MY HOME

MY HOME

Jumat, 13 Maret 2015

Kakek, Nenek dan Sahabatku Part 1



Kakek, Nenek dan Sahabatku
Rindu ini melanda begitu hebatnya.
Apakah kamu memang sudah benar-benar lupa kepadaku?
♥♥♥
Tampak seorang gadis sedang melamun di sebuah Cafe yang menghadap langsung ke area pemakaman yang baru selesai didatanginya. Dengan masih mengenakan pakaian berkabung dan matanya masih sembab pertanda habis menangis hebat, gadis berumur 17 tahun ini melayangkan pikirannya ke udara, membiarkannya mengembara tanpa arah dan tujuan. Hingga sampailah pada suatu peristiwa masa kecilnya yang menggemaskan bersama sahabatnya.
♪♪♪  Flashback ♪♪♪
Aku, Syifa anak seorang pengusaha yang tidak kekurangan akan kasih sayang dari orang tua. Meskipun orang tuaku sibuk dan sering keluar kota, mereka selalu menyempatkan diri untuk bercengkerama bersama keluarga. Aku juga tidak manja seperti kebanyakan anak orang kaya. Karena orang tuaku selalu mendidikku dengan sifat disiplin dan berani bertanggung jawab. Aku juga memiliki sahabat yang selalu setia mendengar semua curahan hatiku. Mereka bukanlah teman sebayaku ataupun apa, mereka adalah kakek dan nenekku.
Sewaktu kecil ketika aku berusia 1 sampai 3 tahun, aku tinggal bersama kakek dan nenekku di Jakarta, karena waktu itu keluarga kecilku belum memiliki rumah sendiri. Ketika aku berusia 4 sampai 6 tahun, aku tinggal bersama kakek dan neneku yang ada di Semarang. Setelah itu ayahku membeli rumah di daerah Depok. Semenjak itu aku berpisah dengan kakek dan nenekku.
Aku bersekolah di Depok sebenarnya tinggal meneruskan ke kelas 2 SD, karena di Jakarta aku sudah pernah kelas 1 meskipun setiap masuk sekolah, aku masih di tunggui nenek. Akan tetapi di Depok, aku kembali ke kelas 1 lagi. Itupun Bunda masih menungguiku, karena aku anaknya pemalu dan penakut. Ketika kelas 2, aku sudah berani ke sekolah sendiri.
Selama SD, aku mempunyai sahabat yang sangat mengerti aku dan selalu siap sedia mendengar curahan hatiku. Dia Angga, anak paling pendiam di kelas. Akan tetapi dia mempunyai cita-cita menjadi seorang pemain sepakbola yang hebat. Aku juga sering menceritakan kakek dan nenekku ke dia. Ketika aku rindu dengan kakek dan nenekku, Angga selalu mengajakku bermain di rumahnya bersama kakek dan neneknya. Aku sangat beruntung mempunyai sahabat sebaik dia.
Aku mengunjungi  rumah kakek dan nenek yang ada di Jakarta kira-kira sebulan sekali. Tetapi kalau kakek dan nenek yang ada di Semarang, semenjak kepindahanku waktu itu, aku belum pernah berkunjung sama-sekali. Hanya lewat teleponlah kami berhubungan.
“Ngga, kakek dan nenek kamu ada berapa?” tanyaku pada Angga ketika kami masih duduk di bangku kelas 2 SD.
“Ada banyak sih, tapi yang serumah sama aku ya yang sering main sama kita itu..” jawab Angga sambil mengunyah bakmie.
“Kamu nggak kangen sama yang lain?” tanyaku lagi.
“Kangen sih ada, tapi setiap lebaran, aku sama keluargaku selalu berkunjung ke rumah kakek dan nenek, entah itu yang mana saja, pasti aku berkunjung..” kata Angga sambil menyuapkan bakmie ke mulutnya.
“Oh gitu ya.. pingin deh kaya gitu..” kataku dengan raut muka sedih.
“Emang kenapa? Kamu kangen banget sama nenek kamu yang ada di Semarang ya?” tanya Angga sambil menghentikan aktivitas makannya.
“Ehm.. ya gitu deh.. sejak 5 tahun yang lalu aku belum pernah bertemu dengan mereka..” jawabku.
“Barangkali tahun ini bisa ketemu.. udahlah jangan sedih.. nih makan..” kata Angga sambil menyuapiku bakmie yang sedari tadi aku diamkan.
“Bisaan aja kamu..” kataku sambil tersenyum karena tingkah sahabatku tersebut.
“Nah gitu dong.. senyum.. kan cantik, hehehe, nanti ngerjain PR nya dimana?” tanya Angga.
“Di rumahku aja, Ayah sama Bunda lagi nggak ada di rumah, trus makanan di rumah lagi banyak, bantuin ngabisin.. hehehe” jawabku.
“Hiahh Angga kok ditawari makanan.. mau banget.. hahaha, kalau banyak berarti boleh bawa pulang dong.. hahaha” kata Angga sambil tertawa.
“Iya boleh lah...” balasku.
♥♥♥
 “Eh Fa, kok kamu mau sih temenan sama aku? Nggak sama temen yang cewek-cewek seperti Renata dan kawan-kawan?” tanya Angga di sela-sela mengerjakan PR. Aku hanya Tersenyum menanggapi perkataan Angga.
“Trus kamu kenapa mau temenan sama aku? Nggak sama Dicky dan ganknya itu, atau yang lain...” aku bertanya balik kepadanya.
“Ya karena kamu itu beda sama yang lain.. Kamu itu memaknai arti teman dengan sebenarnya, tidak seperti mereka yang hanya memandang sebelah mata apa itu teman, mereka hanya menganggapku teman kalau mereka butuh, misal menyontek PR atau apalah gitu.. beda dengan kamu.. kamu selalu ada bagaimanapun keadaanku, itulah arti teman yang sebenarnya..” jawabnya.
“Nah, itulah kenapa aku suka berteman denganmu..” kataku sambil tersenyum. Kamipun melanjutkan mengerjakan PR.
Aku dan Angga memang tergolong siswa yang pandai. Akan tetapi lebih pandai Angga daripada aku. Angga terlahir dari keluarga yang sedehana dan tak pernah kekurangan kasih sayang. Setiap Angga belajar pun selalu diawasi oleh orang tuanya, makanya Angga sangat pintar. Dia selalu juara kelas, dan aku pun selalu peringkat dibelakangnya.
Setiap habis penerimaan raport, aku bermain ke rumah Angga untuk sekedar memperlihatkan nilai raportku kepada kakek dan neneknya Angga. Aku dan Angga memang memiliki kebiasaan yang sama, yaitu selalu memperlihatkan nilai raport kepada kakek dan nenek. Dan sebelum aku ke rumah kakek dan nenekku yang ada di Jakarta, aku memperlihatkannya terlebih dahulu ke kakek dan neneknya Angga.
♥♥♥
Ketika aku kelas 5 SD, aku dan Angga mulai terbuka dengan teman-teman yang lain. Dari situlah Angga mulai bermain sepak bola dengan teman-teman yang lain, dari yang biasanya hanya main bersama anak-anak tetangga, kini dia mulai menjadi bintang lapangan. Aku bangga dengannya karena dia mampu  mengalahkan rasa ketakutannya.
“Huh.. capek boss” kata Angga yaang sudah duduk di sampingku dengan peluh bercucuran, aku hanya meliriknya dan melanjutkan aktivitas membacaku. Aku sedang duduk di kursi pinggir halaman sekolah tempat anak-anak bermain sepakbola.
“Yah.. kok bisa itu lo, baca di pinggir lapangan, nggak takut kena bola neng..?” cerocos Angga yang merasa omongannya tidak direspon.
“Aku sama bola mana takut, sama pemainnya yang takut, hahaha” jawabku sambil tertawa. Angga merengut kesal dan setelah itu mencubit pipiku yang jauh dari kata tembem.
“Angggaaaaa” sahutku sambil mengejar Angga yang telah berlari meninggalkanku.
♥♥♥
“Yah, kapan kita ke rumah kakek dan nenek yang di Semarang?” tanyaku ketika Ayahku baru saja pulang kerja.
“Belum tahu lah nak, ayah kini sibuk sekali, mungkin lain waktu aja ya..” jawab ayah sambil mengelus kepalaku.
“Kan udah lama banget Yah nggak kesana..” rengekku.
“Lain waktu aja ya.. Depok-Semarang kan nggak deket..” jawab Ayah lagi, aku hanya menunduk dan masuk ke kamar.
Di balkon kamar, aku menulis sebuah puisi.
Dalam derasnya hujan
Kala itu, hamba mengingat-Mu
Dalam sengatan sang surya
Kala itu juga, hamba mengingat-Mu
Tiadapun pantas hamba melupakan-Mu
Tiadapun hamba sedikitpun meragukan-Mu
Hanya karena kasih sayang Engkaulah
Hamba masih hidup
Meskipun dalam tragedi kerinduan yang tiada berujung
Meskipun dalam kerasnya kehidupan
Yang mengharuskan hamba berpisah
Dengan kakek dan nenek hamba
Ya Illahi, selalu limpahkan semua cahaya kasih sayang-Mu
Kepada orang-orang yang hamba sayangi
Jangan biarkan mereka bersedih
Dan jangan biarkan mereka menderita
Karena hamba disini tidak bisa menjaga mereka
Cukup Engkaulah yang menjaganya
                                                                        Syifa Mutiara Rizqi Anindita
Akupun akhirnya memutuskan untuk tidur. Akan tetapi bunda memanggilku dari lantai bawah.
“Syifa.. ada telepon dari Angga..” teriak Bunda.
“Bilangin ke Angga Bun kalau tidak ada PR.. Syifa ngantuk..” jawabku sambil bersiap untuk tidur.
♥♥♥
Hari ini, aku masuk sekolah seperti biasanya. Setelah sampai di sekolah, aku bertanya kepada Dicky.
“Dick, Angga mana? Kok belum datang?” tanyaku sambil menaruh tas di mejaku.
“Kakeknya Angga kan masuk rumah sakit, wajarlah kalau dia tidak masuk..” jawabnya sambil memainkan monopoli bersama Ardi.
Aku menuju perpustakaan dengan perasaan cemas. Berarti Angga telepon ke rumah kemarin mau mengabarkan itu, bodohnya aku, aku merasa menjadi teman yang tidak berguna.
♥♥♥
Sepulang sekolah, aku langsung mengajak bunda ke rumah sakit untuk menjenguk kakeknya Angga.
“Ngga..” sapaku kepada Angga yang sedang duduk di ruang tunggu.
“Iya.. eh Syifa, udah pulang sekolahnya..?” tanya Angga.
Bunda meninggalkanku bersama Angga di ruang tunggu untuk menghampiri nenek Angga. Kini di ruang tunggu hanya ada aku dan Angga.
“Udah, tadi nggak ada pelajaran, jadi pulang lebih awal, maaf ya Ngga.. aku nggak tahu kalau kemarin kamu telepon tu untuk mengabarkan kalau kakek kamu sakit.. kirain cuma mau nanya PR..” kataku dengan nada penyesalan.
“Iya nggak apa-apa kok, bundamu kemarin juga bilang kalau kamu kecapekan, ya udahlah Fa, nggak usah sedih gitu, kan kakekku nggak kenapa-napa..” kata Angga sambil merangkul bahuku untuk menenangkanku. Seharusnya aku yang melakukan itu kepada Angga, ini malah sebaliknya. Ya, itu karena aku paling sedih kalu ngeliat kakek-kakek atau nenek-nenek yang sedang sakit. Karena dengan melihat kakek-kakek atau nenek-nenek, aku merasa sudah bertemu dengan kakek dan nenekku.
“Ya udah, ke kamar kakek kamu yuk... aku ingin menjenguknya..” sahutku.
Setelah puas berada di kamar kakek, aku dan Angga keluar dan menuju taman rumah sakit. Disitu, aku banyak menjumpai pasien yang sedang mencari angin segar dengan berbagai macam penyakit.
“Aku pingin jadi dokter..” ucapku sambil mengamati seorang anak kecil yang sedang menangis di gendongan ibunya dengan infus di sekitar pergelangan tangannya.
“Kalau aku jadi pemain sepakbola dong.. hehehe” sahut Angga. “Striker seperti Bayu Gatra.. hehehe” tambahnya. Ya, Bayu Gatra adalah pemain sepakbola favoritku.
“Ya ya ya nanti kalau kamu sudah sekelas Bayu Gatra Sanggiawan aku titip salam ya buat dia hehehe” balasku sambil tersenyum.
“Memangnya kamu kenapa sih kok pingin banget jadi dokter?” tanya Angga sambil berjalan-jalan menyejajariku mengelilingi taman Rumah Sakit.
“Ya nanti biar kalau orang-orang yang aku sayangi sakit, aku bisa nolonginnya..” jawabku. Angga hanya manggut-manggut.
“Nanti kalau kamu yang sakit gimana?” tanya Angga dengan polos.
“Ya kan ada temen-temen aku yang profesinya sama.. gitu aja kok repot.. hehehe” jawabku dengan tersenyum.
“Yah.. masa dokter sakit, nggak malu?” kata Angga menggodaku, aku hanya merengut kesal mendengarnya.
“Dokter kan juga manusia.. wlllee” sahutku sambil memeletkan lidah. Kami pun berkejar-kejaran hingga Bunda memanggilku mengajak pulang.
♥♥♥
Hampir Ujian Nasional, aku telah mempersiapkannya dengan matang. Aku ingin membuat orang tua serta kakek dan nenekku bangga dengan hasil ujian nasionalku.
 “Hem.. Fa, kamu mau nerusin SMP dimana nantinya?” tanya Angga ketika aku membereskan buku-buku di lokerku.
“Mungkin ya salah satu SMP di Depok lah..” jawabku santai. “La kamu mau nerusin dimana?” tambahku.
“Aku dapet beasiswa sekolah sepakbola di Bandung Fa..” jawabnya. Aku kaget. Itu artinya aku dan Angga harus berpisah.
“Jadi, kamu kost dong?” tanyaku dengan raut muka sedih. Siapa yang rela berpisah dengan sahabatnya coba..
“Ya begitu deh, dan kayanya aku bakalan jarang banget pulang kesini, soalnya keluargaku juga mau pindah ke daerah Bogor..” jawab Angga dengan muka yang tak kalah sedih.
“Jadi... kita pisah dong..” sahutku sambil meneteskan air mata. Aku tidak sanggup lagi dengan semua ini.
“Maafin aku Fa, aku bakalan jauh dari kamu, dan lagi kalau kamu kangen sama kakek atau nenekmu, aku nggak bisa bantuin kamu lagi untuk mengajak kamu bermain bersama kakek dan nenekku, karena kita bakalan nggak ada disini lagi..” kata Angga sambil merangkul pundakku.
“Ya nggak  apa-apalah Ngga.. ini kan buat kebaikanmu juga.. semoga kamu berhasil dan cita-citamu tercapai..” kataku sambil tresenyum dan mengusap air mata di pipi Angga.
Sungguh sebuah tragedi perpisahan yang menyakitkan.
“Tapi jangan lupa ya.. kalau kamu bertemu Bayu Gatra, salamin dari aku hehehe” gurauku untuk sedikit mencairkan suasana.
“Iya-iya.. hehehe” kita pun tertawa bersama, meskipun dalam hati kita tersimpan gundah masing-masing.
♥♥♥
Tak disangaka, Ujian Nasional telah di depan mata. Aku dan Angga mempersiapkannya dengan sangat matang. Kami selalu belajar bersama, sekaligus menikmati detik-detik perpisahan yang semakin hari semakin menyesakkan.
Ketika bel berbunyi tanda Ujian akan dimulai, Angga menyemangatiku dengan sebuah lagu yang sering kita nyanyikan bersama-sama. Aku tersenyum mendengarnya, karena menurutku Angga memang nol besar dalam menyanyi, ujian praktik kemari saja dia mendapat nilai mepet.
Selama ujian berlangsung, aku mengerjakan soal-soal yang mudah terlebih dahulu, sesekali aku memperhatikan Angga yang mengerjakan soal dengan serius. Aku tersenyum miring melihatnya, tidak menyangka kalau sebentar lagi kami akan berpisah.
            ♥♥♥
            Akhirnya saat-saat menyedihkan pun harus aku hadapi. Sebuah perpisahan, yang sebelumnya aku sempat tertawa bersama Angga karena kami lulus dengan nilai yang sangat sempurna. Seperti biasa, Angga mendapat peringkat pertama dengan nilai sempurna 30,00 dan aku dibawahnya dengan nilai 29,85. Aku sempat menahan air mataku karena aku bisa melihat senyum sahabat tersayangku untuk terakhir kalinya, karena besok Angga harus pindah ke Bandung mengejar cita-citanya.
            ♪♪♪ Flashback off ♪♪♪




Tidak ada komentar:

Posting Komentar