus tau Pa.. Kalau tidak kapan lagi..” jawab Mama dengan nada mantap. Papa menghembuskan nafas panjang.
**
Di kamar, Kania kembali memainkan handphonenya, tenggelam dalam dunia mayanya, bersama dengan teman chattingnya yang sudah dikenalnya sejak lima tahun lalu.
“Hem.. Arjun online, chatting ah..” kata Kania yang melihat sang teman chatting namanya terpampang jelas pada obrolan paling atas.
Kania Andara Aryanto
Gue minta no hp loe, lagi males chatting soalnya..
Arjuna Arrounders
085********* kasih nama kalo loe mau SMS
Kania segera menyimpan nomor hp yang diberikan oleh teman chattingnya tersebut. Sebelum ia mulai berkirim pesan lewat SMS dengan Arjuna, ia melihat Arjuna memposting sebuah status.
Arjuna Arrounders
Gak sabar besok J We will meet :K
“Misterius amat nih orang..” gumam Kania. Memang benar, selama lima tahun chattingan sama Arjuna, Arjuna tak pernah mengunggah fotonya ke facebook sekalipun.
To: Arjuna
Hay, ini no gue *Kania
From : Arjuna
Iya gue tau
To : Arjuna
Yaelah.. napa tadi pake nyuruh ngasih nama kalau udah tau..
From : Arjuna
Ya kirain aja loe ngehubunginya besok atau kapan gitu.
To : Arjuna
Hadeh, terserah lah.
From : Arjuna
Rumah loe daerah mana?
To : Arjuna
Jakarta Pusat, napa mau main?
From : Arjuna
Kagak, Cuma nanya, males gilak main ke Jakarta, enakan di Surabaya, loe nggak tertarik main ke Surabaya?
To : Arjuna
Sebenarnya orang tua gue sering banget ke Surabaya, besok aja mereka mau ke Surabaya, tapi gue kagak pernah diijinin buat ikut.
From : Arjuna
Kasihan..
“Gilak nih orang, gue ngetiknya sampe jempol gue pegel, responnya Cuma gini, nyakitin banget..” dumel Kania.
To : Arjuna
Eh, loe punya kakak gak?
From : Arjuna
Kagak, kalau kembaran sama adik cewek punya..
To : Arjuna
Wow.. seru tuh.. kembaran loe cewek apa cowok?
From : Arjuna
Cewek, tapi di Surabaya gue Cuma sendiri
To : Arjuna
La kok bisa?
From : Arjuna
Kan gue di Surabaya kost
To : Arjuna
Oh.. kok loe gak pernah upload foto sih? Gue kan pengen liat wujud loe
From : Arjuna
Yang pasti wujud gue bukan manusia setengah dewa seperti maksud om Iwan Fals ataupun manusia setengah salmon seperti maksud kakak Raditya Dika hahaha
To : Arjuna
Kambing loe.. diajak serius juga..
From : Arjuna
Hahaha maaf, kapan-kapan deh gue main ke Jakarta.
To : Arjuna
Okelah, eh udah dulu ya, gue mau bobo cantik, jarang gue hari minggu gini di rumah, mumpung di rumah mau tidur siang dulu gue, bye..
From : Arjuna
Jangan lupa mimpiin gue
“Orang gila, wujud loe aja gue kagak pernah tahu, disuruh mimpiin, ya mending gue mimpiin Mario Maurer lah yang udah jelas dan benar-benar keren.” Oceh Kania dan langsung merebahkan dirinya ke tempat tidur.
**
Keesokan harinya, Kania bangun pagi-pagi sekali. Mela yang melihatnya sampai bingung. Biasanya pukul setengah tujuh lebih Kania baru turun dari kamarnya, ini pukul enam sudah sarapan bersama dirinya dengan kecepatan mengunyah yang gila-gilaan, sangat-sangat menjijikan baginya.
“Loe kagak demam kan kak?” tanya Mela memastikan.
“Emang kenapa sih? Eh Papa sama Mama udah berangkat?” Kania malah kembali bertanya sambil mengunyah nasi goreng buatan bi Inah.
“Udah dari subuh tadi, kakak kok tumben sih jam segini udah sarapan, udah rapi pula..” kata Mela sambil mengamati Kania dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Mau nyontek tugas temen, gue berangkat duluan ya, bye..” kata Kania sambil menyeruput air putih dan meninggalkan Mela yang masih terpaku di meja makan.
“Gila tuh orang, berangkat pagi kalau Cuma mau nyontek tugas..” gumam Mela sambil meneruskan sarapannya.
**
Sesampai di sekolah, Kania segera berlari menuju kelasnya. Ia begitu hafal, pasti teman-temannya sudah banyak yang datang untuk menyontek tugas.
“Zeva, Anita, Arya, Renata, Ferdy, semuanya.. gue nyontek Fisika..” teriak Kania setelah memasuki ruang kelas. Teman-temannya yang semula gaduh langsung diam. Hening.
“Tuh mulut apa toa sih?” celetuk Ferdy. Semua mata tertuju pada Kania. Kania hanya cengar-cengir nggak jelas.
“Hehehe maaf-maaf, lanjutin lagi aja ritual kalian, gue hanya ada perlu dengan mereka berlima..” kata Kania yang merasa bersalah telah menghentikan aktivitas menyontek teman-temannya.
“Huu..” sahut teman-temannya. Sedangkan Zeva, Anita, Arya, Ferdy, dan Renata hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah sahabatnya itu.
“Buat rusuh lagi kan loe..” kata Arya, sahabatnya yang paling dekat dengan Kania setelah Zeva.
“Hehehe peace, gue nyontek beneran loh, gue udah berusaha ngerjain, tapi hasilnya nihil.” Kata Kania sambil cengengesan.
“Loe sih.. bego dipelihara..” sahut Renata. Yang lainnya tertawa.
“Kamvrett loe.. Fisika doang yang nol besar buat gue..” kata Kania tak terima sambil menyalin jawaban temannya ke dalam buku tugas Fisika miliknya.
“Percaya deh..” sahut sahabat-sahabatnya serempak. Memang Kania adalah anak yang pandai dan selalu jadi juara kelas meskipun nilai Fisikanya mepet.
**
Dua hari di rumah bersama dengan Kania tanpa orang tuanya cukup membuat Mela gondok. Bi Inah pun sering mengelus dadanya kalau kedua anak majikannya ini sudah bertengkar. Mereka akan selalu membuat keributan di rumah dengan suara cempreng mereka.
“Non Kania, sudah ditunggu Tuan dan Nyonya di ruang keluarga.” Panggil bi Inah di depan kamar Kania.
“Yes, Papa sama Mama pulang..” seru Kania sambil beranjak dari ranjangnya untuk menemui orang tuanya.
“Kalian pasti di rumah bertengkar terus ya..” celetuk Papa ketika Kania sudah sampai di ruang keluarga.
“Kakak tuh Pa, cari gara-gara terus..” adu Mela. Mela memang baru kelas 6 SD.
“Salahin gue aja terus.. Ma, Pa, kenapa aku dulu nggak punya kakak sih? Kan enak kalau punya kakak daripada punya adik nyebelin kaya dia mendingan kan punya kakak, apalagi kakaknya cowok..” sahut Kania. Papa tersedak mendengar ucapan Kania ketika beliau sedang menyeruput teh hangatnya.
“Uhuk-uhuk” Papa terbatuk.
“Papa hati-hati dong kalau minum, kaya loe kagak nyebelin aja kak, ngaca dong..” sengit Mela seolah tak memedulikan Papanya. Sedangkan Mama memilih diam.
“Pa, sekarang aja ya..” kata Mama.Kania dan Mela menatap kedua orangtuanya bingung.
“Iya Ma..” sahut Papa yang semakin membuat mereka berdua bingung.
“Sayang.. jadi sebenarnya kalian itu punya kakak laki-laki, kembarannya Kania..” Mama mulai bercerita. Kania melongo mendengarnya.
“Kenapa Mama baru bilang? Mama tau nggak sih, dari dulu Kania pengen banget punya saudara cowok kaya temen-temen, Mama sama Papa kok tega sih.. Kania pengen ketemu sama kembaran Kania sekarang. Pokoknya sekarang.” Kata Kania dengan ngototnya.
“Loe bisa diem dulu kagak sih kak? Biarin Mama sama Papa cerita dulu napa..”sahut Mela yang gemas dengan tingkah kakaknya.

“Waktu kalian umur 5 bulan, Juna diadopsi tante Rika dan om Bari karena mereka tidak bisa memiliki keturunan. Maka dari itu Mama sama Papa sering banget ke Surabaya, itu buat nengokin saudara kembar kamu.... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar