MY HOME

MY HOME

Kamis, 26 November 2015

Ayahku Bulanku

Ayahku Bulanku
            Kupandang langit malam ini, begitu megah. Bahkan bisa dibilang sangat elegan. Mengapa? Karena bintang bertaburan dengan kerlipnya yang sangat menawan. Bulan dengan senyumnya mengawasi bintang-bintang, memberikan kehangatan pada malam ini. Aku menerawang ke masa lalu yang sangat indah. Masa lalu tentang Aku dan Ayah. Kulihat bulan itu, sangat mirip dengan Ayahku. Karena Ayah bagiku adalah bulan, dan Ibuku adalah mentari, sedangkan akulah sang bintang.
**
Ayahlah yang memberiku nama begitu agung. Aku, Rizqi Anjar Setyani. Karena Ayahku adalah seorang petani, alasan beliau memberiku nama itu adalah agar aku dapat hidup bahagia dan sejahtera seperti arti dari namaku. Yang kalau dijelaskan, menurut Ayah arti dari namaku yaitu rezeki yang lancar dari sawah yang diolah Ayahku dan agar aku bisa menjadi seseorang yang mempunyai jiwa pengabdian tinggi.
Ketika aku masih bayi, Ayah seolah tak punya lelah karena selalu menggendongku. Maklum, akulah anak pertamanya. Ayah selalu memimpikanku menjadi seorang dokter. Karena cita-cita Ayah sedari kecil adalah  menjadi seorang dokter, akan tetapi karena masalah ekonomi, Ayah hanya sekolah sampai bangku SMP.
“Nak.. Ayah ingin kamu meneruskan cita-cita Ayah, semoga kelak kalau dewasa nanti Rizqi Ayah ini bisa jadi Dokter yang sholehah, yang bisa menolong sesama tanpa membeda-bedakan. Rizqi kan anak baik ya..” kata Ayah selalu sambil menina bobokanku.
Saat aku kecil, kemana-mana selalu ditemani Ayah. Bahkan ketika Ayah sedang sholat berjamaah di masjid pun aku diajaknya. Aku yang masih sangat kecil, selalu menangis kalau diajak Ayah ke masjid. Ketika aku menangis saat Ayah masih sholat, dengan sabar Ayah selalu menggendongku sambil terus melanjutkan sholatnya.
“Ayah, Rizqi pengen jadi Hafidz Al-Qur’an.” Ucapku ketika aku sedang mengaji di rumah bersama Ayah. Sedangkan Ibu sibuk mengurus adikku yang masih bayi.
“Kok Rizqi pengen jadi Hafidz Al-Qur’an sih? Enggak pengen jadi Dokter?” tanya Ayah sambil membelai kepalaku dengan lembut.
“Ya sudah, buat Ayah, aku pengen jadi Dokter yang Hafidz Al-Qur’an, biar aku bisa menolong sesama dan bisa menghafal Al-Qur’an. Rizqi pengen nanti kalau di surga, Rizqi bisa mempersembahkan mahkota kewibawaan untuk Ayah dan Ibu.” Jawabku yang entah kata-kata darimana aku mendapatkannya. Memang aku sejak kecil sangat gemar membaca, yang membuatku tahu banyak tentang pengetahuan agama maupun sosial. Ayahku terharu mendengar pernyataanku seraya memelukku dengan begitu erat. 
Ayahku adalah seorang yang sangat kreatif. Pernah menjuarai lomba Pidato dengan teks aksara Jawa tingkat kabupaten. Pernah pula juara 1 lomba cipta karya tingkat Provinsi. Akan tetapi bakat dan semua kreativitas Ayah sama sekali tidak menurun kepadaku. Aku  juga tidak tau mengapa, tapi aku bersyukur, Ayah selalu bersedia membimbingku.
Waktu aku mulai beranjak remaja, tepatnya ketika aku telah masuk sekolah menengah pertama, aku membaca sebuah buku yang terdapat kata-kata “Wanita apabila belum bersuami, masih tanggung jawab ayahnya.” Semenjak mendapatkan kata-kata itu, aku memutuskan untuk berhijab. Menutup auratku, agar mendapat ridho dari Allah SWT dan melindungi Ayahku dari api neraka.
“Ayah, aku ingin berhijab.” Kataku disela-sela makan bersama keluargaku. Aku telah mendiskusikannya bersama Ibu. Lalu Ibu menyuruhku meminta persetujuan Ayah.
“Alhamdulillah, bagus dong nak, asalkan kamu tetap istiqomah, Ayah akan selalu dukung kamu. Wah anak Ayah sekarang sudah bisa berpikir dewasa ya..” balas Ayah sambil tersenyum. Senyum yang sangat meneduhkan.
Terkadang Ayah mendidikku sangat keras, bahkan tak jarang juga menggunakan kata-kata yang kasar. Akan tetapi, dibalik kerasnya didikan Ayah, aku dapat merasakan hasilnya. Aku bukanlah gadis yang lemah, kata Ayah, aku gadis yang sangat tangguh. Aku bisa tersenyum meskipun mempunyai masalah yang sangat rumit. Bahkan aku merasa tidak mempunyai masalah kalau aku bisa ceria. Karena itu yang diajarkan Ayahku. Aku hanya bisa menangis kalau sedang sendiri, karena Ayah mengajarkanku untuk tidak menampakkan air mataku di depan orang lain.  
Baru kusadari ternyata aku adalah orang yang takut darah. Waktu SMA, aku mengikuti kegiatan Palang Merah Remaja, aku hanya ingin membiasakan diri menjadi seorang dokter. Akan tetapi, ternyata setiap melihat darah, kepalaku rasanya berputar dan pasti langsung limbung. Bahkan sering pingsan. Maka dari itu, aku bertekad untuk tidak mengambil sekolah Kedokteran. Aku tahu, pasti Ayah akan kecewa.
**
Aku tersadar dari lamunanku setelah ada seseorang memanggil namaku.
“Rizqi, sedang apa malam-malam melamun di luar?” tanya Ayah sambil duduk di sampingku.
“Hem, enggak kok Yah, Rizqi hanya memikirkan tentang pendidikan yang akan Rizqi tempuh selanjutnya setelah lulus SMA nanti.” Jawabku beralibi. Aku merindukan masa kecilku, sangat-sangat rindu.
“Terus, apa yang kamu pikirkan?” tanya Ayah lagi. Beliau memang selalu tanggap kalau sudah menyangkut pendidikan anak-anaknya.
“In Shaa Allah Rizqi mau ambil Sastra Yah, maaf karena Rizqi tidak bisa mewujudkan cita-cita Ayah. Rizqi tetap masih akan meneruskan cita-cita untuk menjadi Hafidzah kok. Ayah nggak marah kan?” Ayah menggeleng pelan sambil tersenyum.
“Sudah saatnya kamu menentukan masa depanmu sendiri Nak, Ayah hanya bisa berdoa dan mendukungmu.” Aku langsung memeluk Ayah dengan air mata telah meleleh di pipiku.
“Terima kasih Ayah, Rizqi tahu, Ayah sangat kecewa kan?” Ayah melepaskan pelukanku dan mengusap air mataku.
“Sejak kapan Ayah kecewa sama anak Ayah yang lucu ini? Ayah hanya ingin kamu mewujudkan mimpi-mimpi kamu ini, tanpa campur tangan Ayah.” Aku langsung menggelengkan kepala seperti anak kecil.
“Kalau tidak dengan campur tangan Ayah, mungkin aku tak pernah menjadi seperti ini.” Kataku yang langsung dipeluk kembali oleh Ayah.
Itulah mengapa Ayah selalu memberi kehangatan atau kedamaian tersendiri di setiap gelapnya malamku. Dan karena aku bintang, Ayahku yang selalu mengawasi setiap tingkah lakuku. Karena Ayahku adalah bulan.

@#$CrescentStar18$#@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar