Part
4 (Masa Lalu Yang Kelam)
“ Loe suka sama Kania??” tanya Juna to the point.
Srotttttt
“Yakkk kira-kira kali Ya kalo minum..” kata Juna yang sudah memasang
tampang bad mood karena disemprot menggunakan air minum oleh
Arya.
“Eheheh sorry-sorry Jun, gue nggak sengaja, lagian pertanyaan loe
skeptis amat, bikin gue shock tau nggak sih loe..” balas Arya sambil
cengengesan dan membersihkan air minum pada wajah Juna.
“Betul atau tidak?” tanya Juna sekali lagi.
“Hehehe tapi jangan bilang-bilang sama Kania ya..” sahut Arya. Sontak
Juna tertawa terbahak-bahak.
“Ya kagaklah.. beginian mah urusan cowok kali bro.. tergantung loe mau
nembaknya kapan.. keburu ada yang ambil hahaha tapi hati-hati juga, tau sendiri
kan adik gue galaknya minta ampun hahaha” cerocos Juna.
“Ya deh.. tapi beneran ya..” kata Arya.
***
“Kak Junaaa.. yuhuuu I’m very
happy today hahaha, tau gak sih loe kak, gue tadi ketemu seseorang, loe tau
siapa? Cowok anak SMA sebelah, sumpah deh kak, dia itu ganteng bangetttt... Loe
mah lewat.. hahaha” cerocos Kania saat ia sedang menghampiri Juna dikamarnya.
“Yaelah Ka, loe ngomong kaya di hutan aja, ini kamar gue keles.. suara
loe tuh cempreng gilak.. loe cerita kesana kemari juga gue kagak bakalan
ngarti, kan gue belum tau tuh cowok.. dan satu lagi, yang lebih ganteng dari
gue tuh kata loe Cuma Arya.. masa ada saingan lagi..” Sungut Juna.
“Ya kurang lebih ya sebelas duabelaslah sama Arya, yang penting kan
lebih ganteng dari loe.. hahaha” tambah Kania dengan cablaknya.
“Yeeee emang siapa sih?” tanya Juna akhirnya karena sangat penasaran.
“Namanya Edo.. sumpah deh kak, ganteng bangettt..” cerita Kania dengan
menggebu-gebu.
“Kok gue kaya gak asing ya.. Hemmm terus nasib Arya gimana??” tanya Juna
lagi. Ia tak habis pikir kalau kembarannya ini ternyata sudah punya gebetan.
“Yeee kak Juna, kan Kania udah bilang kalau Kania sama Arya itu just friends, not more than okay...”
sahut Kania sambil berlalu meninggalkan Juna dikamarnya.
“Aduh.. gue nih yang sesama cowok jadi nggak enak sama Arya, kan dia
naksir banget sama lo dek.. Aishhh, kok gue yang ribet ya? Bodo ah... Boci dulu
hoammm” cerocos Juna sendiri di tempat tidurnya. Tak lama kemudian, ia sudah
terbang ke alam mimpi.
***
Hari-hari berikutnya Kania semakin dekat dengan Edo walaupun notabenya
Edo tidak sesekolah dengan Kania. Dan selama itu juga tidak ada yang tau
hubungan mereka, bahkan Juna pun tak tau.
Hari ini, Arya sudah bertekad akan menyatakan cintanya pada Kania. Ia
sudah menyiapkan mental sedemikian rupa. Hari ini adalah pesta perayaan hari
ulang tahun sekolah. Dan ia sudah membuat janji dengan Kania untuk menemuinya
di taman belakang sekolah, ia juga telah menyiapkan bouquet bunga mawar merah
kesukaan Kania. Berharap hari ini 12 Desember 2012 adalah menjadi hari spesial
untuknya dan Kania.
“Eh Arya, udah lama nunggu? Maaf ya tadi gue ke toilet dulu.” Kata Kania
sambil mengembangkan senyum yang memperlihatkan lesung pipinya yang cukup dalam
serta gingsulnya. Gadis ini untuk ukuran cowok normal seperti Arya terlihat
sangatlah manis, ditambah rambutnya yang hitam dan lurus alami dan kulitnya
yang putih bersih, Kania bukanlah tipe gadis yang manis lagi, melainkan manis
dan cantik.
“Hemm enggak kok.. duduk gih, gue mau ngomong sesuatu.” Balas Arya, ia
tetap berusaha terlihat tenang meskipun terdapat pergolakan batin dalam dirinya.
“Oke.. mau ngomong apa?” tanya Kania setelah ia duduk. Arya menarik
nafasnya dalam-dalam. ‘Sekarang waktunya.’
Batin Arya mantap.
“Gue suka sama loe Ka, dari sejak kita kelas X, gue bahagia banget bisa
deket dengan loe meskipun hanya sebatas sahabat, loe mau nggak jadi pacar gue?
Kalau loe mau loe terima bunga mawar ini trus loe bawa, kalo loe gak mau, loe
terima bunga mawar ini tapi loe taruh dan loe tinggalin disini. Maaf gue gak
bisa romantis, tapi gue harap loe bisa jawab sekarang juga.” Kata Arya dengan
sangat sangat tenang.
Tanpa pikir panjang, Kania segera mengambil alih bunga mawar di tangan
Arya dan tampak menimang-nimang.
“Sorry Ya, tapi gue udah punya pacar..” kata Kania sambil menaruh bunga
mawar tersebut di kursi dan meninggalkan Arya dengan berbagai pertanyaan.
“Ternyata dugaan gue salah besar, loe udah punya pacar Ka.. asalkan loe
bahagia deh Ka, gue akan selalu berdoa buat loe..” gumam Arya sambil memandang
kerlip lampu di depannya yang tampak sangat indah. Tak terasa air matanya meleleh
di pipinya.
“Maafin adek gue broo.. gue juga
nggak tau kalau dia udah punya pacar, maaf juga dari tadi gue udah nguping
pembicaraan kalian.” Kata Juna yang
tiba-tiba duduk di samping Arya.
“Iya broo nggak apa-apa. Gue aja yang terlalu cengeng.” Sahut Arya
sambil mengusap airmatanya.
“Yaelah Ya, gue juga kalau di posisi loe bakalan ngelakuin hal yang sama
kaya loe ini. Secara kan udah cinta banget tuh sama cewek, tapi nggak apa-apa
Ya, tetep semangat.. Tohcewek bukan Cuma Kania kan..” Juna berusaha menyemangati
sahabat barunya tersebut.
“Tapi gue belum yakin bisa move” ucap Arya perlahan. Juna menepuk bahu
sahabatnya.
“Kalau adek gue jodoh loe, pasti nggak akan kemana kok.. stay cool brother..” Arya tersenyum pada
Juna, mengerti akan maksudnya.
“Kalau gue nunggu adek loe putus, boleh nggak Jun? Hahaha” kelakar Arya.
Juna tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
“Boleh banget.. asalkan kalian bahagia, gue dukung kok..” balas Juna
lantas mengajak Arya kembali ke gedung pesta.
**
Hari-hari berlalu begitu cepat. Kania masih berhubungan dengan Edo. Dan
itu sangat-sangat menyakitkan bagi Arya. Sahabat Kania yang lain pun selalu
menujukkan ketidak sukaan mereka pada Edo. Menurut mereka, Edo adalah cowok
yang sangat sombong. Karena setiap sahabat-sahabat Kania ingin berkenalan
dengan Edo, Edo selalu beralasan kalau dia sibuk. Berbeda dengan Arya yang
sangat lembut dan memiliki sense of humor.
Juna pun apabila Kania telah menceritakan Edo, ia memilih diam, atau bahkan
pergi meninggalkan Kania. Karena selama ini pun ia tak pernah melihat yang
namanya Edo Edo itu. Sampai pesta
kelulusan pun Kania masih bersama Edo.
Juna menghampiri Arya yang sedang duduk di taman belakang sekolah.
Persis seperti waktu pesta hari ulang tahun sekolah dulu. Waktu Arya ditolak oleh
Kania.
“Ya.. loe belum bisa move dari adek gue?” tanya Juna membuka
pembicaraan.
“Belum Jun.. susah banget. Gue nggak bisa lupain dia. Yah meskipun, you knowlah.. sekarang gue sama dia udah
nggak pernah dekat lagi. Ngobrol pun jarang banget, nggak seintens waktu dulu.
Dia juga udah nggak pernah main lagi ke rumah gue. Mana nyokap nanyain mulu..”
Jawab Arya sambil memainkan ranting pohon.
“Dulu, gue kira Kania juga suka sama loe, kan pas gue baru pertama
dateng, dia ngebandingin kegantengan gue sama loe segitunya, eh ternyata dia
udah tergila-gila sama orang yang namanya Edo itu, yang belum pernah gue tau
wujudnya, yang katanya cinta pertama Kania, tapi kok perasaan gue nggak enak
ya..” kata Juna. Arya menolehkan wajahnya menatap Juna.
“Nggak enak gimana Jun?” tanya Arya dengan wajah harap-harap cemas.
“Nggak tau ya..” jawab Juna dengan nada lemas. Bersamaan dengan itu,
hapenya berdering.
From : 082xxxxxxxxx
Kalau ingin adek kembar loe tersayang
selamat. Temui gue di bawah jembatan deket sekolah loe. #Your bestfriend.
Hape yang dipegang Juna serasa ingin jatuh kalau tak segera Arya
menyadarkannya.
“Loe kenapa Jun?” tanya Arya mulai khawatir.
“Loe ikut gue sekarang.. suruh Renata dan yang lain ngehubungi polisi,
kita standby di jembatan deket
sekolah sini.” Kata Juna sambil bergegas menuju tempat yang dimaksud.
**
-di bawah jembatan dekat sekolah-
Juna melihat kawanan orang berbaju hitam sedang menyekap Kania. Juna dan
Arya mempercepat langkahnya untuk sampai di tempat itu.
“Welcome back my brother.”
Kata seseorang yang berada tepat di belakang Kania dengan tersenyum sinis
kearah Juna.
“Edo...” Juna terperangah melihat siapa yang berbicara.
“Yapz, apakabar kawan lama, duh.. tambah ganteng aja nih kawan lama,
pantesan punya kembaran yang cantik jelita tapi begonya nggak ketulungan
hahaha.” Tawa Edo semakin membahana. Arya ikut geram mendengarnya. Sama saja
orang itu menghina Kania.
“Oh jadi Edo-Edo yang selalu diceritain Kania tuh elo.. Pantesan gue
kaya gak asing gitu.. Urusan loe sama gue ya, bukan sama kembaran gue, jadi
tolong loe lepasin kembaran gue, dasar manusia biadab..” geram Juna. Tangannya
sudah mengepal. Kemarahannya sudah di ubun-ubun. Kania yang melihatnya hanya
bisa menangis karena ia tak tau akal bulus Edo yang hanya memanfaatkannya untuk
membalas dendam terhadap Juna.
“Suka-suka gue dong. Abisnya loe punya kembaran cantik banget sih..”
kata Edo sambil mengelus-elus pipi mulus Kania.
“Lepasin tangan kotor loe dari wajah Kania.” Teriak Arya yang merasa
orang yang disayanginya itu dilecehkan.
“Ouw ouw ouw, ada yang sok mau jadi pahlawan nih.. Loe suka sama Kania
trus nggak kesampean ya? Hahaha” ledek Edo dengan tak tau malunya.
“Edo, loe nggak berubah sama sekali ya dari dulu. Loe mau apa dari gue?”
tanya Juna setenang mungkin.
“Gue.. mau loe membayar kesalahan loe waktu loe dengan culunnya
nglaporin gue ke polisi yah walaupun bukan loe yang nglaporin, tapi temen loe
atas tuduhan pembunuhan terhadap cewek loe yang gue perkosa waktu itu hahaha
dan gue mau loe nyerahin adek loe yang cantik ini, atau loe bayar gue 100 juta.
Impas kan?” kata Edo yang kini malah memeluk Kania dari belakang dengan sangat
erat hingga air mata Kania semakin deras.
“Loe bunuh gue aja sekarang, gue nggak punya uang 100 juta, dan gue
nggak mau ngrepotin orang tua gue. Gue juga nggak mau loe sedikitpun nyakitin
Kania, karena dia orang yang sangat gue sayang melebihi nyawa gue sendiri. Jadi
lebih baik loe bunuh gue sekarang dan loe lepaskan Kania.” Jelas Juna sambil menatap tajam Kania yang
terus menangis. Arya tidak bisa apa-apa. Hanya diam seribu bahasa. Perlahan, Edo melepaskan bungkaman pada mulut
Kania.
“Ada yang mau kamu katakan buat kembaran loe yang bego itu cantik?”
tanya Edo yang masih terus memeluk Kania dari belakang dengan erat.
“You’re crazy brother.. biarin
gue aja yang mati, loe nggak usah aneh-aneh. Dari awal emang gue yang salah
karena nggak nurutin perkataan loe. Jadi gue mohon tinggalin gue..” kata Kania
disela isak tangisnya.
“Lebih gila mana loe sama gue? Loe gitu aja nangis, cengeng banget sih
loe..” seru Juna setengah meledek. Arya melongo melihatnya.
‘Disaat yang lain kalau
kembarannya terancam bahaya pasti udah gulung-gulung nangis, ini malah saling
mengolok-olok, Aishhh padahal gue khawatir banget Ka sama loe..’ batin
Arya.
“Ya.. loe bawa kakak gue pulang..” teriak Kania semakin tak tertahankan
isak tangisnya.
“Kita tetap disini. Loe percaya kan sama Kania, dia atlet karate kan?
Satu hal yang gue tau dari cerita-cerita Kania kalau Edo tak pernah tau dia
atlet karate, jadi gue akan tetap disini seolah terus meledek Kania hingga Edo
jengah, dan loe pura-pura ketakutan, lari dan temui polisi suruh kesini. Edo
itu pembunuh.” Bisik Juna dan Arya hanya manggut-manggut mendengarnya.
“Sorry Ka, kakak loe gak bisa kebujuk, gue mau lari aja, gue takut mati
konyol disini..” teriak Arya seraya berlari meninggalkan mereka. Kania ingin
menyalahkan Arya, sahabat macam apa dia. Tapi dia sadar kalau perbuatannya pun
banyak menyakiti Arya.
“Gue nggak habis pikir sama loe Do, loe tuh manusia atau bukan sih?”
retoris Juna.
“Apa pertanyaan loe perlu gue jawab? Sebaiknya loe cepet milih deh, lo
pilih adek loe kembali dengan selamat trus ngasih uang ke gue 100 juta, atau
loe pulang sekarang, cuci tangan dan cuci kaki, trus bobo cakep di rumah, tapi
adek loe yah paling-paling gue hamilin trus gue bunuh kaya mantan loe waktu
dulu hahaha.” Kata Edo sambil tertawa keras dan tawanya terdengar sangat
menakutkan.
“Bangsat loe Do.. loe bunuh gue aja sekarang, udah gue bilang kan kalau
semua itu nggak ada hubungannya sama Kania, jadi lepasin Kania.” Geram Juna
yang sudah tak tahan dengan kata-kata Edo.
“Oke-oke, kalian berlima maju, habisi dia..” suruh Edo pada anak
buahnya.
“Kak Juna...” teriak Kania. Tak perlu pikir panjang, ia segera menginjak
kaki Edo. Dan dalam sekali sentakan, ikatan di tangannya lepas. Kania segera
menghajar Edo yang tak siap dengan serangan Kania secara tiba-tiba. Setelah Edo
ambruk, Kania segera membantu Juna menghajar kelima anak buah Edo. Tak berapa
lama datanglah Arya dan Polisi. Edo dan anak buahnya digiring ke kantor Polisi.
“Awas loe, nggak akan gue biarkan lolos lagi..” ancam Edo ketika mau
masuk ke mobil Polisi.
Ketika mobil polisi sudah berlalu meninggalkan mereka yang kini sudah
ada Renata, Anita, Zeva, dan Ferdy, Juna langsung terduduk lemas.
“Kak, loe kenapa?” tanya Kania sambil memegang pundak Juna.
“Peluk gue Ka..” kata Juna yang air matanya telah meleleh membasahi
pipinya. Kania semakin bingung melihatnya, dia hanya menuruti apa yang
dikatakan saudara kembarnya itu.
Kania memeluk Juna sangat erat,
bahkan ia bisa merasakan tubuh Juna bergetar. Kania ikut menangis.
“Loe kenapa kak?” tanya Kania sekali lagi.
“Bawa gue pulang..” jawab Juna dengan tatapan mata kosong sambil
melepaskan pelukannya pada Kania.
“Gue anter Ka.. kalian pulang duluan aja..” kata Arya sambil memberi
kode pada teman-temannya.
Didalam mobil Arya, mereka bertiga terbungkam. Juna masih terdiam dengan
tatapan mata kosong. Arya memandang Kania dan Juna yang duduk di belakang
dengan tatapan bertanya-tanya.
“Putusin Edo..” ucap Juna tiba-tiba.
“Iya, gue udah bertekad buat putusin dia kok kak..” kata Kania dengan
nada menyesal. Arya tersenyum di balik kemudi.
“Jangan pernah sesekali loe terlibat pembicaraan atau apapun bersama Edo
kalau loe masih pengen hidup.” Arya dan Kania teperanjat mendengar ucapan Juna.
Mereka tak percaya bahwa Juna yang terkenal memiliki sense of humor yang berlebihan, kini terlihat sangat menakutkan.
“Loe sebenarnya punya masalah apa dengan Edo, Jun? Jangan loe pendem
sendiri kalau punya masalah..” kata Arya yang disambut anggukan oleh Kania.
“Dia pembunuh. Edo ngebunuh pacar gue setelah Edo dan komplotannya
berhasil memperkosanya. Gue bukan orang yang berguna. Gue lalai dalam menjaga
orang yang gue cintai.” Tersadar dengan perubahan air muka Juna, Kania segera
memeluk kakak kembarnya dan membiarkan Juna terisak di pelukan Kania.
‘Gue baru tau Kak kalau hidup loe berat
banget, gue janji bakal jaga diri gue sendiri Kak, gak akan gue ngecewain
loe..’ tak terasa air mata
Kania meleleh dengan sendirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar