Kakek, Nenek dan Sahabatku
Rindu
ini melanda begitu hebatnya.
Apakah
kamu memang sudah benar-benar lupa kepadaku?
♥♥♥
Tampak seorang gadis
sedang melamun di sebuah Cafe yang menghadap langsung ke area pemakaman yang
baru selesai didatanginya. Dengan masih mengenakan pakaian berkabung dan
matanya masih sembab pertanda habis menangis hebat, gadis berumur 17 tahun ini
melayangkan pikirannya ke udara, membiarkannya mengembara tanpa arah dan
tujuan. Hingga sampailah pada suatu peristiwa masa kecilnya yang menggemaskan
bersama sahabatnya.
♪♪♪ Flashback ♪♪♪
Aku, Syifa anak seorang
pengusaha yang tidak kekurangan akan kasih sayang dari orang tua. Meskipun
orang tuaku sibuk dan sering keluar kota, mereka selalu menyempatkan diri untuk
bercengkerama bersama keluarga. Aku juga tidak manja seperti kebanyakan anak
orang kaya. Karena orang tuaku selalu mendidikku dengan sifat disiplin dan
berani bertanggung jawab. Aku juga memiliki sahabat yang selalu setia mendengar
semua curahan hatiku. Mereka bukanlah teman sebayaku ataupun apa, mereka adalah
kakek dan nenekku.
Sewaktu kecil ketika
aku berusia 1 sampai 3 tahun, aku tinggal bersama kakek dan nenekku di Jakarta,
karena waktu itu keluarga kecilku belum memiliki rumah sendiri. Ketika aku
berusia 4 sampai 6 tahun, aku tinggal bersama kakek dan neneku yang ada di
Semarang. Setelah itu ayahku membeli rumah di daerah Depok. Semenjak itu aku
berpisah dengan kakek dan nenekku.
Aku bersekolah di Depok
sebenarnya tinggal meneruskan ke kelas 2 SD, karena di Jakarta aku sudah pernah
kelas 1 meskipun setiap masuk sekolah, aku masih di tunggui nenek. Akan tetapi
di Depok, aku kembali ke kelas 1 lagi. Itupun Bunda masih menungguiku, karena
aku anaknya pemalu dan penakut. Ketika kelas 2, aku sudah berani ke sekolah
sendiri.
Selama SD, aku
mempunyai sahabat yang sangat mengerti aku dan selalu siap sedia mendengar
curahan hatiku. Dia Angga, anak paling pendiam di kelas. Akan tetapi dia
mempunyai cita-cita menjadi seorang pemain sepakbola yang hebat. Aku juga
sering menceritakan kakek dan nenekku ke dia. Ketika aku rindu dengan kakek dan
nenekku, Angga selalu mengajakku bermain di rumahnya bersama kakek dan
neneknya. Aku sangat beruntung mempunyai sahabat sebaik dia.
Aku mengunjungi rumah kakek dan nenek yang ada di Jakarta kira-kira
sebulan sekali. Tetapi kalau kakek dan nenek yang ada di Semarang, semenjak
kepindahanku waktu itu, aku belum pernah berkunjung sama-sekali. Hanya lewat
teleponlah kami berhubungan.
“Ngga, kakek dan nenek
kamu ada berapa?” tanyaku pada Angga ketika kami masih duduk di bangku kelas 2
SD.
“Ada banyak sih, tapi
yang serumah sama aku ya yang sering main sama kita itu..” jawab Angga sambil
mengunyah bakmie.
“Kamu nggak kangen sama yang lain?” tanyaku
lagi.
“Kangen sih ada, tapi
setiap lebaran, aku sama keluargaku selalu berkunjung ke rumah kakek dan nenek,
entah itu yang mana saja, pasti aku berkunjung..” kata Angga sambil menyuapkan
bakmie ke mulutnya.
“Oh gitu ya.. pingin
deh kaya gitu..” kataku dengan raut muka sedih.
“Emang kenapa? Kamu
kangen banget sama nenek kamu yang ada di Semarang ya?” tanya Angga sambil
menghentikan aktivitas makannya.
“Ehm.. ya gitu deh..
sejak 5 tahun yang lalu aku belum pernah bertemu dengan mereka..” jawabku.
“Barangkali tahun ini
bisa ketemu.. udahlah jangan sedih.. nih makan..” kata Angga sambil menyuapiku
bakmie yang sedari tadi aku diamkan.
“Bisaan aja kamu..”
kataku sambil tersenyum karena tingkah sahabatku tersebut.
“Nah gitu dong..
senyum.. kan cantik, hehehe, nanti ngerjain PR nya dimana?” tanya Angga.
“Di rumahku aja, Ayah
sama Bunda lagi nggak ada di rumah,
trus makanan di rumah lagi banyak, bantuin ngabisin.. hehehe” jawabku.
“Hiahh Angga kok
ditawari makanan.. mau banget.. hahaha, kalau banyak berarti boleh bawa pulang
dong.. hahaha” kata Angga sambil tertawa.
“Iya boleh lah...”
balasku.
♥♥♥
“Eh Fa, kok kamu mau sih temenan sama aku? Nggak sama temen yang cewek-cewek
seperti Renata dan kawan-kawan?” tanya Angga di sela-sela mengerjakan PR. Aku
hanya Tersenyum menanggapi perkataan Angga.
“Trus kamu kenapa mau
temenan sama aku? Nggak sama Dicky
dan ganknya itu, atau yang lain...” aku bertanya balik kepadanya.
“Ya karena kamu itu
beda sama yang lain.. Kamu itu memaknai arti teman dengan sebenarnya, tidak
seperti mereka yang hanya memandang sebelah mata apa itu teman, mereka hanya
menganggapku teman kalau mereka butuh, misal menyontek PR atau apalah gitu..
beda dengan kamu.. kamu selalu ada bagaimanapun keadaanku, itulah arti teman
yang sebenarnya..” jawabnya.
“Nah, itulah kenapa aku
suka berteman denganmu..” kataku sambil tersenyum. Kamipun melanjutkan
mengerjakan PR.
Aku dan Angga memang
tergolong siswa yang pandai. Akan tetapi lebih pandai Angga daripada aku. Angga
terlahir dari keluarga yang sedehana dan tak pernah kekurangan kasih sayang.
Setiap Angga belajar pun selalu diawasi oleh orang tuanya, makanya Angga sangat
pintar. Dia selalu juara kelas, dan aku pun selalu peringkat dibelakangnya.
Setiap habis penerimaan
raport, aku bermain ke rumah Angga untuk sekedar memperlihatkan nilai raportku
kepada kakek dan neneknya Angga. Aku dan Angga memang memiliki kebiasaan yang
sama, yaitu selalu memperlihatkan nilai raport kepada kakek dan nenek. Dan
sebelum aku ke rumah kakek dan nenekku yang ada di Jakarta, aku
memperlihatkannya terlebih dahulu ke kakek dan neneknya Angga.
♥♥♥
Ketika aku kelas 5 SD,
aku dan Angga mulai terbuka dengan teman-teman yang lain. Dari situlah Angga
mulai bermain sepak bola dengan teman-teman yang lain, dari yang biasanya hanya
main bersama anak-anak tetangga, kini dia mulai menjadi bintang lapangan. Aku
bangga dengannya karena dia mampu
mengalahkan rasa ketakutannya.
“Huh.. capek boss” kata
Angga yaang sudah duduk di sampingku dengan peluh bercucuran, aku hanya
meliriknya dan melanjutkan aktivitas membacaku. Aku sedang duduk di kursi
pinggir halaman sekolah tempat anak-anak bermain sepakbola.
“Yah.. kok bisa itu lo,
baca di pinggir lapangan, nggak takut
kena bola neng..?” cerocos Angga yang merasa omongannya tidak direspon.
“Aku sama bola mana
takut, sama pemainnya yang takut, hahaha” jawabku sambil tertawa. Angga
merengut kesal dan setelah itu mencubit pipiku yang jauh dari kata tembem.
“Angggaaaaa” sahutku
sambil mengejar Angga yang telah berlari meninggalkanku.
♥♥♥
“Yah, kapan kita ke
rumah kakek dan nenek yang di Semarang?” tanyaku ketika Ayahku baru saja pulang
kerja.
“Belum tahu lah nak,
ayah kini sibuk sekali, mungkin lain waktu aja ya..” jawab ayah sambil mengelus
kepalaku.
“Kan udah lama banget
Yah nggak kesana..” rengekku.
“Lain waktu aja ya..
Depok-Semarang kan nggak deket..”
jawab Ayah lagi, aku hanya menunduk dan masuk ke kamar.
Di balkon kamar, aku menulis
sebuah puisi.
Dalam
derasnya hujan
Kala
itu, hamba mengingat-Mu
Dalam
sengatan sang surya
Kala
itu juga, hamba mengingat-Mu
Tiadapun
pantas hamba melupakan-Mu
Tiadapun
hamba sedikitpun meragukan-Mu
Hanya
karena kasih sayang Engkaulah
Hamba
masih hidup
Meskipun
dalam tragedi kerinduan yang tiada berujung
Meskipun
dalam kerasnya kehidupan
Yang
mengharuskan hamba berpisah
Dengan
kakek dan nenek hamba
Ya
Illahi, selalu limpahkan semua cahaya kasih sayang-Mu
Kepada
orang-orang yang hamba sayangi
Jangan
biarkan mereka bersedih
Dan
jangan biarkan mereka menderita
Karena
hamba disini tidak bisa menjaga mereka
Cukup
Engkaulah yang menjaganya
Syifa
Mutiara Rizqi Anindita
Akupun akhirnya
memutuskan untuk tidur. Akan tetapi bunda memanggilku dari lantai bawah.
“Syifa.. ada telepon
dari Angga..” teriak Bunda.
“Bilangin ke Angga Bun
kalau tidak ada PR.. Syifa ngantuk..” jawabku sambil bersiap untuk tidur.
♥♥♥
Hari ini, aku masuk
sekolah seperti biasanya. Setelah sampai di sekolah, aku bertanya kepada Dicky.
“Dick, Angga mana? Kok
belum datang?” tanyaku sambil menaruh tas di mejaku.
“Kakeknya Angga kan masuk
rumah sakit, wajarlah kalau dia tidak masuk..” jawabnya sambil memainkan
monopoli bersama Ardi.
Aku menuju perpustakaan
dengan perasaan cemas. Berarti Angga telepon ke rumah kemarin mau mengabarkan
itu, bodohnya aku, aku merasa menjadi teman yang tidak berguna.
♥♥♥
Sepulang sekolah, aku
langsung mengajak bunda ke rumah sakit untuk menjenguk kakeknya Angga.
“Ngga..” sapaku kepada Angga
yang sedang duduk di ruang tunggu.
“Iya.. eh Syifa, udah
pulang sekolahnya..?” tanya Angga.
Bunda meninggalkanku
bersama Angga di ruang tunggu untuk menghampiri nenek Angga. Kini di ruang
tunggu hanya ada aku dan Angga.
“Udah, tadi nggak ada pelajaran, jadi pulang lebih
awal, maaf ya Ngga.. aku nggak tahu
kalau kemarin kamu telepon tu untuk mengabarkan kalau kakek kamu sakit.. kirain
cuma mau nanya PR..” kataku dengan nada penyesalan.
“Iya nggak apa-apa kok, bundamu kemarin juga
bilang kalau kamu kecapekan, ya udahlah Fa, nggak
usah sedih gitu, kan kakekku nggak
kenapa-napa..” kata Angga sambil merangkul bahuku untuk menenangkanku.
Seharusnya aku yang melakukan itu kepada Angga, ini malah sebaliknya. Ya, itu
karena aku paling sedih kalu ngeliat kakek-kakek atau nenek-nenek yang sedang
sakit. Karena dengan melihat kakek-kakek atau nenek-nenek, aku merasa sudah
bertemu dengan kakek dan nenekku.
“Ya udah, ke kamar
kakek kamu yuk... aku ingin menjenguknya..” sahutku.
Setelah puas berada di
kamar kakek, aku dan Angga keluar dan menuju taman rumah sakit. Disitu, aku
banyak menjumpai pasien yang sedang mencari angin segar dengan berbagai macam
penyakit.
“Aku pingin jadi
dokter..” ucapku sambil mengamati seorang anak kecil yang sedang menangis di
gendongan ibunya dengan infus di sekitar pergelangan tangannya.
“Kalau aku jadi pemain
sepakbola dong.. hehehe” sahut Angga. “Striker seperti Bayu Gatra.. hehehe”
tambahnya. Ya, Bayu Gatra adalah pemain sepakbola favoritku.
“Ya ya ya nanti kalau
kamu sudah sekelas Bayu Gatra Sanggiawan aku titip salam ya buat dia hehehe”
balasku sambil tersenyum.
“Memangnya kamu kenapa
sih kok pingin banget jadi dokter?” tanya Angga sambil berjalan-jalan
menyejajariku mengelilingi taman Rumah Sakit.
“Ya nanti biar kalau
orang-orang yang aku sayangi sakit, aku bisa nolonginnya..” jawabku. Angga
hanya manggut-manggut.
“Nanti kalau kamu yang
sakit gimana?” tanya Angga dengan polos.
“Ya kan ada temen-temen
aku yang profesinya sama.. gitu aja kok repot.. hehehe” jawabku dengan
tersenyum.
“Yah.. masa dokter
sakit, nggak malu?” kata Angga
menggodaku, aku hanya merengut kesal mendengarnya.
“Dokter kan juga
manusia.. wlllee” sahutku sambil memeletkan lidah. Kami pun berkejar-kejaran
hingga Bunda memanggilku mengajak pulang.
♥♥♥
Hampir Ujian Nasional,
aku telah mempersiapkannya dengan matang. Aku ingin membuat orang tua serta
kakek dan nenekku bangga dengan hasil ujian nasionalku.
“Hem.. Fa, kamu mau nerusin SMP dimana
nantinya?” tanya Angga ketika aku membereskan buku-buku di lokerku.
“Mungkin ya salah satu
SMP di Depok lah..” jawabku santai. “La kamu mau nerusin dimana?” tambahku.
“Aku dapet beasiswa
sekolah sepakbola di Bandung Fa..” jawabnya. Aku kaget. Itu artinya aku dan
Angga harus berpisah.
“Jadi, kamu kost dong?”
tanyaku dengan raut muka sedih. Siapa yang rela berpisah dengan sahabatnya
coba..
“Ya begitu deh, dan
kayanya aku bakalan jarang banget pulang kesini, soalnya keluargaku juga mau
pindah ke daerah Bogor..” jawab Angga dengan muka yang tak kalah sedih.
“Jadi... kita pisah
dong..” sahutku sambil meneteskan air mata. Aku tidak sanggup lagi dengan semua
ini.
“Maafin aku Fa, aku
bakalan jauh dari kamu, dan lagi kalau kamu kangen sama kakek atau nenekmu, aku
nggak bisa bantuin kamu lagi untuk
mengajak kamu bermain bersama kakek dan nenekku, karena kita bakalan nggak ada disini lagi..” kata Angga
sambil merangkul pundakku.
“Ya nggak apa-apalah Ngga.. ini kan buat kebaikanmu
juga.. semoga kamu berhasil dan cita-citamu tercapai..” kataku sambil tresenyum
dan mengusap air mata di pipi Angga.
Sungguh sebuah tragedi
perpisahan yang menyakitkan.
“Tapi jangan lupa ya..
kalau kamu bertemu Bayu Gatra, salamin dari aku hehehe” gurauku untuk sedikit
mencairkan suasana.
“Iya-iya.. hehehe” kita
pun tertawa bersama, meskipun dalam hati kita tersimpan gundah masing-masing.
♥♥♥
Tak disangaka, Ujian
Nasional telah di depan mata. Aku dan Angga mempersiapkannya dengan sangat
matang. Kami selalu belajar bersama, sekaligus menikmati detik-detik perpisahan
yang semakin hari semakin menyesakkan.
Ketika bel berbunyi
tanda Ujian akan dimulai, Angga menyemangatiku dengan sebuah lagu yang sering
kita nyanyikan bersama-sama. Aku tersenyum mendengarnya, karena menurutku Angga
memang nol besar dalam menyanyi, ujian praktik kemari saja dia mendapat nilai
mepet.
Selama ujian
berlangsung, aku mengerjakan soal-soal yang mudah terlebih dahulu, sesekali aku
memperhatikan Angga yang mengerjakan soal dengan serius. Aku tersenyum miring
melihatnya, tidak menyangka kalau sebentar lagi kami akan berpisah.
♥♥♥
Akhirnya
saat-saat menyedihkan pun harus aku hadapi. Sebuah perpisahan, yang sebelumnya
aku sempat tertawa bersama Angga karena kami lulus dengan nilai yang sangat
sempurna. Seperti biasa, Angga mendapat peringkat pertama dengan nilai sempurna
30,00 dan aku dibawahnya dengan nilai 29,85. Aku sempat menahan air mataku
karena aku bisa melihat senyum sahabat tersayangku untuk terakhir kalinya,
karena besok Angga harus pindah ke Bandung mengejar cita-citanya.
♪♪♪
Flashback off ♪♪♪
Tidak ada komentar:
Posting Komentar