Ayahku
Bulanku
Kupandang
langit malam ini, begitu megah. Bahkan bisa dibilang sangat elegan. Mengapa?
Karena bintang bertaburan dengan kerlipnya yang sangat menawan. Bulan dengan
senyumnya mengawasi bintang-bintang, memberikan kehangatan pada malam ini. Aku
menerawang ke masa lalu yang sangat indah. Masa lalu tentang Aku dan Ayah.
Kulihat bulan itu, sangat mirip dengan Ayahku. Karena Ayah bagiku adalah bulan,
dan Ibuku adalah mentari, sedangkan akulah sang bintang.
**
Ayahlah yang memberiku
nama begitu agung. Aku, Rizqi Anjar Setyani. Karena Ayahku adalah seorang
petani, alasan beliau memberiku nama itu adalah agar aku dapat hidup bahagia
dan sejahtera seperti arti dari namaku. Yang kalau dijelaskan, menurut Ayah
arti dari namaku yaitu rezeki yang lancar dari sawah yang diolah Ayahku dan
agar aku bisa menjadi seseorang yang mempunyai jiwa pengabdian tinggi.
Ketika aku masih bayi,
Ayah seolah tak punya lelah karena selalu menggendongku. Maklum, akulah anak
pertamanya. Ayah selalu memimpikanku menjadi seorang dokter. Karena cita-cita
Ayah sedari kecil adalah menjadi seorang
dokter, akan tetapi karena masalah ekonomi, Ayah hanya sekolah sampai bangku
SMP.
“Nak.. Ayah ingin kamu
meneruskan cita-cita Ayah, semoga kelak kalau dewasa nanti Rizqi Ayah ini bisa
jadi Dokter yang sholehah, yang bisa menolong sesama tanpa membeda-bedakan.
Rizqi kan anak baik ya..” kata Ayah selalu sambil menina bobokanku.
Saat aku kecil,
kemana-mana selalu ditemani Ayah. Bahkan ketika Ayah sedang sholat berjamaah di
masjid pun aku diajaknya. Aku yang masih sangat kecil, selalu menangis kalau
diajak Ayah ke masjid. Ketika aku menangis saat Ayah masih sholat, dengan sabar
Ayah selalu menggendongku sambil terus melanjutkan sholatnya.
“Ayah, Rizqi pengen
jadi Hafidz Al-Qur’an.” Ucapku ketika aku sedang mengaji di rumah bersama Ayah.
Sedangkan Ibu sibuk mengurus adikku yang masih bayi.
“Kok Rizqi pengen jadi
Hafidz Al-Qur’an sih? Enggak pengen jadi Dokter?” tanya Ayah sambil membelai
kepalaku dengan lembut.
“Ya sudah, buat Ayah,
aku pengen jadi Dokter yang Hafidz Al-Qur’an, biar aku bisa menolong sesama dan
bisa menghafal Al-Qur’an. Rizqi pengen nanti kalau di surga, Rizqi bisa
mempersembahkan mahkota kewibawaan untuk Ayah dan Ibu.” Jawabku yang entah
kata-kata darimana aku mendapatkannya. Memang aku sejak kecil sangat gemar
membaca, yang membuatku tahu banyak tentang pengetahuan agama maupun sosial.
Ayahku terharu mendengar pernyataanku seraya memelukku dengan begitu erat.
Ayahku adalah seorang
yang sangat kreatif. Pernah menjuarai lomba Pidato dengan teks aksara Jawa
tingkat kabupaten. Pernah pula juara 1 lomba cipta karya tingkat Provinsi. Akan
tetapi bakat dan semua kreativitas Ayah sama sekali tidak menurun kepadaku. Aku juga tidak tau mengapa, tapi aku bersyukur,
Ayah selalu bersedia membimbingku.
Waktu aku mulai
beranjak remaja, tepatnya ketika aku telah masuk sekolah menengah pertama, aku
membaca sebuah buku yang terdapat kata-kata “Wanita apabila belum bersuami, masih
tanggung jawab ayahnya.” Semenjak mendapatkan kata-kata itu, aku memutuskan
untuk berhijab. Menutup auratku, agar mendapat ridho dari Allah SWT dan
melindungi Ayahku dari api neraka.
“Ayah, aku ingin
berhijab.” Kataku disela-sela makan bersama keluargaku. Aku telah mendiskusikannya
bersama Ibu. Lalu Ibu menyuruhku meminta persetujuan Ayah.
“Alhamdulillah, bagus
dong nak, asalkan kamu tetap istiqomah, Ayah akan selalu dukung kamu. Wah anak
Ayah sekarang sudah bisa berpikir dewasa ya..” balas Ayah sambil tersenyum.
Senyum yang sangat meneduhkan.
Terkadang Ayah
mendidikku sangat keras, bahkan tak jarang juga menggunakan kata-kata yang
kasar. Akan tetapi, dibalik kerasnya didikan Ayah, aku dapat merasakan
hasilnya. Aku bukanlah gadis yang lemah, kata Ayah, aku gadis yang sangat
tangguh. Aku bisa tersenyum meskipun mempunyai masalah yang sangat rumit. Bahkan
aku merasa tidak mempunyai masalah kalau aku bisa ceria. Karena itu yang
diajarkan Ayahku. Aku hanya bisa menangis kalau sedang sendiri, karena Ayah mengajarkanku
untuk tidak menampakkan air mataku di depan orang lain.
Baru kusadari ternyata
aku adalah orang yang takut darah. Waktu SMA, aku mengikuti kegiatan Palang
Merah Remaja, aku hanya ingin membiasakan diri menjadi seorang dokter. Akan
tetapi, ternyata setiap melihat darah, kepalaku rasanya berputar dan pasti langsung
limbung. Bahkan sering pingsan. Maka dari itu, aku bertekad untuk tidak
mengambil sekolah Kedokteran. Aku tahu, pasti Ayah akan kecewa.
**
Aku tersadar dari
lamunanku setelah ada seseorang memanggil namaku.
“Rizqi, sedang apa
malam-malam melamun di luar?” tanya Ayah sambil duduk di sampingku.
“Hem, enggak kok Yah,
Rizqi hanya memikirkan tentang pendidikan yang akan Rizqi tempuh selanjutnya
setelah lulus SMA nanti.” Jawabku beralibi. Aku merindukan masa kecilku,
sangat-sangat rindu.
“Terus, apa yang kamu
pikirkan?” tanya Ayah lagi. Beliau memang selalu tanggap kalau sudah menyangkut
pendidikan anak-anaknya.
“In Shaa Allah Rizqi
mau ambil Sastra Yah, maaf karena Rizqi tidak bisa mewujudkan cita-cita Ayah.
Rizqi tetap masih akan meneruskan cita-cita untuk menjadi Hafidzah kok. Ayah
nggak marah kan?” Ayah menggeleng pelan sambil tersenyum.
“Sudah saatnya kamu
menentukan masa depanmu sendiri Nak, Ayah hanya bisa berdoa dan mendukungmu.” Aku
langsung memeluk Ayah dengan air mata telah meleleh di pipiku.
“Terima kasih Ayah,
Rizqi tahu, Ayah sangat kecewa kan?” Ayah melepaskan pelukanku dan mengusap air
mataku.
“Sejak kapan Ayah
kecewa sama anak Ayah yang lucu ini? Ayah hanya ingin kamu mewujudkan
mimpi-mimpi kamu ini, tanpa campur tangan Ayah.” Aku langsung menggelengkan
kepala seperti anak kecil.
“Kalau tidak dengan
campur tangan Ayah, mungkin aku tak pernah menjadi seperti ini.” Kataku yang
langsung dipeluk kembali oleh Ayah.
Itulah mengapa Ayah
selalu memberi kehangatan atau kedamaian tersendiri di setiap gelapnya malamku.
Dan karena aku bintang, Ayahku yang selalu mengawasi setiap tingkah lakuku.
Karena Ayahku adalah bulan.
@#$CrescentStar18$#@