MY HOME

MY HOME

Selasa, 26 Mei 2015

Mama, Aku Merindukanmu

Mama, Aku Merindukanmu
Angin malam terasa menembus kulit sampai ke tulang. Musim dingin saat ini benar-benar di luar dugaan. Lebih lama dari biasanya. Tak ada yang lebih istimewa pada musim ini. Walaupun bertepatan dengan hari libur sekalipun, bagi seorang anak laki-laki ini sama sekali tidak istimewa seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan di musim dingin pula, tepatnya 3 tahun yang lalu, ia harus berpisah dengan orang yang sangat mengerti tentang dirinya dan sangat-sangat dicintainya. Mama. Ketika anak laki-laki ini mengingatnya, kepribadiannya yang semula ceria, akan berubah murung bahkan tak jarang pula menitikkan air mata. Begitu dekatnya ia dengan sang Mama. Baginya, Mama adalah malaikat yang menjelma menjadi seorang ibu yang sangat dibanggakannya. Ibu yang melahirkannya, ibu yang selalu mengerti akan keadaannya, ibu yang selalu membelanya disaat ia salah sekalipun.
Sambil menikmati segelas teh hangat di emperan rumahnya, anak laki-laki itu terus menerawang jauh dan sangat jauh karena rasa rindunya kepada ibunya. Siapa sangka bahwa anak seorang pengusaha terkaya sekalipun akan menangis sesenggukan karena kerinduan yang serasa menghimpit dadanya. Jam ditangannya baru menujukkan pukul 19.38 WIB. Akan tetapi, udara malam malah semakin dingin menembus badannya. Ia lebih merapatkan jaketnya dan meneguk lagi teh hangat yang uapnya masih mengepul. Ia segera mengambil gitar yang selalu menemaninya di kala suntuk. Dengan lincah, jari-jarinya telah memetik senar gitar kesayangannya.
aku ingin engkau ada di sini
menemaniku saat sepi
menemaniku saat gundah
berat hidup ini tanpa dirimu
ku hanya mencintai kamu
ku hanya memiliki kamu

aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
aku rindu setengah mati

meski tlah lama kita tak bertemu
ku selalu memimpikan kamu
ku tak bisa hidup tanpamu

aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
aku rindu setengah mati

aku rindu setengah mati

aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
aku rindu
 Dimas Andrian Dirgantara. Seorang anak laki-laki dari seorang pengusaha, Hardi Dirgantara, yang kini hidup di luar negeri semenjak kepergian istrinya karena dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Kini Dimas tinggal di Indonesia hanya bersama dengan seorang pengasuhnya dan seorang sopirnya sejak kecil. Dan untuk kesekian kalinya, ia harus menghapus air matanya setelah menyanyikan sebuah lagu kerinduan untuk Mamanya. Kerapuhan Dimas ketika merindukan ibunya selalu tertutupi dengan sifatnya yang ceria. Ibunya selalu berpesan agar selalu membuat orang lain tersenyum. Terkadang ia berpikir, bagaimana bisa ia membuat orang lain tersenyum, sedangkan hatinya tidak dapat berbohong bahwa dirinya sendiri pun butuh sandaran dan sulit untuk selalu ceria. Tapi demi sang Mama.
Teman-temannya selalu iri kepadanya karena ia merupakan anak pengusaha kaya dan merupakan pewaris tunggal perusahaan ayahnya. Tapi ia justru lebih iri pada teman-temannya yang masih memiliki orang tua lengkap dan selalu bercengkerama bersama setiap harinya. Bukan seperti yang ia alami saat ini. Sendiri, dan harus menahan kerinduannya untuk orang tuanya.
♥♥♥
Keesokan harinya, setelah bangun tidur, seperti biasanya Dimas segera melakukan aktivitas seperti biasanya pula. Mandi dan membuat sarapan sendiri karena pengasuh dan sopirnya sedang belanja ke pasar sejak subuh tadi belum pulang. Di usianya yang masih 12 tahun ini, ia sudah tergolong sebagai anak yang mandiri. Juga anak yang tergolong cerdas di sekolahnya.
Ketika akan berolahraga, di depan rumahnya, tak sengaja Dimas tertabrak oleh seorang ibu yang sedang berlari-lari dengan wajah penuh ketakutan. Wajah ibu itu terlihat pucat. Dimas mengajak ibu itu masuk ke rumahnya.
“Ini Bu, minum dulu.” Kata Dimas sambil menyodorkan segelas air mineral pada ibu itu. Ibu itu segera meneguk sampai habis air yang diberikan oleh Dimas.
“Terimakasih Nak, maaf mengganggu kamu yang mau bersantai.” Sahut ibu itu dengan suara parau. Dimas baru menyadari bahwa mata ibu itu sembab dan lengannya penuh dengan lebam.
“Nama ibu siapa? Mengapa ibu lari-larian seperti tadi?” tanya Dimas karena penasaran dengan keadaan ibu itu sekarang.
“Saya Arni, saya takut karena dipukuli anak saya, tadi anak saya minta uang untuk bermain judi dan mabuk-mabukkan. Saya tidak punya uang lagi, semua warisan yang ditinggalkan suami saya telah habis untuk bermain judi anak saya. Saya kini hanya hidup bersamanya. Kami sudah tidak memiliki keluarga lagi. Tadi ketika saya berlari setelah dipukul anak saya, baru kepikiran kalau kami hanya berdua, tanpa ada sanak saudara lagi.” Jelas ibu itu. Dimas merasa iba. Dia yang sudah tidak memiliki ibu saja selalu merindukan kasih sayang seorang ibu, kini malah ada seorang anak yang tega menganiaya ibunya sendiri hanya karena uang. Sungguh memiriskan dunia ini.
“Ya sudah bu Arni, nanti Dimas temani untuk menjelaskan kepada anak ibu.” Kata Dimas.
“Tapi nak, apa itu tidak mengganggu waktu liburan kamu?” tanya bu Arni sambil mengamati Dimas dari atas sampai bawah.
“Nggak apa-apa bu, saya ganti baju dulu, lagian saya juga bosan.” Kata Dimas sambil berjalan menuju kamarnya. Begitulah sifat Dimas. Ia selalu tidak tega melihat air mata seorang ibu.
Tanpa Dimas sadari, bu Arni menitikkan air mata dengan perlakuan Dimas. Ia berharap anak semata wayangnya dan yang sangat dicintainya dapat seperti Dimas.
“Mari bu..” celetuk Dimas membuyarkan lamunan bu Arni. Kini Dimas telah berganti pakaian santai. Ketika hendak keluar rumah, pengasuh Dimas datang dengan beraneka macam sayuran dan belanjaan lainnya di tangannya.
“Lo, den Dimas mau kemana?” tanya pengasuh Dimas dengan heran ketika anak majikannya bersama dengan seorang wanita yang belum pernah mereka kenal.
“Maaf bi, Dimas harus menemani bu Arni ini dulu, nanti kalau sudah sampai rumah kembali, Dimas ceritain deh ke bi Surti.” Tutur Dimas dengan sopan. Pengasuhnya yang sudah hafal watak Dimas sejak kecilpun hanya manggut-manggut.
“Ya sudah, den Dimas hati-hati ya..”
“Iya bi.. Mang Ujang anterin Dimas ya.” Pinta Dimas kepada sopirnya yang dibalas dengan anggukan.
♫♫♫
Bu Arni hanya terdiam selama dalam perjalanan. Perasaannya tak enak semenjak keluar dari rumah Dimas tadi. Seolah menjawab kekhawatirannya, di depan rumahnya banyak kerumunan orang. Bu Arni segera keluar dari mobil Dimas setelah Mang Ujang menghentikan mobilnya.
“Ada apa ini?” tanya bu Arni pada segerombolan orang yang berada di depan rumahnya.
“Tadi anak ibu kecelakaan di perempatan sana. Sekarang ada di RS Anugrah.” Jawab salah satu tetangganya sambil menunjuk-nunjuk tempat kecelakaan anak bu Arni.
“Kami antar ke rumah sakit bu..” tawar Dimas yang disetujui dengan anggukan oleh bu Arni. Mereka segera bergegas menuju rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, bu Arni segera berlari ke resepsionis dan menanyakan keberadaan anaknya. Anaknya telah dipindahkan ke ruang rawat.
Pintu kamar rawat terbuka, masuklah bu Arni dan Dimas. Disana terdapat seorang dokter dan dua orang suster yang tengah memeriksa keadaan anak bu Arni.
“Namanya Agung.” Kata bu Arni mengenalkan. Dimas hanya mengangguk-angguk mengerti mendengarnya.
Setelah dokter dan suster yang menanganinya keluar, Agung melirik tajam kearah bu Arni dan Dimas.
“Mau apa kamu kesini? Peduli apa kamu?” kata Agung dengan sengitnya. Lagi-lagi bu Arni menitikkan air mata. Dimas terlonjak kaget mendengar perkataan Agung yang tidak pantas ditujukan untuk seorang ibu.
“Nangis? Hanya itu yang kamu bisa? Cari duit kek, keluar sana! Jangan kembali lagi sebelum membawa banyak duit!” tambah Agung. Di situasi seperti ini, Dimas semakin merindukan mamanya dan ingin sekali memeluk mamanya. Ia tak ingin seperti Agung ini.
“Sebaiknya ibu tunggu diluar saja, biarkan saya yang bicara sama Mas Agung.” Kata Dimas pelan dan menenangkan bu Arni. Bu Arni menuruti kata Dimas. Beliau segera keluar dan bersembunyi di balik pintu untuk menguping pembicaraan kedua anak laki-laki itu.
“Siapa kamu anak kecil?” tanya Agung dengan nada datar dan lirikan tajam.
“Hem, saya hanya seorang anak yang sudah tak memiliki ibu, yang merindukan sosok seorang ibu, dan yang haus akan kasih sayang seorang ibu. Dan kebetulan tadi saya bertemu dengan ibu anda yang begitu mengagumkan, yang sabar mengurus anak yang tak tau diri macam Mas Agung ini.” Kata Dimas tak kalah datarnya.
“Tidak usah ikut campur masalah keluargaku!” bentak Agung pelan.
“Mas Agung mengartikan seorang ibu itu seperti apa sih? Malaikat? Atau malah pembantu? Mas Agung sadar ndak sih kalau Mas Agung itu sudah kelewatan sama bu Arni, itukah balasan untuk orang yang telah melahirkan Mas Agung ke dunia ini? Yang telah merawat Mas Agung sampai seperti ini meskipun tanpa seorang suami yang mendampingi, aku saja sering menangis Mas karena rindu sama mamaku yang telah dipanggil Allah SWT. Apa Mas Agung pernah berpikiran kalau nanti nasib Mas Agung sama seperti aku, Mas Agung bakalan diurus dan tinggal sama siapa? Apalagi dengan pekerjaan Mas yang hanya mabuk-mabukkan dan berjudi. Mau menikah? Apa ada yang mau sama Mas dengan kelakuan Mas Agung apabila Mas Agung tidak berusaha merubahnya. Ayolah Mas, cari duit itu gampang, tapi mencari ibu yang tulus menyayangi kita tanpa imbalan apapun itu susah! Yang mereka inginkan itu hanya kebersamaan bersama kita Mas, ndak lebih! Sekarang terserah Mas Agung, mau lanjut menjadi pemabuk dan tukang judi, atau mau tobat dan menyayangi serta berusaha membalas jasa-jasa ibu. Itu terserah Mas Agung.” Jelas Dimas panjang lebar tanpa menoleh sedikitpun kearah Agung. Dadanya sesak dan matanya sudah memanas, bahkan basah oleh air matanya sendiri. Kerinduan kepada mamanya semakin menghimpitnya.
Ma... Dimas sangat-sangat dan sangat rindu sama Mama, Dimas ingin memeluk Mama sekarang. Tidak lebih dari itu. Semoga Mama tenang di alam sana.’ Batin Dimas sambil air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
“Ter..ri..ma..ka..sih..” ujar Agung dengan suara serak. Dimas yang baru menyadari bahwa Agung menangis segera menolehkan wajahnya kearah Agung.
“Sekarang Mas Agung pilih mana?” tanya Dimas sambil mengusap air matanya sendiri.
“Panggil ibuku kemari.” Sahut Agung. Dimas tersenyum bahagia.
Setelah bu Arni memasuki ruang rawat Agung, Agung segera beranjak dari tempat tidurnya dan bersujud di kaki ibunya.
“Ma.. dulu Dimas sering begitu kalau Dimas habis membuat kesalahan.” Gumam Dimas dengan air mata yang tiada henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya.
“Ibu.. maafin Agung bu, maafin bu.. Agung sudah menjadi anak durhaka selama ini, maafin bu..” kata Agung sambil menangis di kaki ibunya. Bu Arni terdiam mematung sambil memegangi punggung anaknya. Beliau sudah mendengar semua percakapan Dimas dan Agung.
“Iya nak.. asalkan kamu mau tobat, ibu bahagia sekali..” sahut bu Arni sambil membantu anaknya berdiri.
“Agung janji bu, Agung bakalan jadi anak baik..” kata Agung seraya memeluk ibunya.
“MAMAAA” teriak Dimas sambil berlari keluar dari ruang rawat Agung. Bu Arni dan Agung yang melihatnya hanya terdiam bingung.
“Kamu kembali ke ranjang kamu, biar ibu susulin nak Dimas, kasihan dia pasti rindu sama mamanya.” Kata bu Arni sambil membantu Agung kembali ke ranjangnya dan segera keluar menyusul Dimas.
Di depan ruang rawat Agung, bu Arni bertemu dengan Mang Ujang yang masih terheran-heran dengan majikannya yang tiba-tiba berlari sambil berteriak dan menangis.
“Mang, Dimas tadi kemana?” tanya bu Arni.
“Biasanya kalau suasananya seperti ini den Dimas lari ke makam mamanya bu.” Jawab Mang Ujang.
“Ya sudah, tolong antarkan saya menyusul Dimas.”
“Tapi bu, kalau ke makam mamanya, den Dimas ndak mau diganggu..” sahut Mang Ujang yang sudah tahu karakter Dimas luar dalam.
“Saya juga seorang ibu Mang, jadi tolong antarkan saya menyusul Dimas..” pinta bu Arni. Mang Ujang mengangguk pasrah dan segera mengantarkan bu Arni ke pemakaman.
♪♪♪
Dimas menangis sesenggukan di atas gundukan tanah kuburan mamanya. Ia memeluk nisan mamanya dengan erat.
“Ma.. Dimas kangen sama Mama.. jemput  Dimas Ma..” kata Dimas diantara isakan tangisnya.
“Semua yang kita punya, tidak ada yang abadi dalam hidup kita. Itu semua hanyalah sementara. Karena ada yang lebih kekal daripada semuanya. Menjalani hidup dengan tangisan bukanlah jalan satu-satunya. Tapi menata hidup yang lebih baik untuk masa depan, itu kewajiban kita sebagai seorang manusia.” Kata seseorang di belakang Dimas. Dimas membalikkan badannya dan melihat siapa yang berbicara. Bu Arni.
“Dimas... Tadi bu Arni sudah mendengar cerita kamu dari Mang Ujang, masih banyak yang sayang sama kamu, Mang Ujang, bi Surti, Papa kamu, teman-teman kamu, bu Arni, dan juga Agung yang seperti bertemu dengan seorang adik seperti kamu..” tambah bu Arni sambil berjalan mendekati Dimas. Dimas mulai mencerna apa yang dikatakan bu Arni.
“Bolehkah Dimas memeluk bu Arni untuk sekedar mengurangi rasa rindu Dimas pada Mama?” tanya Dimas dengan bulir-bulir air mata masih menggantung di bulu matanya.
“Silakan, kamu boleh memeluk bu Arni kapanpun kamu mau, kamu menganggap bu Arni seperti ibu kamu sendiri pun juga ndak apa-apa.” Ujar bu Arni sambil memeluk Dimas erat. Menyalurkan sebuah ketenangan pada Dimas. Dimas semakin terisak dalam pelukan bu Arni.
“Ya sudah, kita kembali ke rumah sakit ya.” Lanjut bu Arni. Dimas mengangguk menyetujui. Mereka menuju parkiran pemakaman untuk menemui Mang Ujang yang telah menunggu.
♥♥♥
Ketika di rumah sakit kembali, mereka segera menuju ruang rawat Agung. Setelah sampai di ruang rawat Agung, Agung tersenyum ke arah Dimas. Dimas segera berlari menghampiri Agung dan memeluknya.
“Dari dulu Dimas pengen banget punya kakak laki-laki, Mas Agung mau ya jadi kakak Dimas..” kata Dimas dalam pelukan Agung.
“Iya.. maafin Mas Agung ya kalau tadi udah kasar sama kamu..” sahut Agung.
“Iya... rencana Mas Agung selanjutnya apa?” tanya Dimas.
“Mungkin aku akan cari kerja.”
“Ikut kerja Papa Dimas di luar negeri aja..” usul Dimas. Agung mengerutkan keningnya.
“Tapi ibu gimana?” tanya Agung. Bu Arni tersenyum. Kini anaknya begitu peduli kepadanya.
“Ibu biar Dimas aja yang jaga, kan Mas Agung juga bisa sering pulang kalau kangen ibu, nanti biar Dimas bilangin sama Papa.” Jawab Dimas dengan senyuman mengembang di wajahnya.
“Terima kasih Dimas..” kata Agung sambil memeluk Dimas lagi. Bu Arni ikutan memeluk mereka berdua.
“Oh iya, Mas Agung pasti bosen, dengerin aku nynayi ya..” kata Dimas yang disetujui anggukan oleh Agung dan bu Arni.
Bunda cinta jangan menangis
Doamu menyinariku
Ingat perjuangan diriku
Cerminan dari cintamu yang indah

Kau sabar menyayangiku
Kau peluk kemarahanku
Bunda sayang jadi senyumlah
Demi bunda cintaku
Ku kejar impianku

Atas nama cintamu
Ku akan meraih semua impian aku
Untuk bahagiakanmu huooo...

Atas nama cintamu
Ku akan menjadi yang terbaik untukmu
Kucinta kamu Bunda ooo...

Bunda sayang jangan menangis
Doamu menyinariku
lyricsalls.blogspot.com
Aku takkan pernah menyerah huoooo...
Demi Bunda cintaku
Ku kejar impianku oooo...

Atas nama cintamu
Ku akan meraih semua impian aku
Untuk bahagiakanmu huooo...

Atas nama cintamu
Ku akan menjadi yang terbaik untukmu
Kucinta kamu Bunda ooo...

Atas nama cintamu
Ku akan meraih semua impian aku
Untuk bahagiakanmu huooo...

Atas nama cintamu
Ku akan menjadi yang terbaik untukmu
Bunda...
Kucinta kamu Bunda
Bunda...
Kucinta kamu Bunda
Atas nama cintamu ku akan jadi yang terbaik
Bunda...
Bunda... 
Mereka terkagum dengan suara Dimas yang begitu lembut. Bu Arni tak henti-hentinya menitikkan air mata. Dimas memang anak yang berbeda. Anak yang spesial menurutnya. Semua orang bisa tersenyum akan tingkahnya.
Ibu adalah orang yang diciptakan agar seorang anak berada di muka bumi. Ibu seharusnya dilindungi, dijaga, dan disayangi. Sebagaimana seorang ibu yang telah merawat anak-anaknya dengan tulus tanpa meminta balasan.
Mama... I Love You...” lirih Dimas sambil tersenyum.
♫♪♥Selesai♥♪♫


Tidak ada komentar:

Posting Komentar